|
SALAM
PERPISAHAN
Singkat cerita, aku
berkenalan dengan seorang wanita, bernama Emilia yang sering dipanggil
dengan nama Lia, satu angkatan tetapi lain jurusan. Lia juga dari
Indonesia, karyawan sebuah bank yang berkantor pusat di Jakarta, menikah
dan sudah punya anak satu. Di akhir bulan Mei 1999 usia Lia 33 tahun. Lia
memiliki tubuh yang menurut ukuranku ideal. Dengan kulit yang kuning
langsat, tidak terlalu tinggi sekitar 157 cm dengan berat 47 kg, pinggang
sekitar 61 cm dan lingkar dada sekitar 64 cm dengan buah dada yang tidak
terlalu besar. Hampir 2 tahun ini aku mengenal dia, dan selama 9 bulan
terakhir ini aku dapat dibilang dekat dengan dia. Dekat dengan Lia bukan
berarti aku berpacaran dengan Lia, tetapi karena aku sering diminta
mengantar kemana dia pergi. Teman lain yang dari Indonesia juga senang
kepada Lia, dan beberapa dari mereka senang menggoda Lia dan berusaha
untuk menyentuhnya, tetapi Lia lebih senang menghindar, entah karena apa
mungkin karena Lia sudah berkeluarga.
Peristiwa ini terjadi
beberapa bulan yang lalu, ketika hubunganku dengan Lia mulai merenggang.
Aku berpikiran mungkin karena sudah dekat dengan waktu wisuda dan Lia
sudah tidak membutuhkanku lagi untuk mengantar. Biasa khan wanita baik dan
dekat kalau sedang perlu saja. Akhirnya kami berdua sempat bertengkar,
karena aku sebagai laki-laki tidak menerima begitu saja perlakuan Lia
terhadapku. Kami ribut di apartemen Lia dan aku mengatakan bahwa Lia hanya
memanfaatkanku saja, tetapi dia tidak senang denganku. Aku merasa
dibohongi oleh Lia, padahal selama ini aku membantu dia karena aku sayang
dengan dia. Akhirnya aku kembali ke apartemenku karena selain sudah malam,
aku juga masih harus membereskan barang-barang yang akan kukirim ke
Indonesia.
Setengah jam kemudian, ada yang
mengetuk pintu kamarku, dan aku terkejut karena yang mengetuk pintu
ternyata Lia. Ech
., Lia ada apa, khok sendiri, nggak dengan anakmu?
Ayo masuk, jangan di luar dingin !!! Sambil masuk ke kamar, Lia
menjawab, "Sendiri aja, anakku sudah tidur ditungguin ama tante apartemen
sebelah, aku titipkan dia, aku bilang mau ke ruang komputer dulu." Lia
masuk dan langsung duduk di tempat tidurku, karena memang hanya ada satu
kursi di kamarku yang kecil. Kemudian aku tawarkan Lia minuman hangat
karena kulihat Lia agak menggigil kedinginan. Akupun ikut duduk di tempat
tidur sambil memberikan minuman hangat kepada Lia. Masih dingin
,
kataku sambil kupegang tangannya. Iya nich .. sahut Lia. To
..,
Lia menyesal tadi sempat berantem sama kamu, bukan maksud Lia selama ini
memanfaatkan kamu. Kamu khan tahu Lia sudah bersuami dan itu nggak mungkin
dong Lia bisa sayang juga ke kamu. Sambil terus meremas jari tangannya,
aku berkata
, ya sudahlah, kalo memang itu sudah nasibku, tidak bisa
merasakan disayang oleh kamu, Lia
. Aku terus meremas jarinya, karena
Lia diam saja, aku beranikan diri mengusap-usap lengan bagian atasnya, dan
secara tidak sengaja aku menyentuh bagian sisi luar dari buah dadanya.
Tampak Lia kaget dan kemudian merenggangkan tangannya. Ech sorry kataku
.. Kamu ini To
.. ada-ada aja, jangan begitu ach kata
Lia. Walaupun ada penolakan dari Lia, saya tetap mengusap-usap lengan
atasnya dan akupun nekat mencium pipinya. Ternyata Lia tidak menolak
ciumanku di pipinya. Akhirnya aku memberanikan diri mencium bibirya. Oh,
betapa lembutnya bibir Lia buat saya karena akupun sudah lama tidak
berciuman, rupanya demikian juga dengan Lia. Emilia menghentikan
ciumannya dan berkata
, To, sudah lama saya tidak bersentuhan dengan
suamiku, karena suaminya berada di Jakarta. Dalam hati aku berkata,
nach, ini dia yang aku tunggu-tunggu, ada kesempatan nich untuk bercinta
dengan Lia sekarang. Aku memang sering mengbayangkan bagaimana nikmatnya
bercinta dengan Lia, bahkan kadang-kadang aku onani dengan membayangkan
tubuh Lia yang bugil. Aku teruskan ciumanku di bibirnya dan terus
merambat turun ke leher, kemudian naik lagi ke telingannya, dan aku
bisikkan kata-kata mesra kepada Lia. Lia,
., aku sayang kamu, aku
ingin terus dekat denganmu
, aku cinta kamu. Ach
. To, jangan begitu
. nafas Lia mulai tidak teratur
.. Ach
, ngh
. jangan disitu
geli
. kata Lia ketika saya menciumi belakang telingannya. Lia
menggeliatkan badannya karena geli. Aku terus menciumi dan tanganku
tidak tinggal diam, merambat ke buah dadanya. Aku usap-usap buah dadanya
dari luar, dan aku dapat merasakan tonjolan putingnya yang telah mengeras
walaupun Lia masih memakai pakaian lengkap. Ach, ach
Lia
rupanya menikmati rabaan tanganku di dadanya dan ciumanku.
Aku
lihat Lia betul-betul menikmati apa yang aku lakukan, dan karena
penisku sudah menegang, kutarik tangan Lia untuk memegangnya.
To,
. jangan
, nggak
boleh, Nggak apa-apa kataku, aku tahu kamu juga khan kepingin megang,
ayolah pegang
Dengan malu-malu kemudian Lia mulai memegang dan
bahkan Lia mulai berani meremas penisku yang sudah tegang, akupun mencoba
untuk mengangkat baju kaos Lia dan tampak buah dadanya yang tidak terlalu
besar yang masih ditutupi dengan BH nya yang berenda. Aku teruskan
ciumanku dan terus turun ke bagian tengah dadanya, tanganku terus mengusap
dan sekali-kali meremas buah dadanya dan memilin-milin putingnya yang
sudah mengeras. Ach
,ach
.., ach
, enak To
.., terus
, ach
.,
enak
., demikian erangan Lia. Tanpa terasa ternyata Lia telah menurunkan
restsleting celanaku dan mengeluarkan penisku dari dalam celanaku.
Sementara itu, Lia terus meremas penisku dan sekali-kali mengocok penisku.
Och
.., Lia enak sekali, terus Lia jangan berhenti ach
, enak
sahutku. Akupun berusaha untuk melepaskan kancing BH-nya dan
berhasil
.
Lia
Buah dadamu bagus dan kencang sekali
, bisikku di
telinganya. Tanpa menunggu waktu lagi aku langsung mengisap putingnya
dan ku gigit-gigit kecil putingnya dan hampir seluruh buah dadanya aku
gigit-gigit sehingga menimbulkan tanda merah. Ku dengar suara desahan Lia
sudah tidak teratur. Rupanya disitulah salah satu daerah Lia yang
sensitif. Karena aku sendiri sudah tidak tahan maka kuteruskan tanganku
turun ke bagian selangkangannya dan aku buka resleting celana panjangnya.
Ach
.. ngh
.ngh
, Lia mendesah ketika tanganku sudah sampai di
vaginanya yang masih tertutup CD dan sudah agak lembab. Aku terus turunkan
celana Lia sekaligus dengan CD nya dan tampaklah belahan vaginanya dengan
bibir vagina yang indah dengan ditumbuhi rambut yang tercukur rapi.
Rupanya Lia merawat vagina dan sekitarnya ini dengan teratur. Aku mulai
menggosok-gosok bibir vaginanya, dan akupun membuka celana dan bajuku
sehingga kami berdua sudah dalam keadaan bugil. To
, kamu ngapain
nich, Lia berkata sambil diselingi dengan desahan nafasnya yang semakin
memburu ach.
.. ach
.. ngh
.ach
. Aku diam saja tidak menjawab
pertanyaan Lia dan terus menggosok-gosokkan dan sekali-sekali memasukkan
jari tengah saya ke lubang vaginanya yang sudah basah. Dan Lia pun
ternyata sama agresifnya dengan aku, Lia terus mengocok dan meremas
penisku yang terus menegang
.. Lia,
kamu isap dong penisku. To
, aku nggak pernah kayak begitu,
nggak ach
, dengan setengah memaksa dan aku sodorkan penisku ke depan mulutnya,
akhirnya Lia mau juga mengisap penisku dan ternyata isapannya hebat
sekali. Aku merasakan sensasi yang luar biasa. Akhirnya kami berdua
melakukan posisi 69, dan betapa kagumnya saya melihat vagina Lia yang
benar-benar indah. Dengan warna merah mudanya aku mulai menjilat dan
mengisap belahan vaginanya.
Desahan Lia semakin keras saja, ach
, To
, enak
.,
geli
.., ach
terus
.., jangan berhenti ach
.., demikian Lia
terus mengerang keenakan vaginanya aku jilati dan sekali-sekali aku
masukkan lidahku kedalam belahan vaginanya. Akupun terus berusaha mencari
kelentitnya Lia, begitu ku dapat aku isap kuat-kuat kelentitnya dan badan
Lia langsung bergetar begitu aku isap kelentitnya. To
., ach
, geli
sekali
., ach
enak
., erang Lia. Hal ini berlangsung selama
lebih kurang 15 menit, dan Liapun kemudian berkata, To
.. aku capek,
berhenti dulu. Karena aku khawatir penisku akan lemas, maka aku meminta
ijin kepada Lia untuk memasukkan penisku ke vaginanya. Lia
, boleh
aku masukkan
To
. Jangan nggak boleh, Lia sudah bersuami
, jangan,
kita nggak boleh kayak begini,. Tapi dengan sedikit memaksa akhirnya aku
bisa memasukkan penisku ke lobang vaginanya. Bless
, ach
, Lia enak sekali, lobang vaginamu
sempit, terasa sekali penisku seperti di pijat-pijat oleh dinding
vaginanya yang sudah basah.
Mulailah aku
menggoyang dan memaju mundurkan penisku di dalam vagina Lia. Ngh
..
ach
.. ach
., Lia terus mendesah dan akupun juga semakin bersemangat
untuk menggoyang pinggulku. Lia pun tak mau kalah, dia mulai memutar
pantatnya dan kedua kakinya mulai melingkar dipinggang saya. Lia
,
enak sekali vaginamu, ach
. sempit, ach
ach
. Ach
To
..ach
,
terus
. Terusin yang dalem ach
.. Lia terus mengerang sambil
menikmati tusukan penisku di vaginanya. Sekitar 20 menit kami melakukan
posisi normal, kemudian aku meminta Lia untuk melakukan doggy-style. Lia
.. kamu nungging dong,
.. kataku. Jangan To,
jangan aku nggak mau anal
sex
..
Sambil terus aku maju mundurkan penisku di lobang
vaginanya, aku bilang ke Lia, nggak
. Aku nggak akan anal sex, tapi aku
ingin memasukkan penisku ke vaginamu dari belakang. Akhirnya Lia pun
mau
dan bless
dengan lancarnya penis ku masuk ke lubang vaginanya
yang sudah sangat basah. Sekitar 10 menit kami lakukan doggy-style,
akhirnya saya tidak tahan dan ternyata Lia pun sudah hampir
orgasme
. To
. Aku sudah mau sampai
terus
. Terus
. Ach
..ach
. Yang dalem lagi
., Akupun terus memaju mundurkan penisku dan
akhir-nya jebollah pertahananku
.. Lia
,
och
.Lia
aku keluar Lia
dan Lia
pun sama
, To och
. Aku juga sampai
.. ach enak sekali
..ach
Akhirnya kami berdua lemas dan terus tiduran
di tempat tidurku. Sambil tiduran Lia berkata, To
.. kenapa kita
lakukan ini. Ya karena aku sayang dan cinta sama Lia,
. Tapi khan
mestinya nggak boleh kata Lia. Lia nggak bisa mencintai kamu
To,
bagaimanapun juga Lia tetap nggak bisa. Ya mau gimana lagi, tapi dengan sedikit memaksa
akhirnya kami mengulangi bersenggama sekali lagi dan aku keluarkan air
maniku sebanyak-banyaknya di dalam vagina Lia sebagai tanda cintaku
terhadap Lia.
Saat ini aku sudah
tidak pernah bertemu lagi, dan menurut kabar dari temanku yang kebetulan
bekerja di satu instansi dengan Emilia, dia sedang hamil. Aku yakin itu
adalah anakku, dan aku terus mencoba untuk mengontak dia, tetapi selalu
tidak pernah berhasil. Mungkinkah aku bisa bertemu dan hidup bersama
dengan Emilia. Aku sangat mencintai Emilia dan aku ingin sekali
menikahinya. Tapi mungkinkah
, apa yang harus aku lakukan untuk
mendapatkan Lia seutuhnya ? Sampai saat ini aku masih menyimpan BH dan
CD-nya yang digunakan oleh Lia pada saat kami bersenggama. |
|