|
MALAM SPESIAL
Semula aku malu menceritakan pengalaman
pribadi ini kepada pembaca Cerita Ngerest Tapi setelah aku tahu bahwa
banyak juga kaum wanita yang membaca homepage ini dan identitas pengirim
ceritadirahasiakan, maka aku memberanikan diri untuk mengisahkan
pengalamanku bermain seks dengan suamiku.
Kami tinggal di Bogor, suatu daerah
dataran tinggi yang ada di Jawa Barat. Letak rumah kami sangat
strategis. Di halaman belakang rumah, kami bisa memandang lereng
pegunungan. Di bawah lereng tampak rumah-rumah kecil yang bila malam hari
terlihat memancarkan cahaya berkelap-kelip. Untuk menuju Jakarta juga
tidak begitu sulit karena jarak rumah kami ke jalan tol hanya membutuhkan
waktu beberapa puluh menit saja.
Bila malam tiba, udara cepat berubah
dari panas menjadi dingin. Itu sebabnya pada rumah kami dibangun tungku
api. Kami memang menyenangi rumah model Eropa. Seringkali
kami melakukan hubungan seks di depan tungku api itu. Waktu favorit
kami adalah menjelang pagi saat kami baru bangun tidur sebab di waktu itu
nafsu seks kami bisa sangat menggebu-gebu.
Mula-mula suamiku menambahkan beberapa
kayu bakar dan menyalakan lilin di sekitar kami, sementara itu aku
menyiapkan minuman ringan yang biasanya berupa sedikit anggur. Setelah
itu kami berbincang-bincang sejenak. Tak lama kemudian suamiku mulai
mencumbu diriku. Dia menyingkap dasterku, lalu menggosok-gosokkan
telapak tangannya pada pahaku bagian dalam. Sekitar tiga puluh detik
kemudian aku merasakan kemaluanku lembab. Aku mulai
terangsang. Dijamahnya buah dadaku perlahan-lahan seakan takut pecah.
Kemudian dengan perlahan pula ia mengurutnya berputar. Nikmat sekali.
Aku memejamkan mata dan tiba-tiba saja bibirnya telah melumat seluruh
bibirku. Kubuka mulut ini lalu lidahku kudorongkan ke dalam rongga
mulutnya. Ia memelukku erat sekali. Dadanya yang bidang menekan buah
dadaku hingga aku terasa hampir tak bisa bernafas. Aku bisa mendengar
nafasnya mulai memburu. Dengan sangat bernafsu ia melucuti
seluruh pakaianku sampai aku telanjang bulat. Aku juga membalas hal ini
dengan membuka piyamanya. Suamiku tampak seksi bila hanya tinggal
mengenakan celana (Malaysia = seluar) dalam. Jariku kurogohkan ke
dalam. Di situ aku menemukan benda besar yang sudah sangat keras.
Kepala penis (zakar) itu kuusap-usap dan tanganku kugerakkan maju
mundur. Ia menggeliat bila aku melakukan hal seperti ini. Mungkin
nikmat baginya.
Cukup lama kami melakukan hal seperti
ini hingga pada suatu saat ia merebahkan tubuhku. Aku pasrah saja.
Sekarang tubuhku menjadi barang mainan untuknya. Ia duduk di
antara selangkanganku yang terbuka lebar. Kemudian ia membungkukkan
tubuhnya lalu menjilati daging kecil yang ada di kemaluanku. Oh, nikmat
sekali saat lidahnya mempermainkan clitorisku. Aku memejamkan mata.
Seringkali aku meraih bantal lalu menutup mukaku dengan bantal itu agar
aku dapat lebih menikmati perlakuannya.
Sekitar lima menit kemudian
jari-jarinya menggantikan tugas lidahnya. Aku juga merasakan satu atau
dua buah jari masuk ke dalam lubang kemaluanku. Jari itu bergerak-gerak
menggosok dinding vagina sementara jari yang lain mengusap-usap
clitoris yang semakin membesar. Semakin lama usapan jari pada clitoris ini
semakin membuatku mengerang. Kenikmatannya menjalar ke seluruh tubuh. Aku
tidak bisa melukiskan bagaimana nikmatnya clitoris bila digosok. Aku
mengerang karena tidak kuat menahan nikmat ini.Sekitar lima menit kemudian
kenikmatan itu hampir mencapai puncaknya. Pinggulku kegoyang-goyang karena
setiap sentuhan pada clitoris ini bagaikan tegangan listrik yang menjalar
ke setiap ujung syarafku. Aku merintih sekeras-kerasnya.
Tapi untunglah mukaku sudah kututup
dengan bantal hingga teriakanku teredam. Selang beberapa saat kemudian aku
merasakan clitoris ini hendak "meledak". Inilah puncak kenikmatanku. Aku
secara reflek mencoba merapatkan kedua belah pahaku. Tapi karena di antara
selangkanganku ada tubuhnya, maka aku tidak bisa melakukannya. Tubuhku
mengejang. Darah terasa berdesir dengan kuat di seluruh tubuhku. Aku
menjerit sekuat-kuatnya. Di saat aku menikmati orgasme ini tiba-tiba aku
merasakan cairan sangat panas menerpa clitorisku. Rupanya suamiku
meneteskan lilin ke atas clitoris dan mulut vaginaku. Kadang-kadang
tetesan lilin itu juga ia tumpahkan ke atas puting buah dadaku. Sakit
sekali. Aku menangis sejadi-jadinya. Rasa nikmat dan sakit melebur menjadi
satu. Orgasmeku berlangsung sekitar satu atau bahkan sampai tiga menit.
Saat orgasmeku mulai menurun, ia memeluk tubuhku, membelai rambutku, lalu
menciumi seluruh mukaku sambil berkata, "I love you." Ia membiarkan
moment terindah ini untukku. Sekitar lima menit ia biarkan aku
menenangkan tubuhku. Seluruh urat dan persendian terasa sangat lemah.
Aku merasa damai sekali berada di pelukannya. Mukaku ku benamkan di
dadanya yang bidang.
Setelah keadaan mulai kembali seperti semula,
kini giliranku untuk memberikan kenikmatan untuknya. Aku beranjak
bangun dan dia merebahkan tubuhnya hingga terlentang. Kemudian sama
seperti tadi, aku berada di antara kedua pahanya. Pertama kali aku
menjilati batang penisnya dari ujung sampai pangkal. Penis milik suamiku
panjangnya kira-kira satu jengkal. Ujung ibu jari tepat menyentuh jari
tengahku bila aku menggenggamnya. Bulu-bulu keriting hanya tumbuh di
sekitar pangkal penis, antara penis dan pusar, dan sedikit pada bagian
kantong testis.
Setelah menjilati permukaan penisnya
yang licin, aku memasukkan seluruh testis beserta kantongnya ke dalam
mulutku. Hampir saja tidak muat bila aku tidak memaksanya. Bila
telah masuk seluruhnya, aku menguyahnya menggunakan lidah dan
langit-langit mulut. Dia pasti mendesah bila aku melakukan hal ini.
Kadang-kadang satu atau dua bulu rambutnya rontok dan menempel pada
rongga mulutku. Aku tidak merasa jijik, malah senang
melakukannya. Setelah itu kukeluarkan kantong tertis itu dari mulutku.
Kumasukkan kepala penis itu ke dalam mulutku dan kutekan kepala ini
hingga kepala penisnya menyentuh tenggorokkanku. Dengan perlahan
kugerakkan mulut ini maju mundur. Aku harus menjaga agar penisnya tidak
terluka karena tergores gigiku. Sekitar lima menit lamanya aku
menghisap-hisap kemaluannya sampai dia memberi sebuah isyarat agar aku
menghentikan oral seks ini.
Aku kemudian berdiri lalu duduk tepat
di atas penisnya yang tegak berdiri. Kepegang penis itu lalu kuarahkan
kepalanya hingga menempel di ujung mulut vagina. Dengan satu dorongan,
penis itu telah menusuk vaginaku. Perlahan-lahan aku menggerakkan tubuhku
naik turun. Sedikit pedih karena vaginaku belum mengeluarkan banyak
cairan. Tapi setelah aku mulai terangsang lagi dan vaginaku mengeluarkan
cairan, rasa pedih itu berubah menjadi nikmat. Inilah posisi coitus yang
paling aku senangi. Dengan tubuh di atas, aku bisa mengatur tempo
permainan. Bila aku berada di bawah, aku sedikit menderita karena
seringkali tubuhnya menindih badanku hingga aku tidak bisa
bernafas.
Aku terus menggerakkan tubuhku naik
turun. Nikmat sekali saat dinding vaginaku bergesekan dengan penisnya.
Makin lama aku menjadi makin bernafsu. Gerakanku semakin
cepat. Kadangkala aku bisa mendapatkan orgasme bila suamiku mampu
bertahan lama. Tapi seringkali dia menyuruhku berbaring lalu dia yang
berada di atas. Dengan sangat kasar dia menusuk-nusuk vaginaku. Gerakannya
cepat sekali hingga dinding vaginaku terasa sangat pedih dan buah dadaku
tergoncang-goncang. Aku menjerit kesakitan tapi tidak tega untuk menolak
perlakuannya. Bagaimanapun juga dia telah memberikan kenikmatan padaku.
Jadi biarlah dia memperoleh kenikmatan dengan caranya sendiri. Aku
lihat dia meringis. Aku tidak tahu apakah dia merasakan nikmat atau malah
pedih seperti yang aku rasakan. Bila aku tidak kuat, aku mengambil
bantal lalu menutup mukaku dengan bantal itu. Bila sudah demikian, aku
menjerit sekuat-kuatnya atau menggigit bantal. Untunglah gerakan yang
kasar dan sangat cepat itu tidak berlangsung lama. Dia berkata bahwa ia
akan segera "keluar" sambil menghitung satu sampai tiga. Pada hitungan
ketiga dia menjerit tertahan. Aku merasakan cairan hangat menyemprot di
dalam rongga kemaluanku. Aku memeluk tubuhnya erat-erat.
Nafasnya jelas sekali terdengar
terengah-engah. Aku mengusap-usap punggung dan kepalanya sambil memohon
agar penis itu jangan dicabut. Aku biarkan dia terkulai lemas di
atas tubuhku. Kadangkala bila terlalu lama ia tertidur pulas. Aku
menikmati moment ini walau sulit bernafas. Bila telah puas, aku
merebahkan tubuh suamiku ke samping. Penisnya yang mengecil itu segera
tercabut dari vaginaku. Aku bangkit berdiri, menuju kamar mandi lalu aku
mandi dengan air hangat. Spermanya kadang masih menetes keluar dari lubang
vaginaku. Setelah mandi, aku menyiapkan kopi karena matahari telah
terbit. Aku duduk di sampingnya menunggu ia terbangun dari tidurnya
sambil mengenang kembali peristiwa yang terhebat yang pernah aku alami
malam ini. |