|
MASA
PACARAN
Masa pacaran adalah masa yang
paling indah. Pada saat itu nuansa romantis begitu kental, termasuk dalam
urusan seks. Ketika pertama melihat Sari, saya merasa bahwa saya harus
memilikinya. Ia bertubuh tinggi, dengan pinggul yang indah dan pantat
menjungkit seperti penari Bali. Lebih dari itu, ia memiliki kulit putih
mulus. Kesukaannya bila bekerja di kantor (dulu ia satu kantor
denganku)selalu mengenakan rok panjang hingga jauh dibawah lutut. Hanya
menyisakan sedikit saja betisnya yang putih mulus. Namun yang sedikit itu
sungguh amat menggoda dan membuat berdebar orang yang memandangnya.
Membayangkan tubuh indah dibalik
rok itu membuat pening kepala. Lewat proses yang berliku akhirnya ia jadi
pacarku. Aku ingat pengalaman pertama bercinta dengannya. Pertama kali
kami melakukannya disebuah hotel di Cipanas. Saat itu kami kemalaman
setelah bertamasya di kawasan Puncak dan memutuskan untuk menginap di
hotel tersebut.Mula-mula kami sangat canggung dan hanya berbincang-bincang
saja di kamar. Ketika tiba saat untuk tidur, saya bermaksud tidur di sofa.
Saya merasa harus menghargainya, toh kami belum menikah. Namun ia
menarikku ke tempat tidur."Kita tidur pelukan boleh kan , bang, asal
enggak lebih dari itu," katanya manja. Aku menuruti kemauannya dengan
kikuk.
Beberapa menit kami berbaring diam
dalam satu selimut. Sari hanya mengenakan tshirt tipis dan kain sarung,
begitu juga aku. Saat kulit kami bersentuhan, jantungku berdesir. Tanpa
terasa pipi kami saling menempel. Udara dingin membuat ia mengetatkan
pelukannya dan akhirnya bibir kami saling berpagut. Awalnya sangat
canggung, namun tak lama gerakan kami menjadi lebih "luwes" dan lidah kami
pun saling bergulung. Ciuman yang ketat membuat aku kehilangan kendali,
lalu tanganku menjadi liar meraba ke payudaranya. Napas Saripun semakin
memburu. Lalu aku berusaha melucuti tshirtnya. Sari tidak menolak, bahkan
tangannya juga berusaha melucuti bajuku. Dengan satu sentakan kutarik
sarungnya sehingga kulihat tubuhnya yang indah itu hanya berbalut celana
dalam tipis. Saya menikmati beberapa saat pemandangan itu, Sari yang
berbaring telentang,dengan pandangan mata yang sulit kulupakan. Lalu
kucium lagi bibirnya perlahan. Sari mengerang perlahan, bibirnya setengah
terbuka dan basah sangat membuatku terangsang. Lalu tanganku mulai bermain
di payudaranya, membuat ia makin menggelinjang.
Ketika tanganku kuturunkan hingga
mencapai gundukan kemaluannya dan bibirku meluncur mengulum puting
susunya, tiba-tiba ia mendorongku dengan keras.Lalu tangannya bergerak
cepat menarik celanaku sambil berdesah:"bang, buka celananya..." Dengan
satu gerakan saya melepas celana dalam saya , dan ia melakukan hal yang
sama. Kini dapat kulihat tubuh indah itu tanpa penghalang apapun. Sari
menarikku kedalam pelukannya dan kami kembali bercumbu dengan hangatnya.
Kami hanya bergerak berdasarkan naluri karena tak pernah punya pengalaman
sebelumnya melakukan hal itu. Saya menyisir seluruh tubuhnya dengan bibir
saya. Mulai dari ubun-ubunnya, turun ke bibirnya, lalu ke lehernya yang
jenjang.
Sari berbaring telentang dengan
kedua pahanya yang putih dibuka lebar, sementara saya menindih dan
mengulum bibir dan lehernya, penis saya yang telah keras dan vaginanya
yang terasa basah tanpa sengaja bersentuhan. Betapa nikmatnya. Lalu saya
mulai menyisir ke payudaranya dan mulai mengulum puting susunya yang
mengeras. Saya menjilati puting dan melingkari areolanya, membuat Sari
menggelinjang dengan hebat sambil merintih keras. Karena posisi saya agak
merendah ke bawah maka saya dapat merasakan kehangatan vaginanya yang
basah di perut saya. Sari terus merintih sambil sesekali pahanya yang
jenjang menghentak naik turun di atas pinggang saya , sementara pelukannya
semakin erat. Lalu ia menarik tubuh saya ke atas hingga bibir kami kembali
berpagut. Sambil tersengal ia mendesah dengan penuh birahi "bang, Sari
pingin disentuh dengan punya abang,"Saya mengerti yang ia inginkan. Saya
lalu mulai menggesek-gesekkan penis saya ke vaginanya. Vaginanya terasa
makin membanjir dan terbuka. Saya terus menggesek dan menyibak labia
mayoranya dan merasakan kelentitnya yang semakin membengkak. Sari
menggoyangkan pinggulnya dengan kencang sambil merintih-rintih. Tangannya
memeluk kencang di bahu saya dan kukunya membenam di kulit hingga membuat
saya sedikit perih.
Namun rasa perih itu terkalahkan
oleh buaian kenikmatan yang luar biasa. Gerakan itu semakin kencang dan
saya sudah tidak tahan untuk segera memasuki tubuhnya. Saya berhenti
menggesek kelentitnya dan mulai mencari jalan untuk memasuki lubang
vaginanyayang sudah banjir oleh cairan kewanitaannya. Saya menatap Sari
sebentar dan menemukan hasrat yang sama di matanya. Dengan perlahan
tangannya bahkan membimbingku memasuki lubang vaginanya. Dengan satu
dorongan pelan saya mulai memasuki tubuhnya, sedikit demi sedikit. Saya
tahu ia sedikit kesakitan , karena ini pertama kali bagi kami, namun
kebasahannya sangat membantu penisku menemukan jalannya. Ketika penisku
hampir separuh dalam vagina, tangannya memelukku dengan amat keras dan
tubuhnya bergetar hebat. Aku merasakan cairan lebih banyak lagi membanjiri
kemaluannya dan dengan satu dorongan saya menusuk hingga bagian terdalam
dari kemaluannya. Tubuhnya menggigil dan mulutnya meracau, ketika aku
mulai menggerakkan penisku naik turun. Pada setiap gerakan menusuk aku
menekan dengan begitu dalam.
Sari menggoyangkan pinggulnya,
kedua kakinya menjepit pinggulku begitu keras.Saya akhirnya tak tahan lagi
dan merasa sudah hampir tiba waktunya. Pada gerakanku yang terakhir, aku
merasakan seluruh tubuhnya menggeletar, menyambut spermaku yang memenuhi
rongga vaginanya saat ejakulasi. Kukunya makin dalam terbenam di
punggungku dalam satu pelukan yang ketat dan tubuh kami sama-sama
menggeletar. Untuk beberapa saat hanya kenikmatan tiada tara yang kami
rasakan dan entah berapa lama kami terus berpelukan menikmati keindahan
itu dengan mata terpejam, dengan penisku tetap kubiarkan dalam vaginanya.
Ketika geletar-geletar keindahan itu akhirnya harus berakhir, saya membuka
mata dan melihat Sari yang masih tetap terpejam dengan wajahnya yang penuh
keringat. Betapa cantiknya melihat dia dalam keadaan sesudah orgasme. Lalu
ia membuka matanya dan tersenyum lembut melihatku sedang memandanginya.
Kucium lembut bibirnya dan kami berbaring berpelukan. Kami tahu malam
masih panjang dan kami tak akan menyianyiakan kesempatan indah itu untuk
menikmatinya bersama-sama.itulah pengalaman pertama saya dengan pacar
saya. Ia kini sudah tidak jadi pacarku lagi. Ia sudah jadi ibu dari anak
perempuanku. Namun kehangatan kami dalam bercinta tak pernah berkurang ,
bahkan terasa semakin indah.
|
|