LANGSING

Payudara Besar Cara Memperbesar Payudara

PERBESAR

Payudara Kencang Mengencangkan Payudara

KENCANG

Mengatasi Frigiditas dan Kesulitan Orgasme

FRIGIDITAS

Cara Mengobati Ejakulasi Dini dengan Hipnoterapi

EJAKULASI

Mengobati Impotensi Tanpa Obat Kuat

IMPOTENSI

CARA MENGHIPNOTIS CEWEK

 



Once in A Lifetime


Chapter 1: Lee

28 Februari 2001
Jam dua siang
Accounting Office sebuah Perusahaan Asing di Bali

Seorang  gadis  duduk  menatap  layar  komputer,  keningnya  berkerut.
Teriakan boss menyentakkan kepalanya sekejab, refleks dia menyahut,
"Yes Pak?"

Siang  yang sibuk. Gadis itu, Lee, dibuat kalang kabut dengan  rencana
kepergian  sang boss besar ke Singapore yang mendadak. Mengurus  tiket
pesawat, reservasi Hotel, juga bahan presentasi untuk meeting  disana.
Tapi  segala  permintaan yang mendadak dan  memerlukan  kecepatan  dan
tingkat  akurasi  yang tinggi, sudah biasa buat seorang  Lee,  Asisten
dari  Pengawas  Keuangan  yang  bertanggungjawab  untuk  sepuluh  anak
perusahaan di Indonesia.

Setelah  berkutat dengan segala detail yang harus diselesaikan,  pukul
enam sore, gadis itu mulai menarik nafas lega. Semua sudah siap, bahan
presentasi  tertata rapi, siap dibawa sang boss nanti malam.  Lehernya
yang  terasa  pegal diputarnya perlahan. Mr. Dolenga sang  boss  besar
berdeham dari dalam kantor sebelum meneriakkan lagi namanya,
"Ehm... Lee...??"

Mulutnya terasa malas menyahut karena entah sudah berapa kali  namanya
diteriakkan  si  boss  sejak  pagi.  Tapi  bergegas  dia  berdiri  dan
melangkah cepat masuk ke kantor Mr. Dolenga.
"Yes, Mr. D, what can I do for you?"
"Sit down, Lee...", sahut sang boss ramah.

Perlahan Lee meletakkan pantatnya tepat di ujung kursi, bertanya tanya
dalam hati, ada apa ini. Tak biasanya Mr. Dolenga khusus  memanggilnya
ke  dalam kantor, biasanya ialah yang akan menghampiri meja  Lee  jika
perlu apa apa, termasuk juga mendiktekan draft surat. Mr. D  merasakan
kegelisahan  gadis itu, seraya tersenyum menenangkan, dia menatap  Lee
dan bertanya,

"So Lee, how long have you worked here?"
Lee  agak terperangah dengan pertanyaan itu, sebelum menjawab,  hampir
otomatis,
"Two years directly under your supervision, Sir".
"Hmmm... Quite a long time and I am happy with your performance Lee...
I want you to know that."

Lee  melongo dengan jawaban si boss yang tak terduga,  tidak  biasanya
Mr.  Dolenga  melempar pujian dengan begitu manisnya. Buat  Lee,  boss
satu  ini  punya standar yang sangat tinggi, tidak  banyak  yang  bisa
benar  benar  membuatnya puas dengan performance anak  buahnya.  Sikap
diamnya  bisa diartikan hasil pekerjaan yang cukup lumayan dan  mereka
bisa  menarik  nafas  lega. Pujian... Hampir tidak  pernah  mampir  di
telinga.  Jadi wajar bila Lee merasa sangat tersanjung  dengan  pujian
tak terduga ini.

"I just do my job, Sir."
"You do your job extra ordinarily well...... and I believe this is the
right time to give you a good news."
"Duh,  apalagi  ini...... Cepatlah katakan, pak...", bisik  Lee  dalam
hati.
Mr.  Dolenga tersenyum menatap asisten yang sudah  bekerja  bersamanya
selama dua tahun ini,

"Lee, congratulations... Starting tomorrow, you are the new  Financial
Controller  for this company as I will solely focus on regional  side.
More workload, more stress, which I am sure you will handle just fine,
you are the perfect person for this job."

Lee tergagap sesaat, mulutnya terbuka sedikit,
"Oh well... It's... it's such an honor, Sir... thank you."
"A pleasure, Lee..." sahut boss.
Lee merasa seperti orang tolol, tidak yakin apa yang harus dia katakan
lagi, Mr. Dolenga memecah kesunyian sekejap itu,
"Don't you want to know your salary increase?"

Lee tergagap lagi dan sebelum sempat menjawab, sang boss tertawa kecil
seraya  berdiri, tanda pertemuan sudah selesai. Lee ikut berdiri,  Mr.
Dolenga menepuk punggungnya seraya berkata,
"I  can  only manage to double your current one... Depending  on  your
performance  evaluation  at the end of the year, it will  be  reviewed
again."

Tanpa  menunggu jawaban Lee, Mr. Dolenga melangkah keluar  kantor  dan
memberikan salam perpisahan,
"Go  home early today, celebrate it with friends and keep up the  good
work. I see you upon my return".

Lee  terhenyak  di  kursi kerjanya  kembali,  mencoba  mencerna  semua
percakapannya  dengan bapak atasan, seorang warga negara Belanda  yang
sudah  hampir tujuh tahun tinggal di Bali dan  mengendalikan  beberapa
anak  perusahaan dalam pengawasannya. What a huge responsibility,  Lee
benar  benar  memahami  beban  yang harus dipikul  Mr.  D  dan  selalu
berusaha  sabar  menghadapinya terutama disaat penuh  tekanan,  jadwal
meeting  yang  panjang,  krisis yang  dihadapi  perusahaan  lain  yang
menjadi  tanggung  jawabnya... Lee menghadapi  semuanya  tanpa  banyak
bicara. Hanya pengertian yang mendalam dan meniadakan sakit hati  pada
setiap  kata keras yang terlontar dari mulut Mr. Dolenga untuk  setiap
kelalaian kecil yang dibuatnya.

Diliriknya jam tangan, waktu masih menunjukkan pukul 7 malam.  Terlalu
sore...  Terngiang  pesan boss tadi, go celebrate with  your  friends.
Nama   Bernard  terlintas,  sahabatnya  selama  sepuluh  tahun   dalam
perantauan  bersama,  yang  sudah jarang Lee  temui  karena  kesibukan
kerja. Cepat ditekannya nomor handphone Bern, terdengar suara menjawab
di seberang,

"Hi, Lee, tumben...?"
"Bern,  ada  acara nggak malam ini? Aku mo ngajak kamu  dinner  bareng
nich"
"Duh  Lee,  mau  banget sih, tapi aku lagi  ada  saudara  datang  dari
Jawa...  malem ini harus bawa mereka keluar juga. Kalo kamu mau,  kamu
aja yang join ama kita, gimana?"

"Oh,  bukan itu yang aku perlukan saat ini, Bern..." keluh  Lee  dalam
hati.
"Nggak  apa dech Bern, dinner bisa diatur lain kali, lagian  aku  yang
salah  juga, ngajak koq dadakan begini. So enjoy the night  ya...  Lee
hubungi kamu lagi kapan-kapan..."

Ditariknya  nafas panjang, mendadak rasa sepi menyelimuti  hatinya....
Ia  segan  untuk  pulang ke sepetak kamar kost yang  selama  ini  cuma
dipakainya untuk tidur dan mandi, karena sebagian besar waktunya sudah
tersita oleh pekerjaan.

"Ah,  masih banyak waktu ini...", ia bergumam. Matanya  menatap  layar
monitor dan jarinya menuntun mouse dan menekan icon internet explorer.
Dirunutnya  sepuluh situs terakhir yang ia kunjungi, satu  situs  yang
berada paling bawah segera menarik perhatiannya: www.ceritasaru.org.

Tersungging  senyum geli di bibirnya yang mungil, teringat  perkenalan
pertamanya  dengan situs satu ini. Sebulan yang lalu saat ada  masalah
dengan  komputernya, Lee menelepon bagian IT. Biasanya  minor  problem
begitu  bisa  diselesaikan lewat telepon  dengan  mendengar  instruksi
mereka.

Putu,  supervisor IT-nya yang menjawab telepon. Lee agak kesal  karena
instruksi  Putu  untuk problem solving yang satu  ini  kesannya  tidak
serius, lebih banyak bercanda diseling tertawa kecil.
"Tumben  dia begini...", pikir Lee. Karena gemas, nada suaranya  mulai
meninggi,
"Putu,  cepat  kesini, aku sebel liat kamu gak serius  begitu.  In  10
minutes, hurry!"

Sesosok pria pendek dengan wajah kekanakan muncul di kantor Lee  tidak
sampai  sepuluh  menit kemudian. Omelan segera keluar dari  mulut  Lee
yang  cuma ditanggapi Putu dengan gelakan tawa. Sambil  mengutak  atik
komputer  gadis itu, Putu bercerita bahwa saat Lee  meneleponnya,  dia
sedang membaca salah satu cerita yang diposting di situs ccs.
"Hehehehe sori yach kalo aku jadi nggak konsen, Lee..."

Lee  tergelak mendengar pengakuan polos anak itu,  tergelitik  hatinya
untuk  tahu  tentang isi situs tersebut. Putu memberikan  alamat  yang
dimaksud dan hari hari berikutnya, mereka berdua suka saling  menggoda
lewat telepon mengenai rahasia kecil itu. Jarang Lee punya waktu untuk
membaca cerita cerita didalamnya dan sejauh ini tidak ada yang terlalu
menarik perhatiannya.

Ia suka menggoda Putu yang kelihatannya begitu addicted dengan  cerita
cerita  itu,  sebagai stress relief katanya. Iseng Lee  mulai  membaca
satu persatu cerita di bagian arsip, cuma sekilas sekilas saja,  tidak
ada  yang  benar  benar bisa membuatnya merunut  kata  per  kata  yang
terangkai. Ia hampir menutup kembali situs itu saat matanya  menangkap
satu cerita............

Begitu  indah,  begitu  halus  penuturannya,  membawa  Lee  terhanyut,
terbang  tinggi, ikut tertawa dan menangis dalam diam. Kisah  sepasang
anak  manusia  yang saling mencintai dengan tulus,  cinta  yang  telah
teruji dalam kepahitan.

"Beruntungnya mereka", Lee berbisik perlahan. Bukan sebuah cerita yang
berakhir  bahagia, tapi Lee sudah dibuat iri dengan kisah itu.  Paling
tidak, ada kenangan begitu indah bagi kisah kasih mereka.

"Aku  belum  pernah merasakan satupun kenangan yang indah  dari  kisah
cintaku  selama ini", keluhnya dalam hati. Sosok pemuda  dalam  cerita
itu   perlahan   membuka  kenangan  Lee  pada  seseorang   dari   masa
lalunya...... Andy...... sudah berapa lama Lee mengubur nama itu dalam
dalam......  tiga tahun... Ia terperanjat sendiri... selama  itukah...
Secepat itu waktu berlalu? Segera ia menggelengkan kepala.

"Back  to  reality, Lee" umpatnya dalam hati. Dibacanya  epilog  kisah
cinta itu, pesan penulis: kritik dan pujian bisa dialamatkan ke sebuah
alamat e-mail.

"Hmmmmm  the first impressive story I have read so far, so  why  not?"
gumamnya.
Cepat dibukanya e-mail pribadi miliknya, Cuma pesan pendek untuk  sang
penulis:  "Bravo untuk ceritamu! Begitu membumi tapi berkelas.  Bahasa
Inggrismu  bagus, lama di LN ya?" <send> Lee tidak berharap  e-mailnya
akan dibalas oleh si penulis. Pesan sederhana itu cuma untuk  memenuhi
harapan penulisnya untuk mendapat tanggapan.

Dimatikannya  komputer,  merapikan meja kerja, cepat ia  berkemas  dan
bergegas  pulang ke kamar kontrakan yang cuma satu kilometer  jaraknya
dari  kantor tempat ia berkerja. Pukul 10 malam Gadis  berkulit  putih
itu duduk termenung di tepi ranjang.

Sosoknya  tidak  begitu tinggi, cuma 157 cm,  tubuhnya  padat  berisi.
Ditambah  sepasang  mata  bulat  kecil  dan  bibir  mungil  yang  suka
tersenyum,  wajahnya  berkesan kekanakan dan gembira,  biasanya,  tapi
tidak  malam itu. Rambut pendeknya yang kemerahan masih basah  sehabis
mandi lima menit yang lalu.

Dimatikannya  televisi 21 inch dan digantinya dengan  dentingan  piano
Richard  Clayderman yang mengalun sayup sayup,  Lee  mengistilahkannya
musik  pengantar tidur. Ia lebih suka mendengarkan lagu dengan  syair,
tapi kali ini ia tidak ingin mencerna lirik lagu, melainkan kabar baik
yang  didengarnya tadi sore. Tangan kirinya menggenggam  sebuah  gelas
red wine, di tangan kanan terselip sebatang sigaret Dunhill Hijau.

Sekilas  ia  melirik  isi gelasnya dan  tersenyum  sendiri,  menyadari
cairan  merah  itu  ternyata tak lebih dari isi  sebotol  Fanta  Merah
dingin dari dalam kulkas mininya. Kuat merokok ia warisi dari ayahnya,
begitu juga ketidakmampuannya menikmati alkohol walaupun cuma sedikit.

Perlahan  disesapnya  isi gelas anggur itu, menghisap  rokoknya  dalam
dalam dan mengingat pesan Mr. Dolenga, "Celebrate it tonight with your
friends..." Ia berbisik perlahan, "Well Sir, at least I have  followed
your  suggestion... I celebrate it with the dearest friend of  mine...
my very goodself".

Diangkatnya  gelas anggur itu tinggi tinggi, memasang wajah  cerianya,
berseru  dengan  suara  yang riang, "Cheers"  dan  langsung  menenggak
seluruh isinya. Gelas anggur diletakkannya kembali ke atas meja dan ia
mulai   merenung...  Perayaan  untuk  sebuah  kenaikan   pangkat......
Seharusnya ia merasa bahagia, bangga dan beruntung dengan semua ini.

Empat  tahun  yang lalu sejak ia mulai  bekerja.  Perjalanan  karirnya
terbilang sangat mulus. Tapi bukankah seharusnya begitu? Sejak awal ia
bertekad untuk mencari uang dan mandiri setelah lulus kuliah, Lee  tak
pernah memberikan kurang dari 100% tenaga, pikiran dan waktunya  untuk
pekerjaan.

Dan  sejak bekerja untuk Mr. Dolenga, Lee terkadang merasa tenaga  dan
pikirannya  benar benar diperas sampai tetes terakhir, dan ia  melihat
banyak  rekan  kerja  yang berguguran di tengah  jalan.  Lee  menerima
tantangan  itu  dengan tenang dan  mengorbankan  kehidupan  pribadinya
sendiri demi sebuah pengakuan dan nilai baik untuk hasil kerjanya.

Teringat  kembali  keluhan  Bern yang makin  sering  terdengar  karena
semakin  sempitnya  waktu Lee untuk bertemu dan  makan  malam  bersama
seperti   yang  dulu  biasa  mereka  lakukan  berdua,   bahkan   untuk
mengakomodasi telepon Bern dari kantor pun, Lee sering tidak bisa. Pun
janjinya  untuk  menelepon Bern kembali saat ia  pulang  dari  kantor,
lebih  sering  dilanggarnya karena keletihan sepulang  kerja  langsung
membawa Lee tertidur begitu mencium bantal.

Layar  televisi  yang  masih  menyala  dan  lampu  kamar  yang  terang
benderang mengantarnya terlelap sampai pagi tanpa sekalipun terbangun.
Kepenatan  kerja  yang berkepanjangan, kurangnya waktu  untuk  merawat
diri  sendiri  (Lee  meraba  rambutnya  dan  baru  tersadar  ia  sudah
terlambat   dua  bulan  untuk  merapikan  potongan  rambut  di   salon
langganannya), keluhan sahabat baik yang kadang merasa dilupakan, mood
boss  yang  naik turun dan menuntut kematangan emosi gadis  itu  untuk
menghadapinya......   bukankah  semua  itu  dan  masih   banyak   lagi
pengorbanannya  membuatnya pantas menerima promosi ini...  Lalu  untuk
apa sebuah perayaan?

"It  is no more than I deserve...", Lee menggumam.  Kekosongan  sekali
lagi menyergapnya...
"Lalu apa yang kurasakan sekarang?", gumamnya. Alangkah senangnya bila
bisa  memiliki  perasaan yang signifikan saat mengalami  sesuatu  yang
istimewa,   promosi  ini  misalnya.  Lee  merasa  bukannya  ia   tidak
bersyukur,  tapi sejak pertama ia menapakkan kaki di dunia  kerja,  ia
tidak memasang target tertentu untuk rencana jenjang karirnya.

Ia cuma menjalankan apa yang menjadi tanggung jawabnya, no more and no
less. Kepuasan managemen cukup untuk jadi tolok ukurnya. Urusan  uang,
Lee tidak pernah ambil pusing, asalkan cukup untuk menghidupi  dirinya
sendiri yang ia tahu tidak menuntut banyak. So...

"Tidak perlu celebration, tugas dan beban kerja yang lebih berat telah
menanti  esok  hari,  you  better go to  sleep  for  a  new  challenge
tomorrow",  bisik  hatinya. Lee bersiap untuk tidur malam  dan  begitu
menyurukkan  kepala  di balik kehangatan bantalnya,  ia  pun  tertidur
lelap.

8 Maret 2001 pukul empat sore wita.

Hari yang tenang, Lee sendirian di kantor yang luas itu. Mr. D  sedang
menghadiri  perayaan bulanan untuk karyawan yang berulang  tahun,  Lee
malas untuk ikut turun dan bergabung.

Dibukanya  e-mail pribadi yang hampir seminggu tak pernah ia  periksa.
Lee's horoscope for Thursday Good day, Lee...... you will soon meet  a
new person who will change the way you see life. He will have a  great
deal  of impact on you. Get ready for a brand new world.  Lee  tertawa
lebar.  Bagaimana  mungkin dia punya kesempatan bertemu  dengan  orang
baru?  Bekerja pun ia selalu berada di balik meja, berangkat pagi  dan
pulang larut malam, bersembunyi di balik tumpukan data dan angka angka
yang membosankan.

<delete>  Mail  berikutnya merupakan suatu kejutan manis.  From:  Ryan
Subject: Thanks Hi there, Thanks a lot buat compliment-nya. Sebenernya
sih aku ngga pernah tinggal lama di LN, paling pas vacation aja.  Jadi
rasanya  my English cuman average. So, you like my story ?  Sebenernya
aku  masih  ada beberapa cerita lagi yang masih di-draft,  tapi  entah
kenapa  akhir-akhir  ini mood buat nulis lagi ngga ada. Well,  I  hope
this  would be the beginning of a wonderful friendship. Hear from  you
soon. ~Ryan~

Lee  tersenyum, tidak menyangka ia akan menerima response  yang  cukup
hangat dari penulis yang ia kagumi. Jari jemarinya bergerak lincah  di
keyboard,  mengetik balasannya: Thank you for your reply, I hope  this
mail  finds you in good health. When can I see your next stories?  Has
'the mood' returned?..... Hear from you again??

Lee  merasa  geli ketika menyadari bahwa dia telah  melakukan  sesuatu
yang belum pernah dilakukan sebelumnya, berkenalan dengan seseorang di
dunia maya.
Tapi  instingnya mengatakan ia baru saja mendapat seorang  teman  yang
hangat dan baik hati.

To: Lee
From: Ryan
Anonymous,  yes.  Sorry, but I'm doing this not only for  myself,  but
for....let's say another character in my story. You must realize  that
Cerita  Seru  has a lot, I mean A LOT of readers. One  of  them  might
'accidentally'  recognize  my  character-in-stories.  I  think   their
privacy should be protected, don't you agree?

Diluar kerahasiaan identitas Ryan, Lee sangat menikmati  pertemanannya
dengan  pria  itu  lewat e-mail. Diskusi diskusi  mereka  berdua  yang
menarik  tentang  hobi, kepercayaan dan prinsip  prinsip  hidup,  atau
sekedar cerita cerita ringan tentang pengalaman perjalanan mereka saat
liburan.

To: Ryan
From: Lee
Jimbaran  Seafood Market...... Pernah nggak Ryan ke  Jimbaran  Seafood
Market?  Asik banget deh, tempatnya di tepi pantai. Karena  makanannya
sendiri  nikmat  banget  dan  makannya di  tepi  pantai,  wah  rasanya
romantis  banget.  Pantai Kuta itu indah sekali. it is nice  to  spend
evenings  and watch the sunset there. Setiap ada kesempatan  aku  suka
nongkrong  di  salah  satu caf namanya "Soda  Club"  sore2,  tempatnya
menghadap  pantai  Kuta,  jadi sambil ngobrol  dan  minum  kopi,  kita
menikmati indahnya sunset dari situ.

To: Lee
From: Ryan
Aku  juga suka liat Sunset. Biasanya sih liat sunset kalo lagi  hiking
ke  gunung. Soalnya kalo di Jakarta mo ngeliat sunset rasa susah.  Too
many  sky-scrapers. Someday when I visit Bali, you must take me  there
Lee.  I  would love that. Promise me. Lee mengungkapkan  bagaimana  ia
sangat  ingin mengunjungi tempat tempat yang pernah  dikunjungi  Ryan,
begitu juga sebaliknya.

Lee  mengaku  bahwa ia seorang perokok kelas berat, dan  jawaban  Ryan
sungguh  tak  terduga: I always fond to women who  smoke.  Because  my
first love smoked too. And if I ran out of cigarette, I can simply ask
them.

Lewat  tiga  bulan sejak Lee pertama kali mengirim  e-mail  perkenalan
kepada  Ryan,  mereka  berdua  sama sama  mengakui  bahwa  ada  banyak
persamaan   dalam  cara  mereka  menyikapi  hidup,   walaupun   secara
karakteristik  mereka  saling bertolak belakang. Lee tahu  Ryan  masih
duduk  di  bangku  kuliah sebuah perguruan tinggi  swasta  di  Jakarta
dengan mengambil major Business Administration sekaligus bekerja paruh
waktu di salah satu perusahaan pelayaran nasional dan bahwa Ryan lebih
muda empat tahun darinya.

Tapi belum pernah sebelumnya Lee bertemu dengan seseorang yang  dengan
intens  membuat  pikiran  dan hati  nuraninya  terusik  untuk  mencari
jawaban  dari  banyak pertanyaan tentang hidup.  Secara  bercanda  Lee
pernah bertanya lewat e-mail kepada Ryan,

"Ini kamu yang sok tua atau aku yang gak sadar umur yach?"
"Lee,  life is funny. You met someone new and you find so many  things
in  common.  But  sometimes you wonder why after so  many  years,  the
person close to you seems can not understand what you're thinking, has
no faintest idea what you had in mind. Ever happened to you?"

"Ry,  happened to me sometimes, but I guess that's what people is  all
about... Mungkin kamu punya pandangan hidup yang sama dengan seseorang
dalam  hal tertentu, tapi dalam hal lain kalian  saling  bertentangan.
Atau  bisa juga kamu punya pendapat yang sama dengan  seseorang  untuk
hari  ini, besok ia bisa saja berubah atau mungkin kamu yang  berubah.
People change, including us".

Sebuah  kalimat penutup di e-mail yang Ryan kirim sebulan  berikutnya,
membuat alis Lee sedikit naik: "And one more thing, sekitar jam berapa
kamu selesai kerja?"

Lee mengambil kesempatan baik ini dengan segera menjawab jam  kerjanya
dan  menembak Ryan langsung dengan pertanyaan: "Kapan mo telpon  aku?"
Ryan akhirnya mengucapkan janji itu, janji untuk menelepon Lee.

Hampir  empat  bulan Lee menunggunya bersedia melakukan  hal  itu  dan
akhirnya permintaan itu diluluskan oleh Ryan. Tiga hari kemudian pukul
enam  pagi wita Lee otomatis membuka matanya. Seberapapun larutnya  ia
pergi tidur, pagi berikutnya pukul enam, ia pasti terbangun.

"Another day in paradise, thanks God you give me another day to live",
gumamnya  perlahan.  Digeliatkannya  tubuhnya  seperti  kucing  sambil
mengeluarkan bunyi mendesah panjang... melepas sisa kantuk yang  masih
menggantung.  Ia melompat dari ranjang, menyalakan water heater  untuk
secangkir  kopi  dan meraih handphone yang selalu ia  matikan  sebelum
tidur.

Dinyalakannya handphone itu dan tak lama terdengar bunyi beep panjang,
tanda  pesan  SMS  baru masuk. Mulutnya memekik  girang  saat  matanya
menelusuri isi pesan yang tertulis:

>  Lee,  I wanted to call you, but it's already after midnight  and  I
don't want to disturb you, hence this sms. -Ryan- 
Jam  pengiriman adalah 2:30 pagi. Lee sudah tak sabar ingin  menelepon
dan  mendengar  suara pria itu, tapi ia yakin Ryan belum  cukup  tidur
bila harus dibangunkan sepagi ini. Dibalasnya sms itu:

> Ry, it's you!! Thanks for your message. Call me tonight, can you?  -
Lee-

Malam  hari pukul delapan handphone itu berdering lagi saat Lee  masih
berkutat  di  kantor.  Nama  Ryan  tertulis  di  layarnya.  Cepat   ia
meraihnya, suaranya sedikit bergetar menahan kerinduan untuk mendengar
suara pria muda itu untuk pertama kalinya.

"Ry?"
"Hi Lee, yes it's me... pa kabar?" (suaranya khas ABG, kata Lee  dalam
hati)  Percakapan pertama di telepon itu sangat  menyenangkan,  mereka
saling  bertukar cerita ringan dan tertawa bersama.  Frekuensi  e-mail
jadi berkurang, digantikan oleh fasilitas sms yang saat itu belum lama
membuka  lintas operator. Ada nuansa baru saat di malam hari  ia  akan
memejamkan mata, sebuah pesan sms masuk:

>  night night, sweetie... sleep tight. Lee merasa ada seseorang  yang
peduli  dengan  dirinya di saat pekerjaan menjauhkannya  dari  sahabat
sahabatnya  selama  ini.  Pagi hari saat  ia  membuka  mata,  langsung
dinyalakannya  handphone  dan  mengetik  pesan  untuk  sahabat   tanpa
rupanya:

> morn morn, gorgeous... how's your sleep? SMS menjadi suatu keasyikan
baru  buat Lee,  di sela kesibukannya  di kantor, ia dan  Ryan  saling
menyempatkan  diri  menyapa, menceritakan keadaan masing  masing;  Lee
dengan  kepenatan pekerjaannya, Ryan dengan kenakalannya mengirim  sms
saat  menghadiri kuliah karena bosan dan...... mereka saling  menggoda
dengan nakalnya.

Suatu kali Ryan sempat bertanya:
>Lee, pernah sleep naked nggak?
>Ihhhh ngapain?
>Enak lagi.........
>Geli ah......
>Coba deh ntar malam
>Kamu biasa gitu yach?
>Iya...  cobain deh, kan kamu juga tidur sendirian, yang  penting  jgn
lupa kunci kamar & tutup tirai

>oke... ;p
>kasih tau aku rasanya besok yach! Bye & have a nice day...
>morn morn, sweetie... Gimana, jadi sleep naked semalem?
>hehehe... jadiii
>gimana, cerita dong......
>hhhmmm... pertamanya awkward banget gitu... makanya aku nyalain lilin
aromatherapy & redupin lampu kamar supaya rileks -tbc-
>trus Lee mulai buka baju, sampe tinggal bra dan cd doank... abis geli
sih buka semuanya
>jadi lo gak buka cd dan bra? Yaaa bukan sleep naked dong namanya
>hehehe iya aku akhirnya buka juga
>naaahh trus?
>trus  langsung naik ke ranjang dan selimutin badan sampe ke  leher  -
tbc-
>rasanya  aneh merasakan kulitku langsung bersentuhan  dengan  selimut
dan nipple-ku langsung tegang karena dingin
>hhmmm...kamu bisa tidur?

>yah  setelah berbaring diam selama beberapa menit, aku  mulai  rileks
dan tanpa beban -tbc-
>Suhu  badanku  mulai  menyesuaikan dgn keadaan  telanjang  dan  mulai
menghangat -tbc-
>I started to run my fingers through my body..
>did you get wet, sweetie?
>NOT A CHANCE, RYAN! :p
>Just asking ;P

R>Lee, apa yg akan Lee lakukan saat pertama ketemu Ryan?
L>Gimana caranya? Aku kan gak punya ciri2 fisikmu
R>Pake imajinasi dong, tutup matamu dulu & bayangkan apa yg ingin  Lee
lakuin kalo ketemu Ryan :p
L>bole  coba  deh,hmmmmm.. backgroundnya dulu nee dimana?  Lee  pingin
disuatu perkampungan yg udaranya masih segar & sejuk, blm terpolusi
R>oh yg kamu sempat cerita, Kampung Sampireun?
L>that's it... Lee pingin dipeluk wkt pertama kita ketemuan nanti

R>Ryan peluk Lee erat2,belai punggung Lee dgn penuh sayang
L>mata Lee terpejam, kepalanya tersuruk di dada Ryan yg bidang,  sayup
diresapinya detak jantung Ryan
R>perlahan  Ryan menyentuh dagu Lee, menuntunnya  perlahan  menengadah
menatap mata pria itu
L>perlahan  mata  Lee  terbuka, ditatapnya mata  pria  yg  selama  ini
memenuhi mimpi indahnya

R>jemari Ryan menelusuri wajah Lee, menyentuh hidung mungil dan  bibir
merahnya, membelai...
L>sinar mata Lee meredup, menikmati belaian jemari Ryan
R>perlahan telunjuk Ryan membelai setiap lekuk bibir gadis mungil itu
L>Ry, koq lo panggil gue gadis mungil sih? Gue sebenernya ndut, tau!
R>hahahahahaha Lee, you distract my mind...
L>soriii..  menggelitik sudut bibirnya, tanpa sadar memaksa gadis  itu
mendesah perlahan

R>perlahan   didekatkannya  wajah  Ryan,  membiarkan   Lee   merasakan
kehangatan hembusan nafasnya
L>bibir Ryan perlahan mengecup sudut bibirnya, menyapu perlahan antara
ada dan tiada
R>hhmm... Lee suka ciuman kayak gitu yach? OK, I'll keep that in  mind
;p
L>sial lo... Hehehe satu sama ya Ryan!

R>ok sweetie, gtg... my class is waiting. CU & have a nice day!
L>take  care & CU, gorgeous! E-mail masih menjadi sarana mereka  untuk
berdiskusi bila ada topik yang menarik untuk dibahas.
The  Conflicts  Sampai suatu hari, e-mail yang ditulis Lee:  "Ryan,  I
think  this time I am gonna make my dream come true. Lee dikasih  cuti
selama seminggu, minggu depan. Ry sempet bilang juga libur kuliah  pas
itu.  Kita  ketemuan  yuk...Lee pingin  pergi  ke  Kampung  Sampireun,
sendirian. Just tell me where I should go to see you"

"Lee,  I  do want to see you. Tapi kenapa sendirian,  Lee?  Lo  sempet
cerita  udah  punya pacar, rasanya nggak bagus kalo lo  pergi  sendiri
untuk bertemu gue"

Saat  dibacanya  e-mail itu, hati Lee serasa  disayat...  Teringat  ia
memang  pernah bercerita kepada Ryan bahwa ia sudah punya pacar.  Juga
tentang  sebuah permintaan besar yang diajukannya, agar Lee  masuk  ke
agama  dan tradisinya bila mereka menikah nanti, satu permintaan  yang
sampai  sekarang Lee merasa tidak sanggup meluluskannya. Kekasih  yang
sudah dua bulan jauh darinya, membantunya untuk berpikir lebih panjang
tentang hubungan mereka. Diketiknya sms singkat buat Ryan:

> Ry, Lee cuma pingin ketemu kamu.
>  Lee, kalo aku jadi cowokmu, aku pasti marah & sedih liat ce yg  aku
sayangi bertemu dgn co lain.
>  For  God's  sake Ryan, I just want to see  u,  bukannya  mau  bikin
sesuatu yg buruk, apakah aku salah?
> Tidak ada yg salah, Lee, but the last thing I want to do is to  hurt
somebody.

>  OK then, case closed. Anggap saja permintaanku di  e-mail  terakhir
tak pernah ada. No hard feeling.
> Lee, it's not as easy as you thought. Do u know that this thing  has
burdened my mind for the last two weeks?
> Ry, sudahlah. Tak apa... maaf kalo Lee udah meresahkan kamu. I still
go for vacation, anyway. Tak ada balasan dalam selang 15 menit, sampai
akhirnya sms baru yang masuk membuat Lee terperangah.

>  Can't  u see the reason, Lee?? I fall for you, dammit!!! &  I  feel
guilty  for  it,  to  you,  to  your  boyfriend...  Berbagai  perasaan
berkecamuk dalam hatinya, bagaimana semua ini bisa terjadi? Sebelumnya
Lee  tidak  pernah  berusaha  mendefinisikan  apa  yang   dirasakannya
terhadap  pria  itu, dan ia merasa bahwa bagi Ryan,  ia  cuma  sesosok
sahabat yang baik, tanpa rupa. Tak lebih dari itu. Jantungnya berdegup
kencang. Rasa marah, kecewa, bingung dan sedih menyerbunya, entah  apa
yang mendorongnya membalas sms itu dengan jawaban yang cukup kasar:

>  Fall for me, huh? That easy? Bgmn mungkin? Kamu tdk  akan  tertarik
padaku  saat kita bertemu nanti, percayalah. -tbc- > Aku  bukan  gadis
impianmu  &  kita  tdk akan tidur bersama, bila itu  jawaban  yg  bisa
membuatmu  menghilangkan perasaan itu. Lima belas menit berlalu  tanpa
jawaban.  Ryan,  answer me!!! Lime menit lagi terlewatkan,  Lee  mulai
berhasil menenangkan dirinya, rasa sesal menggantikan badai yang  baru
saja  ia  alami.  Bunyi  beep  panjang  sekali  lagi  menyentakkannya:
Sweetie,  leave  me alone for a while, will u? I just  need  to  think
about it clearly.

Hopefully  also  to change this feeling for you. Lee  dihadapkan  pada
satu  pertanyaan  baru.  Saat  saat indah  bersama  Ryan  yang  sangat
berkesan, semuanya dalam media elektronik. Lee tidak pernah tahu sosok
pria  itu,  mereka  tak pernah saling bertukar  foto,  cuma  mendengar
suaranya dua kali lewat telepon, tapi Ryan berhasil membantu Lee untuk
lebih  mengenal  dirinya  sendiri dengan pikirannya  yang  luas  untuk
usianya  yang  masih  muda dan untuk  ulasan  ulasannya  yang  menarik
tentang hidup.

Membuat  Lee  membuka mata di pagi hari dengan senyum  tersungging  di
bibirnya. Membuat jantungnya berdegup kencang setiap kali menerima sms
dan  e-mail  Ryan.  Membuatnya tertawa karena humor  segar  yang  Ryan
berikan  saat  krisis  kerja melanda. Lee  yang  kawatir  setiap  kali
mendengar  Ryan  sakit,  doa  dalam  diam  yang  dipanjatkannya  untuk
kesembuhan dan kebahagiaan pria itu...

"Apakah ini artinya... aku mencintainya?" Air mata menggenang di sudut
matanya, tangisan tanpa suara yang ditumpahkannya, tangisan pertamanya
di tempat kerja.
"Aku  sendiri pun tak tahu bagaimana ini semua bisa  terjadi...  dalam
duniaku yang kecil dan nyaris monoton..." gumamnya.

Waktu  sudah  menunjukkan  pukul  delapan  malam,  kala  dicurahkannya
seluruh isi hatinya kepada Ryan dalam sebuah e-mail:

I  love  you. You made me cry in the office. I am sorry if I  did  say
something that hurt you this afternoon. I too was very emotional.  Iis
it a sin to love you? My hands are shaking and my heart beating faster
everytime  your message arrived. And today I cried in the  office  for
someone  I've never met. How could you do that and how can I be, I  am
tired to find the answer.

Why  when  I wake up in the morning, you are my first thought.  Why  I
always want to run from here and see you, to find out if you are doing
fine  with  your life, that you are happy and content.  Why  should  I
bother to hope that you would sleep and wake up early everyday? Why  I
am  longing to hug you and see you laughing again, like I did  when  I
called you from the Hotel's toilet...

Have  you  been able to dissolve your feeling to  a  pure  friendship?
Because  I haven't, Ry and I will never be able to do that. A  meeting
will  never change my feeling towards you. How could you fall for  me,
Ry?  All this while I thought I am the one who admire you. You are  an
idol and I am a fan.

You  have  not met me and I am serious about the physical  thing.  Ry,
talk  to me, will you? You are my sunshine, please don't go away.  You
are  right  when you once said, Lee is very lucky to have  Ryan  as  a
friend.
I am ....

Esok hari, e-mail itu berbalas:

Dear Lee,
I  am in the office when I write this. The last 15 hours is like  hell
to me. Let me tell you some of it... You did hurt me when you say that
I  won't  interested  to  take  yoo  to  bed  (the  physical things,
remember??),  am I that low in your eyes Lee?? A sex maniac who wants
to bedded every woman in sight ??

I am fallen to you because you can emotionally comfort me, you made me
feel  that I have someone who cares about me, be at my side when  hard
times, when I am so lonely. You made me feel alive.

You  asked  how  I can be fallen to you, we never met  each  other  in
person, do not know how you look, but that's happened just like  that.
I can ask you the same question, what is your answer ??

Everytime  I  wake from sleep, the first thing to do  is  checking  my
cellphone, hoping that you drop me a line, even if it is only "how are
you  Ryan" or "good morning Ryan, sleep well last night?". So I  guess
it is not only you who has the syndrome.

I  was  in a mess. After my last message, I left  the  class,  heading
directly  to  my  office. Work will help me to  distract  my  mind,  I
thought. You're right, It didn't. So when my colleague ask me to  join
them to disco, I agree. OK, working didn't help, maybe R&R will. Nope,
It  didn't  help either. I drink a couple shots of  liquor  (nearly  a
bottle,  actually),  went high, dancing, flirting on  the  dancefloor,
smoking, and ends up throwing up at the toilet. So here I am. 4 am  in
my  office. My head felt so heavy, and foggy. Pretty  bad  hangover...
Trying to figure out what the hell I am doing here at this time. It is
obvious, but still I felt terrible. I made you cry, I am so sorry Lee.
I never meant to hurt you, sweetie.

I  love you Lee. And I feel guilty. To your boyfriend. You  might  not
physically  cheat on him, but mentally cheating is still  cheating,  I
don't  know which is worse. I am teasing you, guiding you into  mental
affair, I feel bad. What if I were on his position ? I know I will  be
very  sad, and maybe angry. Loving someone is not a sin,  cheating  on
someone  maybe  not a sin. But hurting someone's feeling is  the  last
thing I want to do.

Easy to say, huh ?? Yeah, in the same time I want you for  myself.....
How  if this and what if that, it's not right, it will hurt  somebody.
Dammit,  I don't know what to do, I can't think clearly. I  can't  see
clearly Why there's a tears on my eyes ?

Have I been able to dissolve my feeling into pure friendship ? I don't
know. I'll try. Have you ?? Why it feels hurt inside ??

I can only hope all of this will not ruin our...relationship. Lee is a
great  friend. Ryan don't want to loose her. She made Ryan laugh,  she
made Ryan felt special. Ryan loves her...

Have a nice day sweetie...
p.s : Do not cry anymore Lee.
Bizzare world....

Apakah  itu cinta?? Ya... Menurut Ryan, cinta memiliki banyak  bentuk,
dengan  begitu  banyak cara untuk  mengekspresikannya.  Pertanyaannya,
cinta macam apa yang mereka berdua mau.
16 Juni 2001
To: Lee
From: Ryan

What  about Lee? With Lee, things have been unsettled. They  both  are
still  filled  with  emotions  of  what  happened  to  them.  Thinking
rationally  might be hard to do. It is not wise to do things in  rush,
especially  when  the right brain is taking control. Ryan is  so  very
young,  true. But he is also grown enough to know that how  Lee  looks
like doesn't matter much to him, if it doesn't matter at all. Is  that
what you frightened of ?

To  be honest Lee, the only image of you that ever crossed my mind  is
that you have brown eyes. Or else you're wearing glasses..... For most
of  the time, I never let my imagination comes before the  fact.  That
helped  me  not  to get disappointed if something  wasn't  matched  my
imagination.

I love you Lee. I think we both need time to think it over. To see how
it can work between us. Without hurting anyone. And when I said I  was
flirting on the dancefloor, we just dance, buying her a drink,  that's
all Lee.

Saat badai cinta menyerang, Ryan mengirim pesan sms di suatu pagi:
>Which one u prefer: Ryan or Ben? I prefer Ryan, lebih simple dan enak
didengar. Senyum Lee mengembang, nama asli Ryan... Seminggu  menjelang
keberangkatan   Lee  untuk  berlibur,  bertepatan  dengan  saat   Ryan
menghadapi  ujian  akhir semester. Dengan setia  dikirimnya  Ryan  sms
setiap  pagi, yang tak pernah dibalas. Lee mengira Ryan  sedang  sibuk
dengan ujiannya. Ia tak merasa terlalu resah... Sampai pagi hari  saat
ia bersiap menata baju didalam koper... sms Ryan masuk.

> Lee, maaf lama gak balas sms-mu. Bronchitisku bikin aku hospitalized
for  3 days, I even did my exams from bed. OK now. Lee  menarik  nafas
lega   menerima   tanda   kehidupan   itu.   Kesehatan   Ryan    cukup
mengkhawatirkannya.  Masalah dengan saluran pernafasan  dan  keletihan
dengan kuliah dan pekerjaannya, membuat Ryan kerap bercerita bahwa  ia
harus  terbaring  sakit selama satu sampai dua  minggu.  Selama  empat
bulan  Lee  mengenalnya,  sudah  dua kali  Ryan  sakit  serius,  Demam
Berdarah dan kali ini Bronchitis akut.

Dibalasnya  sms itu, Lee menawarkan untuk menjenguk Ryan  di  Jakarta,
tapi Ryan menolak dengan alasan ia perlu istirahat untuk mengembalikan
kondisi  tubuhnya. Lee menarik nafas kecewa, sejujurnya sebagian  dari
rencana kepergian jauhnya ini adalah untuk bertemu dengan pria itu.

Lima  hari  dilewatkan Lee seorang diri pergi ke  tempat  tempat  yang
menjadi  impiannya  selama  ini.  Kota  Bandung  yang  terakhir   kali
dikunjunginya  sebelas tahun yang lalu dan Kampung Sampireun di  Garut
yang indah dan unik. Selama itu pula Ryan kerap menggodanya lewat sms.
Saat  Lee menginjakkan kakinya pukul delapan malam di  Bandara  Husein
Sastranegara,

Ryan mengirim sms:
> Hmmmm... gimana Bandung, Lee? Kamu kelihatan capek, udeh kedinginan?
It's not comfortable to hide these eyes under a cap...

Lee  cepat  menoleh  ke kanan dan ke kiri dengan  curiga,  merasa  ada
seseorang  yang sedang memata matainya. Lalu iapun  tergelak...  Dasar
Ryan......

Lee,  kamu  suka  surprise  nggak? Aku  suka,  apalagi  kalau  aku  yg
merancangnya ;p Malam terakhir ia lewatkan di sebuah Hotel di  kawasan
Ciumbeuleuit.  Hotel kecil yang unik dan bernuansa  khas  Parahyangan.
Lee menyesal karena ia baru tiba dari Garut pukul lima sore, dan  esok
harinya  pukul  lima pagi dia sudah harus berangkat ke  bandara  untuk
kembali pulang.

Malam harinya Lee sulit memejamkan mata, selalu begitu setiap kali  ia
akan  mengadakan perjalanan jauh esok harinya. Diketiknya  sms  pendek
untuk

Ryan: >Lagi ngapain, Ry?
>Lee, aku lagi habis berenang nih
>loh, malam2 begini? Di rumahmu ada kolam renangnya? Coolll...
>hehehehe...  Iya  Kerinduan  Lee untuk  berbincang  dengannya  segera
hadir.  Ingin memberi kejutan pada Ryan, Lee  meneleponnya.  Terdengar
nada  sambung  di  seberang sana, tiga kali setelah  itu  nada  sibuk.
Teleponnya   ditolak...   Lee   merasa   gemas...   Ia   merasa   Ryan
menyembunyikan sesuatu darinya.

>kenapa, takut terima teleponku?
>hehehe iya... takuuttt...
>always alibies...
>oke Lee, are u sure you wanna hear the truth?
>tentu saja
>hmmm... Ryan bukan berenang di kolam renang, Lee, melainkan di sebuah
pulau yg indah & terpencil -tbc-
>dua hari setelah keluar dr hospital, I packed my things & went here

>Gili Terawangan, Ryan? The island I ever told u?
yup.  Itu  jwban  pertama  knp  sms-mu  terlambat  kubalas,  aku  dlm
perjalanan lewat darat, a long one krn skrg sedang musim libur
>great,  kita sama2 pergi ke tempat impian kita ya. Cuman  sayang  koq
barengan, gak mau ketemu aku, Ry?
>nope.  I  intend to c u when u get back from  holiday.  Akupun  ingin
dengar suaramu, -tbc-

tapi sayangnya pulau ini tdk menjual pulsa isi ulang, hehehehe Sekali
lagi  Ryan berhasil membuat perasaan Lee serasa teraduk aduk. Lee  tak
habis  pikir  dengan  jalan  pikiran Ryan  yang  tidak  terduga,  agak
impulsif,  begitu  bebas. Ia menggelengkan kepala,  dua  hari  setelah
keluar dari rumah sakit, Ryan pergi untuk suatu perjalanan yang  cukup
jauh dan melelahkan.

(Bersambung)

ke awal

 

 DOWNLOAD E-BOOK GRATIS

Cerita Seks Khusus Dewasa - Cantik Seksi Indonesia - INDEX

1