|
|
PIJAT NIKMAT
"
Namanya Cut ."Dari Sigli
.., Bu kata pembantu baru itu kepada isteriku ketika ditanya asalnya
dari mana. "Cisompet ? daerah mana tuh?" "Itu Bu .. Aceh.. jauh
..jelasnya lagi dengan wajah memerah karena malu2 kali. Wajah yang
biasa saja seperti wajah gadis desa lainnya, tapi Cut ini punya
kelebihan, kulit Cut kuning langsat dan bersih, badannya sedikit
agak gemuk. "Berapa umur kamu ?" "Bulan depan 21 tahun, Bu "Udah
berkeluarga ? "Sudah Bu, tapi sekarang udah cerai "Punya anak
?
"Satu Bu, laki2, umur 2
tahun "Dimana anaknya sekarang
? "Di kampung, ikut
neneknya "Udah pernah kerja sebelumnya ?" tanya isteriku lagi. "Pernah dua kali Bu
"Di
Jakarta "Pembantu juga 3 bulan, trus
pindah ke Swasta hanya sebulan "Sebagai apa di
swasta "Biasa Bu,
buruh "Singkat
kata, setelah wawancara rekrutmen itu akhirnya isteriku
menerima Cut sebagai pembantu rumah tangga kami yang baru.
Sebenarnya interview yang dilakukan oleh isteriku kurang mendalam,
setidaknya menurut text-book yang pernah kubaca. Tapi biarlah,
toh hanya PRT dan kami memang sangat membutuhkannya. Di hari pertama Cut
bekerja, isteriku terpaksa ambil cuti sehari untuk memberi petunjuk
kepada pembantu baru ini. Pembaca yang baik, dari sejak
diterimanya Cut sebagai pembantu rumah tangga kami inilah kisah nyataku
berawal. Cerita ini memang sungguh2 saya alami sekitar setahun yang
lalu. Setelah aku dapat kiriman URL address Samzara lewat seorang
mail-mate dan aku membaca cerita2 serunya, aku terdorong untuk ikut
berkisah tentang pengalamanku nyataku ini, walaupun aku sebenarnya
bukan penulis. Kami suami isteri memang sama-sama bekerja sebagai
karyawan, tapi beda perusahaan. Anak kami 3 orang. Si sulung,
laki2, baru sebulan ini mulai kuliah dan kost di Jatinangor.
Walaupun kami juga tinggal di Bandung, tapi untuk menghemat waktu
dan biaya transport dia kost di dekat kampusnya. Nomor dua
perempuan, SMU swasta kelas dua, masuk siang, dan si
Bungsu lelaki, masih SLTP negeri masuk pagi. Walapun aku terkadang jajan
kalau keadaan darurat, sebenarnya aku tak tertarik kepada Cut.
Selain karena dia pembantu, juga karena isteriku masih mantap dan
mampu memuaskanku dalam banyak hal, termasuk seks. Kenapa masih suka
jajan ? Ya .. karena dalam keadaan darurat itu. Tapi sekepepet
gimanapun aku engga akan makan pembantu. Tak
baik. Lagipula Cut, yang menarik darinya sebagai
wanita, hanya kulit tubuhnya yang langsat dan
bersih. Demikian juga setelah Cut sebulan kerja di rumahku.
Sampai suatu saat, aku mulai lebih sering memperhatikannya
karena peristiwa yang akan kuceritakan ini. Waktu itu aku tak masuk
kantor sebab badanku tak enak. Seluruh badan pegal2, mulai dari
punggung, pinggang sampai kedua kaki. Mungkin ini cuma flu
atau masuk angin, aku tak perlu ke dokter. Tapi karena
pegal2 tadi aku memutuskan untuk istirahat di rumah saja. Tiduran
saja sambil membaca. "Oh maaf Pak saya kira Bapak
ke kantor" seru
Cut kaget. Dia masuk ke kamarku untuk
membersihkan seperti biasanya. Cut langsung menutup pintu
kembali dan keluar. "Engga apa2 bersihin
aja" "Bapak sakit ? tanyanya
" "Engga " "Cuman pegel2
badan, kayanya masuk angin"
Cut mulai menyapu, kemudian mengepel. Ketika dia
membungkuk-bungkuk ngepel lantai itulah aku terpaksa melihat belahan
dadanya dari leher T-shirt nya. Kesan pertama : bulat dan
putih. Wah pemandangan menarik juga nih, pikirku.
Tak ada salahnya kan menikmati pemandangan ini. Bentuk buah dada itu
semakin jelas ketika Cut mengepel lantai dekat tempat tidur. Belahan
dada itu menyiratkan kebulatan dan mantapnya ukuran
bukit-bukit di sampingnya. Dan lagi, putihnya ampuun. Walaupun
aku mulai terrangsang menikmati guncangan sepasang bol kembar besar
itu, aku segera menghilangkah pikiran-pikiran yang mulai
menggoda. Ingat, dia pembantu rumah tangga
kamu. "Kalo masuk angin mau dikerokin Pak?"
Pertanyaan yang biasa sebenarnya, apalagi ekspresi wajahnya
wajar, polos, dan memang ingin membantu. Cut
ternyata rajin bekerja, isteriku senang karena dia tak perlu banyak
perintah sudah bisa jalan sendiri. Jadi kalau dia bertanya seperti itu
memang dia ingin membantuku. Tapi aku sempat kaget atas tawarannya
itu, sebab lagi asyik memperhatikan belahan putihnya.
"Kerokin ? Bapak
engga biasa kerokan. Punggung pegal2 begini sih biasanya
dipijit" Memang aku suka memanggil Mang Oyo,
tukang pijat, tapi dia sedang ada panggilan ke Cimahi.
Besok lusa baru tukang pijit langgananku itu janji mau
dateng. "Oo .. tukang pijit yang ditelepon Ibu tadi ya..."sahut Cut. Cut rupanya memperhatikan
isteriku menelepon. Dia kan baru dateng 2 hari lagi" lanjutnya sambil
terus mengepel. Cut memang suka ngobrol. Tak apalah sekali2
ngobrol ama pembantu, asal masih bisa menikmati guncangan bukit
kembarnya. Aku tak menjawab. Kini ada lagi temuanku Meski Cut
agak gemuk, tapi badannya berbentuk. Maksudku shaping line-nya
dari atas lebar, turun ke pinggang menyempit, terus turun lagi
ke pinggul melebar. Seandainya tubuh Cut ini bisa di
re-engineering...dibentuk kembali, tingginya ditambah sekitar 5 cm
tapi tidak perlu tambahan bahan baku... jadilah
tubuh ideal. "Entar kalo kerjaan saya udah
beres, Bapak mau saya pijitin ? "Hah ? berani
bener dia menawari majikan lakinya untuk dipijit ? Tapi kulihat
wajahnya serius dan masih tetap polos. Jelas tak ada maksud
lain selain memang ingin membantu majikannya. "Emang
kamu bisa ? " Saya pernah kursus memijat,
Pak " Boleh.." hanya itu
jawabanku. Sebenarnya aku ingin tanya lebih jauh tentang
kursusnya itu, tapi dia telah menyelesaikan pekerjaannya dan
terus keluar kamar. Tinggal aku yang menimbang-nimbang.
Aku memang senang dipijit, baik oleh Mang Oyo apalagi oleh wanita
muda. Tapi gimana kalau isteriku tahu aku dipijit oleh
Cut, aku belum tahu reaksinya. Terima sajalah
tawarannya ini, toh aku nanti bisa pesan sama dia untuk
tak bilang ke isteriku. "Dipijat sekarang, Pak ?
" tawarnya ketika ia membawa minuman
yang kuminta. Kulihat baru jam 12 siang. "Kerjaan kamu
udah beres ? " Belum sih, mau
seterika tapi jemuran belum kering " Aku juga ingin
sekarang, tapi anakku yang sekolah siang belum berangkat.
Tak enak kalau dia tahu bapaknya dipijat oleh pembantu wanita
muda. "Entar
aja. Sekitar jam 3"
Pertimbanganku, pada jam itu anak kedua
sudah ke sekolah, si Bungsu sudah pulang sekolah dan main keluar
rumah seperti biasanya, dan masih cukup waktu sebelum isteriku pulang
kantor pada pukul 5 sore. Sekitar pukul 3 lewat
seperempat, Cut mengetuk
pintu kamarku. "Masuk "Cut nongol
di pintu. "Bapak ada henbodi ?
"Maksudnya tentu hand-body lotion. "Cari aja disitu" kataku sambil menunjuk meja
rias isteriku. Aku membalikkan tubuh, telungkup, siap
dipijat. "Lepas aja kaosnya Pak, biar engga kena
henbodi " Celaka ! ketika aku melepas kaos,
aku baru sadar bahwa aku dari pagi belum mandi dan masih mengenakan
pakaian tidur kebiasaanku : T-shirt dan singlet untuk atasnya,
dan hanya sarung sebagai penutup tubuh bawahku. Pakaian kebesaran -
ini memang kesukaanku, sebab memudahkan kalau sewaktu-waktu aku ingin
meniduri isteriku. Akupun menuntut isteriku untuk berpakaian tidur
khusus pula : gaun agak tipis model tank-top dan mini, tanpa apa-apa
lagi di dalamnya ! Jadi kalau aku akan berhubungan seks aku perlu
stimulasi lebih dulu, maklum sudah belasan tahun aku menikah.
Stimulasi yang paling aku senangi dan bisa membuat penisku keras adalah
oral. Isteriku tinggal menyingkap sarung dan melahap isinya.
Dan setelah kami siap tempur, aku tak perlu direpotkan oleh pakaian
isteriku. Aku tinggal menembak setelah menindih tubuhnya,
sebab biasanya baju tidur pendek nya itu akan tersingkap dengan
sendirinya ketika aku menindih dan menggeser-geserkan tubuhku.
Cut memang
pintar memijat. Dengan hand-body lotion dia mengurut tubuhku mulai dari
pinggang sampai punggung begitu enak kurasakan. Dia tahu persis susunan otot2
di punggung. Sepertinya dia sudah pengalaman memijat. "Kamu pernah
kursus pijat di mana ? " tanyaku membuka percakapan. "Ehhmm
" "di panti pijat Pak" "Ha. Kamu pernah kerja
di panti pijat ? " Iiyyyaa, Pak" "Kok
engga bilang?" " Takut engga diterima ama Ibu,
Pak " Dimana dan berapa lama ? "
Di panti pijat Yayasan Aceh
Merdeka, cuma sebulan kok. Tapi Bapak jangan bilang ke Ibu ya
"Iya deh, asal kamu mau cerita semua pengalaman kamu kerja di panti
pijat "Untuk sementara aku menang, punya kartu as yang nanti akan berguna
kalau aku harus bilang ke Cut, jangan bilang ke Ibu ya " "Sebelum
kerja kan ikut trening dulu seminggu Pak " Oh iya " Soalnya itu emang
tempat pijat beneran Aku tahu, panti pijat yang disebut Cut itu terletak
di Banda Aceh dan memang panti pijat serius. Bukan seperti di Mangga besar
misalnya, semua panti pijat hanya kamuflase dari tempat pelayanan
seks saja. "Trus kenapa kamu hanya sebulan, gajinya lumayan kan,
dibanding pembantu "Iya sih "cuman cape Pak. Saya sehari paling
tahan memijat 2 - 3 orang saja. "Kerja memang cape "Tapi tangan saya jadi
pegel banget Pak. Sehari saya memijat 5 - 6 orang. Penghasilan
memang gede tapi biaya juga gede. Mendingan pembantu aja, semua
biaya ada yang nanggung, bisa nabung "Kamu senang kerja di sini ?
"Saya kerasan Pak, semuanya baik sih "
Memang aku mengajarkan kepada anak-anakku
untuk bersikap baik kepada pembantu. "Kamu mijit sekarang ini cape juga
dong "Engga dong Pak, kan cuma sekali2 "Kalau Bapak minta tiap hari
? "Engga baik Pak pijat setiap hari. Paling sering sekali seminggu"
Lalu hening lagi. Aku asyik menikmati pijatannya, masih di
punggungku. "Punggungnya udah Pak. Kakinya mau ? "Boleh Kaki saja
bolehlah, asal jangan ke atas, soalnya burungku sedang tak ada
kurungannya. Cut menyingkap sarungku sampai lutut, lalu mulai
memencet-mencet telapak kakiku. "Aturan kaki dulu Pak, baru ke atas
"Kenapa tadi engga begitu ? "Kan Bapak tadi minta punggung " Lalu naik ke
betis, kemudian dari pergelangan kaki sampai lutut, kaki kiri
dulu baru yang kanan. "Apa aja yang diajarin waktu trening ? "Pengetahuan
tentang otot2 tubuh, cara memijat dan mengurut, terus praktek
memijat. Paling engga enak prakteknya "Kenapa ? "Mijitin para
senior, engga dibayar Kedua kakiku sudah selesai dipijat Cut.
Tiba2 Cut menyingkap sarungku lebih ke atas lagi dan mulai memijat paha
belakangku (aku masih telungkup). Nah, ketika mengurut pahaku sampai
pangkalnya, burungku mulai berreaksi, membesar.
Aku yakin Cut sudah tahu bahwa aku tak memakai CD. Meskipun sarung
masih menutupi pantatku, tapi dalam posisi begini, terbuka
sampai pangkal paha, paling tidak bijiku akan terlihat.
Tapi Cut terlihat wajar-wajar saja,
masih terus mengurut, tak terlihat kaget atas kenakalanku. Bahkan
dia sekarang memencet-mencet pantatku yang terbuka. "Cuma itu pelajarannya
?" tanyaku asal saja, untuk mengatasi kakunya suasana. Tapi
aku mendapatkan jawaban yang mengejutkan. "Ada lagi sebetulnya,
cuman malu ah bilangnya "Bilang aja, kenapa musti malu "Engga enak
ah Pak "Ya udah, kamu cerita aja pengalaman kamu selama kerja mijat
"Ahh itu malu juga "Heee "Udah "cerita apa aja yang kamu mau "Kan
tamu macem2 orangnya. Ada yang baik, yang nakal, ada
yang kurang ajar "Trus ? "Kita diajarin cara mengatasi tamu yang ingin
coba-coba "Coba2 gimana? "Coba itu ..ah .. Bapak tahu deh maksud saya
"Engga tahu"..kataku pura-pura "Itu tamu yang udah tinggi "Emm nafsunya
"Wah menarik nih. "Gimana caranya "Hmm "ah engga enak ah bilangnya"
katanya sambil mengendurkan otot2 pantatku dengan menekan dan
mengguncangkan.
Punyaku makin terjepit. "Bilang aja
"Dikocok aja "Ha "Kalo udah keluar, kan tensinya langsung turun
"Kamu diajarin cara ngocoknya ? "Sebenernya bukan itu aja sih Pak,
tapi diajarin cara mengurut itu "Wah .. kamu jadi pinter ngurut itu dong "
Pantesan dia biasa2 saja melihat pria telanjang. "Buat apa itu diurut"
tanyaku lagi. "Biar jalan darahnya lancar " Maksudnya peredaran darah.
"Kalo lancar, trus ? "Ya biar sip, gitu. Ah Bapak ini
kaya engga tahu aja. Sekarang depannya mau Pak ? Mau sih mau,
cuman malu dong ketahuan lagi tegang begini. Ketahuan sama pembantu
lagi. Apa boleh buat. Dengan acuhnya aku membalikkan badan.
Jelas banget yang tegang itu di balik sarungku. Punyaku memang
besarnya sedang2 saja, tapi panjang. Kulihat Cut melirik
sekilas kepada punyaku itu, lalu mulai mengurut kakiku.
Ekspresinya tak berubah. Biasa saja. Dia memang udah biasa
melihat perangkat lelaki.
"Cerita lagi pengalaman kamu" kataku
sambil menahan geli. Tangan Cut sudah sampai di pahaku. Kedua
belah telapak tangannya membentuk lingkaran yang pas di
pahaku, lalu digerakkan mulai dari atas lutut sampai ke
pangkal pahaku berulang-ulang. Terasa jelas beberapa kali jari2nya
menyentuh pelirku yang membuat penisku makin kencang
tegangnya. Apalagi gerakan mengurut pahaku itu membua Cut
harus membungkuk sehingga aku bisa makin jelas melihat belahan
dadanya dan sebagian buah putihnya itu. Bahkan sampai guratan2
tipis kehijauan pembuluh darah pada buah dadanya
nampak.
Aku harus berusaha keras menahan diri
agar tak hilang kendali lalu menggumuli wanita muda di depanku ini,
menelanjanginya dan memasukkan penisku yang sudah tegang ke lubang
vaginanya. Walaupun udah high begini, aku tak akan memberikan
air maniku kedalam vagina pembantuku sendiri. Semacam
pantanganlah. Lebih baik sama isteri atau cari di luaran. Ada
kawan kantor yang bersedia menerima penisku memasuki tubuhnya, kapan
saja aku butuh. Termasuk sedang mens, tentunya dengan teknik oral kalo
bulannya lagi datang.
"Banyak susahnya dibanding senengnya,
Pak" "Ah masa Iya. Makanya saya hanya tahan
sebulan" "Gimana sih engga
enaknya" "Banyak tamu yang dateng maunya main bukan pijit. Saya kan engga mau
begituan. Lagian udah jelas di situ kan engga boleh buat
main" "Kalo tamunya ngotot
minta "Yaah .. dikocok aja,
sambil...
Aku tunggu dia tak
meneruskan kalima Cut. "Sambil apa"
"Kalo ada yang nekat, daripada bikin
repot, saya kasih
aja pegang2 tetek, tapi dari luar
aja. Saya engga kasih buka kancing" "Pantesan kamu laris, ada
bonusnya sih.." "Engga semua tamu Pak, emangnya diobral. Hanya yang
bandel aja. Biasanya sih kalo mulai nakal pengin pegang2,
trus saya tolak terus, dia bisa ngerti. Kalo udah
keluar kan langsung surut nafsunya" Paha kanan selesai diurut, kini pindah ke
paha kiri. Mungkin
karena posisinya, kayanya kali ini
pelirku lebih sering disentuh dan terusap. Baru aku
menyadari, lengan Cut ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku makin tegang
saja, penisku sudah tegang maksimum, siap untuk digunakan. Tapi
aku tetap bertahan untuk tak lepas
kontrol.
Tiba2 muncul ide nakalku. Dengan
menggerakkan pinggul dan kaki, aku diam2 menarik sarungku
seolah-olah tak sengaja sehingga kini seluruh batang kelaminku
terbuka. Aku juga pura2 tak tahu. Tapi dasar.... Reaksi Cut
tak seperti yang kuduga. Dia hanya sekilas melihat kelaminku,
lalu kembali asyik mengurut dan acuh. Dia sudah terlalu sering melihat
kelamin lelaki yang tegang "Setiap tamu kamu kocok" "Engga dong,
yang nakal iya, ada juga yang minta. Sebenarnya saya bukan
ngocok, tapi mengurut supaya darahnya lancar, tapi tamunya
yang minta sekalian dikocok" Ah..pengin juga punyaku diurut, supaya
lancar. Terus dikocok, supaya segar " "Kamu ngocoknya selalu sampai
keluar" "Iya dong Pak, kan supaya aman. Lagian cuman
sebentar." "Oh iya" "Iya .. ada juga sih yang lama, tapi umumnya 2-3
menit juga keluar.
Malah ada yang udah keluar duluan sebelum
diurut, cuman kesentuh" "Oh ..ya "kalau dianya udah tegang, sering
kesentuh ama tangan saya. Eh .. tahu2 jari saya kesiram air hangat" "Oh
iya .. terus gimana" "Saya emang sedikit kaget, tapi pura2 engga
tahu, supaya dia engga kesinggung" Bijaksana juga dia. "Yang lucu
lagi, ada yang udah keluar sebelum disentuh" "Ah masa" "Anak
muda. Setelah selesai pijit belakang, terus kan saya suruh
balik badan buat pijit depan. Dianya engga segera membalik.
Trus saya minta ijin buat minum sebentar. Waktu saya masuk
lagi, dianya udah terlentang dan itunya ditutup pakai handuk.
Padahal tadi dia telanjang. Trus waktu saya ngurut paha kaya
sekarang ini lho, terasa basah2 di situ. Setelah dia pulang spreinya
basah. Dia udah keluar sewaktu telungkup Paha kanan dan kiriku sudah
selesai diurut, pelir kanan dan kirikupun sudah beberapa kali
disentuh. Terus, what next ? Dengan dinginnya Cut menutupi kembali
kelaminku dengan sarung, lalu... "Sekarang atasnya, Pak"
Cut lebih mendekat, berdiri di samping kiri perutku dan mulai memijit bahuku, trus dadaku. Bulu-bulu di
lengannya makin jelas, lumayan panjang, halus, dan berbaris rapi. Hali
ini menambah rangsanganku. Kedua tanganku bebas. Kesempatan ini kugunakan buat
tak sengaja menyentuh pantat Cut yang begitu menonjol ke belakang, dengan tangan kiriku. Uh padat banget
pantat si Cut. Dia tak berreaksi. Tanganku makin nakal.
Kali ini tak menyentuh lagi, tapi sudah meremas-remas
kedua bulatan di belakang tubuhnya itu. Cut tak
protes, tapi dengan amat sopan dan
lihai dia menghindari kenakalan tanganku sambil terus memijit, seolah-olah tak sengaja menghindar.
Benar2 dia bijaksana Akupun segera tahu
diri, dia tak suka diganggu oleh majikannya ini. Begitu juga waktu
dia memijat tanganku. Ketika mengurut di bagian lengan atas telapak
tanganku berada di wilayah dadanya. Aku lagi2 tak sengajamenyentuh
bukit kanannya. Uuuh bukan main padat dada janda muda beranak satu
ini. Tapi aku tak berani melanjutkan aksi tanganku di dadanya.
Ada rasa tak enak. Kedua tangan selesai diurut. Cut menyibak sarung
yang menutupi perutku, sehingga seolah-olah makin mempertegas
menjulangnya penisku. Dengan perlahan ia mengurut perutku. "Kalau
perut memang engga boleh kuat2 " katanya.
Memang, dia lebih
mirip mengusap dibanding mengurut. Hal ini makin menambah rangsanganku saja. Benar, dalam mengusap
perut Cut beberapa kali
menyentuh penisku, tapi
tak langsung, masih kehalangan dengan kain
sarung. Lebih nikmat kalau langsung . "Selesai
Pak" katanya begitu selesai mengurut perut.
Selesai ? Aku ingin dia mengurut penisku, seperti yang dilakukan kepada customernya. "Engga
sekalian " kataku setengah ragu dan
dengan suara agak serak. "Apa pak? "Punya Bapak diurut sekalian
"Ah engga perlu Pak, punya Bapak
masih bagus, masih sip .. "Tahu
dari mana kamu "Itu tegangnya masih bagus" katanya. Anak ini benar2
Ekspresi wajahnya biasa2, polos wajar,
padahal bicara tentang suatu yang amat sensitif dan
rahasia.
Dan Kaget banget aku dibuat
Cut. Dia tiba2 menyingkap sarungku dan lalu memegang batang penisku
! "Tuh kan kerasnya juga masih bagus "Ah ..masa " "Benar Pak, masih
tok-cer" Anak Sigli ini benar2 mengagumkan, seperti sex-counselor
aja. Apa yang dikatakannya benar. Punyaku tak pernah ngambek bila
ingin kugunakan. "Engga apa2, biar tambah sip" aku masih belum
menyerah ingin menikmati urutannya. " "Eehmm sebenarnya saya mau aja
mengurut punya Bapak, cuman rasanya kok engga enak sama Ibu" "Kan
engga perlu bilang sama Ibu" "Seolah saya mengganggu milik Ibu,
engga enak kan " "Ibu kan baik banget ama saya " "Ah .. siapa bilang
mengganggu, justru kamu membantu Ibu. Ini kan untuk kepuasan
Ibu"
Cut termakan rayuanku. Dituangnya hand-body
ke telapak tangan, lalu menyingkirkan sarungku, dan mulai
bekerja. Pertama-tama, dioleskannya ke pahaku bagian dalam yang dekat-dekat kelamin.
Lalu urutan pindah ke kantung buah pelir dan bergerak
keatas ke batangnya, dengan kedua tangan bergantian. Ahhh
sedapnya ..Lalu dengan
telunjuk dan
ibu jari dipencet
Cut, batang penisku mulai
dari pangkal sampai ke ujungnya. Demikian gerakannya bergantian antara
mengurut dan
memencet. Lalu proses diulang lagi, mulai dengan mengurut
paha, biji pelir,
batang,
dan seterusnya sampai empat kali ulangan. Begitu ulangan keempat selesai, dia lanjutkan dengan
gerakan urut naik-turun.
Kalo gerakan ini sih lebih
mirip mengocok tapi lebih perlahan...enak campur geli2 Pencet
lagi dengan kedua jari, lalu urut
lagi, dilanjutkan mengocok pelan.
Terkadang kocokannya diselingi dengan
kecepatan tinggi, tapi hanya beberapa kali kocokan terus pelan
lagi. Kurasakan aku mulai mendaki Tangan Cut benar-benar lihai
menstimulir kelaminku hingga mulai meninggi terus mendaki ...mungkin 3
langkah lagi aku sampai di puncak. Tapi .. "Udah Pak " "Udah
..?" aku kecewa berhenti mendadak begini. " "Masih yahuud begini
...kalo orang lain sih udah muncrat dari tadi" "Ah masa" "Bener Pak,
udah lebih dari 10 menit Bapak belum " "Sebentar lagi aja udah hampir kok"
"Jangan ah pak ...simpan aja buat Ibu nanti malem" "Sebentar aja deh"
"Udahlah Pak. Bapak hebat. Ibu beruntung lho memiliki Bapak" "
Akhirnya aku mengalah. "Iyalah "Makasih ya bapak jadi seger dibanding tadi
pagi."
Tapi ini rasa
yang menggantung ini perlu penyelesaian. Tiba2 aku berharap
agar isteriku cepat2 pulang "Makasi ya Cut" kataku lagi waktu dia
pamitan. "Sama-sama Pak" " Pukul lima
kurang seperempat. Cut memijatku selama satu setengah jam.
Sebentar lagi isteriku pulang. Aku cepat2 mandi menghilangkan wanginya
hand-body lotion, entar curiga isteriku, tumben2an
pakai handbody. Isteriku terheran-heran ketika sedang mengganti
baju aku serbu dari belakang "Eh...ada
angin apa nih "Habis seharian nganggur, jadinya mengkhayal aja
"kataku berbohong. Isteriku sudah makfum maksud seranganku ini.
Akupun sudah pengin banget, gara-gara nanggungnya pekerjaan tangan
Cut tadi. Tahu suaminya udah ngebet banget, dia langsung melepas
Cdnya dan pasang posisi. Kusingkap dasternya. Kusingkap juga
sarungku, dan aku masuk. Goyang dan pompa. Kiri
kanan, dan atas bawah. Sampai tuntas, sampai kejang
melayang, sampai lemas. Seperti yang sudah-sudah.
Hanya bedanya sekarang, waktu menggoyang dan memompa tadi aku
membayangkan sedang menyetubuhi Cut ! Hah !
. . . . . . . . . . . . .
.
Sejak Cut
memijatku kemarin, aku jadi makinmemperhatikannya. Padahal sebelumnya hal ini tak pernah
kulakukan. Seperti waktu dia pagi hari menyapu lantai terkadang agak membungkuk buat menjangkau debu di bawah sofa misalnya. Aku tak melewatkan untuk
menikmati bulatan buah dada putihnya. Atau kalau dia sedang
naik tangga belakang ke tempat jemuran. Aku bisa
menikmati betis dan bagian paha belakangnya, walaupun
bentuk kakinya tak begitu bagus, tapi putih
mulus. Paling menyenangkan kalau memperhatikan dia mengepel lantai,
makin banyak bagian dari buah dadanya yang terlihat, apalagi kalau dia
memakai daster yang dadanya
rendah.
Tentu saja sebelum memperhatikan
dia, aku harus memeriksa situasi dulu, ada isteriku atau
anak-anakku engga. Yang membuatku merasa beruntung adalah ketika aku
terpaksa pulang lagi ke rumah karena ada berkas kantor yang ketinggalan.
Waktu itu sekitar jam 10 pagi. Aku parkir mobilku di tepi
jalan, tidak di garasi, toh hanya mengambil
dokumen. Aku ketok pintu depan tak ada yang menyahut.
Kemana nih si Uci (anakku yang SMU masuk siang). Si Cut pasti
ada di belakang. Ternyata pintu tak terkunci, aku masuk,
sepi, langsung ke belakang. Maksudnya mau memperingatkan
anakku dan pembantu tentang kecerobohannya tak mengunci pintu. Sampai di
belakang tak ada seorangpun. Ke mana mereka ini. Aku kembali
ke ruang tengah. Saat itulah Cut muncul dari kamar
mandinya. Aku berniat menegurnya, tapi niatku urung,
sebab Cut keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk yang tak
begitu lebar. Buah dada besar itu seakan tumpah
΄. Lebih dari separuh dada tak tertutup handuk. Puting
dada ke bawah saja yang tersembunyi. Dan bawahnya Seluruh pahanya
tampak ! Handuk sempit itu hanya sanggup menutup sampai pangkal
pahanya saja. Aku segera mengambil posisi yang aman buat
mengamatinya, dibalik pintu kaca belakang. Viltrage itu akan
menghalangi pandangan Cut ke dalam. Aman. Habis mandi dia
masih berberes-beres berbagai peralatan cuci, dengan hanya berbalut
handuk.
Sebelumnya dia tak pernah begini,
mungkin dikiranya tak ada orang, berarti Si Uci lagi pergi.
Yang membuat jantungku berdegup kencang adalah, dengan
membelakangiku Cut membungkuk mengambil sesuatu di dalam ember.
Seluruh pantatnya kelihatan, bahkan sedetik aku sempat melihat
kelaminnya dari belakang ! Tak hanya itu saja. Setelah selesai
berberes, Cut melangkah memasuki kamarnya. Sebelum masuk kamar
inilah yang membuat jantungku berhenti. Cut melepas handuknya
dan menjemurnya dengan telanjang bulat ! Hanya beberapa detik aku
menikmati tubuh polosnya dari belakang agak samping. Bulatan buah
dada kirinya sangat jelas. Kulit tubuhnya begitu bersih.
Bentuk tubuhnya nyaris bagus, kecuali agak gemuk. Dada besar,
pinggang menyempit, pinggul melebar dan pantat bulat menonjol kebelakang.
Dia langsung melangkah masuk ke kamarnya. Dalam
melangkah, sepersekian detik sempat terlihat bahwa bulu2
kelamin Cut lebat ! Aku tegang.
Rasanya aku harus melanggar janjiku
sendiri untuk tak meniduri pembantu. Ini adalah kesempatan
baik. Tak ada siapapun di rumah. Aku tinggal masuk ke kamarnya
dan menyalurkan ketegangan ini. Kukunci dulu pintu
depan. Dengan mantap aku melangkah, siap berhubungan seks
dengan wanita muda bahenol itu. Tapi sebelum keluar pintu
belakang, aku ragu. Bagaimana kalau dia menolak kusetubuhi ?.
Kemarin saja dia menolak meneruskan mengocok penisku sampai keluar
mani. Apakah sekarang ia akan membiarkan vaginanya kumasuki ?
Dia begitu merasa bersalah sama isteriku. Bahkan hanya buat mengonaniku,
apalagi bersetubuh. Aku menimbang. Rasanya dia tak akan
mau. Lagipula, apakah aku harus melanggar pantanganku sendiri
hanya karena terrangsang tubuh polosnya ? Tapi aku sudah high
sekarang Ah sudahlah, aku harus bersabar menunggu Senin depan,
saatnya dia memijatku lagi. Mungkin
aku bisa merayunya sehingga dia merasa ikhlas, tak bersalah,
memberikan tubuhnya buat kunikmati.
Untuk
menyalurkan yang sudah terlanjur tegang
ini terpaksa aku akan mengajak makan siangwanita
rekan kantorku seperti biasa kulakukan : makan siang di motel .!
Kami sudah di dalam kamar motel langgananku. Begitu pelayan berlalu,
aku langsung mengunci pintu dan kupeluk si Ani, sebut saja begitu,
mantan anak buahku, pasangan selingkuhku yang selalu siap setiap
saat kubutuhkan. Eehhmmmmhh...reaksinya begitu ciumanku sampai di lehernya. ΄Katanya mau makan dulu ΄
Makan yang ini dulu ah .. ΄ kataku
sambil tanganku yang telah menerobos rok mininya mampir
ke selangkangannya. Ehhmmmm kok tumben semangat banget nih tadi malem
engga dikasih ama dia ya ΄ Udah
kangen sih ΄
Kutanggalkan blazernya. Huuu .. gombal
! Kemarin aja acuh banget ΄ Kan sibuk kemarin ΄ kubuka kancing
blousenya satu persatu. Padahal kami masih berdiri di balik pintu.
Alesan BH-nya juga kucopot, sepasang bukit itu telah terhidang
bebas di depanku. Dengan gemas kuciumi kedua buah kenyal itu.
Putingnya kusedot-sedot. Gantian kanan dan kiri. Walaupun sudah
sering aku melumat-lumat buah ini, tapi tak bosan-bosan juga.
Mulai terdengar lenguhan Ani. Tanganku sudah menerobos CD-nya, dan
telunjukkupun mengetest, pintu ΄nya sudah membasah.
Lenguhan telah berubah menjadi rintihan. Yang aku suka pada
wanita 30 tahun ini selain dia siap setiap saat kusetubuhi, juga
karena Ani cepat panasnya. Mulut dan jariku makin aktif. Rintihannya makin
tak karuan. Hingga akhirnya Ayo sekarang Pak .. ΄ katanya.
Akupun sudah pengin masuk dari tadi. Kupelorotkan CD-nya dan kulepas
celana dan CD ku juga. Kutuntun Ani menuju tempat tidur. Kurebahkan
tubuhnya. Kusingkap rok mininya dan kubuka pahanya
lebar-lebar. Siap. Padahal roknya masih belum lepas, begitu
juga kemejaku. Kuarahkan penisku tepat di pintunya yang basah
itu, dan kutekan. Aaaaafffff hhhhhh teriak Ani.
Dengan perlahan tapi pasti,
penisku memasuki liang senggamanya, sampai seluruh batang
yang tergolong panjang itu tertelan vaginanya. Kocok... goyang . Kocok
. Goyang . Seperti biasa. Sampai jari2 Ani
mencengkeram sprei kuat-kuat diiringi dengan rintihan histeris.
Sampai aku menekan kuat2 penisku guna menyemprotkan maniku ke
dalam vaginanya. Sampai terasa denyutan teratur di dalam
sana. Sampai kami berdua rebah lemas keenakan ..
Begitulah. Persetubuhanku dengan
Ani begitu sama gayanya. Gaya standar. Hal ini karena kami
hampir selalu diburu waktu, memanfaatkan waktu istirahat makan
siang. Atau juga karena Ani cepat panasnya. Aku merasakannya
monoton. Aku ingin sesuatu yang baru, tapi masih sayang
melepaskan Ani, sebab sewaktu-waktu dia amat berguna meredakan
keteganganku. Berarti harus menambah koleksi
΄ lagi ? Mungkinkah sesuatu yang baru itu akan kudapatkan
dari Cut? Ah, masih banyak hal yang musti kupertimbangkan.
Pertama, tentang janjiku yang tak akan meniduri pembantu.
Kedua, resiko ketahuan akan lebih besar. Ketiga, si Cut
belum tentu mau, dia merasa terhalang oleh kebaikan isteriku.
Tapi bahwa aku akan mendapatkan sesuatu
yang lain, yaitu : jauh lebih muda dari umurku, buah dada yang
sintal dan besar, foreplay yang mengasyikkan dengan memijatku, makin
mendorongku untuk mendapatkan Cut. Tak sabar aku menunggu Senin
depan, saatnya Cut akan memijatku lagi ..
Senin, pukul 12.30. Aku menelepon ke rumah. Uci yang
mengangkat, belum berangkat sekolah dia rupanya.
Aku mengharap Cut yang mengangkat
telepon sehingga bisa janjian jam berapa dia mau memijatku. Satu jam
berikutnya aku menelepon lagi, lama tak ada yang mengangkat,
lalu ΄Halo ΄ suara Cut. Aha ! Uci
ada Cut΄ Udah berangkat, Pak ΄ Si
Ade ? ΄ Mas Ade tadi nelepon mau pulang
sore, ada belajar kelompok, katanya ΄ Kesempatan
nih. Ya sudah .. ehm
.. kerjaan kamu udah beres belum ΄
Hmm udah Pak, tinggal seterika entar sore
΄ Mau kan kamu mijit Bapak lagi
? Pegal2 nih kan udah seminggu ΄ Bisa
Pak, jam berapa Bapak pulang ?
΄ Sekarang
΄ Baik Pak, tapi saya mau mandi dulu
΄
Agak lama aku menunggu di depan
pintu baru Cut membukanya. Maaf Pak, tadi baru
mandi . ΄ Kata Cut tergopoh-gopoh.
Ah, penisku mulai bergerak naik. Cut mengenakan daster
yang basah di beberapa bagian dan jelas sekali bentuk bulat buah kembarnya
sebagai tanda dia tak memakai BH. Mungkin
buru-buru. Engga apa-apa. Bisa mulai
? "Bisa pak saya ganti baju dulu
΄ Hampir saja aku bilang, engga
usah, kamu gitu aja. Untung tak jadi, ketahuan banget ada
maksud lain selain minta pijit. Aku masuk kamar dan segera bertelanjang
bulat. Terbawa suasana, penisku udah tegak berdiri. Kututup
dengan belitan handuk. Pintu diketok. Cut masuk.
Mengenakan rok terusan berbunga kecil warna kuning cerah, agak
ketat, agak pendek di atas lutut, berkancing di depan tengah sampai
ke bawah, membuatnya makin tampak bersinar.
Warna roknya sesuai benar dengan bersih
kulitnya. Dada itu kelihatan makin menonjol saja. Penisku
berdenyut.
Siap Cut ΄ Ya pak
΄ Dengan hanya berbalut handuk, aku rebah ke tempat
tidur, tengkurap. Cut mulai dengan memencet telapak
kakiku. Ini mungkin urutan yang benar. Cara memijat tubuhku
bagian belakang sama seperti pijatan pertama minggu lalu, kecuali waktu
mau memijat pantat, Cut melepaskan handukku, aku jadi
benar2 bugil sekarang. Wangi sabun mandi tercium dari tubuhnya
ketika ia memijat bahuku. Selama telungkup ini, penisku
berganti-ganti antara tegang dan surut. Bila sampai pada daerah
sensitif, langsung tegang. Kalau ngobrol basa-basi
dan serius ΄, surut. Kalau
ngobrolnya menjurus, tegang lagi. Depannya Pak
΄
Dengan tenang aku membalikkan tubuhku
yang telanjang bulat. Bayangkan, terlentang telanjang di depan
pembantu. Penisku sedang surut. Cut melirik penisku,
lagi2 hanya sekilas, sebelum mulai mengurut kakiku. Sekarang aku
dengan jelas bisa melihatnya. Bayanganku akan bentuk buah dadanya di
balik pakaiannya membuat penisku mulai menggeliat. Apalagi
ketika ia mulai mengurut pahaku. Batang itu sudah tegak berdiri.
Cara mengurut paha masih sama, sesekali menyentuh buah pelir.
Bedanya, Cut lebih sering memandangi kelaminku yang telah dalam
kondisi siap tempur. Kenapa Cut ?
΄ Aku mulai iseng bertanya. Ah
engga .. katanya sedikit gugup. ΄Cepet
bangunnya hi ..hi..hi.. ΄ katanya sambil ketawa
polos. Iya dong . Kan masih sip kata kamu
΄ Ada bedanya lagi. Kalau minggu lalu sehabis dari paha
dia terus mengurut dadaku, kali ini dia langsung menggarap
penisku, tanpa kuminta ! Apakah ini tanda2 dia akan bersedia
kusetubuhi ? Jangan berharap dulu,
mengingat kesetiaan ΄nya kepada
isteriku. Cara mengurut penisku masih sama, pencet dan
urut, hanya tanpa kocokan. Jadi aku tak
sempat mendaki ΄, cuman
pengin menyetubuhinya ! Udah. Benar2 masih
sip, Pak ΄ Mau coba sipnya ?
΄ kataku tiba2 dan menjurus. Wajahnya sedikit
berubah. Jangan dong Pak, itu kan milik Ibu.
Masa sih sama pembantu ΄ Engga apa-apa
asal engga ada yang tahu aja ΄ Cut diam
saja.
Dia berpindah ke dadaku. Artinya
jarak kami makin dekat, artinya rangsanganku makin bertambah,
artinya aku bisa mulai menjamahnya . Antara 2 kancing baju
di dadanya terdapat celah terbuka yang menampakkan daging dada putih yang
setengah terhimpit itu. Aduuuhhh . Aku mampu
bertahan engga nih . Apakah aku akan melanggar janjiku ?
Seperti minggu lalu juga tangan kiriku mulai nakal. Kuusap-usap pantatnya
yang padat dan menonjol itu. Seperti minggu lalu juga, Cut menghindar
dengan sopan. Tapi kali ini tanganku bandel, terus saja kembali ke
situ meski dihindari berkali-kali. Lama2 Cutmembiarkannya,
bahkan ketika tanganku tak hanya mengusap tapi mulai meremas-remas pantat
itu, Cut tak ber-reaksi, masih asyik
mengurut.
Cut masih saja asyik mengurut walaupun
tanganku kini sudah menerobos gaunnya mengelus-elus pahanya. Tapi
itu tak lama, Cut mengubah posisi berdirinya dan meraih tangan
nakalku karena hendak mengurutnya, sambil menarik nafas
panjang. Entah apa arti tarikan nafasnya itu, karena memang
sesak atau mulai terangsang ? Tanganku mulai diurut. Ini berarti
kesempatanku buat menjamah daerah dada. Pada kesempatan dia mengurut
lengan atasku, telapak tanganku menyentuh bukit
dadanya. Tak ada reaksi. Aku makin nekat.
Tangan kananku yang sedari tadi nganggur, kini ikut menjamah dada
sintal itu. Paak . ΄ Katanya
pelan sambil menyingkirkan tanganku. Okelah, untuk sementara aku
nurut. Tak lama, aku sudah tak tahan untuk tak meremasi buah
dada itu. Kudengar nafasnya sedikit meningkat temponya.
Entah karena capek memijat atau mulai
terangsang akibat remasanku pada dadanya. Yang penting : Dia
tak menyingkirkan tanganku lagi. Aku makin nakal. Kancing paling
atas kulepas, lalu jariku menyusup. Benar2 daging padat. Tak ada
reaksi. Merasa kurang leluasa, satu lagi kancingnya
kulepas. Kini telapak tanganku berhasil menyusup jauh sampai ke
dalam BH-nya, Ah putting dadanya sudah mengeras
! Cut menarik telapak tanganku dari dadanya. Bapak
kok nakal sih . ΄ Katanya, dan
.. tiba-tiba dia merebahkan tubuhnya ke
dadaku. Aku sudah sangat paham akan sinyal ini. Berarti aku
akan mendapatkannya, lupakan janjiku. Kupeluk tubuhnya erat2 lalu
kuangkat sambil aku bangkit dan turun dari tempat tidur. Kubuka
kancing blousenya lagi sehingga BH itu tampak seluruhnya. Buah dada sintal
itu terlihat naik turun sesuai irama nafasnya yang mulai memburu.
Kucium belahan dadanya, lalu bergeser ke kanan ke dada kirinya.
Bukan main dada wanita muda ini. Bulat, padat, besar,
putih. Kuturunkan tali Bhnya sehingga putting tegang itu
terbuka, dan langsung kusergap dengan
mulutku. Aaahhffffhhhhh . Paaaaak
΄ rintihnya. Tak ada penolakan. Aku pindah ke
dada kanan, kulum juga. Kupelorotkan roknya hingga jatuh ke lantai.
Kulepaskan kaitan BH-nya sehingga jatuh juga. Dengan perlahan kurebahkan
Cut ke kasur, dada besar itu berguncang indah. Kembali aku
menciumi, menjilati dan mengulumi kedua buah dadanya. Cut tak
malu2 lagi melenguh dan merintih sebagai tanda dia menikmati cumbuanku.
Tanganku mengusapi pahanya yang licin, lalu berhenti di pinggangnya
dan mulai menarik CD-nya
Jangan Pak ." Kata Cut
terengah sambil mencegah melorotnya CD. Wah engga
bisa dong aku udah sampai pada point no-return, harus
berlanjut sampai hubungan kelamin. Engga apa-apa Cut
ya . Bapak pengin . Badan kamu bagus
bener ΄ Waktu aku membuka Cdnya tadi, jelas kelihatan
ada cairan bening yang lengket, menunjukkan bahwa dia sudah
terangsang. Aku melanjutkan menarik CD-nya hingga lepas sama
sekali. Cut tak mencegah lagi. Benar, Cut
punya bulu kelamin yang lebat. Kini dua2nya sudah polos, dan dua2nya
sudah terangsang, tunggu apa lagi. Kubuka pahanya lebar lebar.
Kuletakkan lututku di antara kedua pahanya. Kuarahkan kepala penisku di
lubang yang telah membasah itu, lalu kutekan sambil merebahkan diri
ke tubuhnya. Auww . Pelan2 Pak
. Sakit .!
΄ Bapak pelan2 nih ΄ Aku
tarik sedikit lalu memainkannya di mulut vaginanya. Bapak
sabar ya . Saya udah lamaa sekali engga gini
΄ Ah masa ΄ Benar Pak
΄ Iya deh sekarang bapak
masukin lagi ya . Pelan deh..
΄ Benar Bapak engga bilang ke Ibu
kan ? ΄ engga dong
gila apa ΄ Terpaksa aku pegangi penisku agar masuknya
terkontrol. Kugeser-geser lagi di pintu vaginanya, ini akan menambah
rangsangannya. Baru setelah itu menusuk sedikit dan
pelan. Aaghhhhfff ΄ serunya, tapi tak
ada penolakan kaya tadi Sakit lagi Tin .
Cut hanya menggelengkan kepalanya. Terusin
Pak perlahan ΄ sekarang dia yang minta.
Aku menekan lagi. AH bukan main sempitnya vagina wanita
muda ini. Kugosok-gosok lagi sebelum aku menekannya lagi.
Mentok. Kalau dengan isteriku atau Si Ani, tekanan segini
sudah cukup menenggelamkan penisku di vaginanya
masing-masing. Cut memang beda. Tekan, goyang,
tekan goyang, dibantu juga oleh goyangan Cut, akhirnya seluruh
batang panisku tenggelam di vagina Cut yang sempi itu. Benar2
penisku terasa dijepit. Aku menarik penisku kembali secara amat perlahan.
Gesekan dinding vagina sempit ini dengan kulit penisku begitu nikmat
kurasakan. Setelah hampir sampai ke ujung, kutekan lagi
perlahan pula sampai mentok. Demikian seterusnya dengan bertahap menambah
kecepatan. Tingkah Cut sudah tak karuan. Selain merintih dan
teriak, dia gerakkan tubuhnya dengan liar. Dari tangan meremas
sampai membanting kepalanya sendiri. Semuanya liar. Akupun asyik
memompa sambil merasakan nikmatnya gesekan. Kadang kocokan
cepat, kadang gesekan pelan. Penisku mampu merasakan relung2
dinding vaginanya. Memang beda, janda muda beranak satu
ini dibandingkan dengan isteriku yang telah 3 kali melahirkan. Beda
juga rasanya dengan Ani yang walaupun juga punya anak satu tapi sudah 30
tahun dan sering dimasuki oleh suaminya dan aku sendiri. Aku masih
memompa. Masih bervariasi kecepatannya. Nah, saat aku memompa
cepat, tiba2 Cut menggerak-gerakan tubuhnya lebih liar,
kepalanya berguncang dan kuku jarinya mencengkeram punggungku kuat-kuat
sambil menjerit, benar2 menjerit ! Dua detik kemudian gerakan
tubuhnya total berhenti, cengkeraman makin kuat, dan penisku
merasakan ada denyutan teratur di dalam sana. Ohh
nikmatnya .. Akupun menghentikan pompaanku. Lalu beberapa
detik kemudian kepalanya rebah di bantal dan kedua belah tangannya
terkulai ke kasur, lemas Cut telah mencapai orgasme
! Sementara aku sedang mendaki. Paaak
ooohhhh ..
΄ Kenapa Cut
΄ Ooohh sedapnya ΄ Lalu diam,
hening dan tenang. Tapi tak lama. Sebentar kemudian badannya
berguncang, teratur. Cut menangis
! Kenapa Cut ΄ Air matanya
mengalir. Masih menangis. Kaya gadis yang baru diperawani
saja. saya berdosa ama Ibu ΄ katanya
kemudian Engga apa-apa Tin .. Kan Bapak
yang mau ΄ Iya .. Bapak yang mulai
sih. Kenapa Pak ? Jadinya saya engga bisa menahan
. ΄ Aku diam saja. Saya
khawatir Pak . ΄ Sama Ibu
? Bapak engga akan bilang ke siapapun
΄ Juga khawatir kalo kalo
΄ Kalo apa Cut ?
΄ Kalo saya ketagihan .
΄ Oh jangan khawatir,
Pasti Bapak kasih kalo kamu pengin lagi. Tinggal bilang aja
΄ Ya itu masalahnya
΄ Kenapa ?
΄ Kalo sering2 kan lama2 ketahuan ..
΄ Yaah harus hati2 dong
΄ kataku sambil mulai lagi menggoyang. Kan aku belum
sampai. Ehhmmmmmm reaksinya.
Goyang terus. Tarik ulur. Makin cepat. TN juga mulai ikut
bergoyang. Makin cepat. Aku merasakan hampir sampai di
puncak. Tin .
΄ Ya Pak .
΄ Bapak . hampir
. sampai ΄ Teruus Pak
΄ Kalo .. keluar
.gimana ? ΄ Keluarin ..aja
Pak ... Engga . apa-apa
΄ Engga .. usah
dicabut ΄ Jangan .. pak
. aman .. kok ΄ Aku
mempercepat genjotanku. Gesekan dinding vaginanya yang sangat terasa
mengakibatkan aku cepat mencaki puncak. Kubenamkan penisku dalam2
Kusemprotkan maniku kuat2 di dalam. Sampai habis. Sampai lunglai Sampai
lemas. Beberapa menit berikutnya kami masih membisu. Baru saja
aku mengalami kenikmatan luar biasa. Suatu nikmat hubungan seks yang
baru sekarang aku alami lagi setelah belasan tahun lalu berbulan madu
dengan isteriku. Vagina Cut memang gurih
΄, dan aku bebas mencapai puncak tanpa khawatir
resiko. Tapi benarkah tanpa resiko. Tadi dia bilang
aman. Benarkah ? Cut .
΄ Ya .. Pak
΄ Makasih ya benar2
nikmat ΄ Sama-sama Pak. Saya
juga merasakan nikmat ΄ Masa ..
΄ Iya Pak. Ibu benar2 beruntung
mendapatkan Bapak ΄ Ah kamu
΄ Baner Pak. Sama suami engga seenak ini
΄ Oh ya
΄ Percaya engga Pak . Baru kali ini saya
merasa kaya melayang-layang ΄ Emang sama
suami engga melayang, gitu ΄ Engga
Pak. Seperti yang saya bilang punya Bapak bagus banget
΄ Katamu tadi . Udah berapa
lama kamu engga begini .. ΄ Sejak
.ehm .. udah 4 bulan Pak
΄ Lho . Katanya kamu udah
cerai 5 bulan ΄ Benar
΄ Trus ? ΄ Waktu itu saya
kepepet Pak ΄ Sama siapa
΄ Sama tamu. Tapi baru sekali itu
Pak. Makanya saya hanya sebulan kerja di panti pijat itu.
Engga tahan diganggu terus ΄ Cerita dong
semuanya ΄ Ada tamu yang nafsunya gede
banget. Udah saya kocok sampai keluar, masih aja dia
mengganggu. Saya sampai tinggalin dia. Trus akhirnya dia
ninggalin duit, lumayan banyak, sambil bilang saya ditunggu di Halte
dekat sini, hari Sabtu jam 10.00. Dia mau ajak saya ke
Hotel. Kalo saya mau, akan dikasih lagi sebesar itu
΄ Trus ?
΄ Saya waktu itu benar2 butuh buat bayar
rumah sakit, biaya perawatan adik saya. Jadi saya mau
΄ Pernah sama tamu yang lain ?
΄ Engga pernah Pak. Habis itu trus
saya langsung berhenti ΄ Kapan kamu
terakhir main ?
΄ Ya itu sama tamu yang
nafsunya gede itu, 4 bulan lalu. Setelah itu saya kerja jadi
pembantu sebelum kesini. Selama itu saya engga
pernah main , sampai barusan tadi
sama Bapak . Enak banget barusan kali karena
udah lama engga ngrasain ya Pak atau emang
punya Bapak siip banget hi..hi.. ΄ Polos
banget anak ini. Aku juga merasakan nikmat yang sangat. Dia
mungkin engga menyadari bahwa dia punya vagina yang legit
΄, lengket-lengket sempit, dan
seret. Kamu engga takut hamil sama tamu itu ?
΄ Engga. Sehabis saya melahirkan kan
pasang aiyudi (maksudnya IUD, spiral alat KB). Waktu cerai
saya engga lepas, sampai sekarang. Bapak takut saya hamil ya
? ΄ Aku lega bukan main. Berarti untuk
selanjutnya, aku bisa dengan bebas menidurinya tanpa khawatir dia
akan hamil . Jam berapa Pak ?
΄ amm 4 lewat 5 ΄
Pijitnya udah ya Pak . Saya mau ke belakang
dulu ΄ Udah disitu aja ΄ kataku
sambil menyuruh dia ke kamar mandi dalam kamarku. Dengan
tenangnya Cut beranjak menuju kamar mandi, masih
telanjang. Goyang pantatnya lumayan juga. Tak lama kemudian
Cut muncul lagi. Baru sekarang aku bisa jelas melihat sepasang buah
dada besarnya. Bergoyang seirama langkahnya menuju ke tempat tidur
memungut BH-nya. Melihat caranya memakai BH, aku jadi
terangsang. Penisku mulai bangun lagi. Aku masih punya sekitar
45 menit sebelum isteriku pulang, cukup buat satu ronde lagi. Begitu Cut
memungut CD-nya, tangannya kupegang, kuremas. Bapak
pengin lagi, Cut ΄ Ah
nanti Ibu keburu dateng , Pak ΄
Masih ada waktu kok ΄ Ah Bapak nih
gede juga nafsunya ΄ katanya, tapi
tak menolak ketika BH nya kulepas lagi. Sore itu kembali aku
menikmati vagina legit milik Cut, janda muda beranak satu, pembantu rumah
tanggaku.. Hubungan seks kami selanjutnya tak perlu didahului oleh acara
pijitan. Kapan aku mau tinggal pilih waktu yang aman
(cuma Cut sendirian di rumah) biasanya sekitar jam 2
siang. Cut selalu menyambutku dengan antusias, sebab dia
juga menikmati permainan penisku. Tempatnya, lebih aman di
kamarnya, walaupun kurang nyaman. Bahkan dia
mulai berani ΄ memanggilku untuk
menyetubuhinya. Suatu siang dia meneleponku ke kantor
menginformasikan bahwa Uci udah berangkat sekolah dan Ade pergi less
bahasa Inggris, itu artinya dia sendirian di rumah, artinya dia juga
pengin disetubuhi. Terbukti, ketika aku langsung
pulang, Cut menyambutku di pintu hanya berbalut handuk. Begitu
pintu kukunci, dia langsung membuang handuknya dan menelanjangiku
! Langsung saja kita main di sofa ruang tamu
|
|