Elang

[ Masa Kecil ]

Masa Kecil Aku dilahirkan di sebuah kampung kecil di pusat pulau Kalimantan. Untuk menuju ke desaku, dari ibu kota provinsi, kita harus memakai kapal yang di daerahku disebut motor bandung, selama tiga hari tiga malam. Kemudian dari kota kabupaten, tempat kapal berlabuh, kita harus berjalan kurang lebih delapan jam. Bayangkan saja jauhnya kampungku. Ayahku seorang kepala kampung, tapi jangan bayangkan kepala kampung di daerahku seperti kepala kampung di Jawa yang kaya-kaya. Aku anak pertama dari lima bersaudara, tiga cowok dan dua cewek. Selain kepala kampung, ayahku termasuk salah seorang panglima suku ----- (nama suku). Kami tinggal di sebuah rumah panjang, yaitu sebuah rumah besar dengan banyak kamar, dan tiang-tiang besar. Lantai rumah letaknya sekitar tiga meter dari atas tanah. Kamar-kamarnya terbagi beberapa bagian, ada yang untuk anak-anak, remaja putra, remaja putri, dan orang yang telah berkeluarga. Kehidupan kami sangat sederhana, maklumlah, kami tinggal di dalam hutan. Untuk ke sekolah di sebuah SD yang didirikan ----------- (nama orang / kelompok yang bertugas menyebarkan agama sampai ke pedalaman) saja, aku dan saudara-saudaraku harus berjalan sejauh tiga kilometer.

Tapi kami senang dapat bersekolah. Aku lumayan nakal dan badung, sehingga mendapat gelar "warik" dari paman-pamanku, yang artinya kera nakal. Setelah aku naik kelas lima SD, aku mulai merasa kalau aku hanya akan sekolah sampai kelas 6 SD saja. Karena untuk sekolah di SMP aku harus meninggalkan kampungku. SMP hanya ada di ibukota kabupaten. Aku sedih sekali, karena aku ingin mendapat ilmu yang lebih tinggi lagi. Dan, aku pun merasa aku cukup pintar karena selalu menjadi juara kelas sejak di kelas satu. Suatu hari aku mengatakan keinginanku untuk dapat melanjutkan pendidikan. Ayahku terdiam memandangku, lalu hanya berkata dia akan mencari jalan keluar untukku. Tapi sampai aku sudah di kwartal akhir kelas enam, tidak ada khabar baik dari ayah. Tiap aku bertanya beliau hanya menyuruhku bersabar. Aku mulai bosan dan berhenti untuk bertanya. Ya, kurasa kesempatanku telah habis. Akhirnya aku lulus SD dengan nilai yang sangat memuaskan. Ayahku hanya memandangku dengan bangga. Aku menyimpan ijasahku baik-baik, walaupun aku tak tahu akan jadi apa ijasah itu. Aku berpikir, memang jalan hidupku harus tetap di sini, di tengah hutan belantara ini bersama keluarga besar suku-ku. Hari-hari kuisi dengan bermain dan membantu orang tuaku di ladang. Aku pun tidak berpikiran lagi untuk melanjutkan pendidikanku. Musim panen datang. Ayahku dan pamanku ke kota menjual hasil pertanian kami yang tidak seberapa. Mereka membawa juga babi dan ayam, ternak peliharaan kami. Seminggu kemudian mereka baru kembali.

Saat ayah pulang, dia membawa oleh-oleh untuk adik-adikku yaitu buku-buku baru, sebab dua adikku masih sekolah. Aku memandang hadiah itu dengan mata berkaca-kaca. Bukan karena tak ada oleh-oleh untukku, tapi karena aku merasa iri. Aku tidak akan sekolah lagi. "Maaf, Lang. Ayah tidak membelikan oleh-oleh untukmu." Kata ayahku dalam bahasa daerah kami, ----- (nama suku) Punan. "Tidak apa-apa, ayah." Jawabku lirih. "Ayah capek sekali, maukah kau memijatkan kaki ayah?" Aku mengangguk. Kami pun menuju ke dalam kamar. Ayah menyuruhku membawa tas pakaiannya juga. Ayah pun berbaring tengkurap. Aku mulai memijitinya. Ayah memang sangat lelah setelah berjalan jauh. Ayah tertidur sambil terus kupijati. Saat aku merasa sudah cukup lama memijat ayahku, aku lalu berdiri hendak pergi. "Lang. Mau kemana?" "Eh, belum cukup ya, Yah?" "Tidak, sudah. Enak." Ayahku tersenyum, "Mau kemana kamu?" "Memotong kayu bakar, Yah." "Kesini dulu." Ayahku duduk dan melambaikan tangan kepadaku, menyuruhku duduk di sampingnya. Aku menurut. Ayah membelai kepalaku. "Kamu marah kalau Ayah tidak membawakan apa-apa untuk kamu?" "Tidak Ayah." "Baguslah. Kau memang anak yang baik. Jubata (Dewa) akan senang mendengarnya." Ayah masih membelai kepalaku dengan penuh kasih sayang. "Coba kamu ambil tas Ayah tadi." Aku bergerak, mengambil tas ayah. Ayah mengeluarkan sebuah kantong plastik putih, mengeluarkan sebuah bungkusan kertas koran. "Ini, bukalah." Aku ragu-ragu membukanya, ayah tersenyum memandangku, lalu mengangguk. Aku pun membukanya, dan … Di dalamnya ada mimpi-mimpiku! Dua pasang baju putih biru dan sepasang seragam pramuka baru! Mataku berbinar-binar….., menatap ayah dengan panjang tak percaya. "Elang, Elang bisa sekolah, Yah?" tanyaku terbata-bata. Ayah mengangguk. "Benar Yah?" "Ya." Aku senang sekali. Tapi kemudian terdiam. "Tapi di sini tak ada SMP, Yah." "Kau akan sekolah di kabupaten. Ayah bertemu seorang ------ (gelar keagamaan) yang mau menampungmu." Aku melompat, berteriak kegirangan. "Aku sekolaaaah! Aku sekolah lagiiiii!!!"

Rumah panggung itu nyaris runtuh karena teriakanku. Beberapa sesepuh menjerit-jerit, ada pula yang marah. Aku tak peduli, dengan menggenggam baju seragam baruku, aku berlari keluar kamar ayah, berlari di sepanjang rumah panggung keluargaku, lalu turun menggunakan tangga dari batang kelapa, berlari dengan gembira menuju halaman rumah panjang. Aku masih berteriak. "Elang sekolah…! Elang sekolah lagi!!!" Aku berlari-lari mengelilingi halaman, diikuti adik-adikku yang terheran-heran, namun membuntuti belakangku. Orang-orang yang sedang bekerja di ladang memandangku kebingungan. Aku tak peduli, aku tetap berlari-lari. Hore! Elang sekolah lagi!!! Keesokan harinya ayah mengajakku ke kota. Perjalanan delapan jam dengan berjalan kaki itu tidak kurasakan lelahnya. Yang kurasakan adalah lamanya waktu. Aku ingin segera ke kota (aku belum pernah ke sana), aku ingin melihat sekolahku yang baru. Aku tak sabar lagi! Akhirnya sampai juga aku di rumah ------ (gelar keagamaan) yang akan menampungku. Dia seorang laki-laki setengah baya berasal dari Flores, namanya Mar--- (samaran). ------ (gelar keagamaan) Mar--- orangnya ramah, tinggal dengan seorang anak laki-laki yang lebih tua dua atau tiga tahun dariku. Ayahku pun meninggalkan aku di sana. ------ (gelar keagamaan) Mar---lah yang akan memasukkan aku di sekolah yang kebetulan dia menjadi pemimpin yayasannya. ------ (gelar keagamaan) itu pula yang meng-------kan (nama agama) aku dari aliran kepercayaan kami, suku ----- (nama suku) . Dengan sedikit rasa haru, ayah melepaskanku. Aku berjanji kepada ayah untuk rajin belajar. Sejak hari itu aku tinggal dengan ------ (gelar keagamaan) Mar---. Aku membantunya mengurus rumah dengan Di--, yang telah lebih dulu tinggal di situ. Di-- anak ----- (nama suku) juga, hanya beda suku denganku. Anaknya pendiam dan agak pemalu. Tingkah lakunya seperti perempuan, begitu pikirku. Aku menempati sebuah kamar dengan Di--, sedang ------ (gelar keagamaan) Mar--- di kamar lainnya yang letaknya agak ke belakang, di dekat ruang makan. Hari demi hari berlalu, ayahku rutin mengunjungiku sebulan sekali, terkadang dengan ibuku. Untuk memberi uang dan oleh-oleh dari kampung.

Aku gembira kalau ayah datang, karena aku rindu rumah. Namun tekadku untuk menjadi orang pintar dan berpendidikan menghapus semua itu. Tak aku rasa sudah hampir empat bulan aku tinggal bersama ------ (gelar keagamaan) Mar---. Aku disuruhnya untuk selalu mengikuti sekolah ------ (nama hari) di ------ (tempat ibadah) kecil tak berapa jauh dari rumahnya. Aku mulai banyak kenal jemaat ------ (tempat ibadah) yang ada di sana. Beberapa orang sangat baik kepadaku, salah satunya keluarga Pius, yang bekerja di kantor pemda. Mereka sering memintaku membantu di rumahnya. ------ (gelar keagamaan) Mar--- selalu memberikan aku ijin untuk membantu mereka. Pak Pius dan istrinya suka memberiku uang kalau mereka menyuruhku. Aku senang saja. Suatu malam, aku sedang tidur dengan Di-- di kamar kami. Di tengah malam, tiba-tiba kurasakan ada yang meraba-raba tubuhku, membuat aku terjaga. Perlahan kubuka mata, ternyata Di--. Tangannya menggapai-gapai, meraba setiap lekuk tubuhku. Aku kaget. Tangannya semakin berani, berusaha menggapai kemaluanku. Gila! Anak laki-laki ini hendak berbuat tidak senonoh kepadaku. Dengan sekuat tenaga kutendang dirinya. Tepat di selangkangannya. Dia menjerit. Aku berdiri. Di-- mengerang kesakitan. "Ada apa, ada apa?" ------ (gelar keagamaan) Mar--- masuk ke kamar kami. Beliau menyalakan lampu di kamar.

Memandangku yang berdiri tegak dengan mata marah, dan Di-- yang sedang meringkuk kesakitan. "Ada apa Elang? Di--?" Kami hanya diam. ------ (gelar keagamaan) Mar--- memandangku. "Kamu apakan Di--, Lang?" "Saya…, dia meraba-raba saya, ------ (gelar keagamaan)." "Dan kau tendang dia?" "Ya." ------ (gelar keagamaan) Mar--- hanya menggelengkan kepalanya. "Saya tidak mau sekamar dengan Di-- lagi." Kataku. "Lalu kau mau tidur dimana?" "Biar saya tidur di lantai di ruang tamu." Kataku. "Sudahlah. Malam ini kamu tidur saja di kamar ini, Di-- biar di kamar saya." Aku pun menurut, Di-- dipapah ------ (gelar keagamaan) Mar--- ke dalam kamarnya. Setelah mereka berlalu. Aku berbaring diam di atas ranjang. Mataku tak dapat tidur lagi. Pikiran bocahku bertanya-tanya apa maksud Di-- meraba-rabaku. Entah kenapa aku merasa jijik padanya. Walaupun aku tak mengerti, tapi aku merasa ada yang salah dengan hal itu. Aku memang biasa melihat orang diraba-raba, waktu aku masih tinggal di rumah panjang. Terkadang juga suara-suara orang yang seperti sedang kesakitan. Tapi yang saling meraba itu (aku pernah beberapa kali mengintip) adalah pasangan suami istri. Paman-pamanku dan istri mereka. Dan aku menyenangi apa yang mereka lakukan. Tanpa kusadari terkadang aku ereksi. Tapi kali ini, mengetahui seorang lelaki merabaku. Aku merasa jijik. Aku semakin tak bisa tidur. Pikiranku kemana-mana, bertanya-tanya. Apa ini? Setengah jam aku tak dapat tidur, aku merasa haus. Segera aku beranjak, dengan berjingkat menuju ruang makan untuk mengambil minuman. Saat lewat di depan kamar ------ (gelar keagamaan) Mar---, kudengar tempat tidurnya berkereot-kereot. Aku acuh saja, pikirku lasak sekali tidurnya hari ini.

Selesai minum aku kembali ke kamarku. Melewati kamar ------ (gelar keagamaan) , suara kereot-kereot itu makin keras, dan terdengar rintihan-rintihan. Seperti rintihan yang beberapa kali kudengar di rumah panjang. Rasa ingin tahuku memuncak, aku mendekati kamarnya. Telingaku kutempelkan ke pintu. Suara rintihan itu makin terdengar jelas. Dari lubang kunci aku mengintip. Ya ampun! Pemandangan lewat lubang kecil itu membuat aku negh! ------ (gelar keagamaan) Mar--- dan Di-- telanjang bulat, berciuman dan saling meraba. Kejantanan keduanya diadu. Aku mengintip terus walaupun merasa aneh. Ada rasa yang membuatku mual. Setelah beberapa lama, mereka tidak berciuman kembali. Di-- menungging dengan kakinya terbuka lebar. Lalu dengan tangannya Mar--- (aku males menyebutnya ------ (gelar keagamaan) lagi, dengan kelakuannya ini) membuka pantat Di--. Senjatanya di arahkan ke anus pemuda itu. Mereka berdua melenguh saat kejantanan Mar--- yang tidak terlalu besar itu disorongkan ke dalam lobang kotoran Di--. Aku hampir muntah! Tapi aku masih terus memperhatikan perbuatan mereka. Mar--- menggerak-gerakkan pantatnya maju mundur. Di-- mengcengkeram seprei tempat tidur. Keringat mengucur dari tubuh mereka. Wajah Mar---, yang kulihat dari samping, menegang, matanya melotot. Kontras sekali tubuh Mar--- yang hitam itu dengan Di-- yang kuning. Mar--- terus memasuk dan mengeluarkan kejantanannya dari anus Di--. Saat dia akan mengeluarkan spermanya dia mengeluarkan kejantanannya dan semburan gumpalan putih itu menimpa punggung Di--. Lalu, Gedubrak!!! Pintu terbuka.

Dorongan tubuhku telah membuat daun pintu terbuka lebar. Aku kaget! Mar--- dan Di-- terlebih lagi. Kedua laki-laki telanjang bulat itu memandangku. Aku membuang muka. Sesaat tidak ada yang mengeluarkan suara. Sampai akhirnya, Mar--- tersenyum kepadaku. Senyum yang membuatku mual sejadi-jadinya. "Mau bergabung Elang? Saya ajarkan sesuatu untukmu." Aku tidak menjawab, hanya membalik badan dan kembali ke kamarku. Salah! Ini semua salah! Aku kunci pintu kamarku. Malam itu aku tak dapat tidur. Sejak malam itu aku tak pernah menegur mereka. Aku selalu menghindar. Waktuku kuhabiskan di rumah Pak Pius. Aku tak bercerita kepada mereka. Waktu empat hari kemudian ayahku datang, dia kuceritakan. Kontan ayahku menyuruhku pindah. Tapi kami bingung harus kemana. Aku ingat Pak Pius. Kami pun ke sana. Tanpa mengatakan ceritaku, ayahku memohon Pak Pius untuk mengijinkan aku tinggal di rumahnya. Pak Pius mau saja, tapi tidak ada kamar yang tersisa. Aku bilang, tidur di dapur pun tak mengapa. Aku pun akan mengabdi, menjadi pembantu di rumahnya. Untunglah Pak Pius mau menerimaku. Kebetulan dia tidak punya anak sebesarku, anaknya masih kecil-kecil, tiga orang. Sejak hari itu aku tinggal di rumahnya. Aku pun tak pernah pergi ke ------ (tempat ibadah) Mar---, aku memilih pergi ke ------ (tempat ibadah) yang satunya lagi, yang jaraknya dua kilometer dari rumah. Pak Pius tahunya aku tak pernah lagi ke ------ (tempat ibadah). Biarlah.

Aku tak menyangka Mar--- yang ------ (gelar keagamaan) itu bisa melakukan itu, bukankah dia pemimpin agama di daerahku? Kenapa? Bukankah dia harusnya dapat menahan nafsu duniawinya? Bukankah dia hanya membaktikan dirinya kepada Tuhannya? (maaf, kepada yang seiman, aku tidak bermaksud sara atau menyinggung kalian. Aku hanya menuliskan kenyataan. Mar---, sudah bukan lagi 'imam' bagiku.) *** Pak Pius dan ibu sangat baik kepadaku. Entah mengapa, aku disuruhnya tidur di sebuah kamar kecil, dengan pembantunya. Kali ini perempuan berusia sekitar 18 tahun. Namanya Yani, gadis Melayu berkulit hitam manis. Dia sudah dua tahun tinggal dengan Pak Pius. Orangnya tidaklah cantik, tapi tubuhnya bagus. Aku memanggilnya Kak Yani. Dia baik dan suka membantuku. Ternyata dia pernah bersekolah sampai tamat SMP. Kerjanya membersihkan dan membereskan rumah Pak Pius yang tidak terlalu besar, mencuci pakaian, dan memasak. Hanya itu. Sehingga waktunya cukup banyak untuk membaca. Dia suka membaca. Terkadang novel-novelnya Freddy S, Abdullah Harahap, dan Montingo Busye. Juga Nick Carter. Aku tak diijinkannya membaca novel-novel stensilan itu. Dia hanya memberikan Kho Ping Hoo untukku. Aku tak protes. Mulai saat itu aku menyukai Pendekar Mata Keranjang dan sejenisnya. Setiap siang sepulang sekolah, sambil mengembalakan tiga ekor sapi milik Pak Pius, aku membaca Kho Ping Hoo. Sesekali aku ingin juga membaca novel lainnya, tapi kak Yani tak pernah mengijinkan aku menyentuh apa lagi membaca novel-novel itu. Rasa penasaranku pun bertambah. Suatu siang sepulang sekolah, rumah tampak sepi.

Kak Yani tidak ada di rumah. Sedang disuruh mengobras kain, kata Bu Pius. Aku pun makan. Setelah makan, aku beristirahat di dalam kamar. Saat mataku melihat lemari Kak Yani yang terbuka –biasanya selalu dikunci-, aku tergerak untuk mencari novel yang disembunyikannya. Beberapa buah novel ada di situ. Kuambil Nick Carter. Kubaca bagian depannya, aku memutuskan untuk tidak tertarik membacanya. Kubolak-balik halamannya, ada bagian yang ditandai. Aku tergerak untuk membacanya. Degh! Jantungku berdebar kencang. Membaca halaman itu. Tertulis di sana cerita tentang Nick Carter yang sedang menyetubuhi seorang wanita Rusia –sayangnya aku lupa judulnya-. Aku terus membacanya, jakunku yang mulai tumbuh bergerak-gerak menelan ludah. Aku yang masih bocah terus membacanya. Muka dan kepalaku memanas. Tanpa sadar tanganku menggosok bagian kelaminku. Mengelus-elus si kecil yang telah bangun. Aku mulai merasakan kenikmatan. Tiba-tiba terdengar suara sepeda yang disandarkan ke dinding. Kak Yani! Aku segera menyudahi keasyikanku. Kumasukkan kembali novel-novel itu. Aku tertarik untuk membacanya lagi nanti. Pantes, pantes Kak Yani tak mengijinkan aku membacanya, pikirku. Jahat, masak cuma dia yang boleh tahu hal-hal semacam itu. Aku pun keluar kamar, menyongsong dirinya. Kak Yani tampak kepanasan. Keringatnya mengucur, bau badannya santer tercium. Bau yang membuat kejantanan kecilku –saat itu masih kecil, khan- langsung tambah kencang. Bau tubuh Kak Yani memang aneh, agak-agak sangit.

Tapi entah kenapa, sangat mengundang gairah lelakiku saat itu. (Nanti waktu aku mulai dewasa, aku malah akan membenci bau seperti itu. Bau kampung!) Besok-besoknya aku tak pernah memiliki kesempatan untuk menggerayangi lemarinya. Kak Yani tak pernah lupa mengunci lemarinya. Aku tak punya keberanian untuk membongkar paksa. Suatu malam, setelah aku kelas dua, setelah hampir setahun di rumah Pak Pius, aku sedang tidur dengan Kak Yani di sebelahku. Aku saat itu berusia hampir 14 tahun. Saat tidur aku merasa ingin kencing. Aku terbangun, tak tahunya tanganku ada di atas dada Kak Yani, sedang tangannya menimpa tanganku itu. Gadis itu sedang tidur dengan nyenyaknya. Pasti dia tak sadar kalau tanganku tanpa sengaja telah terlempar ke tubuhnya. Dapat kurasakan kehangatan dada perawannya. Jantungku berdebar-debar. Kejantananku yang semakin matang terasa mengeras, apalagi karena aku memang ingin kencing. Ingat kalau aku ingin pipis, maka aku dengan perlahan mengangkat tangan Kak Yani dan menarik tanganku. Saat itulah kurasakan pentil susu Kak Yani mengelus punggung tanganku. Ternyata Kak Yani tidak mengenakan bra, -seperti kebanyakan gadis kalau tidur-. Seeerrr, darahku semakin berdesir. Segera saja aku berlalu ke kamar mandi. Pipis. Waktu kembali ke kamar, posisi tidur Kak Yani telah berubah. Kakinya terbuka lebar, sedang kain yang dikenakannya tersingkap.

Pahanya, yang walaupun sedikit gelap namun mulus itu- terpampang jelas dimataku. Samar-samar, dari sinar lampu templok dapat kulihat pangkal pahanya yang tertutup celana dalam putih. Samar-samar kuamati ada sekumpulan rambut di sana. Aku baru kali ini melihat hal seperti ini. Jantungku berdebar kencang. Lama kupandangi selangkangan Kak Yani sampai dia mengubah posisinya. Aku naik kembali ke tempat tidur. Tapi aku sudah kadung tidak dapat tidur. Bolak-balik saja aku di samping Kak Yani. Memandanginya. Dadanya yang membusung turun naik ketika dia menarik nafas. Sepasang putingnya melesak dibalik daster tipisnya. Entah ide dari mana, pelan-pelan tanganku menyentuh dadanya. Mataku kupejamkan, berpura-pura seperti orang tidur. Ternyata Kak Yani tidak terpengaruh. Dia tetap tenang. Perlahan kutekan dadanya, tetap tidak ada reaksi. Aku semakin berani. Kusentuh lagi dadanya yang satu lagi. Benda lembut sebesar apel itu terasa lebih hangat. Kejantananku menegang. Kuingat cerita Nick Carter yang kubaca beberapa waktu yang lalu. Aaaah, aku semakin deg-degkan. Suatu sensasi yang aneh. Antara rasa takut akan ketahuan dan kenikmatan meletakkan tanganku di atas dada seorang dara. Inilah pertama kali aku menyentuh dada seorang gadis, sepanjang umurku. Aku tetap memegang dadanya, sampai aku tertidur dengan damai. Dalam tidur aku bermimpi.

Aku dan Kak Yani berpelukan telanjang bulat di atas ranjang kami. "Bangun! Lang! Sudah pagi." Guncangan dibahuku membuat aku terbangun. Memang aku harus bangun pagi. Mengeluarkan sapi dan menambatkannya di kebun belakang rumah, lalu kemudian mengisi bak mandi. Karena selalu mengisi bak mandi, badanku jadi berisi. Kak Yani selalu membangunkan aku setelah dia memasak air. Aku memicingkan mata, menguceknya dengan tanganku. "Huuuuaaaah." Aku menguap panjang, mengeluarkan bau naga. "Bau, tahu?!! Sana urus sapi." Kak Yani menepuk bahuku sebelum dia bilang, "Astaga…, kamu ngompol ya, Lang?" Aku kaget! Gak mungkin, gak mungkin aku ngompol! Aku memegang celana pendekku di daerah depan. Astaga, memang basah! Aku ngompol? Aku tak percaya. Tapi memang celanaku basah sekali. Hanya saja, rasanya lengket. Baunya pun beda, seperti bau akasia. "Udah besar ngompol. Bikin malu saja." Kata Kak Yani. Aku bersemu merah. "Atau….," Kak Yani memandangku, lalu tersenyum lebar, "Kamu mimpi basah ya, Lang?" "Mimpi basah?" "Iya. Tanda kamu sudah dewasa." Dengan tangannya Kak Yani merasakan kain celanaku. Aku agak risih saat tangannya menyentuh kejantananku. "Benar. Ini memang mani." Kata Kak Yani. Lalu hidungnya mencium tangannya, aku agak heran. "Mimpi apa kamu, Lang?" "Mimpi…" Aku ingat mimpiku, tapi lalu ingat bahwa aku mimpi dengannya, "Gak mimpi apa-apa." "Ya sudah. Yang pasti ini menandakan kamu sudah besar.

Sudah bisa dapat anak." "Emangnya…?" tanyaku heran. "Sudahlah. Nanti juga kamu tahu sendiri." Aku berlalu menuju kamar mandi, membersihkan diri. Saat aku kembali ke kamar, Kak Yani menggodaku. "Mulai sekarang, hati-hati bergaul." Katanya. Aku tersipu malu. "Dan, kamu tak boleh lagi tidur denganku." Katanya lagi. "Iya Kak." Jawabku pasrah. "Cuma bercanda. Masih boleh kok. Kak Yani percaya. Kamu masih kecil dan polos." Katanya. Hari itu, 15 Januari 1980, aku telah menjadi 'dewasa'. Siang itu aku pulang cepat dari sekolah, karena guru sedang rapat. Aku segera pulang. Sesampai di rumah keadaan memang sangat sepi. Aku baru ingat, kalau Bu Pius ada acara di pemda. Anak-anaknya dibawa semua. Aku menuju kamar. Saat menyimpan sepatu di samping kamar, aku mendengar suara perempuan mengerang, mendesah-desah, yang keluar dari dalam kamarku. Aku mengintip dari kaca nako. Ya ampun! Yang kulihat di sana sungguh luar biasa, dan tak akan pernah kulupakan. Di atas tempat tidur, Kak Yani sedang mengenakan baju kaos warna jingga. Hanya itu saja. Tanpa apa-apa. Baju kaos itu pun tersingkap bagian atasnya, menampakkan dadanya yang kemarin malam aku sentuh. Langsung saja kemaluanku membesar, meradang di balik celana seragamku. Aku melihat Kak Yani memegang novel dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya menggosok-gosok bagian rahasia tubuhnya.

Dapat kulihat bulu-bulu yang tumbuh lebat di sana. Mata Kak Yani mendelik-delik, nafasnya terengah-engah. Aku melihat judul novel yang dibacanya. Sampai saat ini masih kuingat. Judulnya Marisa, pengarangnya Freddy S. Kak Yani masih terus menggosok kemaluannya (saat SMA aku baru mengerti itu namanya masturbasi). Saat tangannya beralih meremas payudaranya, terbukalah kewanitaannya. Saat itulah aku pertama kali melihat vagina wanita dewasa. Seeeerrr, kejantananku sakit sekali rasanya. Reflek kuelus sendiri kemaluanku. Rasanya enak, nikmat sekali. Suatu rasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku masih terus mengintip, sampai akhirnya Kak Yani tampak terlonjak-lonjak dari tempat tidur. Erangannya berubah menjadi jerit tertahan. Aku semakin takjub. Saat gerakan liarnya selesai, aku merasakan sesuatu keluar dari kemaluanku. Ooooh, cairan berwarna putih kental keluar dari kepala kejantananku. Banyak sekali, mengotori celanaku. Aku menyumpah-nyumpah. Saat itu sikuku menyenggol rak sepatu. Sepatu-sepatu terjatuh menimbulkan suara berisik. Tempat tidurku terdengar berderak. Kak Yani pasti sedang merapikan dirinya. Aku terdiam terpaku. "Siapa itu?" Tak lama kemudian terdengar suaranya. "Aku, Kak. Aku." Jawabku. "Kau sudah pulang, Lang?" "Ya, Kak. Guru-guru rapat." Kak Yani keluar dari kamar. Telah memakai kain sarung. Aku menutup bagian depan celanaku yang basah dengan tas sekolahku. "Barusan ya?" "Iya Kak." Tampak raut wajah Kak Yani berubah. Kelihatannya dia lega aku tak memergokinya. "Ya sudah, ganti pakaian dan makan. Aku siapkan dulu." Aku masuk kamar, lalu mengambil celanaku. Sedang Kak Yani ke dapur.

Kulihat novel itu ada di atas meja. Kak Yani lupa menyembunyikannya. Setelah aku mengganti celana, aku meraih novel itu. Membolak-baliknya. Saat kudengar langkah Kak Yani, segera kuletakkan di tempatnya. Celana seragamku aku rendam di kamar mandi. Aku menuju dapur, lalu makan bersama Kak Yani. Setelah makan, seperti biasa aku dan Kak Yani menuju kamar kami. Kak Yani mengambil novelnya, hendak menyimpannya di dalam lemari. "Kak. Saya bisa pinjam nggak?" "Ini? Ini bacaan orang besar." "Tapi kan saya ingin tahu. Kelihatannya bagus. Saya belum pernah Kak Yani ijinkan membacanya." Kak Yani menatapku. Lalu berkata; "Baiklah. Kita baca sama-sama." Aku nyaris tak percaya. Kami pun duduk di pinggir tempat tidur. Mulai membaca. Ceritanya mengenai seorang wanita bernama Marisa, yang liar dan haus seks. Ceritanya benar-benar vulgar. Kak Yani nafasnya tak teratur saat membaca bagian yang menceritakan permainan cinta Marisa dengan beberapa laki-laki. Aku memandangnya. Mukanya yang sedikit hitam bertambah gelap. Nafsunya kurasa. "Lang. Sulit ya membacanya?" Memang kami duduk berdampingan, dengan buku dipegang Kak Yani. "Ya." "Kalau begitu, duduklah di pangkuanku." Aku kaget, tapi tanpa berkomentar aku lalu duduk di atas pahanya. Badanku belumlah terlalu besar. Beratku pun saat itu belum sampai 40 kilo. Walau sedikit kesulitan, Kak Yani terus membaca. Aku? Otakku sudah tak mampu lagi membaca. Pikiranku mendadak kosong, ketika punggungku menyentuh dadanya.

Dapat kurasakan kehangatan yang dihantarkannya. Ugh! Kak Yani pun kurasakan menggosokkan tubuhnya ke tubuhku, saat halamannya sudah sampai ke bagian seru. Aku menikmati saja. Kejantananku meronta di balik celanaku, yang saat itu belum terbiasa memakai underwear. Tangan Kak Yani yang kanan mencengkeram pahaku. Terkadang mengelusnya, terkadang mengusap sampai ke pangkal pahaku. Aku membiarkan saja. Kurasakan detakan jantung Kak Yani kencang, seirama dengan detak jantungku. "Berdiri sebentar, Lang." Aku pun berdiri. Kak Yani membuka lebar pahanya. "Capek. Kamu makin lama tambah berat. Duduk di sini saja." Dia menunjuk tepi tempat tidur, di antara pahanya yang terkangkang. Si lugu Elang manut saja. Kami terus membaca. Kali ini sensasi yang kurasakan tidak hanya dada Kak Yani yang menekan punggungku, juga sebentuk gundukan hangat di pangkal pahanya menyentuh pantatku. Otakku terbakar! Tangan Kak Yani pun tetap meraba pahaku. Dengan ragu-ragu, kuletakkan pula kedua tanganku di pahanya. Dia tidak melarang. Aku coba mengusapnya, seiring dengan usapannya di pahaku. Dia tidak melarang. Naluriku menyuruhku untuk menekan punggungku ke dadanya. Dia tak melarang. Malah tangannya mulai menyentuh kejantananku, memegang batangnya. Aku menahan nafas. Aku tak bereaksi seperti saat Di-- -bangsat itu- mencoba menyentuhku. Aku kali ini menikmati sentuhan perempuan dengan tangannya yang lembut ini.

Tangan kak Yani tetap mengelus dan meremas kejantananku dari balik celana. Tanganku pun bereaksi lebih berani, meremas pahanya yang kiri dan kanan. Tekanan dada Kak Yani, beradu dengan tekanan punggungku. Saat ini aku merasakan puber yang sebenarnya. Saat tangan Kak Yani mencoba meraih resleting celanaku, terdengar suara motor bebek memasuki halaman rumah. Bu Pius pulang. Serentak kami berdiri. Berpandangan. Aku salah tingkah. Kak Yani merapikan bajunya. "Sana. Urus sapi." Usirnya kepadaku. Aku pun menurut. Waktu mengambil rumput sapi aku memikirkan semua yang terjadi, segalanya begitu fantastis. Pengalaman yang tak pernah kudapat sebelumnya. Aku mengharapkan segalanya akan terulang kembali. Tapi Kak Yani tak pernah mengajakku membaca bersama lagi. Aku tak berani bertanya kepadanya. Malu. Namun pengalamanku hari itu dengan Kak Yani membuat aku tambah penasaran mengenai seks. Aku ketagihan. Malam-malam, kalau Kak Yani tidur, aku menjelajahi tubuhnya. Dan untungnya, Kak Yani itu kalau tidur seperti orang pingsan. Sulit sadarnya. Jadi aku bisa bebas menyentuh dada dan kewanitaannya. Walaupun masih terhalang oleh pakaiannya. Tapi aku cukup puas. Sekali waktu, dengan berpura mengigau, aku merangkak di atas tubuhnya. Hati-hati sekali aku tiarap di atasnya. Mukaku tepat di antara bukit kembarnya, sedang kejantananku tepat di kewanitaannya. Aku menikmati saat itu. Sensasi yang kurasakan bertambah dengan rasa takut ketahuan. Kejantananku menekan kemaluannya, tergadang kugosok-gosokkan. Kak Yani tetap tak sadar. Setelah belasan menit melakukan itu, kejantananku menyemburkan spermaku. Membasahi celanaku, juga sedikit membekas di daster Kak Yani. Paginya aku takut-takut, kalau-kalau Kak Yani tahu ada sisa sperma di dasternya. Untung sisanya telah mengering. Sejak malam itu, setiap malam aku melakukan hal itu. Terkadang kupikir Kak Yani tahu, tapi dia membiarkan saja.

Masalahnya aku pernah merasa bagian bawah tubuhnya berdenyut-denyut saat kutimpa, dan tangannya –seperti orang tidur biasa- merangkulku, dan detak jantungnya keras dan cepat. Karena dia tidak pernah menyinggung hal itu, aku biarkan saja. Sampai satu hari kudapati Kak Yani muntah-muntah di kamar mandi. Bu Pius mencemaskan keadaannya. Dengan segera Bu Pius membawanya ke dokter. Kabar yang dibawanya dari dokter membuat seisi rumah tersentak. Kak Yani hamil dua bulan!!! Bukan, bukan aku yang melakukannya! Mana bisa. Kami tak pernah bersetubuh. Lalu siapa? Pak Pius? Bukan, beliau orang baik –sampai sekarang aku selalu mengingatnya, ayah angkatku itu-. Jadi siapa? Ternyata yang melakukannya pacar Kak Yani. Anak buah Pak Pius di kantor pemda. Rupanya, kalau Pak Pius bekerja dan Bu Pius ada acara Dharma Wanita, si Udin itu selalu datang. Dan akhirnya Kak Yani pun menikah, lalu berhenti kerja. Tinggallah aku sendiri. Pak Pius tak pernah mengambil pembantu lagi. Tiada lagi teman tidurku. Hanya aku dapat warisan dari Kak Yani. Apalagi kalau novel-novel erotiknya. Sampai di sini cerita masa kecilku. Karena tak ada lagi pengalaman –seksual, maksudku- yang berarti selain itu. Aku memang punya pacar, tapi biasa-biasa saja. Tidak ada yang harus diceritakan. Pacarannya pun tanpa cium dan sejenisnya. Namanya juga cinta monyet. Jadi kisah masa kecil sampai di sini saja. *** Masa Remaja Saat semester pertama kelas tiga SMP, Pak Pius mendapat mutasi ke ibukota propinsi. Dia menawarkan aku untuk ikut. Katanya akan mudah bagiku melanjutkan pendidikan kalau aku ikut dengannya.

Setelah mendapat ijin orang tuaku, aku pun meninggalkan kabupaten terpencil itu untuk pindah ke kota yang lebih besar. Pak Pius pun telah berjanji untuk menjagaku. Keluargaku percaya, karena Pak Pius telah menjadi ayah angkatku. Aku takjub dengan suasana kota besar. Kami tinggal di sebuah rumah, milik keluarga Bu Pius. Tetangga kami seorang adik Bu Pius. Namanya Martha. Usianya 34 tahun. Tapi walaupun adik Bu Pius, dia tidak seperti Bu Pius. Bu Pius memiliki bentuk tubuh yang bagus, langsing. Sedangkan Tante Martha sangat gemuk. Kupikir tubuhnya kelebihan berat sekitar 30 kilogram. Tapi ada satu yang tidak dimiliki Bu Pius, yaitu buah dada yang sangat besar. Benar. Payudara Tante Martha sangat besar, sebesar pepaya yang sekiloan deh. Besar khan? Dan entah kenapa, aku 'suka' dengan payudaranya itu. Tante Martha pun baru saja menempati rumah itu ketika ibunya meninggal dunia tahun lalu, dan karena dia tidak menikah, dia pun pindah ke sana. Tante Martha selalu memiliki wajah sedih, kesepian kurasa. Tante Martha bekerja di sebuah perusahaan agen wisata, tapi saat ini dia hidup dari peninggalan ibunya. Dia juga memiliki rumahnya –yang dulu ditempatinya-, yang dikontrakkannya. Tabungannya banyak, didapat dari warisan. Semuanya dimulai ketika satu hari aku merasa dia sangat kesepian, seperti aku yang belum punya banyak teman. Kubawa seikat kembang yang kukumpulkan dari halaman belakang. (Aku suka mengunjunginya setelah membereskan rumah.

Dan dia mengajariku untuk menyetir mobil. Sering kali aku dipinjamnya untuk mengantarkannya kemana-mana.) Saat aku memberikannya, dia memelukku dan mencium pipiku. "Kau memang keponakan yang baik, Lang. Terima kasih atas bunganya. Indah sekali." "Tante tidak perlu berterima kasih. Elang senang dapat membuat Tante tersenyum. Tante jangan merasa kesepian, khan ada saudara Tante sekarang." "Ya, Elang. Kamu benar. Ada Anna dan Pius, ada keponakan-keponakanku, dan ada kamu, Elang." Dia memelukku lebih kencang, dan untuk pertama kali aku merasakan dadanya yang besar saat ditekankan di dadaku. Setelah itu, aku tanya apa dia mau jalan-jalan. Dia bilang tidak, dia hendak nonton film saja. Dia ada menyewa video. Dia juga merasa lelah dan ingin istirahat. Jadi kami pun nonton film. Judulnya masih kuingat sampai sekarang, Kabut Bulan Madu. Kisahnya mengenai pasangan pengantin baru, seorang suami impoten, istri yang penuh gairah. Saat suaminya pergi ke Amerika untuk berobat, si istri sering jalan-jalan ke villa mereka di luar kota. Suatu saat istrinya bertemu dengan seorang penjahat insyaf yang melarikan diri dari kejaran teman-temannya. Mereka bercinta. Istri tersebut menyerahkan keperawanannya kepada pelarian itu, mereka menjadi sepasang kekasih. Lalu ketika persembunyian mereka diketahui teman-teman kekasih gelapnya, wanita itu mereka perkosa. Akhir cerita dikisahkan sang suami –yang sudah sembuh- menerima kembali istrinya walau bukan dia yang dapat memerawaninya.

Aku sangat terangsang melihat adegan-adegan tersebut, yang memerankan sang istri adalah seorang artis yang sungguh sexy. Sayangnya aku lupa namanya. Adegan dia diperkosa membuat kejantananku meronta-ronta di balik celana pendekku. Waktu nonton, Tante Martha dan aku duduk di lantai, bersandar di sofa. Kami saling berdekatan, saling menyender satu sama lain. Tapi kemudian dia menarik kepalaku untuk berbaring di pangkuannya. Saat adegan percintaan pertama antara si istri dengan si pelarian itu, dia tampaknya mengetahui kejantananku yang menegang. "Kupikir, ini drama yang tak boleh ditonton anak-anak. Tapi kau sudah cukup besar untuk mengerti hal-hal seperti ini. Kau sudah punya pacar, Lang?" Aku hanya bisa bergumam; "Bel…, belum Tante." Dia menarik kepalaku lebih dekat ke perutnya dan melanjutkan menonton film itu, berlagak tidak ada apa-apa. Lalu, ketika adegan mengenai pemerkosaan itu, aku sudah sangat terangsang, aku menegakkan punggungku dan melihat dia sedang menatapku, aku duduk dan tak tahu bagaimana mulainya, kami mulai berciuman, sebuah ciuman yang penuh gairah. Lidah kami saling bergulung. Aku tak tahu belajar dimana, tapi sepertinya aku sudah mengerti apa yang harus kulakukan. Bibir kami menari dengan irama yang indah, tangan kami memegang wajah masing-masing, saling menekan. Kami berdua berbaring di lantai, aku berada di atas tubuhnya.

Aku mencoba menciumi lehernya yang harum, tapi dia menarikku kembali dan memaku bibirku dengan lidahnya. Aku gunakan tanganku untuk menjelajahi tubuh bagian bawahnya. Kuraih buah dadanya yang besar dan meyakinkan diriku bahwa kedua bukit –apa gunung?- ini sungguh besar. Nyaris sebesar kepalaku. Lalu aku menyelusup ke balik blusnya dan merasakan permukaan kulitnya yang halus. Tanganku terus ke atas, menemukan payudaranya, aku meremasnya dan bermain dengan kelembutannya. Saat kusentuh putingnya dia mengeluarkan erangan erotis. Dia melenguh dengan penuh kegairahan. Dia membuka blusnya, menunjukkan kepadaku payudara yang paling besar dan paling bundar yang pernah aku lihat. Bagian lingkar putingnya yang kemerahan berukuran 6-7 centimeter, lembut, kontras dengan kulitnya yang putih. Putingnya sendiri sebesar jempol tanganku. "Ayo Lang, buat aku merasakan gairah untuk pertama kali setelah sekian lama, tunjukkan kalau tantemu yang malang ini dapat membuat kau terangsang juga." Aku menurunkan wajahku dan langsung menggapai 'pepaya'nya, aku menggunakan kedua tanganku untuk meremas satu payudaranya dan membuka mulutku sebesar-besarnya untuk menghisap seluruh lingkar putingnya. Lidahku menyentil putingnya yang lembut, sedangkan otot mulutku menciptakan sensasi di wilayah dadanya. Dia pasti melihat wajahku yang sangat menikmati payudaranya, sehingga dia menarik payudaranya yang satu lagi dan menghisap putingnya dengan mulutnya sendiri. Aku menarik kepalaku setelah beberapa saat menyusu padanya dan berlutut.

Tante Martha menyadari tonjolan di celana pendekku. Aku membuka kaos yang kupakai dan berniat untuk menyerang kembali payudaranya, tapi dia menghentikan kepalaku dengan meletakkan tangannya di dadaku. Matanya terpaku pada kejantananku yang masih bersembunyi dengan pandangan penuh nafsu dan gairah, membuatku merasa cairan awal spermaku keluar dari ujung kelelakianku, menempel di celanaku. "Oh Elang sayang, aku tak percaya kalau seorang perempuan sepertiku dapat membuat kelelakianmu menjadi sangat besar dan mengeras." "Dan aku tak percaya bagaimana pemuda sepertiku tidak sadar akan cantiknya Tante." Aku tak tahu dari mana kudapat kata-kata seperti ini. Aku hanya ingin memujinya, merangsangnya dengan kata-kata. "Kita ke kamarku, sayang. Aku ingin kita bercinta, aku ingin kau membuatku mengerang, menyenangkanku." Aku berdiri dan membantunya pula. Kuambil pakaian kami berdua dan mematikan TV dan video; aku baru tahu filmnya sudah habis beberapa saat yang lalu tanpa kami sadari. Kami bergandengan tangan dan berjalan menuju kamarnya. Kamar Tante Martha di tingkat dua. Saat kita sampai di kamarnya dia langsung mengunci pintu dan menciumiku sejadi-jadinya. Setiap kecupannya merupakan bara dalam dirinya, membakar hatinya menanti saat–saat untuk meledak.

Dia mencengkeram pantatku dan menarikku lebih dekat kepadanya. Dapat kurasakan dadanya yang luar biasa itu menekanku, dari dada sampai ke batas perutku. Kejantananku menekan miliknya. "Sudah tiga tahun aku tak pernah bercinta, dan aku tak dapat menunggu semenit pun juga. Ayo Lang, puaskan tantemu yang malang ini." Aku menidurkannya di ranjang, lalu membuka rok dan panty-nya. Saat itulah kulihat rambut pubisnya yang menggumpal, banyak sekali, liar dan menjalar kemana-mana, hitam pekat. Dia pun tak kalah gesit. Ditariknya ke bawah celana pendekku dan langsung menggenggam kejantananku. Inilah saat kejantananku, polos, di pegang untuk pertama kalinya oleh orang lain. Aku merangkak di atas tubuhnya dan menempatkan diriku di antara pahanya. Dia menuntun kejantananku menuju ke pintu kewanitaannya. Kepala kelelakianku yang keras menekan klitorisnya yang juga menegang. Aku menggosoknya dengan kepala kejantananku. Kewanitaannya telah basah. Saat aku mulai memasukkan kejantananku, dia mengerang. "Ooooooh." Tante Martha lalu menekan tubuhku ke arahnya, kejantananku makin masuk ke dalam tubuhnya. Akhirnya, dia berhenti menekanku. Bibir bawahnya tampak digigit. Tangannya menggenggam bokongku dan menarikku. Seluruh kelelakianku memasuki kewanitaannya, sebuah tusukan panjang, masuk perlahan-lahan. Kewanitaannya yang besar terasa cukup rapat, dia menahan tubuhku beberapa saat, dan kemudian dia membuka kakinya lebih lebar, menarikku lebih rapat kepadanya. "Ayo sayang, biarkan aku merasakan dirimu sedalam-dalamnya mengisi tubuhku." Setelah beberapa detik, dia membungkuk. Memberikan tanda bagiku. Aku seolah tahu apa yang harus aku lakukan. Aku mulai menaik turunkan tubuhku, memompa. Pertamanya perlahan, sampai kehangatan yang mengurung kami membuat aku mempercepat gerakanku. Berada di atas tubuhnya membuat aku merasa sangat nikmat.

Tubuhnya seolah dapat menyesuaikan diri dengan anatomiku dan membuatku merasa sangat nyaman. Kakinya membungkus tubuhku, pahanya meremas tubuhku. Dadanya terkulai, membuka. Aku mencium bibirnya. Tanganku meraih paudaranya, mengosokkan satu dengan yang lain. Sesaat kemudian kurasakan tubuhnya sudah benar-benar terbakar oleh nafsu birahi. Dia mulai mengerang… "Aahhh, begitu Lang. Lakukan itu. Masukkan kejantananmu. Oh, oooh, rasanya sungguh nikmat, Lang. Ooooghhh. Jangan berhenti, Lang…., oooh sayang, oooooh, puaskan tantemu ini. Jangan berhenti, sampai kau memuaskan aku, Lang…., ooooohhh." Itu seperti perintah bagiku. Aku pun mempercepat lagi gerakanku. Nafsu yang liar menstimulasi tubuh kami, segera saja dia mengerang lebih kencang. Aku sedikit takut kalau-kalau keluarga Pius dapat mendengar teriakan Tante Martha. Tante Martha memelukku erat, mencapai klimaksnya. "Ahhh, ahhh, aaahhh, ooooh, Lang, ahhh, aku tak kuat lagi Lang. Aaaahhhh, aku, aaaahhhh! Gilaa Lang, aaahhh, kau sungguh hebat, aaaahhhh." Teriak Tante Martha seiring orgasmenya yang berulang-ulang. Tante Martha benar-benar kehilangan kendali, sehingga hampir saja kami terlempar dari ranjang. Aku terpesona dengan klimaks yang dicapainya berulang-ulang itu. Bagai gelombang cairan kewanitaannya keluar membanjiri vaginanya dan jatuh di seprei. Kedua pahanya bergelimang lendir itu pula, sedang aku dapat merasakan rasa lengket di daerah kejantananku, di kantung kemaluanku, dan bahkan di pahaku juga. Setelah beberapa menit dia mengerang dan kelelahan.

Tapi Tante Martha tak ingin membuang waktu, begitu juga diriku, karena aku masih belum puas sama sekali. Kantung kemaluanku masih terasa sesak. Aku lalu berlutut, dan kaget melihat banyak sekali cairan kewanitaan Tante Martha. "Gila Tante Martha, dari mana datangnya semua cairan itu?" Tante Martha tersenyum nakal, sebuah senyum yang baru kali ini kulihat seumur hidupku. "Ingin tahu dari mana datangnya? Kenapa tak kau cari sendiri?" Dan dia mendorong tubuhku hingga telentang, lalu dia merangkak di atasku, membuat kewanitaannya hanya berjarak beberapa centimeter dari wajahku. Lendir bening keputih-putihan menetes dari sana. Dia kemudian menurunkan tubuhnya sehingga hidungku menempel di kewanitaannya. Seperti sudah berpengalaman, aku seolah mengerti apa yang diinginkannya, aku tahu harus berbuat apa. Kutarik pinggangnya mendekati wajahku, dan mulai menjilatinya. Sangat manis dan segar. Aku menyelusuri kewanitaannya dengan lidahku. Dia membuat gerakan tanpa sadar, memutar-mutar. Bibir kemaluannya sungguh sangat sensitif, sehingga dia tidak dapat diam. Lalu aku menjilati benda kecil berwarna pink yang mengacung –nantinya aku tahu itu klitoris- yang ada di situ, bibirku menghisapnya. Saat itu Tante Martha benar-benar tak tahan lagi.

Dia menjatuhkan seluruh badannya ke wajahku. Aku sampai kesulitan untuk membuka mataku dan yang dapat kulihat hanyalah rambut kemaluannya. Nafasku terhalang kangkangannya dan seluruh mukaku tampaknya ditangkup oleh kewanitaannya. Hanya ada satu hal di otakku saat itu, yaitu menghisap kewanitaannya yang tebal. Kuhisap dengan seluruh tenaga, seperti sedang menyusu. Tubuh Tante Martha terlempar ke belakang, lalu terlontar ke depan. Menampar wajahku dan membenamkan kepalaku di tempat tidur. Dia memekik dan meraung tapi aku tak dapat mendengar apa yang diucapkannya, karena telingaku ditutupi pahanya yang besar. Setelah beberapa lama, tubuhnya lalu terguncang-guncang dengan sangat liar, dia hampir sampai ke puncak kembali. Aku sadar, pasti aku akan dibanjiri oleh cairannya. Benar saja, tak berapa lama kemudian hal itu terjadi. Seperti pintu bendungan yang terbuka, cairan vaginanya menyembur perlahan. Seperti tubuhnya merupakan pabrik dari cairan itu, keluar tak henti-hentinya. Aku mencoba menghisapnya, tapi tak bisa membuatnya berdiam diri. Cairan tubuhnya memenuhi mulutku dan membanjiri wajahku. "Dari situlah asalnya Lang." Katanya kepadaku setelah nafasnya agak teratur. Dia memandang ke wajahku, dia tertawa. Sebuah ketawa yang sensual dan sexy. Aku tahu penyebabnya, wajahku basah seperti habis di tumpahi sebotol gel rambut. Aku berlutut dan menjilati wajahku dengan lidah. Tante Martha membantuku.

Sesaat kemudian wajahku telah bersih. "Dan sekarang, kupikir saatnya untukmu pula menumpahkan milikmu. Pasti kantung bijimu sudah sangat sakit sekarang." Dia berbaring telentang dan menyatukan kedua payudaranya. "Lakukan di sini, Lang. Aku ingin merasakan kejantanan mudamu di antara dadaku." Terus saja aku duduk di atas tubuhnya, di antara perut dan dadanya. Lalu aku menyelipkan organ lelakiku di antara 'pepaya'nya. Sedangkan Tante Martha menunggu kepala kejantananku keluar dari celah itu, bersiap-siap untuk menjilatinya. Aku sangat menikmati setiap centimeter dari dadanya yang mencengkeram kejantananku. Aku mulai memajumundurkan pinggulku, tapi aku tak cukup puas. Kumasukkan kejantananku ke dalam mulutnya, saat begitu terangsang karena jilatannya di bagian bawah kejantananku. Dia menggenggam pantatku dan menghisapku dengan penuh nafsu. Setelah beberapa lama, aku merasa akan ejakulasi. Aku hendak menarik keluar kelelakianku, tapi Tante Martha tak mengijinkan aku bergerak menjauh. Jadi kusemburkan saja ke dalam mulutnya. Wanita itu meminum setiap butir spermaku, sambil mulutnya mengeluarkan erangan bersahutan dengan lenguhanku. Matanya tertutup, wajahnya menunjukkan hasrat yang amat sangat. Saat aku menarik kejantananku, terdapat sisa sperma di ujung kemaluanku.

Dia menjilatinya dan mengecup kepalanya yang keunguan. "Tante Martha, apakah kau cukup puas?" "Ini pengalaman seksku yang paling hebat. Kau sungguh berpengalaman." "Ini pertama kalinya buat Elang. Tante." "Oh ya? Kau akan menjadi laki-laki sejati, Lang." Kami berdua tersenyum, mencoba mengatur nafas kami yang tadi terasa berat. Kami sangat lelah dan seperti kehabisan cairan tubuh kami, sehingga kami berdua jatuh tertidur. Saling memeluk, cairan kewanitaan Tante Martha melekatkan tubuh kami. Tiba-tiba saja aku merasakan suatu rasa dingin di bagian bawah tubuhku. Aku meregangkan tubuhku, melirik jam di dinding. Baru sejam aku terlelap. Kulihat pula Tante Martha berada di bagian bawah perutku. Ternyata dia membangunkan tidurku dengan cara yang sangat menyenangkan aku. Aku hampir saja mengeluarkan spermaku, melihat dia mengelus bagian bawah batang kelelakianku dan menelannya dengan ketrampilan yang sempurna. Tapi ketika dia sadar aku telah bangun tidur, dia menghentikan tindakannya. "Hatiku bertanya-tanya, apakah kau bisa dengan segera bangun? Dan sekarang aku baru yakin kau memang jantan." "Aku sungguh terangsang kalau melihat dadamu, Tante Martha, sehingga sebenarnya aku tak dapat tertidur. Yang aku inginkan adalah bercinta denganmu Tante Martha, sepanjang hari, sepanjang malam." Tante Martha tersenyum dan berdiri. Tubuh besarnya yang telanjang itu terpajang di depanku. Dia menunjuk kewanitaannya, tangannya membuka belahannya. "Aku ingin kau menjilatiku, dan, jangan kau kecewakan aku." Aku tak ragu dan merangkak mendekatinya.

Lalu mencium dan menjilatinya selama beberapa menit. Tante Martha mengerang. "Tante Martha, maukah kau berjanji, kita akan selalu seperti ini?" Kataku sambil menatap matanya. "Tentu sayang. Malah, aku akan minta kau tinggal di sini. Pasti Anna akan mengijinkan. Dia akan kasihan dengan saudaranya yang kesepian ini. Biarkan ini jadi rahasia kita." Dia membungkuk dan meletakkan dada kirinya ke wajahku. Putingnya menyentuh bibirku. "Ayo Lang, menyusulah kepadaku, hisaplah aku." Aku menghisap putingnya dengan nafsu yang luar biasa. Wanita itu memegang kejantananku, memasukkan ke dalam liang kenikmatannya. Lalu tubuhnya naik turun. Kami terus berciuman dan saling sentuh satu sama lain. Saat kami akan orgasme, kelembutan kami digantikan oleh keliaran dan nafsu. Tante Martha menghentikan ciumannya dan duduk mengangkang. Dia mengambil salah satu dadanya yang besar itu, menghisapnya. Lalu dia menyodorkannya kepadaku. Aku mengambil alih tugasnya. Aku mengalungkan tanganku kepantatnya, meremasnya. Tante Martha menggenggam kejantananku, dan memasukkannya ke lobang syahwatnya. Tubuh kami bertabrakan berulang-ulang, nafsu mengisi setiap sudut kamar. Tempat tidur bergoyang-goyang, menimbulkan suara berderak-derik. "Aku hampir keluar, Tante Martha, aku akan segera keluar." Erangku "Tunggu aku, sayang, aku pun demikian. Tunggulah sesaat lagi." Aku lakukan apa saja untuk menahan tekanan yang terasa di kejantananku.

Mengingat segala rumus matematikaku, pelajaran biologiku, semuanya, untuk mengalihkan perhatian dan pikiranku. Sesaat kemudian Tante Martha berbisik agar aku mengeluarkan segala hasratku. "Ini Tante, seluruhnya. Kuberikan hanya kepada Tante." Tante Martha pun sepertinya 'meledak', bersamaan denganku. Spermaku bercampur dengan lendir kewanitaannya, mengisi ruang kehangatan tubuhnya. Beberapa gumpal keluar dan mengotori seprei. Aroma seksual kami memenuhi ruang kamar. "Oooooh, Elang, keluarkan semuanya. Isi aku dengan manimu. Setubuhi aku." Orgasmenya menjadi tambah intens di tiap detik yang berlalu, aku pun demikian. Sesaat kemudian dia tidak dapat mengontrol dirinya dan mulai berteriak-teriak. Aku takut suaranya dapat di dengar sampai ke jalan, atau sampai ke rumah Pak Pius. Kuambil bantal, dan kututup wajahnya. Erangan dan pekikan nafsunya teredam. Beberapa waktu kemudian dia mulai sadar. Tubuhnya layu. Begitulah, Tante Martha menjadi wanita pertama yang kusetubuhi, wanita yang mengambil keperjakaanku. Wanita itu pula yang mengajariku tentang seks. Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Dia dapat memenuhi semua keingintahuanku. Aku puas. Keesokan harinya aku pindah ke rumahnya. Keluarga Pius mengijinkan, karena kasihan pada Tante Martha.

Untunglah, walaupun kami sering berhubungan badan, Tante Martha tak pernah sampai hamil. Kurasa dia mandul. Inilah cerita masa kecilku hingga aku kehilangan keperjakaanku. Masih ada cerita saat mudaku yang lainnya. Teramat banyak. Aku akan menulisnya di waktu senggangku.

 

 

ke awal

1