LANGSING

Payudara Besar Cara Memperbesar Payudara

PERBESAR

Payudara Kencang Mengencangkan Payudara

KENCANG

Mengatasi Frigiditas dan Kesulitan Orgasme

FRIGIDITAS

Cara Mengobati Ejakulasi Dini dengan Hipnoterapi

EJAKULASI

Mengobati Impotensi Tanpa Obat Kuat

IMPOTENSI

CARA MENGHIPNOTIS CEWEK

 

Si Boy Naik Parahyangan

 

Gue kebetulan ada tugas di Bandung, berangkat tgl. 27 April 2000 dan pulang ke Jakarta tgl. 28 April 2000. Kebetualn tugas kali ini adalah mengantarkan buyer dari Amrik yang mencari kerajinan tangan serta garment. Eh gue pikir 1 hari cukup, ternyata harus diperpanjang lagi di Bandungnya. Tapi gue hari Sabtunya (29 Apr 2000) ada meeting sama para bapak2 petinggi kita di Jakarta. Nah urusan yang satu ini gue paling kagak doyan deh. Alasan gue nggak doyan ya biasalah, gue agak idealis dan sebenernya nggak tahan untuk mengangguk-ngangguk kayak orang bloon. Apalagi bidang usaha gue jauh dari KKN. Tapi apa boleh buat namanya juga sebagai pengusaha dari Indonesia yang notabene adalah Warga Negara Indonesia, jadi harus dekat dan mau tidak mau pasti ngelobi juga ke daerah pemegang kekuasaan.

Pendek kata gue harus naik Parahyangan karena mobil dan staff gue harus tetap di Bandung nemenin si bule2 itu. Dulu2 waktu gue masih ada gawe di Bandung yg namanya pulang balik Jkt  Bdg sih nggak keitung. Naik mobil, 4848, kereta api, sampai naik pesawatnya Pak Habibie alias CN-235. Gue dapet tiket nomer 12B gerbong 1, waktu gue nyari gerbongnya hampir salah naik Argo Gede, untung ada yang kasih tau. Ya gitulah salah satu kekurangan KA kita, kurang penunjuk jalan dan tanda2. Ah enaknya adem AC di kereta, begitu duduk gue langsung ngantuk2. Yang gue penasaran 1000X naik Parahyangan belum pernah sebelah gue ceweq kece alias OK. Kali ini sebelah gue bapak2 paruh baya yang duduk disamping gue. "Sore pak, baik2 aja kabarnya" kata gue sok akrab. "Oh baik aja mas" jawab si bapak itu. Tidak lama kemudian kereta berangkat dari Bandung menuju Jakarta. Nah gue perkirakan akan tiba di Jakarta sekitar jam 7 malam. Dan mudah2an gue bisa ajak Savitri (pacar gue) makan malam dulu sebelum tidur.

Baru juga kereta jalan sekitar 30 menit, bapak bilang "Mas kalo tuker tempat duduk keberatan nggak, karena anak saya duduknya jauh". "Boleh pak, kenapa nggak bilang dari tadi aja, mari2 saya pindah ke tempat anak bapak saja" kata gue menawarkan. Maka gue dan bapak itu berjalan menuju ke gerbong satunya, setibanya di gerbong berikut, si bapak mengajak anaknya untuk pindah ke kursi bekas gue, dan bapak itu menukarkan juga tiket kereta gue dgn tiket kereta anaknya. Dan yang nggak gue sangka2 adalah, DISAMPING GUE TERNYATA DUDUK SEORANG WANITA YANG BUKAN MAIN CANTIKNYA. Ini dia kata gue dalam hati, sudah gue tunggu2 bertahun-tahun, naik Parahyangan duduk disamping ceweq kece. "Mbak, maaf ya ganggu, ini tadi si bapak minta saya tukaran dgn kursi anaknya" kata gue basa-basi. "Oh silahkan" kata si ceweq pendek.

Setelah meletakkan tas dari bahan nylon berisi perlengkapan sehari-hari di rak atas kepala, guepun duduk disamping si cantik itu. Biar lebih detail gue perinci penampilan si ceweq ini. Wajah mirip Tia Ivanka yang bintang iklan dan sinetron itu, putih hidung mancung, alis mata tebal (bukan buatan), bibir pas, dagu indah, leher jenjang. Kalau tinggi badan belum tau gue, tapi keliatannya sih cukup tinggi nih ceweq. Terus kalo ukuran tonjolan dada, juga belum keliatan karena dia pakai blazer warna biru tua. Yang pasti ceweq ini sih serba mahal, karena tasnya Louis Vuitton, jamnya Patek Phillip, sabuk Gucci, belum lagi cincinya mata satu. Busyet dah, gue kok jadi matre gini menganalisanya. Tapi emang bener deh, naik kereta aja kok begitu jreng dan menonjol. Sementara gue hanya pakai jeans belel, t-shirt putih, sepatu sport, dan nggak pakai perhiasan sama sekali, kecuali jam tangan dengan belt dari kain merek Swatch. Sambil menghabiskan waktu di perjalanan, gue baca majalah favorit gue, Golf Digest. Emang sih gue ini termasuk maniak golf (sebodo kalo ada dari pembaca yang tau gue ini sebenernya siapa). Eh rupanya majalah gue ini pembawa keberuntungan, karena si cantik itu ternyata tertarik dengan bacaan gue ini. "Mas, seneng golf ya" tanya si cantik. "Iya mbak, kok tanyanya gitu, apa mbak juga seneng main golf" tanya gue juga.

Dan ternyata emang dia seneng golf jadi kita ngobrol banyak ttg golf. "Jadi kamu itu bukan kuliah di Bandung" tanya gue. "Enggak, dulu aku memang kuliah di Bandung, tapi sekarang di Los Angeles, karena ayahku meminta untuk pindah kesana, kan adikku sekolah di LA sejak SMP. Sekarang waktu College ayahku memintaku pindah untuk jagain dia". "Oh gitu ceritanya, kalo saya baru pulang urusan kerjaan dari Bandung" kata gue lagi. "Mas kerja apa di Bandung" tanya si cantik. "Saya kerja trading, biasalah kerja kecil2an, dan saya ini hanya bawahan aja" kata gue merendah. Pembicaraan kita semakin jauh dan dia menawarkan untuk janjian pergi hari Sabtu malam di Jakarta. Nah ini dia deh, gue langsung aja tangkap peluang untuk tau lebih jauh tentang si cantik ini. Malam itu ternyata kereta yang gue naikin baru sekitar jam 9 malam kurang tiba di Jakarta, itu semua gara2 kereta ngantri masuk ke Gambir. Kan ada KRL tabrakan di Manggarai karena stasiun kontrol disambar petir. "Mas pulangnya naik apa, kalo nggak dijemput ikut saya aja" kata si cantik itu. "Saya belum tau deh naik apa, ya naik taksi aja kan banyak" kata gue. "Udah ikut aja saya, nanti biar diantar supir saya" desak si cantik lagi.

Akhirnya gue dari Gambir naik mobil si cantik itu yang ternyata Freelander-nya Land Rover warna biru tua. Karena gue nggak mau ketauan rumah gue, di ujung jalan rumah di daerah Kemang gue turun aja. "Oke ya sampe ketemu, besok saya akan telpon kamu" kata gue pada si cantik. "Bye mas, sampe besok" balasnya. Paginya gue harus bangun pagi2 karena mau meeting di apartemen Lippo Sudirman. Ini adalah lokasi tempat lahirnya Poros Tengah di percaturan politik kita akhir2 ini. Siapa yang nyangka sih kalo tokoh2 politik sering kumpul di gedung ini, dan yang datang bukan hanya orang2 poros tengah lho, bahkan ketua dari sebuah partai paling berkuasa dahulu juga datang ke sini. Jadi ya memang DUNIA INI PANGGUNG SANDIWARA. Mereka naik mobil ke basement terus langsung naik lift yang sudah dijaga satpam dan security. Dan daerah parkiran pun juga di kosongkan supaya nggak tau siapa yang akan naik. Mereka punya satu floor khusus, dan lengkap dengan berbagai fasilitas. Nah di tempat itulah gue hari Sabtu itu harus meeting tentang bantuan utk Indonesia dari pengusaha Hong Kong yang kebetulan adalah salah satu partner gue dari kantor di HK. Tentang meeting sih gue lewatin aja, yang penting di CCS adalah happy2 dan cerita asyik aja. Nah setelah selesai meeting yang sampai sore hari itu, akhirnya gue nggak sempet mandi dulu.

Karena sore itu gue harus jemput Savitri dari salon untuk dandan dalam rangka acara pertunangan dari lingkungan keluarga dia. Sehingga Sabtu itu gue free, dan waktunya ketemu si cantik. "Hallo bisa bicara dengan Astika" kata gue dari microphone hands-free. "Dari siapa ini" tanya sebuah suara wanita. "Ini dari Boy, teman Astika dari Bandung" kata gue supaya si Astika nggak lupa. "Hi mas, apa kabar, dan gimana acara kita malam ini" jawab Astika di sebrang earphone yang gue pake. "Ayo, saya sih udah siap jemput kamu sekarang" kata gue. "Ya langsung aja mas kalo gitu". Gue langsung meluncur ke rumah Astika di daerah Menteng, dekat tempat favorit untuk berdemo dari para pejuang demokrasi Indonesia, alias dekat rumah mantan presiden kita. Gile bener ternyata rumah si Astika ini juga gede dan mobilnya bejubel. "Wah kamu malam ini beda sekali ya, kelihatan lebih sederhana tapi tetep mahal" kata gue sambil jelalatan ngeliatin badannya yang ternyata wah wah wah. "Ah mas Boy bisa aja, saya kan emang begini ini" kata Astika merendah. "Gini gini juga bikin pusing saya nih" kata gue menggoda. Eh ternyata si cantik itu mencubit lengan gue. "Mas Boy juga paling bisa deh, kemarin katanya bawahan, kok mobilnya Pajero yang baru, tuh transmisinya aja seperti tiptronic-nya Porsche" kata si canti Astika. "Lho kok kamu tau mesin sih Tik, kamu emang di LA jadi montir mobil ya untuk beli baju2 kamu itu". "Iiiih jail deh kamu" cubit Astika sekali lagi di paha gue. "Saya tuh ngerti mobil karena ayahku hobbynya mobil, dari kecil aku dijejelin tentang mobil melulu, jadi sekarang juga seneng mobil dan dikit2 ngerti tehnik mobil". "Oh gitu ya, jadinya kalo ngerti tehnik mobil, kerja di bengkel juga udah ada modal ya" goda gue sekali lagi. Dan seperti yang tadi2 cubitan demi cubitan mendarat di seantero paha dan tangan gue.

Malam itu kita makan di restoran Doea Musim di jalan Wahid Hasyim, kalo nggak salah resto ini dimiliki oleh seseorang yang juga pemilik merek t-shirt Indonesia yang kondang, dan joint dengan seorang yang bergerak di dunia mode. Selesai makan kita pergi ke Jamz di areal Lippo Sudirman apartment. Lagi2 gue ke daerah ini, tapi gue nggak bilang sama Astika, yang penting ikutin aja keinginan dia ke Jamz. "Mas, kalo Astika minum banyak kamu nggak apa2 kan" tanya si cantik. "Untuk kesehatan sih jangan, tapi kalo sekali2 ya terserah kamu, masak saya ngelarang2, nanti kamu bilang emangnya elu siapa". "Enggak maksudnya mas Boy nggak apa2 ngeliat ceweq minum banyak". "Oh itu sih oke, saya ini nggak banyak ngatur dan possesive ke ceweq, yang penting jangan resek ya" kata gue ke Astika sambil gue pegang dan belai kepalanya. "Kalo gitu kita minum aja tequila" teriak Astika. "Aduh ampun deh, kalo minum itu, nanti kalo saya juga teler siapa yang anter" tanya gue. "Ya kita nggak usah pulang nginep aja di hotel sebelah" "Hah, kamu serius nih" "Iya bener, kenapa sih, kok kamu belum ngerti juga kalo saya dari kemarin di kereta udah memperhatikan kamu" kata Astika sambil ngegelendot ke badan gue. Uh mati deh gue, disosor sama ceweq cantik yang umurnya cukup jauh di bawah gue. 'Ya kalo kamu bilang gitu saya ikut aja, tapi kamu nggak nyesel dan emang sadar kan ambil keputusan ini" kata gue sekali lagi untuk meyakinkan diri gue sendiri. "Yes honey, I've decided and never regret" kata Astika sambil memeluk gue dengan sebelah tangannya.

Dan malam itu gue minum mungkin sekitar 6 gelas kecil tequila, dan Astika menenggak tidak kurang dari 5 gelas. Kita berdua udah mulai tinggi karena kebanyakan minum. "Tik, pulang aja ya, mumpung saya masih bisa nyetir" "Iya deh pulang aja, biar bisa lamaan berduaan sama mas Boy" jawab Astika manja. Di mobil Astika sudah nggak bisa menahan diri lagi, "Mas, Tika nggak tahan nih". "Kamu mau muntah ya" tanya gue. "Bukan bukan itu, tapi itu tuh, nggak tahan itu" tangannya dengan jail menunjuk-nujuk ke pangkal paha gue. "Tika buka ya" katanya dan tanpa menunggu aba2, tangannya segera menggerayangi ritsleting celana gue dan mengeluarkan batang kemaluan gue yang masih setengah tidur. Dengan perlahan tapi pasti, dilahapnya seluruh batang gue ke dalam mulutnya yang sexy. Dimainkannya ujung batang gue dengan lidahnya. Gue rasakan batang gue mengeras dan semakin mengeras. "Tik, aduh gimana nih sekarang, kamu tanggung jawab lho" kata gue menggodanya. "Ya udah deh cari aja hotel" kata Astika sambil terus mengocok batang gue, dan dengan tangan satunya dia meremas-remas payudaranya sendiri. Hotelpun pilihannya jatuh di hotel Hyatt menteng prapatan. Kita berdua naik ke kamar sudah agak sempoyongan tapi di tegak2 kan supaya keliatannya sehat. Setibanya di kamar Astika menyempatkan menelpon ke adiknya, "Vin, ini gue nginep di Hyatt Aryaduta kamar 899, bilangin bokap ya". Gue begitu dateng dari kamar mandi mengenakan handuk saja, langsung ditomprok dan handuknya ditarik si cantik yang ganas itu. Sambil menciumi dada, perut dan sekujur tubuh gue, Astika dengan tergesa-gesa mencopoti bajunya dan melemparkannya ke penjuru kamar.

Begitu terlepas bra yang menutupi dadanya yang padat itu, terlihat payudaranya yang putih padat dengan nipplenya yang terlihat kecil mencuat karena terangsang. Disambarnya batang kemaluan gue yang sudah tegang karena melihat keganasan dan tubuh Astika yang indah itu. Sambil menaik-turunkan mulutnya mengikuti panjangnya batang gue, tangan kanan Astika mengusap dan mempermainkan clit dan sekitar bulu2 kemaluannya sendiri, serta sesekali terdengar erangan dari mulutnya yang terus menghisap batang gue. Capai dengan kegiatannya, si cantik itu menjatuhkan badannya ke tempat tidur sambil mengankat kedua kakinya keatas. Tangan kirinya membelai rambut kemaluannya sendiri, dan tangan kanannya mempermainkan lipatan2 kulit clit di vaginanya. Gue meliaht Astika seperti itu, langsung ikutan membelai bulu2 kemaluannya yang halus. Gue jilat putingnya yang menonjol kecil tapi keras, gue jelajahi perutnya yang kencang. Gue mainkan ujung2 lidah gue disekitar pusernya. Dan terdengar erangan Astika, "eggghhhh, uhhhh". Langsung gue hujamkan ujung lidah gue ke lubang vaginanya yang sudah basah, dengan kedua jempol gue, gue dorong keatas lipatan clitnya, gue permainkan ujung lidah gue di sekitar clit itu, "uuuuhhhh, you€ ’²re making me so high honey, egghhhhh, ahhhhhh" teriak Astika. Karena nggak tahan lagi, langsung aja gue masukin batang gue yang dari tadi udah sangat keras. Dan ternyata basahnya vagina Astika tidak mengakibatkan rasa licin sama sekali, karena lubangnya malah terasa sempit dan sulit ditembusnya.

Begitu terasa seluruh batang gue masuk di dalam jepitan vagina Astika, perlahan-lahan gue pompa keluar dan masuk lubang nikmat itu. Belum terlalu lama gue memompa vagina Astika, tiba2 "Aaaaahhhhh, uugghhhhhhh" teriak Astika orgasme. Gue percepat gerakan dan teriakan Astika semaik menjadi-jadi, lalu gue hentikan tiba2 sambil menekan dan memasukkan batang gue sedalam-dalamnya ke lubang vaginanya. "Oh..Oh..Oh.. that was so nice honey, let's make another" kata si cantik. Gue balik badannya telungkup ke tempat tidur, dan dari belakang gue pompa lagi keluar masu lubang Astika yang ketat itu, gue rebahkan badan gue menempel ke punggun Astika, dan gue gerakkan pinggul gue secepatnya. "Uh uh uh uh uh, aduh mas enak sekali kamu gituin, uh uh uh uh, aaaaahhhh" teriak Astika lagi karena orgasme yang kedua. Tapi kali ini gue nggak setop, karena gue juga udah merasakan denyutan yang memuncak disepanjang batang gue. Dan dengan kecepatan penuh gue pompa keluar masuk vagina ketat itu. Diiringi erangan yang semakin menjadi-jadi dari Astika, akhirnya gue juga mencapai klimaksnya.

Paginya karena hari Minggu, gue nggak terlalu resah untuk bangun pagi2. Apalagi gue sekarang lagi nginep di Hyatt Aryaduta bersama si Astika yang gue kenal gara2 naik Parahyangan dari Bandung. Waktu gue kebangun gue liat jam di meja samping tempat tidur, eh baru jam 9 pagi. Pala masih nyut2an, dan kamar masih gelap banget, tapi gue tetep bangun dan ke kamar mandi. Setelah sikat gigi dan tanem saham di monoblok hotel Hyatt Aryaduta, gue langsung ke tempat tidur dan masuk ke balik selimut. "Emmmmmm, mas kok pagi2 udah bangun sih. Uuuhhhh tangan kamu tuh dingin, jangan nempel2 dong" kata Astika protes. Tapi tanpa menghiraukan protes Astika, gue tetap menempelkan badan gue yang tidak mengenakan sehelai benangpun ke badan Astika yang juga masih telanjang bulat.

 Dari belakang gue peluk badannya yang padat berisi, dengan tangan kanan gue, gue raba2 buah dadanya yang menonjol. Gue mainkan jari2 gue disekitar putingnya yang terasa menonjol kecil. Gue rasain badan Astika menggeliat sedikit tapi kemudian diam kembali. Gue lanjutkan lagi rabaan gue ke daerah perut menuju rambut2 halus di sekitar segitiga bermudanya. Perlahan-lahan gue usap2 rambut2 itu, dan dibalik rambutnya gue raba dan mainkan clit Astika. "Emmmmm, ehhhhh, mas, uhhhh, mas, ya itu disitu enak, terus ya" kata Astika tiba2. Tanpa terasa, batang gue mulai mengeras dibalik celana pendek yang gue pakai. Nggak pikir lama2 langsung gue copot celana pendek gue, dan gue tempelkan pinggul gue menenmpel pantat Astika. Terasa batang gue tepat di belahan pantat Astika. Tangan gue tetap gue mainkan di daerah vaginanya, dan gue bisa rasain vaginanya mulai basah. Segera gue arahkan ujung batang gue ke vagina Astika. "Aghhhhh" erang Astika saat ujung batang gue agak dengan paksa menusuk ke liang vaginanya.

Lalu seperti biasa lah kelanjutannya, gue yakin para fans Aceh nggak perlu gue perjelas. Setelah making love di pagi itu, siangnya gue harus check out dari hotel. Karena gue keinget gimana kalo ceweq gue si Savitri nyariin gue. Cepet2 setelah kita berdua makan siang, gue anter Astika pulang ke rumahnya yang nggak jauh dari hotel Hyatt Aryaduta. "Hallo Vit, lagi ngapain kamu" telpon gue ke rumah Savitri. "Halo juga mas, saya nggap ngapa2in. Ini hanya lagi baca2 buku, karena besok saya ada meeting dengan rekan sejawat". "Hari ini kita ada acara nggak, atau mau pergi nggak?" tanya gue lagi untuk memastikan. Dan tiba2 belum gue selesai menelpon, di HP gue terdengar bunyi tut tanda ada telpon masuk, pas gue liat eh telpon dari Andani (si maniak gebetan gue). "Nggak dulu deh mas, saya agak capek setelah acara keluarga tadi malam. Saya di rumah aja ya, kalo kamu mau main ke rumah sih boleh2 aja". "Oke kalo gitu, saya pergi dulu ke tempat temen saya, bye sayang" kata gue menyudahi pembicaraan dgn Savitri. Siang itu gue pulang aja karena capai, dan di rumah gue cek e-mail dulu di komputer. Wah ada pesen dari fund manager gue agar gue membeli lagi saham IBI (Intimate Brand Image) di NYSE.

Katanya 3 minggu kedepan akan bagus. Jadi langsung aja melalui internet gue perintahkan utk membelinya lagi. Tiba2 ada falshing icon kalo ada e-mail baru, dan ketika gue liat, ternyata undangan utk makan malam di Warung Kemang bersama sahabat gue Tito dan Rendy sekitar jam 8 malam itu. Cape surfing, gue telpon temen gue si maniak Andani. "Halo honey, lagi ngapain elu". "Eh Boy, tumben telpon gue, pasti elu lagi ada maunya ama gue. Sekarang gue lagi nonton VCD nih sama Saras, eh oke lho actingnya, terus ceweq-nya cakep2, bikinnya pake film 16mm, bukan video, sutradaranya juga Andrew Blake" kata si maniak Andani. "Wah elu sih tiada hari tanpa sex ya, hih takut gue". "Alaaaaa, elu kan buntutnya mau juga sama gue, eh gimana kalo gue isep terus2an sampe keluar di mulut gue, naaah oke nggak tuh". "Sial lu, gue elu gituin tegang lagi deh nih, eh ngomong2 mau dong yg tadi elu bilang itu". "Tu kan Boy, mmmmm ajak dong gue pergi" kata Andani. "Nanti malem nyusul aja ke Warung Kemang sekitar jam 9 malem, gue ada disana sama temen gue". "Ok I'll be there around 9.30 with Saras, is that okay Boy". "Sip deh, sampe nanti ya". Nah tugas selesai satu, paling enggak kalo nanti malem si Tito sama Rendy ribut soal ceweq, udah ada si maniak sama temennya. Dan tidak terasa gue jatuh tertidur sore hari itu.

Gue kebangun jam 7.30 karena ada telpon. "Halo mas, lagi ngapain". "Oh kamu sayang, saya baru aja kebangun karena telpon dari kamu". "Sorry, sorry mas, Savitri nggak tau kalo kamu lagi tidur, ya udah tidur lagi deh". "Wah ya enggak lah, kan udah jam segini, dan saya mau ke Warung Kemang nemuin Tito dan Rendy, janji sama mereka jam 8". "Kok jam segini baru bangun, ayo dong mandi biar seger, nanti ditunggu sama mereka kan nggak enak". "Iya deh, saya mandi dulu ya sayang, kamu dirumah aja kan". "Yoop, I still haven't finished reading the material for tomorrow" kata Savitri. "Okay sayang, see you tomorrow". Wah gile bener, kurang apa tuh punya pacar kayak Savitri. Nggak pernah punya prasangka buruk dan kalaupun ada, dia hanya pesan kalo gue harus hati2 dan yang penting nggak didepan dia dan ketauan dia. Wow what a very mature lady. Belum lagi cantik, dokter, pinter cari uang sendiri, wah pusing gue kalo mikirin pacar gue yg satu ini, sebab rasanya gue jadi terlalu jelek dibanding dia. Setelah mandi gue pergi ke Warung Kemang yang letaknya nggak terlalu jauh dari rumah gue. Malem ini gue naik Kijang aja, takut2 gue pergi ke daerah yang kurang friendly. Hanya seperti biasa, kalo di Jakarta naik Kijang kadang kala tukang parkirnya nggak nganggep. Ah cuek aja yang penting gue happy dan aman.

Ternyata Tito dan Rendy sudah menunggu sambil minum. "Hi Boy, wah elu kok seger banget nih keliatannya, pasti banyak cuan nih" kata Rendy. "Sial lu, yang dipikirin duit aja, rileks lah dikit, elu kan kurang apa sih" kata gue protes ke Rendy yang memang terlalu workaholic. "Boy my friend, where€ ’²s your lovely lady Savitri" tanya Tito. "Oh Savitri lagi belajar atau baca apa gitu di rumahnya". "Look Rendy, what a lucky bastard, do you know that he has a very lovely girlfriend, but you know what Boy is doing, still looking for legs all the time". "Elu nih kalo ngatain orang liat dulu diri sendiri" jawab gue. "Ha ha ha ha, he he he he, Boy, Boy, elu kan tau elu gimana, kayaknya sih elu tuh udah kelewatan. Elu musti sudahi petualangan elu, udah buruan kawin sama Savitri, entar dia keburu tau sepak terjang elu, dan gue jamin dia nggak akan mau sama elu kalo tau busuknya elu" kata Tito lagi. Setelah ngobrol macem2 kita pesen makan dan menikmati makan malam sambi denger live music. Di samping meja kita ada 2 orang ceweq yang oke juga, yang satu putih agak kecil, yang satunya tinggi berisi tapi nggak terlalu putih. Tapi gue sangka mereka ini bukan orang Indonesia, kayaknya sih orang Singapore deh.

Pas lagi asyik2nya liat pertunjukan live music, tiba2 si ceweq yang putih nyamperin table kita dan dia berkata. "Sorry to bother you guys, but do you mind if I kiss you" kata si kecil itu yang langsung nyamber nyium pipi gue. Setelah nyamber nyium gue si kecil itu ketawa2 dan duduk kembali di table dia, dan mereka berdua cekikikan. Karena kejadian itu, Tito dan Rendy ikutan ketawa, dan mereka bilang kalo gue harus nyamperin mereka. Ya siapa takut, jadi gue langsung ikutan duduk di meja mereka untuk tanya2. "Hi girls, do you mind if I joint here" "No, no at all, hi hi hi hi" kata mereka sambil terus cekikikan. "Well you make me feell like being electryffied" kata gue ke si kecil. "What exactly you girls are planning by kissing me" tanya gue lagi. "Me and Cara were betting, and the bet is that the one who lose has to kiss one of the guy on the next table. Because I was lose so I chose to kiss you, hi hi hi hi" kata si kecil. "You bet things like that, oh come on please" kata gue heran. Akhirnya kita menggabungkan meja menjadi satu, dan saling memperkenalkan diri. Si kecil itu namanya Alicia dan yang tinggi namanya Cara, mereka orang Singapore yang lagi tugas di Jakarta. Karena Alicia yang nyium gue, sudah tentu gue nempel ke Alicia alias berusaha. Belum juga terlalu lama kita ngobrol berlima, Andani datang bersama temannya Saras (nama samaran) yang ternyata udah gue kenal melalui media masa. Karena meja kita dua, jadi kita bisa duduk barengan ber tujuh. Andani memperkenalkan diri kepada Alicia dan Cara, serta kepada Tito dan Rendy.

Terus Andani memperkenalkan Saras temannya yang ternyata salah satu celebrity kota hujan. Gue agak2 nggak mau rugi sebenernya waktu ngeliat Andani dateng sama Saras, karena terus terang gue udah lama pengen kenal sama yang namanya Saras itu, gue nggak sangka kalo Andani ngajak dia. Tapi gue udah terlanjur nempel si Alicia, jadi apa boleh buat. Setelah Andani dan Saras gabung di meja kita, kayaknya orang2 banyak yang memperhatikan meja kita. Tentu gara2 si Saras yang cantik itu. Wah gue nggak nyangka kalo badannya bener2 bikin gemeteran kalo kita ngeliat. Itu dada wah wah wah nggak gue sangka segede itu, karena kalo di layar kaca keliatannya ya nggak segede itu. Jam tangan gue menunjukkan pukul 11 malam, dan si Alicia mau pulang sama Cara. Gue mencoba untuk mengantarkannya, tapi dia bilang lebih baik kalo gue nggak usah nganter. Tapi dia janji akan telpon gue atau gue diminta telpon ke hotelnya besok. Ya gue inget pesan temen gue yang orang Singapore. Katanya jangan ngejar ceweq Singapore terlalu cepet, bisa2 nggak jadi dapet. Makanya ya gue biarin aja si Alicia pulang sendiri.

Jadi rencana gue langsung gue alihkan ke Saras yang aduhai itu. "Dani, kok baru sekarang sih kenalin Saras ke gue" kata gue memancing pembicaraan. "Saras, saya ini udah pernah bilang ke Andani kalo saya minta dikenalin sama kamu, kan saya ini fans kamu lho" kata gue lagi. "Ah mas Boy paling2 deh, Andani udah cerita banyak tentang mas Boy" kata Saras. "Lho elu cerita apaan tentang gue, awas lu cerita yang enggak2" kata gue sambil melototin Andani. "Gue rasa Andani ceritain kalo elu itu playboy cap kapak pastinya" celetuk Tito juga. "Ya udah pasti lah, itu kan cerita apa adanya" timpal si Rendy pula. "Heh stop, stop, stop, iya gue sih nggak ngelak elu2 pada bilang gue cak kapak, tapi kan semua tergantung ceweqnya lho, iya nggak Saras" kata gue membela diri sambil pura2 meluk Saras yang hanya senyum2 saja mendengar celoteh kita. Malam itu si Tito maupun Rendy dan gue saling mengejek dan menjatuhkan karena semua mau mencoba untuk menarik perhatian Saras yang ayu dan sexy. Jam sudah sekitar jam 1 pagi, ketika akhirnya Andani dan Saras mau pulang, dan kita yang cowoq2 saling menawarkan diri untuk mengantarkan mereka pulang. "Nggak, nggak usah, gue sama Saras kan naik mobil sendiri" kata Andani. "Ya kalo Andani pulang kita juga pulang deh ya Boy" kata Tito. Dan kita semua akhirnya pulang barengan. Di tempat parkir ternyata BMW Saras di valet parking, dan setelah dia jalan kita cowoq2 baru jalan ke mobil masing2. "Wah gile bener, siapa yang nolak kalo dapet si Saras, udah cakep, mobilnya seri 7 lagi" kata Rendy yang memang sangat memuja berbagai jenis kemewahan. "Okay guys sampe ketemu lagi lain waktu" kata gue ke Tito dan Rendy.

Di kijang gue puter lagu T-Connection yang judulnya Paradise. Wah kalo denger lagu ini gue selalu inget masa2 muda dulu, jaman anak2 Jakarta masih suka pada nongkrong di jalan pake mobil, konvoi keliling Menteng dan Kebayoran. Belum juga gue keluar dari gerbang Warung Kemang, HP gue bergetar. "Halo Boy, ini gue Andani, elu nyusul ya ke Pondok Indah, gue tunggu sama Saras" kata Andani dari hand phone-nya. "Dani, ini udah jam berapa nih, ngantuk ah" kata gue males. "Ah udah lah, pokoknya gue tunggu di jalan XXX no XX ’´ kata Andani lagi" "Aduh besok gue..." Belum lagi gue selesai ngomong, langsung dipotong sama Andani, "Boy, elu gimana sih, ini nih ada yang mau ngomong. Halo mas Boy, ini Saras, nyusul ya ke rumah Saras, Saras tunggu sama Andani". Telelpon langsung diputus setelah Saras ngomong begitu, dan gue jadi tambah pusing. Kalo gue pulang, belum tentu ada kesempatan kedua, tapi kalo gue pergi besok kerjaan pagi2 gimana. Akhirnya dunia hitam menang dari dunia putih, gue memutuskan utk pergi ke rumah Saras. Untung gue udah terbiasa bawa perlengkapan baju ganti untuk tidur, maupun urusan kantor di dalam mobil. Sesampainya di depan rumah Saras, gue masih ragu2. Karena alamat yang dikasih ternyata rumahnya gede banget. Tapi gue liat mobil BMW seru 7 si Saras di balik garasi yang terbuka sedikit, jadi gue yakin ini emang rumah bonus dari prestasi si Saras. Sekali lagi gue kaget dan baru sadar kalo ternyata dunia seni ternyata sudah benar2 diterima di Indonesia, karena apresiasinya benar2 bagus dan kongkrit.

Waktu gue di depan pager, satpamnya udah buru2 bukain pintu dan bilang kalo gue udah ditunggu di dalem. "Hi mas, saya kira mas Boy nggak nyusul ke sini" kata Saras sambil senyum manis. "Ah masak kamu udah bilang begitu saya nggak dateng, nanti dibilang saya sombong dong". 'Naik aja mas, ditunggu sama Andani di atas€ ’´. Gue naik ke atas dan ternayat Andani lagi tiduran di atas bantal yang berserakan di atas karpet di suatu ruangan yang ada tv-nya besar sekali yang menayangkan film Dracula-nya Bram Stokers. "Boy elu tidur sini ya, eh tau nggak lu, kalo si Saras itu naksir elu begitu ngeliat elu" kata Andani bisik2. "Ah gimana dong, kan gue baru kenal entar dia pikir gimana dong" tanya gue ke Andani bisik2 juga. "Ih elu ini ya kok bego banget, elu tau nggak kalo Saras itu sama maniaknya sama gue, pokoknya entar kita bertiga yachh" kata Andani sambil mengacungkan jempolnya. "Kalo gitu gue ambil tas gue dulu di mobil ya" kata gue pelan2 ke Andani lagi. Waktu gue masuk bawa tas gue, gue kepergok si Saras yang udah ganti baju tidur yang menerawang sekali. "Oh udah siap2 ya kalo nginep" tanya Saras sambil menggoda gue. "Ehm, eh iya udah bawa baju, habis sering ada acara keluar kota tiba2" kata gue salah tingkah. "Ah udah lah, saya udah diceritain Andani gimana mas Boy" kata Saras lagi sambil melangkah mendekati gue dan memeluk gue dari belakang sambil mengusap-ngusapkan tangannya ke atas kemaluan gue dari luar jeans. "Yuk kita keatas" ajak Saras menarik tangan kiri gue, sementara tangan kanan gue menenteng-nenteng travelling bag kecil. Di atas terlihat di tv adegan dari film Dracula dimana ceweq2 lagi mau disetubuhi oleh pangeran Dracula.

Adegan itu begitu sexy dan merangsang, walaupun setingnya horor. "Uhhh, uhhh" suara Andani mengerang-ngerang sambil mengusap-ngusap vaginanya dari balik celana pendek yang dipakainya. "Come here honey, I am thirsty of your cunt" kata Andani menarik tangan Saras untuk bergabung bersamanya di atas bantal2 yang bertebaran di depan tv itu. Rupanya Andani dan Saras sudah dimabuk birahi, dengan agak kasar Andani menyingkapkan gaun tidur Saras. Langsung terlihat paha Saras yang kencang dan betisnya yang indah. Terlihat juga celana dalam berenda warna hitam yang dikenakan Saras, terlihat sangat kontras dengan kulitnya yang memang putih sekali. Tanpa diturunkan, Andani menjilati daerah vagina Saras dari luar celana dalamnya. Dan dengan kedua tangannya, Andani mengusap dan menyentuh bulu2 serta clit Saras dari sela2 celana dalam renda itu. Saras pun merespons tidakan Andani dengan meremas-remas buah dadanya yang tersembul dari balik belahan dada gaun tidurnya.

Melihat pemandangan yang sangat merangsang itu, gue nggak tahan untuk nggak ikutan. Langsung gue menjatuhkan badan gue disamping Saras dan mulai membuka kancing gaunnya, serta membelai dan mulai mejilati puting Saras dari sela2 bra Victoria Secret yang dikenakannya. Gue lepas kaitan bra Saras yang berada di antara kedua tonjolan buah dadanya yang sangat padat dan besar itu, dan terlihat buah dadanya yang besar dan indah. Andani masih dengan ganasnya menjilati sekitar vagina Saras, lalu dengan agak tergesa-gesa, ditariknya turun celana dalam renda Saras. Dan terlihat rambut kemaluan Saras yang rapih terawat serta clit Sarar yg tampak seperti diukir simetris. Ujung lidah Andani bermain dan menari di sekitar clit Saras. Pinggul Saras kelihatan bergoyang-goyang menikmati jilatan lidah Andani. Tiba-tiba Andani berhenti dan mencopot semua baju dan celana yang dikenakannya, dan sekarang tampak dua ceweq yang pastinya susah untuk dibilang yg mana yg lebih oke. Terus terang walaupun sudah cukup banyak berpetualang dengan banyak ceweq, tapi yang kali ini benar2 sesuatu yang gue yakin belum tentu bisa terulang lagi.

Lalu Andani mengambil sesuatu dari balik bantal yg tidak jauh darinya, yg ternyata adalah dildo dua arah. Dengan perlahan, ditusukkannya dildo itu ke dalam vaginanya sendiri. "Aghhhh, uuuuuhhhhh" erang Andani menikmati tusukan dildo itu. Kemudian di dekatinya Saras, dana ujung satunya dengan cepat diraih oleh Saras. Lalu dengan pasti diarahkan ke vagina Saras oleh Andani. "Uuhhh, oh, oh, ehmmpffff" erang si Saras dan Andani berdua. Mereka terus saling menggoyang dan memompa. Sementara gue semakin terangsang melihat pemandangan yang juga baru pertama kali gue liat live. Gue mencoba untuk meraih dan meraba buah dada Andani yang juga cukup besar dan tidak kalah indah dari milik Saras. "An uh, uh, uh, aaaaaaahhhhhh gue mau keluar nih, ah, aahhhhh" teriak Saras tiba2, yang malah membuat Andani semakin mempercepat gerakan. Kemudian setelah Saras selesai orgasme, dicabutnya dildo dari Saras, dan Andani memegang batang gue. "Boy, puasin Saras lagi pake batang lu, dia sih kalo sekali belum apa-apa" Saras mengambil posisi menungging, dan dari belakang gue mengarahkan batang gue. Vagina Saras sudah dalam kondisi sangat basah waktu ujung batang gue mencoba masuk ke dalamnya. Tetapi ternyata jepitan dan gesekan dari dinding2 vagina Saras, tetap terasa sangat menjepit dan nikmat. Dengan perlahan gue pompa keluar masuk, panjang pendek dan sampai terasa mentok di dalam rahim Saras. Andani rebahan di depan Saras, dan Saras mulai menjilati vagina Saras yang ditumbuhi bulu2 dengan lebatnya.

Karena pemandangan yang dari tadi begitu merangsang, rupanya membuat tingkat birahi gue sudah tidak terkontrol. Gerakan2 gue keluar masuk vagina Saras diiringi dengan goyang2 liar dari Saras serta desahan "ah, uh, oh" yang gue yakin bisa bikin tetangganya pusing. Sekali lagi tiba2 Sarar berteriak dengan kencangnya "aaahhhh, uuueeeehhhh" karena mencapai orgasme lagi. Padahal gue pikir gue udah hampir duluan. Saras melepas batang gue dari vaginanya, dan meminta gue untuk tidur terlentang. Lalu dengan perlahan lagi, dia naik di atas badan gue dan mulai memasukkan batang gue yang tadinya sudah hampir mencapai puncaknya. Saras menghadap ke arah gue, sehingga terlihat mukanya yang ayu serta buah dadanya yang menonjol besar. Pinggul Saras meliuk-liuk menimbulkan rasa enak dan ngilu di sepanjang dan ujung batang gue yang terjepit erat di antara vagina Saras.

Gue raih buah dada si Saras dan gue remas2. "Ohhhh, yah, yah, yah terus mas, oouuuhhh enaknya, ya" teriak si Saras sambil menggeleng-gelengkan kepalanya secara membabi buta. Rambutnya yang agak panjang terlihat menyabet ke kiri dan ke kanan (gue jadi inget iklan shampo di tv yang ceweknya diikat di kursi goyang electric ha ha ha). Nah udah deh kayaknya cerita gue udah panjang banget. Gue akhirnya belum mencapai klimaks, karena setiap gue mau klimaks, si Saras ternyata udah duluan.

Itu ceweq satu bener2 bikin gue pusing. Karena sama gue pagi itu si Saras orgasme sampe 4 kali, di tambah 1 kali pake dildo. Si Andani orgasme karena jilatan lidah Saras yang bisa bergetar seperti vibrator, mungkin Andani kalo nggak salah dapet 3 kali. Dan gue sendiri akhirnya 2 kali keluar di dalam hisapan Andani yang bagaikan vacum cleaner.

ke awal

 

 

 DOWNLOAD E-BOOK GRATIS

Cerita Seks Khusus Dewasa - Cantik Seksi Indonesia - INDEX

1