Elang

[ 3b]

Kisah ini kuhadirkan dengan Margie sebagai orang pertamanya. Bukan apa-apa. Pertama, ini kisahnya dia yang kami alami bersama. Kedua, dia yang menuturkannya kembali dan menuliskan ringkasannya kepadaku, lalu dirangkaikannya menjadi sebuah cerita, dengan editorial dariku. Ketiga, ini syarat yang diajukannya saat aku bilang akan cerita soal dia. Dia sebenarnya nolak, sebab aku -yang bego- tidak merahasiakan namanya. Dan pembaca sekalian sudah tahu namanya Margie. Tapi dengan rayuanku dan Toblerone tiga batang, dia bersedia. So, enjoy this story! *** Panggil gue Margie. Masih single, dan –semoga terlaksana- akan menikah beberapa bulan lagi. Gue sobat kentalnya Sang Elang yang badung itu.

Kalian pasti sudah baca pengalamannya yang unbelievable. But, I’m the witness. He’s a lucky one! Apa lagi yang gue mesti kasih tahu? Ini aja gue sudah nekat, berani malu, karena namaku sudah diketahui. Nama asli. Elang juga sih, mentang-mentang paling cuek, paling badung, paling GILA, dia dengan asyiknya bercerita segalanya. Srida, itu asli. Ilen, itu juga. Setahuku yang disembunyiinnya adalah nama istrinya. Venus ya, dia bilang? Boong! Aslinya khan ……, udah deh, paling disensor sama si Dayak itu. Elang emang sableng. Kerjanya tiap hari pasti cerita yang aneh-aneh. Dia suka hal-hal yang berbau magis dan serem –bagi gue-. Dan dia pernah ngaku kalau cita-citanya dulu itu adalah menjadi vampire. Biar gampang naklukin gadis-gadis, begitu ‘udel’nya. Dan satu lagi kegemarannya. Dia paling doyan juga segala hal yang berbau ngeres. Tiap hari dia punya cerita soal seks. Kadang gue bilang sama dia; Lang, segala hal pastilah mengingatkanmu pada seks! Si tengil itu cuma nyengir. Salah seorang rekan di divisiku malah menyebutnya germo. Karena temen ceweknya banyak, dan gak tahu kenapa, artis-artis yang suka maen ke kantorku bisa cepat akrab sama dia. Eh, gue kok malah cerita soal Elang. Kege-eran entar dia.

Gue satu divisi sama Elang sejak gue masuk kerja. Atasan gue seorang (kata gue masih, kata Elang nggak) perawan tua. Sedangkan empat orang lainnya yang udah kawin dua orang, plus Elang. Selain itu gue punya teman dari divisi lain. Salah satunya bernama Eca. Eca ini anak Bandung, suaminya orang Jakarta. Sama-sama kerja di kantor gue. Eca di administrasi, suaminya di teknik. Sebelumnya sorry, kalau nama Eca yang asli gue sembunyiin, gue gak setega Elang. Tapi kalau ketahuan juga, -seperti kata Elang- cuek ajalah. Toh, di kantor gue juga banyak yang rahasianya sudah diketahui umum. Paling kalau ada teman sekantor yang baca, doi nyengir-nyengir kalau ketemu gue. Atau malah kalau salah seorang penyiar kondang di kantorku –yang ketahuan emang punya kelainan itu- mendekati gue, pengen nyoba ‘maen’ dengan gue. Gue pasang tarif aja. Hihihi, lumayan buat modal gue kawin. Eca ini suka sama Elang, suka-suka gitu deh. Kalau menurut gue, paling dia suka sama bulu Elang yang lebat di mana-mana itu. Kecuali di ‘situ’, gue gak pernah lihat sih. Elang sih bilang ke gue kalau Eca pernah menggodanya di ruang presentasi departemen kami. Gue pertama nggak percaya, tapi setelah kilik-kitik si Eca, dia emang kelihatannya suka. Gue bilang Elang, sikat aja. Elang hanya bilang: "Mending sama kamu. Single dan gak bikin masalah. Kalau ketahuan si Ndoet gimana? Lagian bentar lagi aku menikah kok." Ndoet itu suami Eca. Iya Elang memang akan menikahi Venusnya.

Dan dia lumayan ‘kaku’ untuk berbuat macem-macem sama cewek lain. Kecuali sama Srida dan Ilen –kecelakaan, ujarnya-, dia ‘lurus’. Gue tahu, karena gue dan dia selalu berbagi rahasia. Senang-senang boleh, katanya, tapi cuma gitu doang, gak menjurus ke ranjang. Salut juga gue. Padahal sih banyak yang ngedekatin dia. Udah ah, hidung si Elang makin mengembang entar, kalau gue ngebanggain doi. Suatu malam Eca meminta gue datang menemaninya saat suaminya harus memasang stasiun transmisi di luar kota. Dia dan gue bercerita, saling berbagi rahasia. Dia mengatakan lagi pada gue kalau dia tertarik kepada Elang. Eca cerita fantasinya tentang Elang. Dia meminta gue menelpon Elang, karena Elang adalah teman baik gue. Entah mengapa, gue tertarik dengan ceritanya dan fantasinya terhadap Elang, gue setuju untuk menelpon Elang. Kami menuju ruang tamu Eca dan menelpon Elang. Kami berdua duduk berdekatan di dekat telepon, menempelkan telinga di gagang telepon. Mendengarkan percakapan gue dengan Elang. "Elang. Gue di tempatnya Eca nih." "Heh, ngapain?" "Nemenin Eca. Suaminya ke Sumatera." Kata gue, "Eh, lu ke sini dong." "Nggak ah." "Ayolah. Gue mau ngajak lu ke Bengkel. Eca gak pernah diajak lakinya having fun nih." "Pergi aja." "C’mon Lang, you’re my best friend." "Bentar lagi ya. Aku mesti mandi dulu. Habis tennis tadi di Senayan." "Oke. Gue tunggu." "Eh, omong-omong, kamu dan Eca pakai baju apa sekarang?" "Kenapa?" "Gue mau kalau gue datang, elu-lu pada pakai baju yang seksi. Tembus pandang kek, mini kek." Gokil si Elang datang lagi. "Wuuuuu…" "Kalau nggak, gue balik lagi." "Udah ah! Cepat ke sini." "Iya, iya. Sabar napa?" "Pokoknya gue tunggu." "Gak mesti bawa Venus khan? Doi paling ogah ke tempat gituan." "Iya." Telepon pun ditutup.

Gue hanya tersenyum waktu Eca bilang kalau dia terangsang mendengar suara Elang yang katanya seksi. "Gimana kalau gue telepon lagi dia? Kali ini lu yang ngomong." Kata gue pada Eca. "Ah, malu dong." "He! Dia asyik-asyik aja kok kalau diajak bicara." "Gila apa?" "Bener. Lu bisa cerita apa aja ke dia." "Tapi khan dia entar ke sini." "Nanti ya nanti. Sekarang lu puas-puasin dengerin suaranya itu. Beda lho di telpon dengan yang langsung. Di telpon itu, gimana ya? Lebih menggairahkan." Kata gue sambil tangan gue meraih gagang telepon kembali. Eca cuma bisa diam memandang gue. Telepon Elang kembali diangkat. Gue memberikan kepada Eca setelah bilang ke Elang: "Anggap aja ini telepon 0809 itu, Lang." Maksudnya telepon Japati yang tarifnya bikin kantong kebakar itu. Sinting tuh, orang yang mau dikibulin gitu. Gue meninggalkan Eca, menuju kamar tidurnya. Di situ pun ada telepon yang diparalelkan. Dengan hati-hati gue menguping. Biasalah, perempuan dimana-mana suka yang kaya gini nih. Pertamanya Eca agak canggung. Tapi kemudian nggak. Apa lagi ketika Elang mulai miring. Menggoda Eca dengan bermacam pertanyaan, apalagi dia tahu Ndoet gak ada. Gila tuh Elang. Sex Maniac! Gue tersenyum sendiri mendengar gombalnya Elang. Makin lama makin parah omongan mereka berdua. Ya itulah Elang, kalau sekedar gini doang, pasti diladeninya. Ada-ada aja yang diceritainnya. Juga soal cerita di Cerita-Cerita Seru™, yang suka diprint dan diberikannya kepadaku. Elang membacakan salah satu cerita yang ada di CCS kepada Eca. Gue ikutan terangsang.

Gue senang mendengar mereka berdua cepat akrab dan terbuka. Mungkin Eca nggak tahu kalau gue ngupingin doi, jadi dia meladeni kesablengan Elang. Elang menyuruh Eca menyentuh tubuhnya, dari dada sampai vaginanya, mengelusnya, dan mengatakan pada lelaki itu bahwa kewanitaan Eca telah basah. Saat Eca menjawab bahwa vaginanya sudah basah sekali, gue tidak dapat menahan diri untuk tidak menyentuh punya gue sendiri. Eca menceritakan pada Elang dengan sangat mendetail bahwa vaginanya bersih, tercukur rapi. Gue terbaring di ranjangnya dan entah kenapa, tiba-tiba mengkhayalkan apa yang Eca katakan. Dia berbisik kepada Elang, bahwa saat ini dia sedang mengelus klitorisnya. Gue benar-benar gak tahan lagi. Gue buka celana pendek yang gue kenakan dan celana dalam sekalian, sehingga gue dapat memainkan vagina gue dengan jari-jari gue. Gue tanpa sadar mengerang. Erangan itu didengar mereka berdua. Lalu Elang bertanya pada gue kenapa dari tadi gak ikutan di telepon. Gue bilang gue cuma pengen denger, dan edannya gue ikut terangsang. Gue bilang kalau saat ini gue sedang mengelus vaginaku juga. Elang senang mendengarkannya, dua orang wanita muda masturbasi sambil dia membacakan cerita dari Aceh .

Tiba-tiba Eca masuk ke kamarnya. Telanjang bulat. Dia berbaring di sebelah gue. "Pakai speakernya aja, Marg, jadi aku bisa ikut denger." Gue melaksanakan permintaannya. "Aku di kamar sekarang, Lang. Dengan Margie." Kata Eca. "Hei! Apa yang kalian lakukan?" Agak kaget si Elang. "Eca dengan gue sekarang. Di tempat tidur." "Wah, asyik juga nih." Elang berseru, gue tahu dia pasti sambil senyum jahil, "Aku tuntun ya?!!" Gue nggak tahu kenapa, Eca juga. Kami cuma menjawab; "Ya, Lang." "Kalian sudah pernah berhubungan dengan sesama perempuan sebelum ini?" Tanya Elang. "Belum." Jawab gue. "Belum, Lang. Tapi aku pernah mengkhayalkannya." Jawab Eca. " Great. Aku akan menjadi penunjuk jalan." Kata Elang, "Eca, maukah elu menyentuh Margie?" "Ya." Jawabnya. "Sentuhlah payudara Margie." Tangan Eca menyelusuri tubuh gue, sampai ke batas bra yang gue pakai. Dengan kedua tangan, gue buka t-shirt yang gue pakai. Puting payudara gue mengeras dan gue dapat merasakan tangan Eca yang lembut membuka hook di daerah depan bra yang gue kenakan. Jemarinya membelai payudara gue. Gue mengeluh pelan. Sensasi yang berbeda gue rasakan, gak seperti rasa yang diberikan Daud, pacar gue, kalau sedang menyentuh gue. "Sekarang giliranmu, Marg." Kata Elang. Gue sedikit gemetaran karena sensasi aneh ini. Gue menggerakkan telapak tangan gue, menyentuh dada Eca yang mulus dan terbuka menantang. Gue dapat merasakan tubuhnya yang hangat. Putingnya lebih kecil dari punya gue dan terasa sangat berbeda.

Gue dapat merasakan vagina gue mulai basah dan memanas saat gue dengar Elang memberikan petunjuk selanjutnya. "Sekarang saatnya untuk saling merasakan kewanitaan kalian masing-masing. Rasakan perubahannya, rasakan." Kata lelaki itu. Eca yang mulai duluan, menggerakkan tangannya. Perlahan-lahan gue merasa jemarinya menyentuh pangkal paha gue. Dia menggerakkan jemarinya mendekat ke vagina gue, dan lalu mengerang saat merasakan vagina gue yang basah dan lembut. "Anggaplah itu vagina kalian sendiri." Elang memberikan instruksi lanjutan. Eca menggosok bagian luar vagina gue, membuat gue menaikkan pinggul gue ke atas. "Ooooh, Margie. Punyamu lebih indah dari punyaku. Ooooh, aku sungguh senang dapat menyentuhnya, membelainya." Erang Eca. Saat jemarinya memasuki lobang kenikmatan gue, gue merasakan kalau gue akan mencapai orgasme. Sentuhannya membuat gerakan gue menjadi liar. Eca tampaknya tahu bagaimana gue menginginkan dia menyentuh vagina gue. Dia menggosok klitoris gue, membuat benda kecil berwarna merah muda itu menjadi makin keras dan menegang. Gue mengerang hebat, melenguh sejadi-jadinya. Elang tahu kalau gue belum berbuat apa-apa buat Eca. "Marg, sekarang kamu harus menyentuh punya Eca." Gue menggerakkan tangan ke arah bawah tubuh Eca, menuju kelembapannya yang telah basah sekali. Ketika kuku-kuku gue mengelus pangkal pahanya, gue dapat merasakan getaran aura yang memancar dari selangkangannya.

Gue memasukkan jari tengah gue ke dalam vaginanya, seperti yang gue lakukan tadi ke vagina gue. Dengan gerakan yang cepat, gue memasukkan dua jari dalam sekali ke lobang kenikmatannya. Eca mulai mengerang dan melenguh, tubuhnya terangkat dari atas ranjang, berusaha memasukkan lagi jemari gue lebih dalam. "Sekarang, aku mau kalian menghisap jemari kalian tadi." Perintah Elang. Karena Eca sudah sangat terangsang, dia langsung memasukkan jarinya yang tadi menyentuh kewanitaan gue, menghisapnya, mengecap rasa cairan vagina gue di antara bibirnya. Melihatnya, gue melakukan hal yang sama. Menjilati jari tengah dan ibu jari gue, gue merasakan cairan kewanitaan Eca yang entah bagaimana gue dapat menerangkannya. "Siapa yang ingin vaginanya dijilati?" Elang bertanya dengan nada mendesak, mengerang. Gue dan Eca pada saat yang sama hanya bisa menjawab, "Gue mau." "Eca, letakkan kepalamu di antara paha Margie." Kata Elang. Eca menurut, kepalanya turun ke bawah. Gue merasakan rambutnya yang panjang dan lebut itu menyapu tubuh gue. Sensasi yang lain tercipta kembali. "Eca, julurkan lidahmu, putar mengelilingi klitoris Margie." Eca melakukannya. Gue merasakan lidahnya yang basah dan hangat berputar-putar di bibir vagina gue, lalu menjilati klitoris gue. Bermain-main di situ, memutar, menjilati, dan menghisap dengan mulutnya.

Gue mengangkat pantat gue dari tempat tidur sehingga gue dapat menyorongkan vagina gue lebih jauh ke wajah Eca. Dia menggunakan lidahnya seperti jemarinya dan menggerakkannya keluar masuk lobang kenikmatan gue. Ini merupakan perasaan yang paling luar biasa yang pernah gue rasakan. Lidahnya yang mungil dan berbintil kecil ini berbeda dengan punya Daud. Apakah dia biasa seperti ini? Gue rasa nggak. Eca hanyalah tahu dan mengerti apa yang disukai wanita dan benar-benar memaksimalkan sentuhannya di tempat-tempat rahasia wanita. Mendengarkan suara erang dan jeritan kami, gue tahu Elang pastilah sangat terangsang. Saat Eca menjilati cairan yang keluar dari liang rahim gue, gue dapat melihat dia menggosokkan vaginanya dengan tangannya. "Eca, Eca saat ini sedang menjilati dan menghisap klitoris gue, Lang. Egh, luar biasa." Kata gue. "Marg, tanyain Eca apa dia punya dildo." Kata Elang. "Apa itu Lang?" Eca menghentikan aktifitasnya. "Penis buatan, Ca." Jawab Elang. "Wah, nggak punya Lang. Padahal, pasti enak kalau vaginaku disodok-sodok." Eca berkata dengan suara serak, "Sayang kamu nggak di sini, Lang." "He eh. Tapi, apa kamu punya sesuatu untuk menggantikannya?" Eca memandang sekeliling, lalu tatapannya tertumbuk pada kaleng body spray dari St Michael. "Aku punya kaleng body spray .

Besarnya lumayan. Kaya senjata Ndoet." "Nah gunakan itu." Eca mengambilnya. Membersihkannya dengan sepreinya. Gue memandangi tubuh mulusnya yang putih itu. "Sebaiknya kalian mengambil posisi 69. Letakan vagina kalian ke wajah masing-masing." Gue melaksanakan petunjuk Elang. Gue dapat mencium aroma yang khas dari kewanitaan Eca. "Margie, masukkan tabung itu ke dalam vagina Eca yang lembut itu." Kata Elang. Eca memberikan tabung berwarna putih dengan tutup krem itu kepada gue. Gue mendorong ‘dildo’ itu perlahan-lahan ke dalam vagina Eca. "Marg….. Ah, masukkan Marg. Uuuuuhhhh." Eca mengeram. Saat gue memasukkan lebih dalam lagi, Eca mulai menjilati kembali vagina gue yang sudah sangat basah itu. Gerakan lidahnya bertambah cepat, dan bertambah cepat. Gue masih memainkan ‘dildo’ itu ke kewanitaanya. Lalu gue rasakan kenikmatan yang makin membesar, orgasme yang makin mendekat. Aku ingin memuntahkan cairan orgasmeku di bibirnya. "Aaaaaghhh." Gue mengerang. Gelombang orgasme pertamaku telah datang. Dan lenguhanku membuat Eca pun mendapatkannya. Gue tahu dari pahanya yang menegang. "Uuuuuughhh." Kami melenguh berdua. Eca menggerakkan pinggulnya dengan liar, berusaha memasukkan ‘dildo’ itu lebih dalam lagi. Gue dengan bersusah payah menahan tabung itu agar tidak terlepas dari peganganku. Kaleng body spray itu sungguh menjadi sangat licin sekarang. Kemudian kami berpelukan. Melenguh panjang, menikmati sensasi luar biasa yang baru saja kami lewati. Kudengar di speaker pun Elang sedang mengerang. Nafas beratnya terdengar satu-satu. Gue pikir dia pun orgasme, atau malah sudah ejakulasi. Huhh! Sebuah pengalaman yang sangat fantastis. Kami bertiga dapat orgasme bersama. "Thanks, Lang." Kata gue. "You very welcome." "Hei. Kita tetap pergi ke Bengkel Night Park, khan?" Tanya Eca. "Iya." Telepon pun di tutup Elang. Setelah itu gue dan Eca saling berpelukan.

Beristirahat sebentar, lalu mandi. Setengah jam kemudian Sang Elang datang. *** Kami bertiga menghabiskan malam di Bengkel. Ngobrol, bertemu teman-teman yang ada di sana. Sekitar pukul dua belas, kami pulang. Saat kami keluar dari mobil Elang, dia menyerahkan sebuah bungkusan kepada gue. "Ini. Semoga kalian suka." Gue sangat capek, dan Eca pun demikian. Besok musti masuk kerja dan gue pikir sekarang sudah saatnya tidur. Eca setuju, tapi dia bilang ingin mandi air hangat dulu. Dia menuju kamar mandi dan gue menganti pakaian dengan baju tidur, lantas merebahkan diri di tempat tidur. Kunyalakan TV dan menonton film HBO. Bingkisan dari Elang telah kami lemparkan di dekat telepon. Gue mendengar shower dimatikan, dan beberapa saat kemudian Eca muncul di kamar tidur. Handuk terlilit di tubuhnya dan satu di kepalanya. Rambutnya yang hitam tampak lembab namun tidak terlalu basah. Dia belum berganti dengan gaun tidurnya. Gue tetap menonton TV, sedang Eca, tidak. Dia meraih bungkusan yang diberikan Elang. "O boy! Apa ini?" Ternyata itu adalah sebuah dildo. Entah Elang dapat dari mana. Pasti dia beli di luar negeri, waktu kemarin dinas ke Hongkong.

Barang itu panjangnya sekitar 20 centimeter, berwarna coklat dan dihiasi dengan urat-urat yang tampak ‘asli’. Eca memegangnya dan berkata; "Ini toh dildo itu. Eh, apa yang akan kita lakukan dengan ini?" "Aku senang sekali kalau punya Ndoet segede ini. Akan ku hisap dan kutelan setiap malam." Katanya lagi. Eca membawa kepala dildo yang besar itu ke mulutnya dan memutarkan lidahnya mengelilingi benda itu. Kemudian dia memasukkan sebagian dari dildo tiu ke mulutnya dan mulai menghisapnya seperti benda itu adalah penis asli. Gue terangsang. Eca berdiri di hadapan gue menghisap dildo itu dan gue menyadari kalau puting payudara gue mulai menegang melihat Eca. Gue gak tahu Eca sengaja atau nggak, handuk Eca terjatuh. Payudaranya yang besar itu menantang dengan pentilnya yang mengeras. Eca tersenyum pada gue saat dia mengeluarkan dildo itu dari mulutnya dan menggosokkannya di antara putingnya yang kiri dan kanan. Gue harus mengakui kalau gue menjadi sangat terangsang dan vagina gue menjadi basah. Sambil memegang dildo dengan satu tangan, tangan yang lainnya bergerak ke tempat tidur. Sambil tersenyum, dia menarik kain yang menjadi selimut gue. Eca melanjutkan permainannya dengan dildo tersebut, membawanya ke bagian bawah tubuhnya, dan lebih ke bawah lagi. Dengan suara yang parau, matanya tertuju ke gue, dia memerintah gue; "Buka baju tidurmu, Marg." Saat gue meloloskan baju tidur itu melalui kepala, gue menyadari betapa terpesonanya gue. Gue belum pernah senafsu ini, apa lagi ke sesama jenis. Pengalaman pertama tadi membuat gue lupa diri. Saat itu pula Eca masuk ke dalam selimut yang gue pakai. Dia di sebelah gue, masih memegang dildonya.

Dia meletakkannya di sebelah gue dan menaruh tangannya di dada gue. Gue merintih dengan penuh kenikmatan ketika Eca secara halus meremasnya. Dia menggerakkan tangannya ke bahu gue, menariknya ke arah atas, melewati kepala gue. Sesudah tangan gue menyentuh palang yang ada di atas kepala tempat tidur, Eca tersenyum nakal. Dia mengambil dasi Ndoet yang ada di situ, lalu dengan cepat melingkarkannya di pergelangan gue, mengikat gue di ujung tempat tidur. Gue menahan nafas, merasakan sesuatu perasaan takut. Gue merasa sangat nggak nyaman dengan perlakuan Eca ini. Tangan gue sedikit sakit karena ikatan yang kencang itu. Dia pasti menyadarinya. Dia memandang gue dengan lembut dan perlahan menyelusuri tubuh gue dengan jemarinya. "Jangan khawatir," katanya, "Aku tak akan menyakitimu. Dan, kamu akan menikmati ini." Dia berbaring di sebelah gue dan memeluk gue. Tubuhnya yang langsing terasa hangat, payudaranya menekan tubuh gue. Waktu dia memeluk paha gue dengan kakinya, gue merasakan kelembutan bulu-bulu kemaluannya, lalu kehangatan vaginanya yang digosok-gosokkan ke paha gue. Gue menjadi rileks dan mulai menghayatinya. Eca menijilati dan menghisap dada gue, gue mengerang senang. Gue menjadi sangat terangsang. Salah satu tangannya menjalar ke bagian selangkangan gue dan gue mendengus saat jarinya menyentuh klitoris gue yang basah. Menekankannya di antara labia gue, dan memasukkannya ke dalam lobang kemaluan gue. Sentuhannya sungguh seksi, gua hampir saja mencapai orgasme.

Gue sedikit kaget ketika mulutnya menekan bibir gue. Bibirnya yang lembut terbuka, dan lidahnya menerobos mulutku. Gue mulai merasakan kenikmatan yang dihantarkan lidahnya. Gue biarkan dia mencium gue, dan beberapa waktu kemudian, gue membalas kecupannya. Tangannya terus mengelus-elus vagina gue. Gue mencoba untuk mengalungkan lengan ke tubuhnya, tapi ikatan yang dibuatnya sangat kencang. Gue hanya dapat merintih di bawah pengaruh sentuhan dan ciumannya. Eca menarik mulutnya dari gue dan gue membuka mata gue yang tadi terpejam menghayati perlakuannya. Dia memandangku dengan tatapan liar. "Kamu akan menjadi pemakai pertama dari dildo ini, Margie." Katanya, "Kau akan menyukainya." "Tapi Ca…" Sia-sia gue menolak. Eca telah menaruhnya di bibir kewanitaan gue. "Tadi kau telah memuaskanku. Sekarang giliranmu. Nikmatilah, Margie." Kemudian gue saksikan Eca menarik kembali dildo itu, membawanya ke mulutnya. Gue melihatnya menjilati dan menghisapnya seperti itu penis sejati. Dia mengeluarkan dildo dari mulutnya dan menyentuhkan kepala dildo itu ke mulut gue. Mulut gue terbuka dan Eca menekan kepala ‘penis’ yang besar itu ke dalam. "Yach, begitu Margie," katanya, "Hisaplah kejantanan ini. Hisaplah kontol besar ini. Kau menyukai kontol yang besar berada di mulutmu, bukan?" Gue gak bisa menjawab dengan kata-kata, tapi respons gue cukup jelas. Waktu Eca mengayunkan dildo itu keluar masuk mulut dan kerongkongan gue, gue menghisapnya dan melenguh dengan penuh kenikmatan.

Gue membuka mata dan melihat Eca memainkan kewanitaannya dengan tangan yang satu lagi. Vagina gue sendiri telah benar-benar banjir dan gue frustasi karena tak dapat menyentuhnya dengan tangan gue untuk melepaskan tekanan nafsu syahwat yang menggebu-gebu itu. Eca menyadarinya. Dia mengeluarkan dildo dari mulut gue dan memainkannya di bibir gue. "Kamu siap disetubuhi dildo ini?" Dia bertanya. "Yaaaa!" gue berteriak serak. Gue sudah benar-benar kepingin membenamkan dildo itu ke vagina gue, seperti gue gak pernah disetubuhi sebelumnya. Mulut Eca kembali menciumi mulut gue, dan gue membalas dengan penuh nafsu. Sementara itu, gue merasakan Eca membawa dildo itu ke arah selangkangan gue. Kepala dildo yang halus dan licin itu menyentuh labia gue yang basah dan lalu menekannya di antara kedua bibir vagina gue. Eca duduk, untuk membuatnya lebih mudah memasukkan benda itu ke tubuh gue. "Aaaaahg, aaaaaghhh." Gue merintih, nafas gue gak beraturan. Eca menunjukkan dildo yang sudah 15 centimeter masuk ke dalam liang kewanitaan gue.

Dia perlahan-lahan, ooooh, perlahan-lahan sekali menarik keluar benda itu, hampir keseluruhannya, lalu dengan perlahan-lahan kembali memasukkannya, lebih dalam, lebih dalam lagi. Gue gak tahan lagi. Makin terangsang. Gue gak pernah berbicara ‘kotor’ kalau sedang ‘main’ dengan Daud atau dengan pacar-pacar gue yang dulu-dulu, tapi Eca membuat gue putus asa dan meminta untuk benar-benar disetubuhi. "Ooooooh. Aaaahhhhh." Gue menjerit, "Fuck me ! Berikan padaku! Kasari aku! Masukkan Ca! Tekan! Jangan pernah kau keluarkan!" Kamar tidur Eca itu menggemakan segala kata-kata kotor yang keluar dari mulut gue. (Gue dilarang Elang menceritakan teriakan gue dengan mendetail. Dia beraliran softcore, gue rasa.). Eca tidak perlu petunjuk apa pun. Dia mulai memompa dengan kencang dildo itu di dalam lobang kenikmatan gue. Tangannya menggenggam dildo itu kencang. Tinjunya menghantam bagian luar vagina gue, membuat gue bertambah nikmat. Gue merasa bagian dalam vagina gue tertarik keluar saat dildonya ditarik. Gue menikmati kekasaran yang dibuat Eca. Hanya butuh waktu beberapa menit untuk membuat gue puas secara total. Gue mengalami orgasme yang gue rasakan sangat berbeda. Gue jarang bisa mendapatkan multiple orgasme, tapi kali ini mungkin empat atau lima kali puncak kenikmatan itu gue rasakan. Gue gak tahu mana yang duluan terjadi. Gue yang udah orgasme, atau Eca yang telah kehabisan energi memompakan dildo itu ke vagina gue.

Dia rebah di samping gue yang masih terikat. Dildonya masih tertancap di vagina gue. Eca memeluk paha gue dengan kakinya, lalu mengosok-gosokkan kewanitaannya kepada gue. Sampai akhirnya dia juga mencapai orgasme. Dia terbaring kelelahan, tidak bergerak. Gue khawatir dia langsung tidur, dan gue harus terikat sepanjang malam. Akhirnya Eca bergerak, menjauh dari tubuh gue yang penuh keringat. Dia mencium gue cukup lama sambil tangannya membuka ikatan tangan gue. Tangan gue terbebas, gue memeluknya dan menariknya ke tubuh gue. Kami berciuman kembali. Gue mengeluarkan dildo dari ‘sarang’nya, saat itu Elang menelpon. "Did you two enjoy my present, ladies?" Terdengar dia tertawa, kami hanya tersenyum. Gue mencium Eca, dan kami tertidur saling berpelukan. Waktu terbangun esok harinya, gue mulai ragu dengan kehidupan normal gue. Gue misuh-misuh ke Elang. Dia yang memulai semua ini. Tapi Elang pula yang akhirnya menyakinkan gue, kalau kadang kita emang butuh sesuatu yang beda. Buktinya, gue bakalan kawin dengan Daud beberapa bulan lagi. Doain gue ya…..!!! = p.s. : kalau ada yang ingin kontak gue, ke alamat e-mail Elang aja, ntar doi kasih tahu gue. Di divisi gue cuma dia yang dapat akses internet! Kantor gue tambah pelit aja...

 

 

ke awal

1