|
Once in A Lifetime
Chapter 1: Lee
28 Februari 2001
Jam dua siang
Accounting Office sebuah Perusahaan Asing di Bali
Seorang gadis duduk menatap layar komputer,
keningnya berkerut.
Teriakan boss menyentakkan kepalanya sekejab, refleks dia menyahut,
"Yes Pak?"
Siang yang sibuk. Gadis itu, Lee, dibuat kalang kabut dengan
rencana
kepergian sang boss besar ke Singapore yang mendadak. Mengurus
tiket
pesawat, reservasi Hotel, juga bahan presentasi untuk meeting disana.
Tapi segala permintaan yang mendadak dan memerlukan
kecepatan dan
tingkat akurasi yang tinggi, sudah biasa buat seorang
Lee, Asisten
dari Pengawas Keuangan yang bertanggungjawab
untuk sepuluh anak
perusahaan di Indonesia.
Setelah berkutat dengan segala detail yang harus diselesaikan,
pukul
enam sore, gadis itu mulai menarik nafas lega. Semua sudah siap, bahan
presentasi tertata rapi, siap dibawa sang boss nanti malam.
Lehernya
yang terasa pegal diputarnya perlahan. Mr. Dolenga sang
boss besar
berdeham dari dalam kantor sebelum meneriakkan lagi namanya,
"Ehm... Lee...??"
Mulutnya terasa malas menyahut karena entah sudah berapa kali
namanya
diteriakkan si boss sejak pagi. Tapi
bergegas dia berdiri dan
melangkah cepat masuk ke kantor Mr. Dolenga.
"Yes, Mr. D, what can I do for you?"
"Sit down, Lee...", sahut sang boss ramah.
Perlahan Lee meletakkan pantatnya tepat di ujung kursi, bertanya tanya
dalam hati, ada apa ini. Tak biasanya Mr. Dolenga khusus
memanggilnya
ke dalam kantor, biasanya ialah yang akan menghampiri meja Lee
jika
perlu apa apa, termasuk juga mendiktekan draft surat. Mr. D
merasakan
kegelisahan gadis itu, seraya tersenyum menenangkan, dia menatap
Lee
dan bertanya,
"So Lee, how long have you worked here?"
Lee agak terperangah dengan pertanyaan itu, sebelum menjawab,
hampir
otomatis,
"Two years directly under your supervision, Sir".
"Hmmm... Quite a long time and I am happy with your performance
Lee...
I want you to know that."
Lee melongo dengan jawaban si boss yang tak terduga, tidak
biasanya
Mr. Dolenga melempar pujian dengan begitu manisnya. Buat
Lee, boss
satu ini punya standar yang sangat tinggi, tidak banyak
yang bisa
benar benar membuatnya puas dengan performance anak
buahnya. Sikap
diamnya bisa diartikan hasil pekerjaan yang cukup lumayan dan
mereka
bisa menarik nafas lega. Pujian... Hampir tidak
pernah mampir di
telinga. Jadi wajar bila Lee merasa sangat tersanjung dengan
pujian
tak terduga ini.
"I just do my job, Sir."
"You do your job extra ordinarily well...... and I believe this is
the
right time to give you a good news."
"Duh, apalagi ini...... Cepatlah katakan, pak...",
bisik Lee dalam
hati.
Mr. Dolenga tersenyum menatap asisten yang sudah bekerja
bersamanya
selama dua tahun ini,
"Lee, congratulations... Starting tomorrow, you are the new
Financial
Controller for this company as I will solely focus on regional
side.
More workload, more stress, which I am sure you will handle just fine,
you are the perfect person for this job."
Lee tergagap sesaat, mulutnya terbuka sedikit,
"Oh well... It's... it's such an honor, Sir... thank you."
"A pleasure, Lee..." sahut boss.
Lee merasa seperti orang tolol, tidak yakin apa yang harus dia katakan
lagi, Mr. Dolenga memecah kesunyian sekejap itu,
"Don't you want to know your salary increase?"
Lee tergagap lagi dan sebelum sempat menjawab, sang boss tertawa kecil
seraya berdiri, tanda pertemuan sudah selesai. Lee ikut berdiri,
Mr.
Dolenga menepuk punggungnya seraya berkata,
"I can only manage to double your current one...
Depending on your
performance evaluation at the end of the year, it will
be reviewed
again."
Tanpa menunggu jawaban Lee, Mr. Dolenga melangkah keluar
kantor dan
memberikan salam perpisahan,
"Go home early today, celebrate it with friends and keep up the
good
work. I see you upon my return".
Lee terhenyak di kursi kerjanya kembali,
mencoba mencerna semua
percakapannya dengan bapak atasan, seorang warga negara Belanda
yang
sudah hampir tujuh tahun tinggal di Bali dan mengendalikan
beberapa
anak perusahaan dalam pengawasannya. What a huge responsibility,
Lee
benar benar memahami beban yang harus dipikul
Mr. D dan selalu
berusaha sabar menghadapinya terutama disaat penuh
tekanan, jadwal
meeting yang panjang, krisis yang dihadapi
perusahaan lain yang
menjadi tanggung jawabnya... Lee menghadapi semuanya
tanpa banyak
bicara. Hanya pengertian yang mendalam dan meniadakan sakit hati
pada
setiap kata keras yang terlontar dari mulut Mr. Dolenga untuk
setiap
kelalaian kecil yang dibuatnya.
Diliriknya jam tangan, waktu masih menunjukkan pukul 7 malam.
Terlalu
sore... Terngiang pesan boss tadi, go celebrate with
your friends.
Nama Bernard terlintas, sahabatnya selama
sepuluh tahun dalam
perantauan bersama, yang sudah jarang Lee temui
karena kesibukan
kerja. Cepat ditekannya nomor handphone Bern, terdengar suara menjawab
di seberang,
"Hi, Lee, tumben...?"
"Bern, ada acara nggak malam ini? Aku mo ngajak kamu
dinner bareng
nich"
"Duh Lee, mau banget sih, tapi aku lagi ada
saudara datang dari
Jawa... malem ini harus bawa mereka keluar juga. Kalo kamu mau,
kamu
aja yang join ama kita, gimana?"
"Oh, bukan itu yang aku perlukan saat ini, Bern..." keluh
Lee dalam
hati.
"Nggak apa dech Bern, dinner bisa diatur lain kali, lagian
aku yang
salah juga, ngajak koq dadakan begini. So enjoy the night ya...
Lee
hubungi kamu lagi kapan-kapan..."
Ditariknya nafas panjang, mendadak rasa sepi menyelimuti
hatinya....
Ia segan untuk pulang ke sepetak kamar kost yang
selama ini cuma
dipakainya untuk tidur dan mandi, karena sebagian besar waktunya sudah
tersita oleh pekerjaan.
"Ah, masih banyak waktu ini...", ia bergumam. Matanya
menatap layar
monitor dan jarinya menuntun mouse dan menekan icon internet explorer.
Dirunutnya sepuluh situs terakhir yang ia kunjungi, satu situs
yang
berada paling bawah segera menarik perhatiannya: www.ceritasaru.org.
Tersungging senyum geli di bibirnya yang mungil, teringat
perkenalan
pertamanya dengan situs satu ini. Sebulan yang lalu saat ada
masalah
dengan komputernya, Lee menelepon bagian IT. Biasanya minor
problem
begitu bisa diselesaikan lewat telepon dengan
mendengar instruksi
mereka.
Putu, supervisor IT-nya yang menjawab telepon. Lee agak kesal
karena
instruksi Putu untuk problem solving yang satu ini
kesannya tidak
serius, lebih banyak bercanda diseling tertawa kecil.
"Tumben dia begini...", pikir Lee. Karena gemas, nada
suaranya mulai
meninggi,
"Putu, cepat kesini, aku sebel liat kamu gak serius
begitu. In 10
minutes, hurry!"
Sesosok pria pendek dengan wajah kekanakan muncul di kantor Lee
tidak
sampai sepuluh menit kemudian. Omelan segera keluar dari
mulut Lee
yang cuma ditanggapi Putu dengan gelakan tawa. Sambil mengutak
atik
komputer gadis itu, Putu bercerita bahwa saat Lee
meneleponnya, dia
sedang membaca salah satu cerita yang diposting di situs ccs.
"Hehehehe sori yach kalo aku jadi nggak konsen, Lee..."
Lee tergelak mendengar pengakuan polos anak itu, tergelitik
hatinya
untuk tahu tentang isi situs tersebut. Putu memberikan
alamat yang
dimaksud dan hari hari berikutnya, mereka berdua suka saling
menggoda
lewat telepon mengenai rahasia kecil itu. Jarang Lee punya waktu untuk
membaca cerita cerita didalamnya dan sejauh ini tidak ada yang terlalu
menarik perhatiannya.
Ia suka menggoda Putu yang kelihatannya begitu addicted dengan
cerita
cerita itu, sebagai stress relief katanya. Iseng Lee
mulai membaca
satu persatu cerita di bagian arsip, cuma sekilas sekilas saja,
tidak
ada yang benar benar bisa membuatnya merunut kata
per kata yang
terangkai. Ia hampir menutup kembali situs itu saat matanya
menangkap
satu cerita............
Begitu indah, begitu halus penuturannya,
membawa Lee terhanyut,
terbang tinggi, ikut tertawa dan menangis dalam diam. Kisah
sepasang
anak manusia yang saling mencintai dengan tulus, cinta
yang telah
teruji dalam kepahitan.
"Beruntungnya mereka", Lee berbisik perlahan. Bukan sebuah
cerita yang
berakhir bahagia, tapi Lee sudah dibuat iri dengan kisah itu.
Paling
tidak, ada kenangan begitu indah bagi kisah kasih mereka.
"Aku belum pernah merasakan satupun kenangan yang indah
dari kisah
cintaku selama ini", keluhnya dalam hati. Sosok pemuda
dalam cerita
itu perlahan membuka kenangan Lee
pada seseorang dari masa
lalunya...... Andy...... sudah berapa lama Lee mengubur nama itu dalam
dalam...... tiga tahun... Ia terperanjat sendiri... selama
itukah...
Secepat itu waktu berlalu? Segera ia menggelengkan kepala.
"Back to reality, Lee" umpatnya dalam hati.
Dibacanya epilog kisah
cinta itu, pesan penulis: kritik dan pujian bisa dialamatkan ke sebuah
alamat e-mail.
"Hmmmmm the first impressive story I have read so far, so
why not?"
gumamnya.
Cepat dibukanya e-mail pribadi miliknya, Cuma pesan pendek untuk
sang
penulis: "Bravo untuk ceritamu! Begitu membumi tapi berkelas.
Bahasa
Inggrismu bagus, lama di LN ya?" <send> Lee tidak
berharap e-mailnya
akan dibalas oleh si penulis. Pesan sederhana itu cuma untuk
memenuhi
harapan penulisnya untuk mendapat tanggapan.
Dimatikannya komputer, merapikan meja kerja, cepat ia
berkemas dan
bergegas pulang ke kamar kontrakan yang cuma satu kilometer
jaraknya
dari kantor tempat ia berkerja. Pukul 10 malam Gadis berkulit
putih
itu duduk termenung di tepi ranjang.
Sosoknya tidak begitu tinggi, cuma 157 cm, tubuhnya
padat berisi.
Ditambah sepasang mata bulat kecil dan
bibir mungil yang suka
tersenyum, wajahnya berkesan kekanakan dan gembira,
biasanya, tapi
tidak malam itu. Rambut pendeknya yang kemerahan masih basah
sehabis
mandi lima menit yang lalu.
Dimatikannya televisi 21 inch dan digantinya dengan dentingan
piano
Richard Clayderman yang mengalun sayup sayup, Lee
mengistilahkannya
musik pengantar tidur. Ia lebih suka mendengarkan lagu dengan
syair,
tapi kali ini ia tidak ingin mencerna lirik lagu, melainkan kabar baik
yang didengarnya tadi sore. Tangan kirinya menggenggam sebuah
gelas
red wine, di tangan kanan terselip sebatang sigaret Dunhill Hijau.
Sekilas ia melirik isi gelasnya dan tersenyum
sendiri, menyadari
cairan merah itu ternyata tak lebih dari isi
sebotol Fanta Merah
dingin dari dalam kulkas mininya. Kuat merokok ia warisi dari ayahnya,
begitu juga ketidakmampuannya menikmati alkohol walaupun cuma sedikit.
Perlahan disesapnya isi gelas anggur itu, menghisap
rokoknya dalam
dalam dan mengingat pesan Mr. Dolenga, "Celebrate it tonight with
your
friends..." Ia berbisik perlahan, "Well Sir, at least I have
followed
your suggestion... I celebrate it with the dearest friend of
mine...
my very goodself".
Diangkatnya gelas anggur itu tinggi tinggi, memasang wajah
cerianya,
berseru dengan suara yang riang, "Cheers"
dan langsung menenggak
seluruh isinya. Gelas anggur diletakkannya kembali ke atas meja dan ia
mulai merenung... Perayaan untuk sebuah
kenaikan pangkat......
Seharusnya ia merasa bahagia, bangga dan beruntung dengan semua ini.
Empat tahun yang lalu sejak ia mulai bekerja.
Perjalanan karirnya
terbilang sangat mulus. Tapi bukankah seharusnya begitu? Sejak awal ia
bertekad untuk mencari uang dan mandiri setelah lulus kuliah, Lee
tak
pernah memberikan kurang dari 100% tenaga, pikiran dan waktunya
untuk
pekerjaan.
Dan sejak bekerja untuk Mr. Dolenga, Lee terkadang merasa tenaga
dan
pikirannya benar benar diperas sampai tetes terakhir, dan ia
melihat
banyak rekan kerja yang berguguran di tengah
jalan. Lee menerima
tantangan itu dengan tenang dan mengorbankan
kehidupan pribadinya
sendiri demi sebuah pengakuan dan nilai baik untuk hasil kerjanya.
Teringat kembali keluhan Bern yang makin sering
terdengar karena
semakin sempitnya waktu Lee untuk bertemu dan makan
malam bersama
seperti yang dulu biasa mereka lakukan
berdua, bahkan untuk
mengakomodasi telepon Bern dari kantor pun, Lee sering tidak bisa. Pun
janjinya untuk menelepon Bern kembali saat ia pulang
dari kantor,
lebih sering dilanggarnya karena keletihan sepulang
kerja langsung
membawa Lee tertidur begitu mencium bantal.
Layar televisi yang masih menyala dan
lampu kamar yang terang
benderang mengantarnya terlelap sampai pagi tanpa sekalipun terbangun.
Kepenatan kerja yang berkepanjangan, kurangnya waktu
untuk merawat
diri sendiri (Lee meraba rambutnya dan
baru tersadar ia sudah
terlambat dua bulan untuk merapikan
potongan rambut di salon
langganannya), keluhan sahabat baik yang kadang merasa dilupakan, mood
boss yang naik turun dan menuntut kematangan emosi gadis
itu untuk
menghadapinya...... bukankah semua itu dan
masih banyak lagi
pengorbanannya membuatnya pantas menerima promosi ini... Lalu
untuk
apa sebuah perayaan?
"It is no more than I deserve...", Lee menggumam.
Kekosongan sekali
lagi menyergapnya...
"Lalu apa yang kurasakan sekarang?", gumamnya. Alangkah
senangnya bila
bisa memiliki perasaan yang signifikan saat mengalami
sesuatu yang
istimewa, promosi ini misalnya. Lee
merasa bukannya ia tidak
bersyukur, tapi sejak pertama ia menapakkan kaki di dunia
kerja, ia
tidak memasang target tertentu untuk rencana jenjang karirnya.
Ia cuma menjalankan apa yang menjadi tanggung jawabnya, no more and no
less. Kepuasan managemen cukup untuk jadi tolok ukurnya. Urusan
uang,
Lee tidak pernah ambil pusing, asalkan cukup untuk menghidupi
dirinya
sendiri yang ia tahu tidak menuntut banyak. So...
"Tidak perlu celebration, tugas dan beban kerja yang lebih berat
telah
menanti esok hari, you better go to sleep
for a new challenge
tomorrow", bisik hatinya. Lee bersiap untuk tidur malam
dan begitu
menyurukkan kepala di balik kehangatan bantalnya, ia
pun tertidur
lelap.
8 Maret 2001 pukul empat sore wita.
Hari yang tenang, Lee sendirian di kantor yang luas itu. Mr. D
sedang
menghadiri perayaan bulanan untuk karyawan yang berulang
tahun, Lee
malas untuk ikut turun dan bergabung.
Dibukanya e-mail pribadi yang hampir seminggu tak pernah ia
periksa.
Lee's horoscope for Thursday Good day, Lee...... you will soon meet
a
new person who will change the way you see life. He will have a
great
deal of impact on you. Get ready for a brand new world. Lee
tertawa
lebar. Bagaimana mungkin dia punya kesempatan bertemu
dengan orang
baru? Bekerja pun ia selalu berada di balik meja, berangkat pagi
dan
pulang larut malam, bersembunyi di balik tumpukan data dan angka angka
yang membosankan.
<delete> Mail berikutnya merupakan suatu kejutan manis.
From: Ryan
Subject: Thanks Hi there, Thanks a lot buat compliment-nya. Sebenernya
sih aku ngga pernah tinggal lama di LN, paling pas vacation aja.
Jadi
rasanya my English cuman average. So, you like my story ?
Sebenernya
aku masih ada beberapa cerita lagi yang masih di-draft,
tapi entah
kenapa akhir-akhir ini mood buat nulis lagi ngga ada. Well,
I hope
this would be the beginning of a wonderful friendship. Hear from
you
soon. ~Ryan~
Lee tersenyum, tidak menyangka ia akan menerima response yang
cukup
hangat dari penulis yang ia kagumi. Jari jemarinya bergerak lincah
di
keyboard, mengetik balasannya: Thank you for your reply, I hope
this
mail finds you in good health. When can I see your next stories?
Has
'the mood' returned?..... Hear from you again??
Lee merasa geli ketika menyadari bahwa dia telah
melakukan sesuatu
yang belum pernah dilakukan sebelumnya, berkenalan dengan seseorang di
dunia maya.
Tapi instingnya mengatakan ia baru saja mendapat seorang teman
yang
hangat dan baik hati.
To: Lee
From: Ryan
Anonymous, yes. Sorry, but I'm doing this not only for
myself, but
for....let's say another character in my story. You must realize
that
Cerita Seru has a lot, I mean A LOT of readers. One of
them might
'accidentally' recognize my character-in-stories.
I think their
privacy should be protected, don't you agree?
Diluar kerahasiaan identitas Ryan, Lee sangat menikmati
pertemanannya
dengan pria itu lewat e-mail. Diskusi diskusi
mereka berdua yang
menarik tentang hobi, kepercayaan dan prinsip prinsip
hidup, atau
sekedar cerita cerita ringan tentang pengalaman perjalanan mereka saat
liburan.
To: Ryan
From: Lee
Jimbaran Seafood Market...... Pernah nggak Ryan ke Jimbaran
Seafood
Market? Asik banget deh, tempatnya di tepi pantai. Karena
makanannya
sendiri nikmat banget dan makannya di tepi
pantai, wah rasanya
romantis banget. Pantai Kuta itu indah sekali. it is nice
to spend
evenings and watch the sunset there. Setiap ada kesempatan aku
suka
nongkrong di salah satu caf namanya "Soda
Club" sore2, tempatnya
menghadap pantai Kuta, jadi sambil ngobrol dan
minum kopi, kita
menikmati indahnya sunset dari situ.
To: Lee
From: Ryan
Aku juga suka liat Sunset. Biasanya sih liat sunset kalo lagi
hiking
ke gunung. Soalnya kalo di Jakarta mo ngeliat sunset rasa susah.
Too
many sky-scrapers. Someday when I visit Bali, you must take me
there
Lee. I would love that. Promise me. Lee mengungkapkan
bagaimana ia
sangat ingin mengunjungi tempat tempat yang pernah dikunjungi
Ryan,
begitu juga sebaliknya.
Lee mengaku bahwa ia seorang perokok kelas berat, dan
jawaban Ryan
sungguh tak terduga: I always fond to women who smoke.
Because my
first love smoked too. And if I ran out of cigarette, I can simply ask
them.
Lewat tiga bulan sejak Lee pertama kali mengirim e-mail
perkenalan
kepada Ryan, mereka berdua sama sama
mengakui bahwa ada banyak
persamaan dalam cara mereka menyikapi
hidup, walaupun secara
karakteristik mereka saling bertolak belakang. Lee tahu
Ryan masih
duduk di bangku kuliah sebuah perguruan tinggi
swasta di Jakarta
dengan mengambil major Business Administration sekaligus bekerja paruh
waktu di salah satu perusahaan pelayaran nasional dan bahwa Ryan lebih
muda empat tahun darinya.
Tapi belum pernah sebelumnya Lee bertemu dengan seseorang yang
dengan
intens membuat pikiran dan hati nuraninya
terusik untuk mencari
jawaban dari banyak pertanyaan tentang hidup. Secara
bercanda Lee
pernah bertanya lewat e-mail kepada Ryan,
"Ini kamu yang sok tua atau aku yang gak sadar umur yach?"
"Lee, life is funny. You met someone new and you find so many
things
in common. But sometimes you wonder why after so
many years, the
person close to you seems can not understand what you're thinking, has
no faintest idea what you had in mind. Ever happened to you?"
"Ry, happened to me sometimes, but I guess that's what people
is all
about... Mungkin kamu punya pandangan hidup yang sama dengan seseorang
dalam hal tertentu, tapi dalam hal lain kalian saling
bertentangan.
Atau bisa juga kamu punya pendapat yang sama dengan seseorang
untuk
hari ini, besok ia bisa saja berubah atau mungkin kamu yang
berubah.
People change, including us".
Sebuah kalimat penutup di e-mail yang Ryan kirim sebulan
berikutnya,
membuat alis Lee sedikit naik: "And one more thing, sekitar jam
berapa
kamu selesai kerja?"
Lee mengambil kesempatan baik ini dengan segera menjawab jam
kerjanya
dan menembak Ryan langsung dengan pertanyaan: "Kapan mo telpon
aku?"
Ryan akhirnya mengucapkan janji itu, janji untuk menelepon Lee.
Hampir empat bulan Lee menunggunya bersedia melakukan
hal itu dan
akhirnya permintaan itu diluluskan oleh Ryan. Tiga hari kemudian pukul
enam pagi wita Lee otomatis membuka matanya. Seberapapun larutnya
ia
pergi tidur, pagi berikutnya pukul enam, ia pasti terbangun.
"Another day in paradise, thanks God you give me another day to
live",
gumamnya perlahan. Digeliatkannya tubuhnya seperti
kucing sambil
mengeluarkan bunyi mendesah panjang... melepas sisa kantuk yang
masih
menggantung. Ia melompat dari ranjang, menyalakan water heater
untuk
secangkir kopi dan meraih handphone yang selalu ia
matikan sebelum
tidur.
Dinyalakannya handphone itu dan tak lama terdengar bunyi beep panjang,
tanda pesan SMS baru masuk. Mulutnya memekik
girang saat matanya
menelusuri isi pesan yang tertulis:
> Lee, I wanted to call you, but it's already after
midnight and I
don't want to disturb you, hence this sms. -Ryan-
Jam pengiriman adalah 2:30 pagi. Lee sudah tak sabar ingin
menelepon
dan mendengar suara pria itu, tapi ia yakin Ryan belum
cukup tidur
bila harus dibangunkan sepagi ini. Dibalasnya sms itu:
> Ry, it's you!! Thanks for your message. Call me tonight, can you?
-
Lee-
Malam hari pukul delapan handphone itu berdering lagi saat Lee
masih
berkutat di kantor. Nama Ryan tertulis
di layarnya. Cepat ia
meraihnya, suaranya sedikit bergetar menahan kerinduan untuk mendengar
suara pria muda itu untuk pertama kalinya.
"Ry?"
"Hi Lee, yes it's me... pa kabar?" (suaranya khas ABG, kata Lee
dalam
hati) Percakapan pertama di telepon itu sangat menyenangkan,
mereka
saling bertukar cerita ringan dan tertawa bersama. Frekuensi
e-mail
jadi berkurang, digantikan oleh fasilitas sms yang saat itu belum lama
membuka lintas operator. Ada nuansa baru saat di malam hari ia
akan
memejamkan mata, sebuah pesan sms masuk:
> night night, sweetie... sleep tight. Lee merasa ada seseorang
yang
peduli dengan dirinya di saat pekerjaan menjauhkannya
dari sahabat
sahabatnya selama ini. Pagi hari saat ia
membuka mata, langsung
dinyalakannya handphone dan mengetik pesan
untuk sahabat tanpa
rupanya:
> morn morn, gorgeous... how's your sleep? SMS menjadi suatu keasyikan
baru buat Lee, di sela kesibukannya di kantor, ia dan
Ryan saling
menyempatkan diri menyapa, menceritakan keadaan masing
masing; Lee
dengan kepenatan pekerjaannya, Ryan dengan kenakalannya mengirim
sms
saat menghadiri kuliah karena bosan dan...... mereka saling
menggoda
dengan nakalnya.
Suatu kali Ryan sempat bertanya:
>Lee, pernah sleep naked nggak?
>Ihhhh ngapain?
>Enak lagi.........
>Geli ah......
>Coba deh ntar malam
>Kamu biasa gitu yach?
>Iya... cobain deh, kan kamu juga tidur sendirian, yang
penting jgn
lupa kunci kamar & tutup tirai
>oke... ;p
>kasih tau aku rasanya besok yach! Bye & have a nice day...
>morn morn, sweetie... Gimana, jadi sleep naked semalem?
>hehehe... jadiii
>gimana, cerita dong......
>hhhmmm... pertamanya awkward banget gitu... makanya aku nyalain lilin
aromatherapy & redupin lampu kamar supaya rileks -tbc-
>trus Lee mulai buka baju, sampe tinggal bra dan cd doank... abis geli
sih buka semuanya
>jadi lo gak buka cd dan bra? Yaaa bukan sleep naked dong namanya
>hehehe iya aku akhirnya buka juga
>naaahh trus?
>trus langsung naik ke ranjang dan selimutin badan sampe ke
leher -
tbc-
>rasanya aneh merasakan kulitku langsung bersentuhan dengan
selimut
dan nipple-ku langsung tegang karena dingin
>hhmmm...kamu bisa tidur?
>yah setelah berbaring diam selama beberapa menit, aku
mulai rileks
dan tanpa beban -tbc-
>Suhu badanku mulai menyesuaikan dgn keadaan
telanjang dan mulai
menghangat -tbc-
>I started to run my fingers through my body..
>did you get wet, sweetie?
>NOT A CHANCE, RYAN! :p
>Just asking ;P
R>Lee, apa yg akan Lee lakukan saat pertama ketemu Ryan?
L>Gimana caranya? Aku kan gak punya ciri2 fisikmu
R>Pake imajinasi dong, tutup matamu dulu & bayangkan apa yg ingin
Lee
lakuin kalo ketemu Ryan :p
L>bole coba deh,hmmmmm.. backgroundnya dulu nee dimana?
Lee pingin
disuatu perkampungan yg udaranya masih segar & sejuk, blm terpolusi
R>oh yg kamu sempat cerita, Kampung Sampireun?
L>that's it... Lee pingin dipeluk wkt pertama kita ketemuan nanti
R>Ryan peluk Lee erat2,belai punggung Lee dgn penuh sayang
L>mata Lee terpejam, kepalanya tersuruk di dada Ryan yg bidang,
sayup
diresapinya detak jantung Ryan
R>perlahan Ryan menyentuh dagu Lee, menuntunnya perlahan
menengadah
menatap mata pria itu
L>perlahan mata Lee terbuka, ditatapnya mata
pria yg selama ini
memenuhi mimpi indahnya
R>jemari Ryan menelusuri wajah Lee, menyentuh hidung mungil dan
bibir
merahnya, membelai...
L>sinar mata Lee meredup, menikmati belaian jemari Ryan
R>perlahan telunjuk Ryan membelai setiap lekuk bibir gadis mungil itu
L>Ry, koq lo panggil gue gadis mungil sih? Gue sebenernya ndut, tau!
R>hahahahahaha Lee, you distract my mind...
L>soriii.. menggelitik sudut bibirnya, tanpa sadar memaksa gadis
itu
mendesah perlahan
R>perlahan didekatkannya wajah Ryan,
membiarkan Lee merasakan
kehangatan hembusan nafasnya
L>bibir Ryan perlahan mengecup sudut bibirnya, menyapu perlahan antara
ada dan tiada
R>hhmm... Lee suka ciuman kayak gitu yach? OK, I'll keep that in
mind
;p
L>sial lo... Hehehe satu sama ya Ryan!
R>ok sweetie, gtg... my class is waiting. CU & have a nice day!
L>take care & CU, gorgeous! E-mail masih menjadi sarana
mereka untuk
berdiskusi bila ada topik yang menarik untuk dibahas.
The Conflicts Sampai suatu hari, e-mail yang ditulis Lee:
"Ryan, I
think this time I am gonna make my dream come true. Lee dikasih
cuti
selama seminggu, minggu depan. Ry sempet bilang juga libur kuliah
pas
itu. Kita ketemuan yuk...Lee pingin pergi ke
Kampung Sampireun,
sendirian. Just tell me where I should go to see you"
"Lee, I do want to see you. Tapi kenapa sendirian,
Lee? Lo sempet
cerita udah punya pacar, rasanya nggak bagus kalo lo
pergi sendiri
untuk bertemu gue"
Saat dibacanya e-mail itu, hati Lee serasa disayat...
Teringat ia
memang pernah bercerita kepada Ryan bahwa ia sudah punya pacar.
Juga
tentang sebuah permintaan besar yang diajukannya, agar Lee
masuk ke
agama dan tradisinya bila mereka menikah nanti, satu permintaan
yang
sampai sekarang Lee merasa tidak sanggup meluluskannya. Kekasih
yang
sudah dua bulan jauh darinya, membantunya untuk berpikir lebih panjang
tentang hubungan mereka. Diketiknya sms singkat buat Ryan:
> Ry, Lee cuma pingin ketemu kamu.
> Lee, kalo aku jadi cowokmu, aku pasti marah & sedih liat ce
yg aku
sayangi bertemu dgn co lain.
> For God's sake Ryan, I just want to see u,
bukannya mau bikin
sesuatu yg buruk, apakah aku salah?
> Tidak ada yg salah, Lee, but the last thing I want to do is to
hurt
somebody.
> OK then, case closed. Anggap saja permintaanku di e-mail
terakhir
tak pernah ada. No hard feeling.
> Lee, it's not as easy as you thought. Do u know that this thing
has
burdened my mind for the last two weeks?
> Ry, sudahlah. Tak apa... maaf kalo Lee udah meresahkan kamu. I still
go for vacation, anyway. Tak ada balasan dalam selang 15 menit, sampai
akhirnya sms baru yang masuk membuat Lee terperangah.
> Can't u see the reason, Lee?? I fall for you, dammit!!!
& I feel
guilty for it, to you, to your
boyfriend... Berbagai perasaan
berkecamuk dalam hatinya, bagaimana semua ini bisa terjadi? Sebelumnya
Lee tidak pernah berusaha mendefinisikan apa
yang dirasakannya
terhadap pria itu, dan ia merasa bahwa bagi Ryan, ia
cuma sesosok
sahabat yang baik, tanpa rupa. Tak lebih dari itu. Jantungnya berdegup
kencang. Rasa marah, kecewa, bingung dan sedih menyerbunya, entah
apa
yang mendorongnya membalas sms itu dengan jawaban yang cukup kasar:
> Fall for me, huh? That easy? Bgmn mungkin? Kamu tdk akan
tertarik
padaku saat kita bertemu nanti, percayalah. -tbc- > Aku
bukan gadis
impianmu & kita tdk akan tidur bersama, bila itu
jawaban yg bisa
membuatmu menghilangkan perasaan itu. Lima belas menit berlalu
tanpa
jawaban. Ryan, answer me!!! Lime menit lagi terlewatkan,
Lee mulai
berhasil menenangkan dirinya, rasa sesal menggantikan badai yang
baru
saja ia alami. Bunyi beep panjang
sekali lagi menyentakkannya:
Sweetie, leave me alone for a while, will u? I just need
to think
about it clearly.
Hopefully also to change this feeling for you. Lee
dihadapkan pada
satu pertanyaan baru. Saat saat indah
bersama Ryan yang sangat
berkesan, semuanya dalam media elektronik. Lee tidak pernah tahu sosok
pria itu, mereka tak pernah saling bertukar foto,
cuma mendengar
suaranya dua kali lewat telepon, tapi Ryan berhasil membantu Lee untuk
lebih mengenal dirinya sendiri dengan pikirannya
yang luas untuk
usianya yang masih muda dan untuk ulasan
ulasannya yang menarik
tentang hidup.
Membuat Lee membuka mata di pagi hari dengan senyum
tersungging di
bibirnya. Membuat jantungnya berdegup kencang setiap kali menerima sms
dan e-mail Ryan. Membuatnya tertawa karena humor
segar yang Ryan
berikan saat krisis kerja melanda. Lee yang
kawatir setiap kali
mendengar Ryan sakit, doa dalam diam
yang dipanjatkannya untuk
kesembuhan dan kebahagiaan pria itu...
"Apakah ini artinya... aku mencintainya?" Air mata menggenang di
sudut
matanya, tangisan tanpa suara yang ditumpahkannya, tangisan pertamanya
di tempat kerja.
"Aku sendiri pun tak tahu bagaimana ini semua bisa
terjadi... dalam
duniaku yang kecil dan nyaris monoton..." gumamnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam,
kala dicurahkannya
seluruh isi hatinya kepada Ryan dalam sebuah e-mail:
I love you. You made me cry in the office. I am sorry if I
did say
something that hurt you this afternoon. I too was very emotional.
Iis
it a sin to love you? My hands are shaking and my heart beating faster
everytime your message arrived. And today I cried in the
office for
someone I've never met. How could you do that and how can I be, I
am
tired to find the answer.
Why when I wake up in the morning, you are my first thought.
Why I
always want to run from here and see you, to find out if you are doing
fine with your life, that you are happy and content. Why
should I
bother to hope that you would sleep and wake up early everyday? Why
I
am longing to hug you and see you laughing again, like I did
when I
called you from the Hotel's toilet...
Have you been able to dissolve your feeling to a
pure friendship?
Because I haven't, Ry and I will never be able to do that. A
meeting
will never change my feeling towards you. How could you fall for
me,
Ry? All this while I thought I am the one who admire you. You are
an
idol and I am a fan.
You have not met me and I am serious about the physical
thing. Ry,
talk to me, will you? You are my sunshine, please don't go away.
You
are right when you once said, Lee is very lucky to have
Ryan as a
friend.
I am ....
Esok hari, e-mail itu berbalas:
Dear Lee,
I am in the office when I write this. The last 15 hours is like
hell
to me. Let me tell you some of it... You did hurt me when you say that
I won't interested to take yoo to
bed (the physical things,
remember??), am I that low in your eyes Lee?? A sex maniac who wants
to bedded every woman in sight ??
I am fallen to you because you can emotionally comfort me, you made me
feel that I have someone who cares about me, be at my side when
hard
times, when I am so lonely. You made me feel alive.
You asked how I can be fallen to you, we never met
each other in
person, do not know how you look, but that's happened just like
that.
I can ask you the same question, what is your answer ??
Everytime I wake from sleep, the first thing to do is
checking my
cellphone, hoping that you drop me a line, even if it is only "how
are
you Ryan" or "good morning Ryan, sleep well last
night?". So I guess
it is not only you who has the syndrome.
I was in a mess. After my last message, I left the
class, heading
directly to my office. Work will help me to
distract my mind, I
thought. You're right, It didn't. So when my colleague ask me to
join
them to disco, I agree. OK, working didn't help, maybe R&R will. Nope,
It didn't help either. I drink a couple shots of liquor
(nearly a
bottle, actually), went high, dancing, flirting on the
dancefloor,
smoking, and ends up throwing up at the toilet. So here I am. 4 am
in
my office. My head felt so heavy, and foggy. Pretty bad
hangover...
Trying to figure out what the hell I am doing here at this time. It is
obvious, but still I felt terrible. I made you cry, I am so sorry Lee.
I never meant to hurt you, sweetie.
I love you Lee. And I feel guilty. To your boyfriend. You
might not
physically cheat on him, but mentally cheating is still
cheating, I
don't know which is worse. I am teasing you, guiding you into
mental
affair, I feel bad. What if I were on his position ? I know I will
be
very sad, and maybe angry. Loving someone is not a sin,
cheating on
someone maybe not a sin. But hurting someone's feeling is
the last
thing I want to do.
Easy to say, huh ?? Yeah, in the same time I want you for
myself.....
How if this and what if that, it's not right, it will hurt
somebody.
Dammit, I don't know what to do, I can't think clearly. I
can't see
clearly Why there's a tears on my eyes ?
Have I been able to dissolve my feeling into pure friendship ? I don't
know. I'll try. Have you ?? Why it feels hurt inside ??
I can only hope all of this will not ruin our...relationship. Lee is a
great friend. Ryan don't want to loose her. She made Ryan laugh,
she
made Ryan felt special. Ryan loves her...
Have a nice day sweetie...
p.s : Do not cry anymore Lee.
Bizzare world....
Apakah itu cinta?? Ya... Menurut Ryan, cinta memiliki banyak
bentuk,
dengan begitu banyak cara untuk mengekspresikannya.
Pertanyaannya,
cinta macam apa yang mereka berdua mau.
16 Juni 2001
To: Lee
From: Ryan
What about Lee? With Lee, things have been unsettled. They
both are
still filled with emotions of what
happened to them. Thinking
rationally might be hard to do. It is not wise to do things in
rush,
especially when the right brain is taking control. Ryan is
so very
young, true. But he is also grown enough to know that how Lee
looks
like doesn't matter much to him, if it doesn't matter at all. Is
that
what you frightened of ?
To be honest Lee, the only image of you that ever crossed my mind
is
that you have brown eyes. Or else you're wearing glasses..... For most
of the time, I never let my imagination comes before the fact.
That
helped me not to get disappointed if something
wasn't matched my
imagination.
I love you Lee. I think we both need time to think it over. To see how
it can work between us. Without hurting anyone. And when I said I
was
flirting on the dancefloor, we just dance, buying her a drink,
that's
all Lee.
Saat badai cinta menyerang, Ryan mengirim pesan sms di suatu pagi:
>Which one u prefer: Ryan or Ben? I prefer Ryan, lebih simple dan enak
didengar. Senyum Lee mengembang, nama asli Ryan... Seminggu
menjelang
keberangkatan Lee untuk berlibur, bertepatan
dengan saat Ryan
menghadapi ujian akhir semester. Dengan setia dikirimnya
Ryan sms
setiap pagi, yang tak pernah dibalas. Lee mengira Ryan sedang
sibuk
dengan ujiannya. Ia tak merasa terlalu resah... Sampai pagi hari
saat
ia bersiap menata baju didalam koper... sms Ryan masuk.
> Lee, maaf lama gak balas sms-mu. Bronchitisku bikin aku hospitalized
for 3 days, I even did my exams from bed. OK now. Lee menarik
nafas
lega menerima tanda kehidupan
itu. Kesehatan Ryan cukup
mengkhawatirkannya. Masalah dengan saluran pernafasan dan
keletihan
dengan kuliah dan pekerjaannya, membuat Ryan kerap bercerita bahwa
ia
harus terbaring sakit selama satu sampai dua minggu.
Selama empat
bulan Lee mengenalnya, sudah dua kali Ryan
sakit serius, Demam
Berdarah dan kali ini Bronchitis akut.
Dibalasnya sms itu, Lee menawarkan untuk menjenguk Ryan di
Jakarta,
tapi Ryan menolak dengan alasan ia perlu istirahat untuk mengembalikan
kondisi tubuhnya. Lee menarik nafas kecewa, sejujurnya sebagian
dari
rencana kepergian jauhnya ini adalah untuk bertemu dengan pria itu.
Lima hari dilewatkan Lee seorang diri pergi ke tempat
tempat yang
menjadi impiannya selama ini. Kota Bandung
yang terakhir kali
dikunjunginya sebelas tahun yang lalu dan Kampung Sampireun di
Garut
yang indah dan unik. Selama itu pula Ryan kerap menggodanya lewat sms.
Saat Lee menginjakkan kakinya pukul delapan malam di Bandara
Husein
Sastranegara,
Ryan mengirim sms:
> Hmmmm... gimana Bandung, Lee? Kamu kelihatan capek, udeh kedinginan?
It's not comfortable to hide these eyes under a cap...
Lee cepat menoleh ke kanan dan ke kiri dengan
curiga, merasa ada
seseorang yang sedang memata matainya. Lalu iapun tergelak...
Dasar
Ryan......
Lee, kamu suka surprise nggak? Aku suka,
apalagi kalau aku yg
merancangnya ;p Malam terakhir ia lewatkan di sebuah Hotel di
kawasan
Ciumbeuleuit. Hotel kecil yang unik dan bernuansa khas
Parahyangan.
Lee menyesal karena ia baru tiba dari Garut pukul lima sore, dan
esok
harinya pukul lima pagi dia sudah harus berangkat ke
bandara untuk
kembali pulang.
Malam harinya Lee sulit memejamkan mata, selalu begitu setiap kali
ia
akan mengadakan perjalanan jauh esok harinya. Diketiknya sms
pendek
untuk
Ryan: >Lagi ngapain, Ry?
>Lee, aku lagi habis berenang nih
>loh, malam2 begini? Di rumahmu ada kolam renangnya? Coolll...
>hehehehe... Iya Kerinduan Lee untuk berbincang
dengannya segera
hadir. Ingin memberi kejutan pada Ryan, Lee meneleponnya.
Terdengar
nada sambung di seberang sana, tiga kali setelah
itu nada sibuk.
Teleponnya ditolak... Lee merasa
gemas... Ia merasa Ryan
menyembunyikan sesuatu darinya.
>kenapa, takut terima teleponku?
>hehehe iya... takuuttt...
>always alibies...
>oke Lee, are u sure you wanna hear the truth?
>tentu saja
>hmmm... Ryan bukan berenang di kolam renang, Lee, melainkan di sebuah
pulau yg indah & terpencil -tbc-
>dua hari setelah keluar dr hospital, I packed my things & went
here
>Gili Terawangan, Ryan? The island I ever told u?
yup. Itu jwban pertama knp sms-mu
terlambat kubalas, aku dlm
perjalanan lewat darat, a long one krn skrg sedang musim libur
>great, kita sama2 pergi ke tempat impian kita ya. Cuman
sayang koq
barengan, gak mau ketemu aku, Ry?
>nope. I intend to c u when u get back from holiday.
Akupun ingin
dengar suaramu, -tbc-
tapi sayangnya pulau ini tdk menjual pulsa isi ulang, hehehehe Sekali
lagi Ryan berhasil membuat perasaan Lee serasa teraduk aduk. Lee
tak
habis pikir dengan jalan pikiran Ryan yang
tidak terduga, agak
impulsif, begitu bebas. Ia menggelengkan kepala, dua
hari setelah
keluar dari rumah sakit, Ryan pergi untuk suatu perjalanan yang
cukup
jauh dan melelahkan.
(Bersambung)
|
|