|
GADIS BERNAMA
LINA
Saya
baru-baru ini mempunyai pengalaman menarik dengan seorang mahasiswi
bernama Lina. Nama sebenarnya siapa saya tidak tahu. Ia adalah seorang
gadis keturunan Cina. Kami bertemu di sebuah diskotik. Ia langsung mau
diajak tidur pada pertemuan pertama. Katanya seks merupakan pelepasan
untuk menghindari stres di kuliahnya.
Wajahnya lumayan cantik dan
kulitnya putih bersih tetapi tidak pucat. Yang paling menarik adalah
tubuhnya. Sangat, sangat, sangat proporsional. Setelah beberapa kali
pertemuan dan kencan di tempat tidur, saya rasa dia sudah siap untuk
diperkenalkan pada dunia yang baru.
Sesuai dengan janji saya datang
pukul 7 sore kerumahnya. Kami lalu keluar untuk makan di sebuah resto Cina
di daerah kota. Kami pulang ke rumah saya dan tiba sekitar pukul 9 malam.
Sampai dirumah, kami langsung menuju kamar tidur. Saya suruh dia
melepaskan seluruh pakaian luarnya dan hanya menyisakan pakaian dalamnya
saja. Sementara itu saya meminum anggur. Saya sangat menyukai anggur
sebelum seks.
Ia melakukannya dengan perlahan. Atas perintah saya
dia berpindah tempat dan melanjutkan aksi strip-nya didepan lampu
disamping tempat tidur. Siluet tubuhnya indah sekali. Dia sadar akan hal
itu. Saat akan mencopot baju atasnya, dia berdiri membelakangi saya.
Baju itu dijatuhkan pada lantai. Kemudian sambil melepaskan sisanya,
tubuhnya diputar menghadap ke samping.
Kali ini saya dapat melihat
bayang lekuk dadanya, perut, dan pantatnya. Dadanya kecil. Mmm. Tidak
apa-apa. Tetapi pantatnya, amat menggiurkan. Ah. Lalu ia merebahkan diri
ke tempat tidur dengan pandangan yang sangat menantang. What a bitch. Saya
bergerak ke tempat tidur membawa gelas anggur miliknya.
Saya
berikan padanya. Sementara ia meminumnya, saya melepaskan baju atas saya.
Saya belum mau melepaskan celana saya, walaupun dari nafasnya, saya tahu
dia sudah kepingin. Kemudian saya duduk dibelakangnya dan mulai membaui
tengkuknya. Mungkin karena geli merasakan napas saya pada tengkuknya,
kepalanya ditengadahkan ke atas.
Perlahan kupingnya saya gigit.
Mmm, katanya. Kemudian saya kembali ke leher. Lehernya saya gigit juga,
kali ini agak keras. Kali ini dia mengeluarkan suara erangan pelan. Tapi
tidak ada kata protes keluar dari mulutnya yang terbuka. Di tempat saya
gigit tampak bekas gigitan berwarna merah. Saya puas
melihatnya.
Tangan kanan saya melepas kutangnya sehingga
payudaranya kali ini berayun bebas. Tangan kiri saya masuk kebalik celana
dalamnya. Ah, belum diapa-apain cewek ini sudah sangat basah. Ini yang
saya senangi dari gadis Cina. Cepat basah dan SANGAT
basah.
"Kamu jangan nakal ya, ayo dong buruan", katanya. Saya hanya
senyum saja. Tanpa ngomong lebih lanjut, kedua tangannya membuka celana
saya dan merogoh kedalam. Tangan saya menarik celana dalamnya dan
melemparkannya kesamping tempat tidur. Kali ini saya berhadapan dengannya.
Tangan kanan saya pada dadanya, dan tangan kiri saya pada
selangkangannya.
Tangannya melepaskan celana saya dan mulai
merangkul tengkuk saya. Kepala saya ditarik sehingga bibir kami saling
beradu. Dia menciumi saya dengan penuh nafsu. Lidahnya masuk kedalam
mulut saya bagai lidah ular. Tiba-tiba saya melepaskan diri darinya dan
bangkit dari tempat tidur. "Kenapa ?" katanya. Saya bilang saya punya
permainan baru. Dengan sebuah kain hitam saya menutup kedua
matanya.
"Tunggu saya buka pakaian" kata saya.
Dia diam saja. Saya diam-diam mengambil tali. Lalu dengan sedikit memaksa
saya ikat kedua tangannya dibelakang punggungnya. Karena bingung dia
mulai menjerit dan menendang. Karena kedua tangannya telah terikat
kebelakang, saya hanya cukup memegang kedua kakinya. Dengan posisi saya
diatas dan dia dibawah, saya melakukan penetrasi. Mengira bahwa inilah
permainannya, dia tidak melawan lagi. Dari mulutnya hanya terdengar desah
nafas.
Saat dadanya mengeras dan nafasnya makin cepat saya tahu dia
akan mencapai orgasme. Saya hentikan dan keluarkan punya saya. Dia mulai
marah. "Kamu maunya apa sih, lepasin ikatannya sekarang" hardiknya.
Saya diam saja. Saya tidur dibawah dan menempatkan dirinya diatas saya
dengan posisi membelakangi saya. Dia cepat tanggap. Dengan bantuan saya
dia mulai naik turun hanya dalam beberapa detik.
Dia
melakukannya dengan cepat sekali. Tampaknya dia sudah kepengen keluar.
Rambutnya yang panjang saya tarik kebelakang. Dia jatuh tertidur disamping
saya. Alat saya terlepas darinya. Kali ini ia mulai menangis. Dia memohon
agar diberi kesempatan untuk orgasme. Saya bilang saya akan berikan asal
dia menurut mulai sekarang. "Baiklah...", katanya.
Kemudian dia
saya suruh berlutut ditempat tidur. Ikatan pada kedua tangannya saya
lepaskan. Tapi kali ini tangan kirinya diikat pada pergelangan kaki kiri
dan tangan kanannya diikat pada pergelangan kaki kanan. Dia pasrah saja
sekarang. Tidak melawan sedikitpun. Hanya sesekali masih terdengar
isakan dari mulutnya.
Kemudian saya mengambil kondom. Saya bukan
mau melakukan safe sex. Saya punya ide lain. Saya ambil juga jelly yang
biasa dipakai bila pihak wanita susah mengeluarkan cairan untuk
mempermudah penetrasi. Saya pasang kondom pada tempatnya, lalu saya lumasi
dengan jelly.
"H(nama saya), kamu ngapain ?" katanya pelan, seakan
takut kalau saya marah. "Tunggu manis", kataku. Kemudian saya menyelipkan
diri diantara kedua kakinya. Kembali ia menunggangi saya dengan tubuh
membelakangi saya. Dia terkejut saat menyadari apa yang akan saya lakukan.
Salah satu tangan saya memegang pinggangnya, dan tangan yang lain
mengarahkan alat saya ke pintu masuk bagian belakang.
"Stop, H,
jangan..," katanya setengah berteriak. Dia berusaha meronta, tapi tidak
ada gunanya. Posisi terikatnya dia sangat efektif untuk mencegahnya
melawan. Saya sudah memperhitungkannya sebelumnya. Tidak lama, alat saya
sudah setengah tenggelam. Tangan kanan saya masih pada pinggangnya,
sementara tangan kiri saya bermain pada kemaluannya. Saya biarkan beberapa
saat sampai ia merasa biasa.
Karena adanya rangsangan, ia mulai
tenang kembali, berkonsentrasi agar segera bisa orgasme. Perlahan saya
melanjutkan usaha saya. Kali ini sudah tenggelam tiga perempat. Kemudian
tangan kiri saya meninggalkan selangkangannya dan bersama-sama dengan
tangan kanan saya, saya mulai menarik turunkan tubuhnya. Ia mengerang
kesakitan.
Mungkin karena marah bercampur kesal kepada saya, dia
tidak berkata apa-apa. Dia mengatup bibirnya yang seksi kuat-kuat. Hanya
terkadang terdengar juga erangannya bila dia sudah tidak kuat menahannya.
Tidak sampai lima menit, dia mulai tenang. Nafasnya memburu, malah kali
ini dia yang melakukannya sendiri. Naik dan turun. Masih belum cepat,
mungkin masih terasa sakit.
Sempit sekali dan nikmat sekali. Tidak
lama dia mulai mempercepat gerakannya. Saya mulai khawatir bila saya
keluar duluan. Terlalu sempit, jadi gesekannya sangat terasa. Biar
bagaimanapun saya ingin dia menikmati permainan ini juga. Karenanya
tangan saya mulai meremasi kedua payudaranya bergantian serta bermain
dengan kemaluannya.
Kepalanya ditengadahkan keatas. "Oh, oh",
katanya tersendat-sendat. Rambutnya dikibaskan ke kiri dan ke kanan. Hal
ini berlangsung terus hingga pada suatu ketika dia setengah menjerit,
tubuhnya mengejang. Saya tarik tubuhnya sehingga rebah diatas tubuh
saya. Kepalanya disamping tubuh saya. Saya lumat bibirnya dan lidah saya
bermain didalamnya, dia membalas dengan ganas.
Tangan saya mendekap
tubuhnya erat ke saya. Tangan kiri saya mulai mengelusi klitorisnya.
Tubuhnya meronta ke kiri dan ke kanan bagaikan binatang liar yang terluka.
"Ssshhh", kata saya mencoba menenangkannya. Tetapi ia tidak mau diam.
Orgasmenya berlangsung sekitar 4 menit tanpa berhenti. Saya sendiri belum
keluar.
Saya bangun perlahan. Melepaskan penis saya dari
cengkeraman pantatnya dan melepaskan kondom. Kemudian menyorongkannya ke
bibirnya. Menyadari bahwa saya belum keluar. Dia mulai melakukan oral
seks. Tidak lama saya keluar dalam mulutnya. Dia telan
semuanya.
Saya lihat jam menunjukkan pukul 22:45 malam. Gila, satu
setengah jam lebih kami bermain. Kemudian saya lepaskan seluruh ikatannya
dan tutup matanya. Matanya masih merah bekas menangis di awal permainan
kami tadi. Dia bilang, dia sudah pernah membayangkan anal sex sebelumnya,
hanya tidak membayangkan bahwa hal itu akan benar-benar
terjadi.
|
|