|
Yang
Pertama
Namanya Tari. Adik tingkatku. Saat itu kami sedang
penelitian di daerah Lembang Jawa Barat Bandung. Udara disana dingin
sekali. Pukul 06.00 pagi saja kabut masih berkeliaran. Itu yang membuat
kita terasa betah kalau ditemani wanita cantik seperti Tari. Kami
penelitian tiga bulan lamanya. Entah
bagaimana mulanya, kami telah berkenalan. Erat sekali. Kemana-mana saja
selalu berdua. Wah...pokoknya saat itu tidak ada kebahagiaan lagi selain
berdua dengan Tari. Cantik. Lucu. Dan sebagainya.
Suatu hari, kami berdua berangkat ke daerah
penelitian yang agak jauh dari rumah dimana kami tinggal. Berdua sajalah.
Penelitian itu memakan waktu sampai malam hari. Tentu saja kami bingung
untuk kembali ke tempat tinggal kami di lembang. Masalahnya Angkutan
kotanya sudah tidak ada. Saat itu pukul 18.30. Yah....akhirnya kami
berjalan mencari tempat untuk tinggal. Dimana saja. "Eh...Ri, ntar gimana kalau rumah yang kita
jumpai nanyain kita?" tanyaku sambil berjalan.
"Jawab aja kita suami istri lah. Kemaleman dijalan. Atau apa
sajalah..." "Alah...masa kita suami istri. Emangnya kita sudah menikah
gitu?" "Hihih....ya cari alasan lain
lah... Yang penting sekarang kita cari rumah penduduk dululah.
Oce?"
"Ocelah....sahutku" Lalu
kami meneruskan perjalanan kami sambil bergandeng tanga. Halus juga tangan
Tari. Sesekali kurangkul pinggangnya. Tari diam saja dan sepertinya tidak
merasa reseh atau bagaimana....
Yah...wajarlah. Saya
lelaki. Tentu kalau wanita yang dirangkul diam saja, tentu memberi
kesempatan untuk melakukan yang lebih dari sekedar merangkul bukan? Saya
pun seperti itu. Makin erat rangkulanku, hingga bagian samping tubuh Tari
menyentuh bagian samping kanan tubuh saya. "Aaah...." kata Tari. "Jangan
seperti inilah entar ketahuan orang lo....malu kan?" kata Tari sambil
menjauhkan lagi tubuhnya. Tapi saya tetap merangkul pinggang Tari sambil
berjalan terus. Padahal terus terang saya akui saat itu punyaku sudah
super tegang. Herannya aku nggak kapok yah. Tanganku mulai nakal. Kutarik
ke atas tanganku hingga dibawah ketiaknya. Kini tanganku berada tepat
disamping toketnya yang besar dan lembut itu. Tari hanya melirik padaku
sambil tersenyum saja. Gila.....digituin kok masih diem aja.
Memang saat itu
dinginnya minta ampun. Tanganku yang berada dibawah ketiak Tari
menjadi hangat. Dan selanjutnya aku remas toket Tari sekuatku.
"Uuughh...." desah Tari sambil menggeliatkan tubuhnya. "Ntar aja kalau
udah dikamar. Aku serahkan semuanya padamu Mas...." lanjut Tari. Aku
semakin bergairah dan membayangkan sesuatu yang nikmat. Dan bertambah
semangat mencari rumah penduduk disekitar daerah penelitianku.
Akhirnya setelah kurang
lebih tiga puluh menit kami berjalan, didepan ada sebuah rumah yang
lumayan besar. Setelah dekat, Yah....ternyata sebuah Losmen. Tari
memandangku. Tampaknya meminta persetujuanku untuk memilih Losmen saja
daripada rumah penduduk. Akhirnya ku anggukkan kepalaku tanpa berpikir
panjang. Mungkin saat itu pikiranku dengan pikiran Tari sama, "Lebih baik
di Losmen daripada di rumah penduduk. Lebih bebas. Iya nggak?"
Setelah registrasi untuk check in, kami pun dapat kamar nomor
12. Lumayan luas juga kamarnya. Satu tempat tidur ukuran besar, ada TV dan
juga kamar mandi. "Terimakasih..." kata Tari pada pelayan yang
membawakan travel bag yang lumayan berat berisi peralatan untuk
penelitian. Setelah itu Tari menutup pintu kamar. "Klek...."pintu kamar
terkunci. Saat Tari membalikkan tubuhnya, langsung kuburu bibirnya dengan
kecupan yang bertubi-tubi. Tari tidak berusaha untuk meronta walaupun
sempat terkejut. Selanjutnya kami saling melumat bibir. Barangku sudah
tegang banget. Aku peluk Tari sambil terus melumat bibirnya yang tipis dan
seksi. Tari nggak kalah.
Tanganku mulai nakal lagi.
Aku remas pantatnya. "Hmmmm....kenapa pantat" sahut Tari disela lumatan
bibirnya. Sesaat kemudian Tari memegang kedua tanganku dan membimbingnya
kearah ke arah toketnya yang sudah tegang juga. "Remas yang kencang
seperti tadi ya....Mas..." kata Tari. Tanpa basa-basipun kuremas-remas
dadanya yang membusung.
"Aaggh.... terus mas. Lebih keras." Kata Tari. Kami terus
berciuman sampai kami tiba dibibir ranjang. Kami terhenti sejenak disitu
sambil terus berciuman. "Tari...masukkan tanganmu ke celanaku" sahutku.
Sesaat kemudian Tari membuka ikat pinggangku dan membuka celanaku. Sungguh
luar biasa tegangnya terpedoku. Tari memegang terpedoku.
"Besar sekali
sayang...." sahut Tari dan selanjutnya meremas-remas dan mengocok punyaku.
"Aaasghh....terusin Tar....." sahutku. Kubuka semua baju Tari. Tari
tidak menolak. BH-nya pun aku lepas, hingga saat itu Tari bertelanjang
dada saja. Roknya belum sempat kulepas karena sibuk menekan dan
meremas-remas dadanya yang putih itu. Sesekali kupijit
putingnya. Akhirnya kudorong Tari hingga terjembab
diatas tempat tidur. Kupandangi sesaat tubuh Tari. Luar biasa indahnya.
Putih dan mulus. Aku berjongkok dan kusingkap roknya. Selanjutnya ku tarik
celana dalamnya yang berwarna pink. Tersembullah sesuatu yang baru aku
lihat saat itu.
"Tar...besar sekali" sambil kuusap bukit berbulu itu yang mulai
membasah. Kucium. Harum juga. Tadinya ragu-ragu, tapi kuberanikan diri
untuk menjilati memek Tari. Tari hanya mengerang saja. Sampai pada saat
klitorisnya kujilati, kini bukan hanya mengerang melainkan juga menggeliat
kegelian dan juga nikmat. "Aagggh... terusin
Mas....Aasgggghh....sshht..." Tari menggepit kepalaku. Aku semakin genjar
saja menjilatinya. Sampai pada beberapa saat kurasakan ada cairan hangat
yang keluar dari bukit itu, tetap kujilat. Gurih juga. Setelah itu aku
berdiri kembali. Kubuka bajuku dan kubuka rok Tari, saat itulah kami
berdua telanjang. "Jilati punyaku yah seperti tadi" kataku. " Biar
tambah tegang" lanjutku kemudian menyerahkan terpedoku ke mulut Tari. Tari
memasukkan terpedoku ke mulutnya. Lalu diisapnya sekuat-kuatnya.
"Aggghh.... enak Tar....terusin" kataku sambil mengocoknya keluar masuk
mulut Tari. Agghhh...... Tak berapa lama aku diam.
Banyak diam ya... Maklumlah baru pertama. Tari juga begitu.
"Kamu siap Ri..." akhirnya.
Tari tersenyum. Kedua tangannya memeras kedua buah dadanya sambil
menggeliat. Pemandangan seperti itu membuatku bertambah bergairah.
Akhirnya kurentangkan kaki Tari. Ku dekatkan terpedoku pada memeknya. Dan
"blesek....." masuklah terpedoku menghujam memeknya yang
basah. "Aaahhh....sakit" rintih Tari menggeliat sambil terus meremas
buah dadanya. Kudekatkan bibirku dan mencium bibir Tari yang menganga
menahan jerit kesakita sambil kukocok terpedoku pelan. Sempit dan "kesed"
juga. Saat kutarik terpedoku, terlihat terpedoku berwarna merah. Aku
terkejut. "Kamu perawan sayang...." sahutku. Tari mengangguk. "Aku
cinta padamu Tari...." lalu kulumat kembali bibirnya. Tari membalasnya.
Ciumanku beralih ke lehernya dan akhirnya pada puting kirinya. Kuisap
sekuatnya "Agghhh.... nikmat mas. Satu lagi" bisik Tari. Kuisap lagi
puting yang sebelah kanan. Tari menggeliat. Sampai disitu terus kukocok terpedoku.
"Aaaggh....agghh...ssttt....terus mas. Lebih cepat Mas. Aku
mau keluar lagi...." katanya. Kupercepat kocokanku. Makin lama makin
cepat. "Agghh....nikmaat...aku....aku keluar mas aaaaahhhhh......" Tari
menegang sesaat sambil meremas sprei lalu diam sesaat. "Mas cairanku
enak nggak rasanya?" tanya Tari. "Gurih..."jawabku sambil kuteruskan
kocokannya. "Aku mau merasakan spermamu Mas. Maukan nanti
mengeluarkannya didalam mulutku?" Aku hanya tersenyum sambil terus
mengocoknya. "Bret....bret..." suaranya bergesekan dengan memek Tari yang
makin basah. "Uuushhh.... aggghh.... terus Mas. Buat aku orgasma
lagi.....terusin.....aggghh....nikmatnya." Sesaat kemudian tubuh Tari
menegang kembali. Dan terasa makin basah memeknya. Rupanya orgasma yang
kedua kalinya. Bosan juga posisi seperti itu. Kuisap kedua putingnya lalu
kubalikkan tubuh Tari. Kini ganti posisi seperti anjing. Kurentangkan
sedikit kakinya. Dan aku mulai mengocok lagi. "Buat aku puas malam ini Mas. Aku nggak ragu lagi.
Terusin Mas. Habiskan malam ini dengan entotanmu Mas. Aku suka gaya
entotanmu." Tidak kuhiraukan Tari dan terus mengocok.
Dan setelah dua puluh menit
ada sesuatu yang akan keluar dari terpedoku "Ri...aku mau keluar" Lalu
kubalikkan tubuh Tari hingga terlentang kembali. Kucopot terpedoku dan
kukocok dengan kedua tanganku. Terpedoku diarahkan kemulut Tari. Tapi Tari
memasukkan terpedoku kemulutnya. Mungkin ingin merasakan semua spermaku.
Kukocok lebih cepat lagi dibantu dengan isapan mulut Tari. Dan....dan
akhirnya "Cret....cret....." seluruh spermaku
keluar...."Agggghhhhhhhh......." rintihku. Tari menghabiskan semua
spermaku yang kukeluarkan. "Gurih...." bisiknya sambil terus mengisap
terpedoku.
Tapi heran....kenapa
terpedoku masih tegang? Tari memandang terpedoku "Mas kontolmu masih
tegang....." sambil terus mengocok terpedoku "Aku suka Mas. Lakukan lagi
Mas yah. Aku suka lelaki yang kuat entotannya...." Dan akhirnya kami melakukan entotan lagi.
Ah....menyenangkan sekali. Dua kali Tari menegang yang menandakan orgasme.
Wah...berarti sudah empat kali. Dan ketiga kalinya barulah kami berdua
orgasme berdua. Kukeluarkan spermaku didalam memek Tari.
"Hangat....." rintih Tari. "Kutanamkan di rahimmu Ri.
Kalau kamu hamil aku jadi suamimu. Kalau tidak hamil, setelah penelitian
ini aku akan melamarmu...."sahutku. Tari tersenyum lalu menarik
tanganku hingga aku tertidur di atas tubuh Tari. Lalu bibirku
dilumatnya. Kata-kata terakhir yang terdengar dari mulut Tari hanya
"Mas besok kita terusin lagi yah... Kalau malem Mas nggak tahan, bangunin
Tari yah. Tari siap menerima entotan Mas lagi sampai pagi...."
sahutnya. Begitulah cerita. Sungguh luar biasa. Kami akhirnya sering
melakukan entotan disaat yang memungkinkan. Dan losmen itu sering kami
kunjungi kalau kami kemalaman dijalan lagi. Ah....Tari aku cinta padamu
sampai saat ini. Tapi dimana kamu sekarang. Aku rindu entotanmu sebab aku
tidak pernah entotan dengan wanita lain selain dirimu. Aku rindu
tari.
|