|
|
Birthday Adventure
Beberapa tahun lalu saya sempet ikutan
kompetisi Adventure yang diadakan sebuah perusahaan rokok. Ketika itu saya
terpilih jadi satu diantara 50 finalis dari 75000 peserta, akhirnya 10
mengundurkan diri tinggal 40. Walaupun saya tidak menang seleksi tapi saya
memenangkan hadiah yang lebih oke buat saya, yakni salah ceorang cewe
promo girl perusahaan tsb (sebut saja si Dian). Ini buktinya topnya cewek
Ibukota. Beruntunglah para pejuang aktivitas penis yang tinggal di ibukota
negara tercinta ini. Awal pertama saya melihatnya ialah di restoran tempat
semua petualang berkumpul sebelum diberangkatkan menuju lokasi seleksi di
kawasan hutan lindung di Jabar. (sorry gak boleh spesifik takut ketahuan
belangnya hehe).
Ketika itu tugas Dian adalah membagikan
kaos dan aksesoris perlengkapan petualang lainnya. Pertamanya sih saya
tidak terlalu memperhatikannya karena emang banyak banget promo girls yang
cakep-cakep di acara itu. Mana semua pakai celana pendek dan kaos ketat
pendek lagi. Bagi saya waktu itu pemandangan begini jarang banget deh (kan
gue anak kampung). Rata-rata tinggi semampai (min.162cm), putih mulus dan
berambut panjang yang diikat pony tail di belakang topinya. Pakai sepatu
olahraga bermerk semua dengan kaos kaki pendek putih. Ketika itu saya baru
aja nyampai dari Gambir dengan tas ransel berat plus sepatu boot lapangan
saya jadi capai banget. Sambil leyeh-leyehan saya ngeliatin postur mereka
yang emang aduhai banget, rata-rata keliatan udelnya dikit, dan putih
mulus licin. Saya yakin bukan saya saja yang konak ngelihat pemandangan
itu tapi semua lelaki petualang di restoran itu. Tiba-tiba saya dikejutkan
oleh sapaan suara halus serak, "Halo, abang Jaya yah, dari Yogya?", Dian
menyapa. "Eh, hooh mbak", jawab saya gugup karena mendadak ada bidadari
cantik putih di depan ku. Kulihat tubuhnya sintal juga, pasti beratnya
lebih dari 50 kg (tinggi sekitar 165-an).
Atau mungkin pengaruh kaus ketatnya itu.
Udelnya keliatan separuhnya, perutnya langsing licin juga. Kakinya jenjang
berisi dengan paha yang sedikit lebih gede dibanding betisnya (tidak kurus
gitu). Betisnya mengkilap licin. "Ini tolong diisi ya, mas!", sambungnya
membuyarkan lamunanku. Dian menyodorkan selembar kertas berisi perjanjian
yang menyatakan kesediaanku menanggun semua risiko, termasuk kematian!
Wah, karena yang nyodorin bidadari ya langsung aja saya tanda tangani (di
akhir seleksi pahaku sempat robek kecil 10cm). "Oke, bawa sini", jawabku
mantab. Setelah itu saya berbasa basi dan berkenalan. Ternyata ia pernah
di Yogya juga, ia peranakan Jawa-Cina -Padang. Mungkin karena itu ia
menjadi LO saya dan beberapa rekan Jateng. Kemudian ia pamit sebentar
mengambilkan perlengkapan untukku. Pagi itu ia menemani makan pagi sambil
mendengarkan briefing serta cerita petualang tahun lalu yang sempat patah
kaki tapi lolos seleksi. Asyiknya makan diruangan yang penuh bidadari dan
sesama petualang. Serasa mau berangkat perang. Pagi itu sarapan enak kita
terakhir sampai akhir minggu itu.
Setelah itu kita harus berpisah dengan
bidadari Liaison Officer kita dan naik bus menuju lokasi. Di tengah jalan
kita dibentaki untuk pindah naik truk gerobak untuk melalui jalanan kasar
menuju base camp. Rupanya panitia menyewa tentara untuk menguji kita. Ah,
siapa takut. Yang penting nanti ketemu Dian lagi begitu pikirku (ah tapi
bukan cinta at first sight lho). Sesampainya di base camp kita
diperintahkan meninggalkan ransel dan mempersiapkan peralatan trekking.
Kubawa kompas dan senter, tak lupa laken air serta sebatang coklat.
Kemudian kita dibawa oleh perahu melintasi danau dan dilepas di tengah
hutan. Hari mulai gelap, tugas kita mencari jalan pulang ke base camp
dibantu peta buta. Sial juga, malam itu saya sempat tersesat sendirian,
mana kaki terkilir terpeleset di tebing. Setelah itu saya berdoa, akhirnya
saya berhasil sampai pulang ke base camp jam 2 pagi. Total perjalanan ca
20 km. Hari-hari berikutnya penuh dengan berbagai even uji ketangkasan
baik di air maupun darat. Dengan tanpa peralatan sampai ke kendaraan
offroad. Persahabatan sejati antar petualang memungkinkan kita untuk
survive, baik ketika kita kelaparan di tengah hutan maupun saat kita
terluka. Untungnya dokternya cantik, jadi kita berebut untuk bisa
menemuinya. Saya yang robek pahanya terjatuh dari motor sempat pula
dielus-elus bu dokter cantik, tapi gak ada konaknya lha pakai alkohol kan
perih.
Beda deha ama cerita sunatan terus
to'olnya disuntik alkohol tempo hari. Gila aja tuh cerita. S&M kali
ya? Kembali ke cerita akhirnya selesai juga seluruh even melelahkan itu.
Puncaknya ialah hari terakhir berenang lintas danau diteruskan trekking
lari cross country (total 25 km-an). Malamnya kita berbarbeque di pinggir
danau sekaligus perpisahan. Saya masih ingat hari itu adalah hari ulang
tahun saya. Malam itu datanglah sejumlah bos beserta seluruh LO kita yang
cantik-cantik. Lumayanlah penyegaran setelah semingguan dikerjain ama
mas-mas sangar berambut cepak. Seperti bisa ketebak, malam itu saya
bertemu Dian. Dian dan teman-temannya masih memakai seragam promo girlnya
yang seksi itu. Maklum para bos kita kan rada kejam juga sama
karyawatinya, pakai mini lah baju seksilah, ayo LSM wanita protes dong
eksploitasi ini. Anyway, malam itu saya mengambil daging sebanyak mungkin
agar bisa jadi energi untuk keesokan harinya. Kuhampiri Dian untuk
menawarkan jaket dekilku, gentleman kan?, mulanya kupikir ia akan menolak
karena jijay, eh ternyata ia mau, entah karena malam emang dingin banget
atau ia emang pingin nunjukin niat berdekatan denganku. Yang jelas jaket
perang koreaku menjadi pahlawan malam itu.
Ketika malam makin larut dan para bos
pulang ke Jakarta (promo girlsnya pada nginep karena esoknya bantuin jadi
water girls, itu yang bagiin minuman di jalan) akhirnya saya dan Dian
mojok berdua. Kayaknya dia emang respon baik ke saya. Bahkan sambil
bergurau ia sempat mengelus jenggotku yang beberapa hari tak kucukur.
Orang hutan katanya. "Eh, Dian, aku hari ini ulang tahun lho, ke 21",
kataku sambil bermuka sedih. "Oh ya, wah selamat ya, tapi kasihan ya",
jawabnya. "Lho, kenapa emangnya?" "Kan, harusnya dirayain di tempat
romantis sama yayangnya" katanya sambil melirikku manja. "Hehe, nah ini
lagi ngapain" "Maksudnya?", tanyanya dengan muka lucu. "Ya kan aku sedang
ditemenin yayangku di tengah alam bebas dan diterangi pijar api unggun di
kejauhan, kurang romantis apa coba?" "Ah, mas Jay bisa aja ngegombal",
katanya sambil mencubitku gemas, tapi emang bener sih gombal. Gombal dikit
gak pa pa. Yang penting kan bukan untuk nyakitin hati cewek. Yang jelas
seiring larutnya malam kita makin akrab. Sampai ke, "Dian mau ngasih kado
apa nih buat aku?", tanyaku. "Hmm, apa yah, ikut aku deh", katanya sambil
berdiri, digenggamnya tanganku. Halus benar dibanding telapak tanganku
yang tertempa tali tampar, bebatuan tebing, dayung dan kendali kendaraan.
Berdua kita menyusuri jalan setapak
menuju base camp sampai pada suatu kesempatan kita berbelok memasuki
rerimbunan. Untung malam itu bulan bersinar terang sehingga cukup
menerangi langkah kita. Pikiranku udah sangat ngeres sampai akhirnya kita
berhenti pada segerumbul bunga sepatu. Dian memetik tiga buah dan
memberikannya padaku. Setelah kuucapkan terima kasih, kuambil satu lalu
kuselipkan pada telingaku. Dia tertawa. Lalu satu kuselipkan pada
telinganya, cantik sekali dia. Yang sebatang lalu kugigit, lalu kuberlutut
dan mencium tangannya. Dian tertawa renyah karena kelakuanku. Lalu
ditariknya aku berdiri. Tiba-tiba ia merangkul pundakku lalu mencium bibir
ku yang menggigit bunga. Setelah itu diambilnya bunga itu lalu ia kembali
menciumku. Kali ini bukan sekedar kecupan namun kusambut dengan kuluman
hangat bagai sepasang kekasih. Tercium bau rambutnya yang wangi serta
kontras denga bau jaket koreaku yang kecut. Kususupkan tanganku di
punggungnya sambil sesekali menggigit lembut bibirnya. Terasa dada padat
kenyalnya lembut menekan dadaku, terasa hangat di dalam dinginnya malam di
daerah perbukitan ini. Kurebahkan tubuhnya perlahan di atas tanah lalu
tanganku mulai nakal menjelajah memasuki t-shirt ketatnya, dari perut lalu
naik ke susunya yang ber-BH katun elastis tipis. Nampak Dian juga
menikmati, membuatku semakin berani menjelajah kebalik BH-nya dan meremas
bongkahan daging indah itu lembut namun mantap. Malam itu tidak terjadi
keseruan apapun.
Maklum esoknya hari yang melelahkan buat
saya. Namun Dian berjanji apabila saya berhasil selamat sampai finish ia
akan memberiku hadiah yang lebih spesial. Karena ucapannya sambil melirik
dan tersenyum nakal maka pikiran jorokku sudah ke mana-mana. Keesokannya
lomba dimulai jam 6 pagi, kita berangkat dengan perahu ke seberang danau.
Startnya dilakukan dari atas sebuah bukit. Kita harus naik ke sebuah
tebing 75m dengan scrambling lalu menuruni disisi lain dengan rappeling,
lalu mencebur ke air danau berenang sejauh 4 km ke seberang danau lalu
lari lintas hutan sampai finish. Singkat aja saya berhasil selesai di
urutan ke lima (namun karena saya pernah gagal di nomor MTB, akibat
keseleo di malam pertama, akhirnya saya gagal seleksi). Saya sempat
bertemu Dian ketika keluar dari danau, sambil memberiku segelas air ia
sempatkan mencium pipiku sambil berbisik, "Ingat hadiah istimewanya lho,
Jay". Beberapa kawannya sempat nyorakin tapi Dian senyum aja cuek,
akhirnya saya memulai cross country dengan hati damai dan kontol siaga.
Itulah hebatnya wanita, bisa membuat sebagian otot kita melembut sekaligus
otot lain menegang. Sesampainya di finish, saya celingukan mencari
bidadariku yang memberiku semangat sehingga saya berlari bak diuber
anjing. Entah kenapa, sebetulnya ada banyak promo girl cantik sexy yang
ngasih air dan mengguyur kita sepanjang lintasan namun yang ada di benakku
hanya Dian dan tubuh sintal hangatnya. Setelah agak lama duduk di bawah
bivak peneduh akhirnya datang sebuah jip yang mengangkut beberapa promo
girl. Kaki-kaki mulus berlompatan turun dari mobil, hingga ke sepasang
kaki mulus terbalut Reebok putih biru tua. Dian!!! Dengan cepat Dian
melangkah menuju saya dengan senyum lebar dan tangan terbentang.
Dia langsung memeluk tubuhku yang masih
sedikit berkeringat dan sangat bau ini. "Selamat ya, I'm so proud of you
honey!", wah dia menyebutku 'honey'. Kusambut rangkulannya dan kukecup
pipinya. Kawan-kawanku yang juga telah sampai finish bersorak dan mulai
berkomentar sirik. Kita tersenyum aja cuek. Kugandeng Dian berdiri
melangkah pergi, "Mau nyari air dulu ya, rek!", dalihku. "Banyu opo rek,
nggali sumur tah?", goda Guntur, dasar arek Suroboyo gendeng sitok iki.
Untung si Dian cuek. Akhirnya kita menuju ke tepian danau tempat beberapa
kano tergeletak setelah dipakai lomba beberapa hari lalu. Kebetulan
tempatnya sepi, panitia sibuk ngurusin kawan-kawan yang belum sampai
finish serta peserta yang rewel dan cedera. Sebagian peserta juga sibuk
godain promo girl yang nyebarin refreshments buat mereka. Akhirnya kita
duduk berdua di sebuah tenda kubah tempat perlengkapan air disimpan.
Karena sebagian perlengkapan tadi dipakai event maka tempatnya agak
longgar. Wah asik juga dari luar pasti tak ada yang curiga. Dian senyum
senyum aja sambil sesekali membersihkan mukaku dengan handuk kecil yang
sudah dibasahi, tak lupa dia membersihkan luka di paha kananku. Saya lalu
membuka ventilasi tenda, karena walapun di bawah pahan mulai agak panas
juga. Kulepas kaus kutungku dan kubersihkan tubuhku dengannya. Dian
memandangiku dengan senyum simpul, matanya mengikuti segenap gerakanku.
Kubalas tatapannya dengan senyum pula.
Damai sekali terasa. Gadis ini memang
memiliki pandangan yang menyejukkan. Walaupun tubuhnya sangat sexy namun
kepolosan wajahnya bisa membuat lelaki sejenak tidak berpikir ke arah
'itu' (tapi sejenak aja lho hehe). Kubelai lembut rambutnya yang kini
tergerai setelah topinya dilepas. Indah sekali, sedikit ikal dan
kemerahan, sesuai dengan matanya yang bening coklat.. Ah tak tahan
lama-lama, kutarik tengkuknya dan kukecup bibirnya lembut, "Katanya mau
ngasih hadiah", tanyaku penuh harap (ngeres sih), "Apaan sih hadiahnya?
Istimewa kan?" sambungku sambil tersenyum nyengir kuda. Tiba-tiba Dian
melepaskan pelukanku lalu meraih kebelakang tengkuknya. Kupikir ia hendak
melepas BH eh salah, ternyata ia melepaskan kalung kulit yang melingkari
leher putih jenjang indahnya. Kemudian ia menyuruhku menunduk dan
mengalungkannya padaku. Kulihat liontinnya dari logam berbentuk
lumba-lumba. "Kalung ini aku dapat dari Kanada, kata saudaraku di sana
lumba-lumba itu simbul penjelajah bumi menurut kaum Indian di sana, elu
tuh petualang gue", jelasnya. Saya mengangguk-angguk dan mengucapkan
terima kasih. Namun mungkin tersirat juga di wajahku pandangan berharap
konak gak jadi. "Nah, yang ini bonusnya Jay!", tiba-tiba Dian bangkit dan
duduk di pangkuanku menghadap wajahku. Dirangkulnya leherku lalu
dikulumnya bibirku. Wah, kaget nikmat juga nih, dan si Jenderal pun
menabuh genderang perang.
Dengan tangkas Dian melepaskan kaus
ketatnya dan BH katun putih tipisnya. Jadi kita sekarang tinggal bercelana
pendek dan bersepatu sport. Susunya yang putih besar itu menantang sekali,
putingnya pink dengan areola sebesar logam seratusan lama. Ujung
putingnyameruncing kecil membuatku tak tahan untuk segera mengulumnya.
Kutangkap kedua susunya dan kuremas satu sama lain sambil bergantian
kukulum kedua putingnya. Dian mengerang dan menggelinjang. Tangannya
menyusuri tengkukku mengusap dan menjambak rambutku. Tak lama kemudian
kembali kukulum dan kulumat bibir indah Dian sambil memeluknya erat
sehingga dadanya tergencet dadaku yang kekar. Kedua telapak tanganku
bergerak menyusup masuk ke dalam celananya meremas kedua bongkah daging
mulus yang tersimpan dibaliknya. Dian mengerang dan terus menggelinjang
diatas pahaku sehingga membuat gesekan dengan si Jendral yang makin keras
aja (maklum udah 2 minggu gak dapet mecky maupun coli). Perlahan
kurebahkan tubuh Dian ke sampingku. Dalam posisi begini Dian tampak cantik
sekali. Susunya yang besar tampak mengembang ke samping dan naik turun
seiring desahan nafasnya. Tangannya tergeletak ke atas bersama beraian
rambutnya yang membuatnya makin feminin. Saya merunduk dan mengecupnya
sembari telapak kananku menyusup menuju kawasan sensitifnya, sebelumnya
dengan terampil kulepaskan kancing dan ritsluiting nya. Perutnya
berkeringat, tapi terasa dingin, dasar emang cewek langsing begini pasti
biarpun panas berkeringat, tetap aja tubuhnya sejuk menyegarkan. Jemariku
terus berkelana memasuki tepian CD-nya yang berenda hmm cukurannya rapi
juga. "Jay, jangan pakai tangan ya say, kan kotor, ntar gue keputihan",
tiba-tiba Dian menghentikan tanganku untuk masuk lebih jauh. Iya sih gak
tahu kan kuman apa aja yang nempel di tubuh dekil saya.
Akhirnya kuraba aja garis meckynya dari
luar celana dalam katunnya. Karena dari bahan katun, cepat saja cairan
cintanya membasahi permukaan CD-nya. Langsung aja saya berinisiatif
memelorotkan celana pendek merah sekaligus CD putihnya (nurunin bendera
dong?). Dian mulai mendesah sambil matanya terpejam, kepalanya mendongak
ke atas dan bibir bawahnya digigitnya lembut menahan desahan gairahnya.
Kupandangi bidadari cantikku ini. Badannya yang bugil putih mulus
berkeringat mengkilat memantulkan warna biru tenda (bukan lagunya Desy
lho!). Secepat kilat kupelorotkan celana pendek Reebok hitamku, tentu
sekaligus CD sportku (celana renang Speedo). Kini tubuh kita sama-sama
bugil kecuali sepatu lari kita. Wah jadi ingat pas di Jerman sama si
Tiffany dari Quebec. Lalu kurebahkan tubuhku tengkurap diatas badan Dian,
dada kita bersentuhan namun badanku masih kutopang dengan kedua tanganku.
Si Jendral bergesekan lembut dengan bibir mecky Dian yang mulus tercukur
rapih. Dari cukurannya kayaknya dia bukan virgin lagi nih. "Elu yakin gak,
Dian? Kita kan baru kenal.Gue gak mau ngambil perawan elu, Dian", bisik
gue sok muna. Dian gak menjawab tapi tersenyum aja sambil matanya
dikedipin seakan menganguk mengerti akan sikapku.
Herannya cowok kalo bersikap gentle gini
malah dapet lho biasanya, tapi ada juga sih cewek doyan dikasarin. "Gue
juga pengen kok, Jay. Gue suka ama elu.", bisik Dian kemudian sambil
tangannya turun mencari si Jendral. Herannya walaupun si Jendral udah
sembunyi diantara lembah pahanya Dian masih aja ketemu. Dasar Jendral suka
sembunyi tapi pasti ketahuan deh. Digenggamnya lembut si Jendral sambil
perlahan mengocoknya naik turun dalam ritme yang pelan sekali. Saya gak
tahan lagi deh, buru-buru saya memelorotkan badan ke bawah untuk kemudian
kubenamkan lidahku ke celah mecky Dian. Dian nampak terkejut nikmat dan
spontan menjambak rambutku. Kuteruskan sejenak hingga basah banget, aroma
wanginya terasa menyengat dan asin, mungkin karena berkeringat. Panasnya
udara di dalam tenda makin panas aja. Perlahan kuberanjak naik ke
perutnya, kususuri sekeliling pusarnya dengan jilatan kucing lembut, lalu
naik ke dadanya yang membusung karena diremas tangannya. Hmm bukit runcing
kembar ini lembut sekali, kalo semalam saya kurang jelas melihatnya karena
gelap kini tampak jelas putingnya yang memang pink tegak runcing bagaikan
ujung hapusan pencil. Dian menikmatinya sambil mendesah dan menggelinjang.
Dia tak mau kalah, dijepitnya si Jendral yang panas dengan pahanya lalu
digeseknya perlahan. Dari sini kuyakin bahwa ia bukan perawan, habis
tekniknya mahir sekali. Semoga meckynya tidak longgar, pikirku.
Tak lama kemudian Dian menarikku keatas
dan kitapun berciuman mendalam sekali. Basah. Itulah kata yang tepat
menggambarkan keadaan kita berdua saat itu. Luar-dalam baik oleh keringat
maupun cairan gairah kita. Dian lalu meraih si Jendral dan menuntunnya
menuju lobang meckynya. Disibaknya labia mayoranya dengan palkonku lalu
blesek, dengan lambat tapi lancar si Jendral memasuki dunia basah yang
amat disukainya. Walaupun terasa agak longgar namun enak juga mecky si
Dian. Terasa hangat dan licin sekali. Kupercepat goyanganku wah ternyata
meckynya nyedot juga. Tapi tidak empot-empot kayak punya si Hwa-hwa. Biasa
aja tapi ya enak dong, mana ada sih ML gak nikmat. Yang bikin istimewa
dari si Dian ialah kecantikannya yang semakin bersinar dan tubuhnya yang
ideal sekali dipegang. Gerak tubuhnya ritmis bukti kerajinannya
ber-aerobik. Sembari kakinya disilangkan dibelakang pantatku, pantatnya
bergoyang mengikuti irama pompaanku. Enaknya ngentotin bidadari. Sekitar
20 menit berlalu dan sayapun mulai merasakan palkon saya mulai berkedut.
"Dian honey, gue mau keluar nih", ucapku cemas," dicabut dulu yah, ganti
posisi". Tanpa disuruh dua kali Dian langsung membalik tubuhnya dan
nungging. Pantatnya indah luar biasa, labia mayoranya yang tebal tampak
merangsang sekali dari belakang. Hmm, langsung aja kugesekkan kembali
palkon saya pada celah meckynya dan slep, kali ini semakin licin aja namun
terasa banget panasnya meckynya meningkat. Dengan liar Dian menggoyang
pantatnya maju mundur kiri kanan memutar. Sejenak saya diam, kubiarkan ia
menikmati ritme sesuai keinginannya, namun lambat laun gerakannya mulai
lemah.
Langsung aja kupegang pinggangnya yang
langsing licin dan kubenamkan dalam-dalam si Jenderal, lalu dengan ritme
teratur kusodok dalam sekali. Dian meronta dan mulai terjerembab ke depan.
Ah sekalian aja kutindih tubuhnya dari belakang, pompaanku pun makin cepat
dan akhirnya sampailah. Kucabut cepat dan kujepitkanbatang si Jendral pada
celah pantat dan crrt... crrttt... spermaku melesat membasahi punggungnya
bahkan sebagian sampai ke rambutnya. Kupeluk ia sambil badanku rebah ke
samping. Ah capai sekali saya habis triathlon gitu langsung ML dengan
gadis sexy yang liar ini. Masih untung saya bisa konak sepanjang
permainan. Setelah itu kita berbenah dan cepat keluar dari tenda, masih
sepi, ah aman deh pikirku. Lalu kita bergandengan menuju base camp.
Ternyata sedang ada briefing penutup sebelum sorenya kita semua berangkat
kembali ke Jakarta. Melihat kita berdua mesra bergandengan gitu, Mr. Kim
bossnya, meledek kita. Teman-temanpun bersorak. Kulihat Dian tersipu malu.
Ah, bidadariku ini, saya masih hutang O padamu.
Sore itu kita kembali ke Jakarta
terpisah, Dian dengan kendaraan panitia, saya naik bus mini bersama rekan
petualang lain. Karena kupikir di Jakarta kita masih bisa ketemu maka saya
gak sempat tukeran alamat. Ternyata dugaanku salah, kita langsung dibawa
ke Gambir dan Pulo Gadung. Saya lalu naik Senja Utama bisnis kembali ke
Yogya. Perasaanku menyesal sekali, pingin rasanya tinggal di Jakarta
beberapa hari lagi namun ternyata kita sudah dipesankan tiket pulang
sesuai cara kita datang. Ya sudah, kawan-kawanku berusaha menghibur namun
tetap saja sedih hatiku. Kalau saja ada waktu dan kesempatan mungkin
pertemuanku dengan Dian bisa menjadi love at first sight tuh. Namanya
jodoh, susah ketebaknya.
Kalaupun ada keajaiban dan Dian membaca
cerita ini, wah kayaknya cepet-cepet kontak gue deh. Miss you so much!
Emang bukan nama sebenarnya yang gue pake, tapi kalau elu baca secara
mendetil pasti elu bakalan ingat deh. Dari tempat ama waktunya aja elu
pasti inget deh ya.Yah gue realistis aja, gak berharap banyak, anggep aja
sebuah pertemuan antar teman lama, kayanya seru, kan?
|
|