LANGSING

Payudara Besar Cara Memperbesar Payudara

PERBESAR

Payudara Kencang Mengencangkan Payudara

KENCANG

Mengatasi Frigiditas dan Kesulitan Orgasme

FRIGIDITAS

Cara Mengobati Ejakulasi Dini dengan Hipnoterapi

EJAKULASI

Mengobati Impotensi Tanpa Obat Kuat

IMPOTENSI

CARA MENGHIPNOTIS CEWEK

 



Maudy in Trouble

MAUDY  Koesnaedi setengah berlari keluar menuju halaman rumahnya  yang luas.  Cantik nian ia sore itu dengan bawahan panjang yang ketat  dari bahan halus berwarna krem. Busananya, baju krem penuh bordir  berkerah rendah,  juga ketat. Yang lebih menarik, hanya sepasang tali tipis  di pundaknya   yang  menahan  baju  itu.  Tatanan   rambutnya   mendukung penampilan  seksi itu. Rambut-rambut halus tampak menghisasi  lehernya yang jenjang, putih, mulus.  "Sorry  ya,  agak lama," katanya kepada seorang lelaki di  sisi  pintu mobil van dengan logo sebuah stasiun TV swasta di pintunya.  "Mas yang biasanya kemana?" lanjut gadis periang itu, begitu duduk  di kursi  tengah,  di belakang lelaki tadi yang kini  duduk  di  belakang kemudi.  "Sakit,"  sahut  lelaki itu sambil menjalankan mobilnya.   

Malam  ini, Maudy  akan mengisi siaran live 'Gebyar Tahapan BCA'   bersama  Bagito Group. Acara ini memang punya rating tinggi.  Produsernya yakin, salah satu  faktor  tingginya rating adalah Trio  Bagito dan  Maudy  sebagai presenter.   Maudy tak bicara lagi, ia kini sibuk mengecek make  upnya lewat  sebuah   kaca  kecil dari dalam  tasnya.  Lipstik  merah  tipis membuat bibirnya  yang indah itu makin menarik.  Maudy   masih  asyik  dengan  dandanannya,  tak  sadar   sopir   terus meliriknya  dengan pandangan yang aneh lewat kaca spion. Ia  juga  tak sadar,  tepat di belakang tempat duduknya, seorang lelaki  berjongkok, membuka  jok paling belakang. Lalu dari balik jok itu, seorang  lelaki lain  muncul.  

Dua  lelaki  kekar itu  lalu  duduk  di  jok  belakang, memandangi Maudy yang masih asyik dengan bibirnya.  "Siarannya  jam  berapa  Mbak?"  lelaki  berjaket  kulit  di  belakang menyapanya. "Jam  setengah dela....ehh...kaget aku. Kok tadi nggak  kelihatan  ada orang,"  kata Maudy sambil menengok. Heran juga ia melihat dua  lelaki berpenampilan kasar itu.  "Kita tadi memang ngumpet," sahut si jaket kulit.  "Kok pakai ngumpet segala," "Ya  supaya elu nggak tahu," kata lelaki itu, sambil pindah  duduk  di sebelah  kiri  Maudy.   Maudy kaget bukan main  mendengar  lelaki  itu menyapanya  dengan 'elu'.  Apalagi begitu duduk, lelaki  itu  langsung memegang pahanya.  "Eiiii....jangan kurangajar ya!" pekiknya. 

Lelaki itu tertawa.  "Gitu sih belum kurangajar, gini nih...."  "Eiiihhh..."  Maudy  memekik  lagi, tangan lelaki  itu  menangkap  dan meremas  payudara  kirinya.  Pemeran Zaenab di sinetron  Si  Doel  itu beringsut ke tepi jendela.  "Ka..ka...kamu...mau  apa....?"  Maudy gemetaran  sambil  menyilangkan kedua tangan di dadanya.  "He  he...  gue  mau...itu," lelaki itu menunjuk  bagian  bawah  tubuh Maudy. "Memek  lu!"   "Gue mau gigit pentil lu..." lelaki  satunya  tiba-tiba ikut nimbrung.  Maudy panik, ia mencoba membuka jendela, tapi gagal.  "Jangan...jangan...TOLLOOOOONGGGG...."  Maudy menjerit histeris.  Tapi kedua lelaki itu hanya tertawa-tawa.  "Percuma  lu  teriak  neng. Mobil ini kedap suara..."  kata  si  jaket kulit  sambil  menangkap pergelangan tangan mungil gadis  cantik  ini.

 Tiba-tiba   lelaki  itu  menyentak  tangan  Maudy  hingga  gadis   itu tertelungkup  di pangkuannya. Lelaki yang duduk di  belakang  kemudian pindah ke sebelah kanannya. Maudy meronta dan menjerit saat  tangannya ditelikung ke belakang, lalu diikat dengan tali rafia.  "Wah,  ini pantat yang hebat...kontol gue bisa gepeng  kalau  kegencet lobangnya,"  kata  lelaki  di sebelah  kanannya  sambil  meremas-remas gundukan daging pantat Maudy. "Kontol  gue ngaceng nih, ketindihan toketnya si Zaenab," kata  lelaki satunya.  "Jangannn...jangannn..kalian  mau  apa....mau  uang...saya    kasih... berapa...." Maudy terengah-engah, panik ketika merasa roknya   ditarik ke atas.  Tapi kedua lelaki itu tak menjawab. Lelaki yang  memangkunya malah   menyusupkan  tangannya ke punggung Maudy, melepas  pengait  BH tanpa  tali pundaknya.  "Awwwhhh..."  Maudy  memekik,  saat BH itu  tiba-tiba  dibetot  hingga terlepas.   

Pada saat yang sama, ia merasakan dinginnya  AC  menyentuh kulit  pahanya.  "Aunghhhh...."  ia  mengerang, saat pangkal  pahanya  diremas  telapak tangan  kasar  di  belakangnya.  Maudy  meronta-ronta,  kedua  kakinya menendang-nendang, saat remasan makin keras dan menyakiti kelaminnya. "Aaaaakkkhhhhhh....mmmmfff...mmmfff,"  jeritnya  tiba-tiba  terbungkam ketika lelaki yang memangkunya menekan kepalanya sehingga terbenam  di pangkal   paha   lelaki  itu.  Maudy  bisa  merasakan   sesuatu   yang menggembung,  keras  di  balik ristleting celana  lelaki  itu.   

Maudy hampir kehabisan nafas ketika rambutnya dijambak sehingga ia  terpaksa mendongak. Tubuhnya menggigil ketika sebilah belati tajam  ditempelkan ke leher jenjangnya.  "Heh  cewek  bandel...elu nggak bisa ngelawan tahu. Mending  lu  nurut aja,  kita  nggak  bakal bunuh elu tahu. Tapi kalo  elu  masih  bandel juga, gue bisa potong pentil lu. Lu tahu kan, laki-laki seneng  ngisep pentil? Lu ngerti, hahhh!!??" bentak lelaki itu.  "I...i...iya..."  Maudy  menjawab  lemah, air mata  menitik  di  sudut matanya yang indah.  Tapi tak urung ia merintih dan menggeliat  ketika merasakan  ujung  belati menelusuri bagian dalam pahanya  yang  mulus, terus naik, lalu  menelusuri tepian celana dalam putihnya.  

"Udah Brur, cepet copot tuh celana, gue udah nggak tahan pengen  lihat memek  cewek ngetop ini," kata lelaki satunya, kedua  tangannya  terus asyik menekan-nekan bagian samping payudara Maudy.  "Sabar....semua  dapet bagian...he...he..." kata si  pemegang  belati. Maudy  menahan napasnya ketika merasa ujung belati menekan  tepat   di 'pintu' kemaluannya. Rasa takut dan terhina sungguh menyiksanya.  "Buka lebar-lebar kaki lu neng..."  Maudy gemetar, ia diam saja.  "Ayo  cepet  buka!"  lanjut lelaki itu, kini  menekan  belatinya  agak jauh,  sehingga  terlihat celana dalamnya menyelusup  ke  celah  bibir kelaminnya.  "Jangannn...jangan..." rintih Maudy.  "Cepettt!!!"  lelaki  itu membentak dengan suara  menggelegar.  Belati ditekannya  lebih  jauh,  sehingga  celana  dalam  Maudy  mulai  koyak sedikit.  Maudy  terisak, menggigil merasakan logam yang  yang  dingin menyentuh bibir kemaluannya. Perlahan ia merenggangkan kedua  kakinya. Maudy  agak  lega  ketika belati itu ditarik. Tapi  ia  kembali  cemas begitu  belati  itu kembali menyusup ke balik celana  dalam  katun  di bagian pinggangnya. TESSS... Maudy memekik ketika merasa belati itu memutus bagian samping kanan   celdamnya. 

Tubuhnya makin berkeringat saat belati menyusup  ke sisi   sebaliknya.  Dan...sisi  yang satu itu pun  putus  juga.  Maudy terisak   ketika  merasa kain celdam yang  menutup  pantatnya  ditarik turun.   Dinginnya AC mobil kini menyapu pantatnya yang bundar,  putih mulus  dan padat.  "Ha...ha....ha....ini   baru   namanya  pantat!"  seru   lelaki   yang memangkunya  sambil  meremas-remas bongkahan  daging  pantatnya.  Isak Maudy  makin  keras terdengar. Baru kali ini ada  lelaki  melihat  dan memegang  pantatnya.  Bahkan,  Gilang bekas pacarnya  pun  tak  pernah melakukan  itu.   Perlahan Maudy merasakan  celdamnya  ditarik  hingga lepas.  Kini   dinginnya AC pun dirasakannya  menyentuh  bagian  depan pinggulnya yang  terbuka.  "Aiiihhh...."  Maudy  kembali memekik begitu  merasakan  bagian  bawah tubuhnya  yang  terbuka dibekap telapak tangan yang besar  dan  kasar. "Hebat,  akhirnya  gue  bisa megang  memek  Maudy  Koesnaedi!!!"  seru lelaki   di  belakangnya  sambil  terus  meremas-remas  hingga   Maudy merintih-rintih.   

Lelaki  itu kini mulai  menjambak  rambut  kemaluan Maudy yang cukup  lebat.  "Wah,  lu  keramas  jembut lu pake sunsilk  juga  ya...hitam  berkilau nih...he  he..."  lanjut lelaki itu, kali ini sambil  menarik  puluhan helai   rambut  kemaluan  Maudy  ke  bawah,  hingga   terlihat   kulit kelaminnya ikut tertarik. "Ayo bilang dong...ini namanya apa," kata lelaki itu sambil  menjambak hampir seluruh rambut kemaluan Maudy. Maudy hanya merintih.  "Ayo bilang!!" bentaknya.  "Ram...ram...rambut..." katanya.  "Kalau  rambut sih ini...," sahut lelaki itu, sambil menjambak  rambut di kepalanya. "Bilang...jembut  gitu..."  lelaki itu menjambak  rambut   kemaluannya lebih jauh.  "Jem... jem... jem.... BUUUUUUUUUTTTTTT..... awwwwhhh.... saakkkkkiiiit!!!"  Maudy menjerit histeris. Sebab, begitu  dia  bilang 'but', lelaki itu  membetot rambut kemaluannya sekuat tenaga.  Puluhan helai rambut  kemaluan Maudy kini berada di genggamannya. Di  depan  wajah  Maudy,  dimasukkannya puluhan  lembar  rambut  hitam berkilau itu ke dalam  sebuah amplop.  "Bisa  untuk  nyantet  elu, kapan-kapan perlu,"  katanya.  Kedua  mata Maudy  tampak  basah oleh air mata.  

Maudy agak lega  ketika  tubuhnya ditarik  hingga ia kini duduk. Rok  panjangnya masih tergulung  sampai ke  pinggangnya,  hingga dari  pinggang ke bawah terbuka  bebas.  Sisa rambut  kemaluannya tampak  menyembul dari sela-sela pangkal  pahanya. Tapi  kelegaannya  hanya   sejenak saja. Kedua  lelaki  di  kanan  dan kirinya,  kini  mulai  tertarik  pada  dadanya.   Payudara  Maudy  tak seberapa  besar, tetapi tampak kencang dan bundar.  Lelaki di  sebelah kirinya mulai membelai-belai lembut payudara  kirinya.  "Jangan...tolong...jangan...saya   bisa  beri  kalian   apapun,   tapi tolong...jangan perkosa saya..." Maudy coba berbicara lagi,  sementara lelaki  di kirinya mulai meremas-remas payudaranya.  Seluruh  gumpalan daging yang kenyal itu masuk dalam genggamannya.  "Diperkosa  aja  takut. Kalau mau, elu kan bisa nikmatin  juga,"  kata lelaki  di  kanannya.  

Maudy melirik dengan panik,  sebab  lelaki  itu menyentuh payudara kanannya dengan bagian tajam belatinya.  "I...i...iya...sa..saya...takut...aduh...pelan-   pelan....   sakit... aduh..."  Maudy merintih, lelaki di kirinya  mencengkeram  payudaranya yang tak seberapa besar hingga ke  pangkalnya. Tangan kasar itu seolah hendak  merenggut  bukit  kecil itu  dari  tempatnya  melekat.   Maudy menarik  napas sejenak, ketika cengkeraman di dadanya  dilepas.   Tapi kini  rasa geli yang aneh melandanya ketika lelaki  itu   menggerakkan ujung jari telunjuknya di sekeliling putingnya yang  tertutup bajunya. Hal  serupa  dilakukan lelaki satunya dengan ujung  belati  di  puting sebelahnya.  Perlahan,  tanpa bisa dikendalikannya,   kedua  putingnya mulai mengeras dan Maudy mengerang lemah. "Kenapa  sih takut diperkosa? Lu kan udah nggak perawan.  Udah  berapa kali  kontolnya  Gilang masuk memek lu? Udah berapa kali  juga  kontol para  produser maen-maen ke situ supaya mereka bantu lu jadi  ngetop?" lanjut  lelaki yang memegang belati, sambil terus  menggerakkan  ujung belatinya, memutari puting susu kanan Maudy.  "Nggak...nggak...bohong  itu...saya  belum  pernah...ti...tidur   sama lelaki..." 

Maudy menjawab dengan panik. Kedua lelaki itu kini memilin- milin kedua puting susunya, perlahan.  "Jadi lu masih perawan?"  "I...iya," "Bohong!" "Awwwhhh...be...betul...."  Maudy  memekik,  kedua  putingnya  dijepit keras.  "Buktinya apa?" "Eh...bukti?" "Iya!!! BUKTI!!!" bentak lelaki itu.  "Ah...eh...AWWWWW!!!"  Maudy  menjerit lagi, kedua  putingnya  kembali dijepit dan dipelintir dengan keras.  "Buktinya  cuma  di situ neng..." kata lelaki di kiri  Maudy  berlagak menengahi, sambil menunjuk selangkangan gadis itu. "Oke,  sekarang  kita buktikan. Gue mau lihat lu masih  punya  selaput perawan  nggak.  Angkat  kaki lu, ngangkang!"  lanjut  lelaki  satunya sambil mulai menarik paha kanan Maudy ke atas.  "Ah...eh, jangan...jangan dilihat..." kata Maudy mengiba.  "Gimana  kita  percaya  kalau lu nggak mau  buktiin.  

Gue  kasih  tahu ya...kalau  lu ternyata masih perawan, mungkin bisa gue  pertimbangkan untuk  nggak jadi memperkosa lu!" Maudy terisak. Ia tak punya  pilihan lain.  Dipikirnya,  mungkin ia akan  dilepaskan kalau mereka  tahu  ia masih  perawan.  Perlahan diangkatnya  kedua  kakinya.  Kedua  telapak kakinya  kini bertumpu di jok mobil yang  didudukinya. Posisinya  yang demikian membuat bagian tubuhnya yang  paling pribadi, terbuka bebas. Maudy  menggigit bibirnya, tak pernah  dibayangkannya  akan  melakukan hal  tersebut  di  hadapan lelaki yang   sama  sekali  asing  baginya. Lelaki di sebelah kanan Maudy kini berjongkok di hadapannya.  Wajahnya hanya sekitar 15 cm dari Maudy's private area. Maudy memejamkan  kedua matanya  yang sayu. Ia bisa merasakan panasnya hembusan  napas  lelaki itu.  "Hmmm...memek  yang hebat," gumam lelaki itu. 

Temannya di atas,  hanya tertawa  sambil  terus meremas-remas kedua payudara gadis  itu.  Tubuh Maudy  bergetar hebat ketika jemari lelaki itu menyentuh  tepi   celah kemaluannya, menyusurinya dari atas ke bawah. Dengan hati-hati  lelaki itu  menjepit  dua  sisi  labia minora  Maudy  yang  tampak  menyembul sedikit  akibat  kakinya yang mengangkang  lebar.  Masing-masing  sisi dijepit  dengan  ibu  jari dan telunjuk.  Perlahan  daging  tipis  itu ditariknya  ke  arah  berlawanan. Maudy  diam,   tapi  tubuhnya  terus bergetar, keringatnya bercucuran.  "Hebat...gue  seneng  memek yang kaya gini," kata  lelaki  itu  begitu melihat bagian dalam vagina Maudy. "Bener  kata  orang, bibir atas  nggak beda jauh sama yang  di  bawah. Dalemnya  memek Maudy merah jambu  Brur, seger kayak  bibir  atasnya," lanjutnya,  memberitahu  temannya.  

Maudy merasa  betul-betul  terhina mendengar hal itu, tapi ia tak kuasa  apa-apa.  "Udah  cepet, liat masih perawan apa kagak," sahut temannya  yang  tak bosan-bosan  meremas  payudara  Maudy dari luar  bajunya.   Lelaki  di bawah, kini menyusupkan satu ibu jarinya ke lubang vagina  yang tampak sempit,  lalu  ibu  jari satunya menyusul  di  sisi   berlawanan.  Dua telunjuknya   pun   menyusul.   Maudy   mengerang-erang.     

Perlahan, digerakkannya  ke empat jari itu ke arah berlawanan,   sehingga  liang vagina Maudy mulai membuka lebar, membentuk gua kecil.  "Pelan-pelan...sakit..." rintih Maudy.  "Nah,  itu dia...." desis lelaki itu ketika melihat  sebentuk  selaput tipis di bagian dalam gua kecil itu. "Lu bener masih perawan,"  jelasnya.  "Sudah-sudah...lepaskan saya..." pinta Maudy.  "Sebentar...nanggung..."  sahut  lelaki itu. Maudy  kaget  bukan  main ketika merasakan wajah lelaki itu makin  mendekat dan... "Aungghhhh...."  Maudy  merintih, meronta hebat,  tapi  kedua  kakinya dipegangi erat dua lelaki.  Lelaki itu ternyata menyentuh selaput dara Maudy dengan lidahnya,  lalu dengan kasar lidah itu menyapu ke segenap penjuru bagian dalam  vaginanya. Tak kurang 10 menit itu  berlangsung, sampai  Maudy   merasakan  jemari  yang  menguakkan  liang   vaginanya melepaskan    tarikannya. 

 Kini,  yang  dirasakannya  adalah   dinding vaginanya  yang   menjepit lidah lelaki  itu.  Perlahan,  dirasakannya lidah  itu ditarik  keluar.  Sambil menjulurkan lidah seperti  anjing, lelaki itu mendongak. Maudy  melihat lidah lelaki itu berlendir.  "Memek yang lezat...." ujar lelaki itu.  "Sudah...tolong lepaskan saya..." iba Maudy lagi.  "Sebentar,  gue mau kasih tahu lu sesuatu. Habis ini, lu  pasti  minta diperkosa!"  kata  lelaki  itu,  lalu  merapatkan  lagi  wajahnya   ke selangkangan Maudy.  Maudy menggeliat, mengerang, meronta...tapi  sia- sia.  Lidah  lelaki  itu  dengan  buasnya  menyapu  sekujur  permukaan vaginanya.  Rambut  kemaluannya yang tak lagi selebat  semula,  tampak basah,  melekat  ke  kulit yang kemerahan, bekas cabutan  yang  brutal tadi.  Lidah lelaki itu lalu menjilati celah vaginanya, kanan dan kiri berganti-ganti. Lalu... slurrrppp.... slurrppp... "Aunggghhhhh..."   Maudy   mengerang,  lelaki  itu   menghisap   labia minoranya,  kanan  dan  kiri berganti-ganti. Isak  Maudy  makin  keras terdengar.  

 15  menit  telah  berlalu,  tetapi  lelaki  itu   seperti kelaparan,  tak  juga  henti melahap  vaginanya.  Sementara  di  atas, lelaki  satunya  merogoh ke balik blus  Maudy,  mengeluarkan  payudara kirinya.   Puting susunya yang mungil, kecoklatan dengan areola  hanya berdiameter  sekitar 2 cm, tegak menantang. Lidah lelaki  satunya  pun mulai  menyentil-nyentil  area sensitif itu.   Bersamaan  dengan  itu, Maudy merasa bibir kemaluannya dikuakkan lalu  didorong ke atas. Lelaki yang di bawah, memandang tak berkedip,  tonjolan kecil berwarna pink  di pangkal vaginanya. Dielus-elusnya  tonjolan kecil itu  dengan telunjuknya perlahan. Akibatnya sungguh  hebat. Maudy mengerang keras. Maudy  merasa  luar  biasa terhina. Dalam keadaan  demikian,  ia  bisa menikmati  rangsangan. Beda jauh dari yang pernah dirasakannya  ketika sekali  jemari  Gilang  pernah 'tersesat' ke  balik  celdamnya.  

Meski menolak penghinaan itu, tubuh Maudy tak bisa berbohong. Cairan   vaginanya mulai menetes, membasahi seputar  liangnya.  Lelaki yang  di  bawah, dengan tak sabar, menghisap setiap tetes cairan  itu. Sementara   lelaki yang di atas, ternyata sudah asyik dengan  payudara kanan   Maudy,  menyentil-nyentil putingnya  dengan  lidahnya.   Maudy terhina  luar  biasa, ia merasakan sesuatu yang  akan  meledak   dalam dirinya  ketika  lidah lelaki itu akhirnya menyapu  tonjolan   sebesar kacang tanah di pangkal vaginanya. Apalagi,  lelaki di atas  memegangi sebelah payudaranya  dengan  kedua telapak  tangannya,  lalu   menyedot-nyedot  putingnya  sekuat  tenaga sambil  lidahnya  menyentil-  nyentil puting di  dalam  mulutnya  itu. Erangan  Maudy  makin hebat saat akhirnya lelaki  di  bawah  menghisap klitorisnya  kuat-kuat  dan  terus menerus.  

Punggungnya  meregang  ke depan,  hingga payudaranya membenamkan wajah lelaki yang  masih  asyik dengan putingnya.  "Aaannggghhhhhhhhh....  ngghhhh.... nghhh.. oowwhhhh...." tubuh  Maudy tiba-tiba  lemas,  tetapi sesekali terlonjak-lonjak  di  luar  kendali dirinya.  Maudy  orgasme!!! Lelaki yang tadi  asyik  dengan  putingnya memandangi Maudy yang masih  terlonjak-lonjak pelan. Sementara  lelaki satunya  terus menghabiskan  cairan vagina Maudy yang menetes  seiring orgasmenya.   Tubuh Maudy masih lemas, matanya terpejam. Tiba-tiba  ia membelalakkan  matanya, karena merasakan sesuatu yang hangat menyentuh mulut liang  vaginanya.  "Jangan....jangan....jangan   perkosa   saya..!!!"   pekiknya   sambil meronta,  ketika  melihat  kepala  penis  lelaki  di  depannya   mulai menguakkan bibir vaginanya.  "Alaaah...sok  tahu  lu. Ngaku aja tadi lu keenakan. Lagian  memek  lu sekarang udah siap...nggak bakal sakit deh..." kata si pemilik  penis. Maudy  tetap  meronta  hingga  penis  lelaki  itu  kini  menjauh  dari vaginanya.  Wajah  Maudy merah padam begitu sadar  ia  tadi  mengalami orgasme. 

 "Tapi...tapi...saya  masih perawan...jangan perkosa  saya...saya  akan beri apapun..." pintanya mengiba.  "Oke...gue  nggak  akan  perkosa lu sekarang.  Betul  lu  mau  lakukan apapun asal memek lu nggak kemasukan kontol?" tegas lelaki itu  dengan bahasa  yang  membuat  telinga  Maudy  memerah.  Lelaki  itu  menunggu jawaban Maudy sambil meremas kedua payudaranya yang tadi belum  sempat dilihatnya.  "I...i...iya...." "Bagus, kalo gitu, lu sekarang harus tanggungjawab," "Tanggungjawab?"  "Iya...kontol  gue udah ngaceng...lu  harus  lemesin pake mulut lu..."  "Iiihhh...nggak mau...jangan..." "Tinggal  pilih,  mulut  apa memek!!!" bentak  lelaki  itu,  kali  ini sambil  menggerakkan  pinggangnya hingga  penisnya  kembali  menyentuh vagina Maudy.  Maudy memekik.  "Aihhhh...ii...iya..."   akhirnya  ia  menyerah.   Kedua  lelaki   itu kemudian  duduk di jok lalu memaksa Maudy jongkok di  hadapan  mereka. Maudy dengan pandang mata jijik dan takut memandangi  penis lelaki yag tadi  mengunyah vaginanya. 

Maudy belum pernah melihat   penis  sebesar itu, tampak begitu kokoh dengan urat-urat di  sekelilingnya dan kepala penis yang keunguan saking banyaknya darah  terjebak di situ.  Bahkan, penis  Gilang  pun belum pernah dilihatnya,   kecuali  memegangnya  di balik celananya saat mereka terlibat petting  berat.  "Ayo  cepet,  jilatin dulu..." kata lelaki itu sambil  menjepit  kedua puting Maudy dan menarik ke arahnya.  "Aduhh...sakit...iya...iya..."  kata Maudy.  Wajah Maudy memerah  saat lidahnya mulai menyentuh kepala penis lelaki  itu.  "Jilatin  muter kepala kontol gue!"  Maudy pun menuruti perintah  itu, menjilati   sekujur  permukaan  kepala   penis  di  depannya.   Ketika menyentuh celah di kepala penis itu, ia  merasakan cairan yang asin di lidahnya.  "Jilat  semua  dari atas ke bawah, balik lagi, terus  gitu..."   Maudy menahan jijiknya, menjilat sekujur batang penis itu.  "Bijinya juga!" Maudy makin mual. Kedua kantung zakar lelaki itu penuh rambut.    

Aromanya  membuatnya  hampir  muntah.  Tapi   Maudy   terus melakukannya,   karena  khawatir lelaki itu marah  dan  memperkosanya. Diabaikannya   lelaki  satunya  yang  tak  bosan-bosan   meremas-remas payudaranya yang  tadinya putih mulus hingga memerah. "Bagus...eghhhh...lu pinter juga. Ini yang terakhir, isep punya  gue," Maudy  terdiam  sejenak, tapi akhirnya perlahan  ia  membuka  bibirnya yang   indah  itu.  Sungguh  pemandangan  yang  menggairahkan,   gadis secantik  Maudy  membiarkan  penis yang  tampak  mengerikan  masuk  ke mulutnya.   Maudy hampir tak bisa memasukkan penis yang besar  itu  ke mulutnya.  Sampai akhirnya ketika masuk juga, pipinya tampak  menonjol tertekan  kepala penis lelaki itu.  "Ayo    maju   mundur...ahhhh...yang    dalem...ouhhh....sedot    yang kuat....yak...bagus...ohhh...."  Tiba-tiba lelaki itu memegangi bagian belakang  kepala Maudy dengan  kedua tangannya. Dengan kasar, ia  kini menggerakkan sendiri kepala  Maudy hingga penisnya masuk makin jauh ke dalam kerongkongan Maudy.  "MMffff...mmmfff...nggghhh...."  Maudy nyaris kehabisan napas.  Kepala penis  itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkongannya.   

Tiba-tiba Maudy   merasakan  penis  di  mulutnya  itu  berdenyut-denyut,    lalu pemiliknya  mengerang keras sambil menarik kepala Maudy hingga   wajah Maudy  tenggelam  di  kerimbunan rambut  kemaluannya.   Maudy  seperti kehilangan  kesadarannya  ketika merasakan cairan kental   dan  hangat tersembur ke dalam kerongkongannya, memenuhi rongga  mulutnya. Maudy hampir tak bisa bernapas, tak ada jalan lain, ia  harus  menelan cairan itu. Rasa dan aromanya yang aneh membuat Maudy  hampir  muntah. Tapi  ia terus menelannya, hingga beberapa kali  semburan  kecil  yang makin lama melemah dan berhenti seiring lemasnya  penis lelaki itu  di dalam mulutnya.  "Terus  isep,  sekalian bersihin kontol gue!" kata lelaki  itu  dengan napas  terengah-engah.  Maudy  dengan  sisa-sisa  tenaganya,  menuruti perintah itu. Lalu lelaki itu pun menarik penisnya yang lemas  keluar. Maudy  dihempaskannya begitu saja ke lantai mobil. Napasnya  terengah- engah  membuat  kedua  payudaranya  bergerak  naik  turun.  

Dari  sisi bibirnya  yang  seksi  menetes  cairan  putih  kental.  Kedua  matanya menitikkan  air  mata.  Kedua  lelaki itu dan  sopir  di  depan  hanya terbahak mendengar isak  Maudy.  "Gila,  ternyata si Zaenab jago nyepong juga. Mani gue disedot  abis," kata lelaki di depannya. Maudy betul-betul merasa terhina.  Maudy baru mulai  bisa  bernapas lega ketika lelaki  satunya   menggerakkan  jari telunjuknya,  memberi  kode  agar ia mendekat.  Maudy   panik  melihat lelaki  itu  memegagi penisnya yang sudah  menegang,   nyaris  sebesar milik kawannya.  "Gue  juga ngaceng nih...lu kudu tanggungjawab!"  katanya.   Lagi-lagi Maudy  terpaksa mendekat ketika kedua putingnya dijepit dan   ditarik. Lalu  adegan  memalukan  tadi pun berulang. Tapi kali  ini  tak  pakai pemanasan  dengan  aksi  jilat.  Lelaki  itu  langsung  memaksa  Maudy menelan  penisnya dan memegangi kepalanya, lalu  menggerakkannya  maju mundur.   

Tak sampai lima menit kemudian, kembali cairan  kental  yang berbau  khas menyembur, memenuhi rongga mulutnya. Lagi, Maudy  kembali harus   menelannya.  Kini ia terduduk di lantai mobil, terisak  dengan sekeliling bibirnya  tampak cairan sperma.  "Nggak  usah nangis...kata dokter Boyke, orang kagak bakal hamil  kalo nelen mani...he...he..." kata lelaki terakhir.  "Sudah...sekarang tolong lepaskan saya...." pinta Maudy lagi. "Sebentar,  masih  ada  yang  harus  lu  kerjakan  supaya  nggak   gue perkosa,"  sahut lelaki di depannya. Maudy terdiam, putus  asa...  *** Maudy tak tahu lagi kemana mobil ini berjalan. Apalagi, dari posisi  duduknya, ia tak bisa melihat leluasa keluar. Ia hanya bisa melihat  tiang listrik atau pepohonan. Yang jelas, ia  bisa mendengar, suasana  jalan tampaknya makin sepi. 

Sampai akhirnya, mobil itu  berhenti,  lalu  terdengar suara seperti  pintu  gerbang  dibuka. Mobil kemudian kembali  berjalan, lalu berhenti di dalam sebuah garasi yang  luas.  Maudy   kembali mendengar, kali ini  suara  rolling  door ditarik  turun.   Dua  lelaki itu lalu keluar  sambil  menyeret  Maudy turun. "Tolong,  ikatan  saya  dilepas..." kata  Maudy  dengan  suara  pelan. Seorang lelaki kemudian berusaha melepaskan ikatan tangan Maudy.  "Eh...eh...entar  dulu. Lu enak, gue belon dapat bagian.  Nih,  kontol gue juga ngaceng, butuh saluran!" "Alaah...entar juga bisa. Dia udah ditunggu bos nih," sahut temannya. "Sebentar aja, gue janji, lima menit aja!" "Ya   udah,   cepet..."   Maudy   ketakutan.    "Jangan...sudah..sudah cukup...jangan..." rintihnya saat si sopir  memaksanya berlutut. Penis lelaki itu menyentuh hidungnya yang  mancung.  "Nggak usah bawel ah...cepetan...lima menit aja...buka mulut  lu...nah gitu...ahhh....bagus..."  kata si sopir, lalu satu  tangannya  menarik kepala  Maudy  hingga bergerak maju mundur. 

Betul saja,  sekitar  lima menit  kemudian, semburan sperma kembali memenuhi rongga mulut  Maudy. Cuma  kali ini, lelaki itu langsung menarik keluar  penisya,  sehingga semburan  kedua, ketiga dan keempat mendarat di sekujur  wajah  cantik Maudy.   Lelaki itu tertawa-tawa sambil membersihkan  penisnya  dengan rambut  sunsilk Maudy.  "Makasih  ya..."  katanya sambil meremas kedua  payudara  Maudy,  lalu tangannya  menyempatkan  meremas pangkal paha  gadis  itu.   Sementara Maudy  terisak.  Bibirnya betul-betul belepotan sperma  kini,   begitu pula kening, pipi dan di sudut matanya.  "Gila lu...bikin kotor aja..." kata lelaki yang pertama memaksa  Maudy melakukan  oral  seks,  sambil melepas ikatan  tangan  Maudy.   

Begitu terlepas, Maudy membenahi bajunya, kembali menutup kedua  payudaranya. Maudy  kemudian menerima cabikan celdamnya dari lelaki  di   depannya. Dibersihkannya   wajahnya  yang  belepotan  sperma   dengan    cabikan celdamnya sendiri.  "Ayo, bos udah nunggu..." kata lelaki berjaket kulit sambil  melangkah ke sebuah pintu di salah satu sudut garasi. Maudy tegang menunggu  apa yang    akan    terjadi   di   balik   pintu   itu.      ***    Tunggu sambungannya....kalau  elu semua suka. Dua mingguan lagi, gue   janji. Gue sibuk banget sih...    

ke awal

 

 DOWNLOAD E-BOOK GRATIS

Cerita Seks Khusus Dewasa - Cantik Seksi Indonesia - INDEX

1