LANGSING

Payudara Besar Cara Memperbesar Payudara

PERBESAR

Payudara Kencang Mengencangkan Payudara

KENCANG

Mengatasi Frigiditas dan Kesulitan Orgasme

FRIGIDITAS

Cara Mengobati Ejakulasi Dini dengan Hipnoterapi

EJAKULASI

Mengobati Impotensi Tanpa Obat Kuat

IMPOTENSI

CARA MENGHIPNOTIS CEWEK

 

Telepon Seru

 

Hari itu seperti biasa aku sedang nonton video sama cowokku. Kita berbaring
berpelukan di sofa. Lalu tiba-tiba telpon berdering. Dengan agak malas aku
bangkit, lalu masih dengan di sofa, aku mengangkat telpon, ternyata temanku si
Risa. Karena kupikir dia cuma nelpon sebentar, aku tetap berposisi dekat
telepon, biar tidak bolak balik.

Aku berlutut diujung sofa, satu tangan bertumpu di sandaran tangan, dan tangan
lain megang telpon, aku membelakangi cowokku yang masih tidur berselonjor di
sofa.

"Eh Ris, ngapain nelpon?"
"Iseng aja, Jan, elo nggak keluar?"
"Nggak nih, lagi nonton video," jawabku.
"Ooo... barusan mau ngajak pergi," katanya lagi.
"Nanti deh, maleman dikit," kataku.

Sambil ngomong kurasakan kaki cowokku mengusap-usap belakang pahaku, malah
sempat masuk ke celana pendekku, dan menyenggol-nyenggol buah pantatku. Aku
menengok sambil mendelik, tapi sambil tersenyum juga. Kulihat dia menaikkan
alisnya sambil tangannya yang satu memegang selangkangannya. Kucuekin dia. Eh
kakinya malah mencoba menyenggol selangkanganku, karena kupikir iseng,
kurenggangkan pahaku hingga niatnya kesampaian.

Dasar si Risa bawel, obrolannya nggak cuma sedikit. Kuladeni dia sambil melirik-lirik TV. Tiba-tiba cowokku berdiri, eh kurasakan kontolnya sudah tegak, dan
menyundul-nyundulku dari belakang. Aku cuma tertawa saja dan mendorongnya
pergi. Ia pergi, cuma mematikan video dan menggantinya dengan TV sehingga masihada suaranya. Dan ia kembali lagi menggangguku.

Lalu ia menarik turun celana pendek dan sekalian juga celana dalam yang kukenakan, dan mendorongku hingga menungging sedikit. Lalu ia mengusap memekku dari belakang, menciumi tengkukku. Aku jadi terangsang. Tak kuperhatikan lagi omongan si Risa. Malah sengaja aku bertanya-tanya hingga si Risa menjawab panjang lebar. Jari-jarinya ahli sekali, menggosok, menggoda, kadang menarik jembutku dengan pelan, memasukkan jarinya ke dalam memekku, sampai tak lama kemudian aku sudah basah dan terangsang.

Cowokku melepaskan celana pendek dan celana dalamnya juga, lalu mulai
mengentotku. Kututup corong speaker di telpon itu, lalu aku berbisik "Gila
loe!! Lagi ngomong nih gue!" Tapi dia cuek saja, dan memang dia tahu aku sudah
terangsang juga. Tangannya membuka memekku yang rapat, lalu kontolnya yang
panjang mulai masuk. Rasanya enak sekali ketika kepala kontolnya sudah masuk
mengganjal. Lalu ia mendorong kontolnya sedikit demi sedikit, hingga akhirnya
seluruh panjangnya berhasil masuk. Dengan mantap dia mulai mengentotku
pelan-pelan, kadang berhenti kalau aku kesulitan bicara. Aku memang kesulitan
bicara! Nafasku sudah memburu, dan kugerakkan juga pinggulku depan belakang
mengimbangi irama entotannya.

"Ngapain sih loe Jan?" tanya si Risa mengagetkanku.
"Hah? Ehh... nggak... hmm... aku digigit nyamuk nih, jadi musti bungkuk-bungkuk
nggaruk," jawabku asal. Kututup lagi speakernya dan mengeluh "Aaaaahhhhh....
lagi... yang keras!"
"Oooo... gitu..."kata si Risa nggak curiga. "Udah denger belum gosip baru si Edi sama Sonya?"
"Belum tuh," kataku susah payah. "Cerita dong!"
Lalu saat si Risa sibuk bercerita, aku menutup speaker telpon nya lagi, dan mengerang-erang.

"Enak Jan?"kata cowokku.
"Ehhhgg... ahhhh..... aduhh nakalnya kamu... Oh! Oh!"
"Tapi suka kan..." jawabnya sambil tangannya masuk ke kaosku dari bawah. Karena di rumah sama dia saja, aku nggak pake beha. Tangannya langsung menemukan kedua toketku yang bergantungan bebas dan terayun-ayun seirama gerakanku maju mundur. Memang ia suka sekali memainkan toketku yang bulat dan lembut itu. Diremas-remas, dan jarinya menarik dan memutar-mutar puting susuku. "Ohhhh... iya.. iya...."

"Jan? Dengerin nggak sih loe?" kudengar lagi suara si Risa. Aku memegangi tangan cowokku, mengisyaratkan supaya ia berhenti mengentotku dulu, kurasakan ketegangan kontolnya berkurang, tapi aku tidak kuatir karena begitu ia mulai mengentotku lagi pasti kontolnya cepat sekali jadi keras. Ia berhenti tapi tangannya tetap meremas-remas toket dan pantatku. "Iye... denger kok.. yang elo bilang si Sonya mau pindah ke kota lain itu? Terus si Edinya gimana dong? Apa nggak bisa minta pindah aja sama bosnya?" kutanya dia bertubi-tubi dengan nada penasaran dan memancing supaya ia bercerita lagi. Melihatku diam, cowokku mulai aksinya lagi. Kali ini ia memegangi pinggulku dan menyodokku keras-keras. Aku menarik nafas dan menghembuskannya pelan-pelan. Dahiku mulai keringatan. Toketku rasanya makin gede saja dimainkannya, puting susunya juga ikut dipijat-pijat sampai aku kelojotan.

Akhirnya aku tak tahan lagi.  "Ris, Ris, sori lho, aku tapi inget janji nelpon adikku jam segini, dia kan minta dijemput, nah ini waktunya dia ada di rumah. Aku telpon kamu lagi ya?" "Hah? Oke deh...dan kita mau cabut jam 8 kalo elo mau ikut."
"Iya.. dahhh" Langsung telepon kutaruh, dan aku mkulai mengerang dengan bebas.
"Aduhhhhh...OH!! Ohhhhh!!!!! Sekarang! Sekarang!" seruku dengan ngos-ngosan.
"Sekarang apa?" kata cowokku dengan lagak santai, padahal kontolnya sudah
tegang sekali.

"OOhhhhh... sekarang entot aku kuat-kuat... please...." kataku sambil memaju
mundurkan pinggulku, mencoba menanamkan kontolnya kuat-kuat kedalam memekku. "Nih!!! Nih!!! Seperti ini?! Nih!!" katanya sambil menghujamkan kontolnya itu. "Iyaaa!!!! Ohhhhhhh.... Ahhhh!!!!!!!!!!!!" ceracauku sambil
menghentak-hentakkan pinggulku. Dengan mahir ia menyodokku, kadang pelan, kadang cepat dan dalam. Aku sudah tak tahan sekali dan akhirnya....."Uugghhh!!!"
Ia mengentotku makin cepat dan makin cepat, sampai akhirnya kita berdua sampai. Kalau dia orgasme, ia menusukkan kontolnya kuat-kuat di memekku, lalu dia diam, sampai semua maninya keluar. Kali itu kurasakan banyak sekali. Kami lemas di sofa.

"Bandel kamu..."kataku dengan sayang padanya. "Hmmmmmmmmmmmm" hanya itu jawabnya.

Sore itu kita habiskan dengan menonton sisa film. Tapi sejak saat itu kalau si Risa telepon, dia sering mengerjaiku, kadang nungging karena paling gampang dan aku bisa bicara di telepon, kadang aku diatas, dimana aku berhenti tiap kali aku bicara di telpon. Kenapa Risa? Karena Risa jarang mendengarkan orang, dia terlalu sibuk bercerita dan menggosip. Tentu sampai saat ini si Risa nggak tahu apa yang kami kerjakan waktu ia telpon di waktu senggang. Boleh dicoba, tantangnnya nikmat sekali dan menambah bumbu hot di ranjang, karena orang yang diajak ngomong tidak tahu apa yang kita lakukan.

ke awal

 

 

 DOWNLOAD E-BOOK GRATIS

Cerita Seks Khusus Dewasa - Cantik Seksi Indonesia - INDEX

1