|
FOTOGRAFER AMATIR
Namannya Lia, anak Akademi bahasa di daerah
cihampelas Bandung, itu
cewek yang akan dikenalkan Ivan kepada gue. Gue emang minta
dicarikan
cewek cakep yang bisa dijadikan model untuk latihan fotografi,
waktu
itu Gue lagi hobi berat kegiatan potret memotret, sejak Gue di
beliin
bokap kamera Nikon F4 SLR 35 mm, kemanapun Gue pergi benda jimat
itu
selalu Gue tenteng, objek apa aja Gue jepret! dari botol-botol
sampe
kereta api, nenek-nenek, orang lalu lalang,
gelandangan, pokoknya
apapun menjadi sasaran kamera Gue, kecuali satu.
Motret model bugil!!
NAH...yang satu itu Gue obsesi banget.
Kebetulan
temen gue si Ivan bisa merealisasikan obsesi gue itu. Ngak
tau dia
kenal dari mana tuh cewek pokoknya sore ini dia janji mau bawa Lia
ke
tempat kost gue. Tempat kostku telah Gue sulap menjadi studio dadakan,
2 buah lampu Hensel, 2 buah tripod merk vanguard
dan satu payung
reflektor yang sengaja Gue pinjem dari kampus. Untuk objek pendukung,
aku atur sofa didepan screen warna putih polos, Lia akan
Gue suruh
pose se sensual mungkin.
Di atas sofa iniah urusan sensual nanti dulu deh
pokoknya sebagai
fotografer amatiran aku harus dapatkan hasil yang se-artistik mungkin.
Untuk itu telah Gue siapkan pula 10 rol film merk kodak ektar asa 100.
Kusediakan pula asa 1000 untuk intensitas cahaya rendah. Akhirnya Ivan
datang bersama seorang cewek yang lumayan membuat Gue terpana Tinggi,
rambut pendek sebahu dengan potongan bob, leher panjang,
mengenakan
cardigan warna ungu muda , daleman kamisol warna putih berbahu
rendah
hingga kulit lehernya yang putih membuatku geregetan pingin
nyipok.
kebawah rok mini tipis motif bunga-bunga pokoknya totally good looking
in all side,
"Lia" ucapnya sambil tersenyum manis
banget sambil menyodorkan
tangannya.
"Ridwan" balas Gue, si Ivan emang hapal banget tipe
cewek yang gue
suka.
Gue jadi sangat bersemangat, tapi juga
sedikit grogi saat
berpandangan mata dengan Lia.. matanya itu mak! Magnetizing tapi
Gue
ngak boleh kikuk, untuk memperlihatkan kesan bahwa Gue
udah biasa
melakukan pemotretan model.
"Gini Lia, Ivan udah ngejelasin kan?".
"Iya sih dikit, untuk studi kan?"
"he-eh, tapi gue pingin mastiin lagi elo bener-bener bersedia?"
Lia menangguk pasti.
"tapi gue berhak untuk nyimpen semua filmnya khan?" tanyanya
"deal!".
Gue ngerti banget doi ngak pingin fotonya itu tersebar kemana- mana.
"tapi ini sukarela lho maksud gue karena bukan buat
publikasi jadi
ngakada honor apapun" jelasku, si Ivan mendengarkan serius banget.
"Ngak apa-apa kok gue emang pingin tau rasanya di foto bugil"
ucapnya
manis banget aku dan Ivan saling memandang penuh arti.
Cewek manis ini
menyulut sebatang rokok virginia Slim,
rupanya doi juga seneng
eksperimen
"Gue seneng banget deh, gue janji nanti hasilnya akan gue
kasih ke
elo"
"Udah siap mulai belum?" si Ivan menyela.
"ready do you?" Tanyaku sama Lia.
Doi ngak menjawab tapi memasang pose siap
"Gue harus gimana?" tanyanya.
Tangannya memegang cardigannya seperti hendak dilepasin
"Gini Lia, gue pingin proses, gue pingin elo gue potret
dengan baju
lengkap dulu".
"tapi gue ngak sempet bawa kostum lho?"
"ngak apa-apa, pakaian kamu oke kok" pujiku
Lia tersipu saat aku
memegang bahu Lia sambil membimbingnya ke sofa
"Posenya gimana?"
"terserah kamu make it relax", kemudian Lia duduk dengan manis
di atas
sofa, kedua kakinya dirapatkan, Gue dapat melihat pada saat ia
duduk
rok mininya agak ketarik keatas..
Ivan kusuruh mengatur posisi lampu sesuai
instruksiku, setelah
mendapatkan pencahayaan yang pas, Gue langsung mengambil beberapa shot
manis. Lia melakukan beberapa pose yang cukup manis. Kadang kadang aku
dapat mengintip Celana dalamnya yang berenda
disela-sela pangkal
pahanya. Pada saat ia duduk tepat menghadap kamera, walaupun
pahanya
ditutup rapat tapi seragam rok mininya itu pendek banget.
Aku tak boleh menyia-nyiakan momen seksi itu. Aku jepret abis.
Gayaku
memotret kayak orang pro padahal aku dak-dik-duk juga.
Setengah rol
pertama Lia agak kaku, tapi selebihnya ia mulai luwes. Itupun
setelah
beberapa kali aku ngaturin posenya, lumayan sambil ngelaba-laba dikit.
Setelah satu rol abis aku samperin lagi.
Sambil ku
sibakan rambut
bobnya aku meminta izin Lia untuk melepaskan cardigan ungunya.
Agak ragu Lia membiarkan aku melepaskannya.
Lumayan bikin konak
jugasaat ia keliatan makin seksi dengan cuma mengenakan kamisol
putih
bertali tipis yang mengekspos keindahan kulit bahu
dan lengannya,
ditambah pula rok mini yang bawahnya jauh diatas lutut
syurrr deh.
Seksi banget.
"lo improve aja ya Li" Beberapa shot langsung ku ambil. Walau
awalnya
malu-malu, lama-lama kayaknya ia excited sendiri posenya makin
seksi
Gue memotret sambil mengamati kulitnya yang banyak
terekspos dari
leher, dada, punggung, paha. Busyet putih banget nih anak.
Pose-demi
pose yang di lakukan Lia sungguh apetizing,
membuatku terangsang,
mungkin si ivan juga yang dari tadi pasif ngamatin.
Setelah satu rol abis, aku nyamperin Lia, Lia
memandangiku sambil
tersenyum manis.
"May I?" Tanyaku sambil mencoba melepaskan tali kamisol di
bahu Lia
hingga jatuh. Lia mengangguk.
"kamu kulitnya bagus banget deh" Gue iseng mengusap
kulit lengannya
yang indah Tampaknya doi juga agak hot, aku turunkan lagi tali kamisol
yang sebelahnya Kamisolnya jadi agak turun hingga
belahan toketnya
keliatan jelas.
Emang agak datar sih tapi tetep aja bikin kepala puyeng.
"Sekarang coba kamu lepasin Bra-nya ya?" Pintaku.
"tapi kamisolnya ngak usah dilepas"
Walaupun Lia anaknya cuek
banget,
tapi pas dia nyoba ngelepasin Bra-nya, ia keliatan agak grogi,
sambil
ngeliatin kita berdua yang juga lumayan tegang..
"ngak ahhgue ngak siap" ucapnya.
Kita jadi kecewa deh. si Ivan kini nyamperin Lia dan nyobain
ngebujuk
cewek itu.
"Ayo dong Li..kan kamu udah janji"
"ngak ah malu" pipinya merah merona, sambil mendekap
bahu cewekitu.
Ivan berusaha ngerayu terus
"Kenapa malu"
"Toket gue kecil.." ucapnya lucu.gue langsung gemes sendiri.
"Lho..ngak kok toket elu kan bagus, apa perlu gue
rangsang dulu..?
siivan berhasil megangin toket Lia, lalu diremesin
pelan, pelan,
Liameronta manja
"heii..lo kurang ajar banget deh.."
sambil berusaha ngelepasin
dekapansi ivan.
Ngeliat adegan tersebut gue jadi sirik. Emang sih
si
Ivan pernah bilang. Doi pernah ML sama cewek ini..
"oke deh tapi jangan terlalu di ekspos ya?" pintanya. Sesaat
kemudian
Lia menaruh tangannya ke belakang. Untuk ngelepasin
kaitan BH-nya.
Lalu pelan-pelan dilepasinnya benda berenda tersebut, gerakannya seksi
banget.
Kini gue bisa ngeliat sesuatu berwarna coklat muda mengintip
diantara
tali-tali kamisolnya.
Ngerasa jengah kita
liatin, secara reflex
tangannya didekapkan kedadanya, untuk mengcover
bagian privacynya
Darahku langsung berdesir, indah nian jeritku dalam hati.
"Sekarang gimana?" Ia menunggu
instruksiku, aku perlu waktu
sekiandetik untuk meluruskan kembali fikiranku
yang udah ngeres
banget.
"Gini dehkamu topangin lengan kamu ke sandaran sofa"
"Begini"
"agak bungkuk dikit" aku menghampiri Lia lalu
memegang punggungnya
yang terbuka, lalu dengan lembut membimbing lia agar
bahunya lebih
condong kedepan, dengan begitu gue dapat ngeliat toketnya yang
mungil
dan putih menggelantung, karena keapit dua lengannya, celah
toketnya
terlihat sangat jelas, sekilas tampak toketnya seperti besar,
putting
susunya mengintip samar-samar dari balik kamisolnya.
"Ya begitu" Lia tersenyum manis banget
menghadap kamera, rambut
sebahunya jatuh kedepan menutupi sebagian wajahnya yang
cantik.
Gue
beraksi dengan kameraku, mengambil pose-demi
pose yang sangat
merangsang.
"Kamu oke banget deh Li..coba pose lo lebih seksi lagi ya?"
"kayak gimana lagi sih? Arahin dong.." pintanya, aku menyuruh
Lia agak
rebah di sofa kemudian kedua lengannya ku angkat
hingga posisinya
memegang belakang kepalanya.
Sambil pura-pura serius mengarahin, aku ngelaba lagi
mengelus-elus
kulit nya yang mulus aku ngeliat putting susunya tercetak dibalik kain
kamisolnya.
"kamun seksi banget deh.." desisiku ke
kupingnya sambil merapikan
poninya
"thanks" ucapnya pelan
"Yang hot ya?" pintaku, Lia tersenyum malu-malu.
Gue kembali kebelakang kamera.
Lalu Lia beraksi lagi. Kedua
tangannya
tetap ngangkat sambil memainkan
rambutnya, lalu ia sedikit
menggeliat... keteknya bersih banget hampir ngak ada bulunya..
shot
demi shot aku ambil. Motordrive yang ku
setel 2 shot perdetik
memboroskan isi filmku. Lia nampak makin improve
kakinya dinaikan
keatas sofa hingga rok mininya ketarik.
Aku dan Ivan melihat dengan jelas bagian bawah pahanya sampai
pantat.
segaris celana dalam putih itu beberapa kali terlihat diantara
celah
kakinya. Busyet bener-bener bikin kita konak Gue ngak
kefikir lagi
untuk ngatur cahaya dengan light meter saku, pokoknya
segala macam
teori kompensasi cahaya sudah hilang dikepalaku karena otakku setengah
sadar setengah konak.
Tapi aku ngak perlu khawatir karena aku
mengandalkan kecanggihan
kameraku yang bukaan lensa serta speednya gue set mode auto.
Minimal
hasilnya standar, ngak akan terlalu overlighting atu
underlighting.
Lagian pengukur cahaya dengan sistem matrix yang sudah built
up di
kameraku sudah cukup akurat. Gue suka banget saat Lia
membelakangi
kamera, wajahnya menoleh sambil tersenyum manis kakinya naik
keatas
sofa, tanganya memeluk sandaran.
Aku suruh Lia agar Posisi bodynya agak nungging biar pinggulnya benar-
benar terekspos frontal ke kamera. Makin ku suruh
nungging, roknya
makin ketarik abis hingga celana dalamnya makin
keliat lagi dari
belakang.
Memeknya tercetak jelas dibalik
cdnya. Aku langsung
mengambil beberapa close-up kearah tersebut.
Lampu sorot dan
pemandangan body Lia membuat aku dan ivan berkeringat Rasanya gue ngak
sanggup lagi untuk cuman motretin namanya juga bukan profesional
"Tahan posisinya ya Lia" Gue nyamperin Lia lagi
yang masih posisi
nungging. Ku singkapkan roknya sampai keatas
banget lalu dengan
nekatku raba-raba pantatnya yang seksi itu.
"sori ya Li abis lo bikin gue kerangsang.."
"Lia senyum tertahan" ngeliat tampang Lia
yang juga udah mesum,
tanganku meraba mulai dari bagian dalam paha sampai pantatnya.
Kemudian nyelip ke celah memeknya Lia juga kayaknya udah hot dari tadi
begitu gue sosor ia langsungbereaksi postif.
"Gue lepasin CD-nya ya?" Lia ngak menjawab, lagi-lagi cuma
tersenyum,
wajahnya merah.
Tanpa ragu gue pelorotin celana dalam
warna putih
tersebut, sampai kelututnya Memeknya kini begitu
jelas terpampang
didepan muka gue. Biar Lia ngak canggung, gue pegangin tuh meki,
gue
usap-usap.
Lubang vaginanya udah basah banget, rambutnya hitam dan
setengah di
cukur Sementara dibalik jeans. Batang
kemaluan gue udah sangat
mengeras. Lia gua suruh untuk tetap nungging.
Wajahnya gue suruh
ngeliat kamera lalu gue jepret lagi sampai rol terakhir..
"Please jangan potretin lagi deh" pinta Lia.
Doi merapatkan kedua pahanya agar kita ngak bisa ngeliat lagi mekinya.
Rupanya doi sadar bahwa doi terlalu nekat. Tapi
gue udah seratus
persen konak harus dilepasin. Hanya itu kini yang ada di otakku.
Gue
berbisik ama si Ivan bahwa gue ingin cumbuin Lia, Ivan ngerti walaupun
berat hati dia ninggalin kita berdua ke luar ruangan. Bilangnya
sama
si Lia cari udara segar dulu. Tapi kayaknya si Lia ngerti maksud
gua.
Doi tersenyum. Saat gue samperin, Doi seperti menunggu. Gue
deketin
wajah gue, lalu doi memberikan bibirnya yang merekah untuk gue
sosor.
Tangan gue langsung menyergap toketnya, lalu
kuremas-remas dengan
membabi buta, sementara gue merasakan jemari Lia menyusup
ke dalam
celana jeansku.
Dengan cekatan doi ngelepasin risluiting, lalu
mengeluarkan batang
kejantanan gue dikocok-koconya dengan gencar..
sementara lidahnya
menelusuri rongga-mulutku dengan penuh napsu. Busyet! Ganas juga cewek
ini, dalam hati. Mengikuti permainannya yang keras,
gue pergencar
remasan tangan gue ke toketnya, putingnya
gue pilin-pilin. Ngak
berhenti disitu, gue rogoh selangkangannya, roknya masih
melekat di
tubuh, telunjuk dan jari tengah gue, gue susupin jauh ke dalam
lubang
memeknya yang udah licin banget.
Body doi menggelinjang saat jari gue ngocok-ngocok, begitu klitorisnya
gue pilin-pilin, doi makin kelojotan kayak orang histeris,
tampaknya
doi orgasme, gue ngak nyangka ternyata cepet juga klimaksnya.
Babak
berikutnya dia Isep batang kemaluan gue, kalo ngeliat tampangnya
yang
agak melankolis, gue ngak nyangka kalo doi se liar itu. Seluruh batang
gue, di telen abis ke mulutnya yang kecil mungil lalu disedotnya
bak
vacuum cleaner, kadang-kadang dikeluarin
lagi, lalu lidahnya
ngejilatin dari ujung topi baja gue, turun ke buah peler, lalu
yang
bikin gua kaget dia jilatin juga lubang anus gue.
Kalo gue ngak terlatih ngontrol orgasme, mungkin ngak akan
nyampe 3
menit di treat seperti itu, tapi diserang
abis-abisan kayak gitu
akhirnya gue bobol juga. Gue muntahin sperma gue
diatas permukaan
kulit wajahnya yang mulus kayaknya doi juga puas, bisa bikin gue KO.
Beberapa hari kemudian, sesuai dengan janji gue, hasilnya gue
liatin
dan filmnya gue kasihin ke Lia, Dan doi kecewa bo! karena saat filmnya
gue proses, tentu saja gue proses kamar gelap sendiri, karena gue ngak
berani untuk ke lab foto, takut beredar diluar kontrolku.
Dari lima rol, dua rol gagal. Cairan developernya terlalu kuat.
(gue
emang nekat nyoba padahal masih belum bisa, modal
teori aja ngak
cukup. Sementara sisanya berhasil gue cetak hitam putih, dengan
hasil
yang juga menyedihkan. Pencahayaannya berantakan.
Tapi
kegagalannya
bukan pas saat motret tapi emang proses kamar gelap yang asal-asalan.
"ngak-apa-apa deh paling engak fotonya ngak akan
beredar" katanya
datar. Doi emang ngaku nyesel dipotretin bugil begitu.
Semua hasil
fotonya doi simpen semua termasuk yang ada di tangan gue. Guepun
ngak
nyesel-nyesel banget. Yang penting gue puas motretin doi
dan yang
paling penting lagi. Disepongin doi
|
|