Elang

[ 3a]

Pukul sepuluh pagi selepas mengantarkan Ilen pulang ke rumahnya, aku menelpon Srida di kantornya. Yang mengangkat Novi, rekannya satu divisi. "Hai, Nov." "Hai! Gila, si Non kenapa tuh? Dari tadi pagi murem aja." "Emang iya?" "He eh. Ngakunya sih keponakannya tambah parah. Tapi aku yakin, ada sesuatu yang lain. Sebab malam Minggu itu dia telpon aku. Tahu nggak jam berapa? Setengah dua pagi! Gila. Doi girang banget. Cerita kamu dan dia jadian. Emang bener? But, tadi pagi ketika aku tanya soal kamu, doi cuma memberengut. Ada apa Lang?" "Panjang deh ceritanya. Ntar aku ceritain. Sekarang mana nona itu?" "Sebentar. Doi di meja gue, sedang download data. Dimana nih?" "Di Bandung." "Gue sambungin ya." Terdengar jingle iklan bank tempatnya bekerja, lalu telepon yang diangkat. "Hallo. ******** ******* (nama bank). Dengan Srida, bisa dibantu?" "Hai. Ini aku, Elang. Apa kabar?" "Baik." Jawabnya malas, "Ada apa?" "Mau bicara denganmu saja." "Nanti saja. Aku pasti jemput kamu besok. Kereta jam berapa?" "Jam tiga." "Oke. Aku tunggu kamu pukul 6 di Gambir. Sekarang aku harus bekerja." Katanya tegas. "Nanti malam aku telpon ke Bintaro." "Nggak perlu.

Aku menginap di rumah Ria di Sahardjo." Lalu tanpa ba bi bu lagi dia menutup teleponnya. Sikapnya yang biasa, yang spontan. Aku hanya dapat menggaruk kepala yang tidak gatal. Tapi aku tahu dia berbohong saat menyatakan akan menginap di rumah temannya. Hari itu kuhabiskan dengan berenang di Cipaku. Lalu malamnya menikmati /rif yang manggung di Fame. *** Kereta tiba di Gambir telat, dengan buru-buru aku meloncat keluar. Dengan memanggul ransel Levi’s kuningku, aku nyaris berlari menuruni tangga. Srida berada di sebuah kursi sambil membaca novel Danielle Stelle. Dia mengenakan sack dress warna hitam dipadu blazer abu-abu. "Hai." Sapaku. Dia mengalihkan matanya dari bacaan, tersenyum malas kepadaku. "Kita pergi sekarang." Kami pun melangkah. "Kemana kita?" Tanyaku "Terserah kamu." Aku bingung, memang tidak punya tujuan yang jelas yang kurencanakan. Aku hanya ingin berbicara dengannya. Kami naik taksi, masih belum jelas hendak kemana. "Kita ke Pharaoh saja." Kataku. "Dimana? Apa itu?" "Acacia Hotel. Tempat karaoke." "Kita bukan hendak berkaraoke, Lang." "Iya. Aku hanya mencari tempat yang enak untuk bicara. Terserah nanti saja soal karaokenya." "Terserahmulah." Taksi pun menuju jalan Kramat Raya.

Di dalam taksi, Srida tidak banyak bersuara. Bungkam saja. Sesekali dia menguap. "Kamu mengantuk?" "Tidak." "Jangan berdusta." "Sedikit." "Kamu kurang tidur?" "He eh. Kebanyakan ngobrol sama anak-anak." "Bener?" "Tak tahulah. Aku merasa susah tidur. Pikiranku buntu, mumet." "Kalau aku penyebabnya, aku minta maaf." Dia kembali tersenyum malas. "Begini deh. Kita jangan di karaokenya. Aku pesan kamar saja. Aku tidak mengajakmu menginap. Aku yang akan menginap di situ. Setahuku ada tayangan bola di sana. Kalau nanti kau ingin pulang, aku akan antar, setelah segalanya selesai." "Aku bisa pulang sendiri." "Whatever…" Maka sesampai di Acacia Hotel, aku memesan kamar. Saat front office-nya bertanya jenis kamarnya, aku memesan kamar dengan dua tempat tidur. Biar lebih enak bagi Srida, pikirku. Sesampai di kamar, kusilahkan dia mandi. Tapi dia menolak. Aku tak memaksanya. Kami duduk di sepasang kursi, menatap keluar. Kolam renang tepat berada di bawah kami. Aku menatapnya. Dia mengalihkan pandangnya. "Aku harus ngomong apa, Srida? Apa yang ingin kau ketahui?" "Lang. Aku hanya ingin kejujuranmu." "Soal apa? Aku dan Venus?" Dia mengangguk. Aku menghela nafas. "Yang kau dengar dari Ilen benar, Srida. Aku memang telah bertunangan dengan Venus. Kami akan segera menikah. Tapi…" "Mengapa kau tak berterus terang sebelumnya? Mengapa kau memberikan kepadaku harapan?" "Kau tidak bertanya. Lelaki tak pernah berterus terang Srida, terutama jika tidak diminta." "Kau berbohong kepadaku, Lang." "Srida. Ini karena… karena, aku cinta padamu."

Dia menatapku tajam. Sambil mengeluarkan sesuatu, sebungkus A-Mild. Mengeluarkan sebatang, dan menyulutnya. Aku tak tahu dia mulai merokok. "Jangan menipuku, Lang." Asap mengepul dari mulutnya yang mungil. "Sungguh. Aku tak pernah mencoba berbohong padamu. Aku cinta kau. Bukan saja sekarang, saat kita berjumpa lagi. Waktu kita masih kuliah, aku sudah mencintaimu. Tapi kau tak pernah menanggapi, larilah aku ke Venus. Dan, jujur, aku tak salah pula memilihnya." "Kenapa kau tak berterus terang dahulu?" "Kau yang tak menanggapinya, Srida. Ingat, berapa kali aku menelponmu, mencari alasan untuk bertemu? Sayangnya Ilen tak pernah mau membantuku." "Kau dulu beda dengan yang sekarang, Lang." "Itu relatif, segalanya bisa berubah. Toh, aku tak pernah menduakan Venus. Sejak 93." "Dan sekarang? Denganku?" "Kau berbeda, Srida. Aku mencintaimu sejak lama. Kau tak tahu bagaimana senangnya aku waktu pertama kali kau menelponku. Sumpah."

Srida menatapku, mencoba mencari pembuktian kata-kataku. Aku menganggukkan kepalaku. Tersenyum. "So, waktulah yang salah?" "Ya." "Aku tak mengerti, Lang. Sejak kita bertemu kembali, hatiku tentram. Aku tak bisa mengenyahkan dirimu dari benakku. Makanya, saat Ilen bilang kau telah terikat, duniaku serasa diputarbalikkan. Gelap." "Jangan merasa seperti itu. Nanti akan ada orang yang lebih dari padaku." Ku julurkan tanganku, meraih tangannya, "Singkirkan rokokmu, Srida. Tak pantas buatmu." Kuambil rokoknya, lalu kumatikan. Setelah itu tangannya kembali kugenggam, dia tidak menolak. Hatiku tambah tenang. "Srida. Sampai saat ini pun aku masih mencintai kau." "Jangan, Lang." "Kenapa. Cinta bukan harus memiliki." Genggamanku bertambah erat. "Ya, kau benar. Cinta tak harus memiliki." "Srida. Aku punya permintaan. Maukah kau bersamaku malam ini. Hanya untuk sekedar bercakap-cakap, mengingat masa lalu?" Dia tak menjawab. "Please…. Aku janji tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh.

Aku, aku hanya ingin merasakan kembali saat-saat yang tak pernah kumiliki. Masa yang harusnya dulu kita rasakan…. Please…." Dia masih belum menjawab. "Mau khan…? Please, Srida, please." "Baiklah." Jawaban yang sangat melegakan hati. Sumpah, aku tidak punya keinginan macam-macam dengan mengajaknya menginap. Sesuai dengan ucapanku tadi, aku hanya ingin bersamanya di sedikit waktu yang kami punya. Dan, aku berjanji dalam hatiku, tak akan melakukan hal-hal yang tidak dikehendakinya. Srida kemudian mandi. Keluar dari kamar mandi, dia telah memakai piyama cendek, dari bahan kaos warna putih dengan motif bunga-bunga biru. Tubuhnya memukau mataku. Dia tersenyum, melihat aku mengawasinya. "Maaf ya atas pakaian tidurku ini." "It’s okay. You look georgeous." "Thanks." Kemudian aku mandi. Karena aku tidak membawa pakaian tidur satu pun, aku kembali memakai celana jeansku dan t-shirt putih.

Lalu kami pesan makanan. Sop buntut, buah-buahan dan teh panas. Semangkuk kami habiskan berdua, karena dia malas makan. Dan malam itu, seperti bocah kecil, aku disuapinya. Selepas makan, kami berbincang sambil menonton tv. Aku di ranjangku, dia di ranjangnya. Pahanya yang putih terpampang jelas, karena dia belum memakai selimut. Dia tidak merokok lagi karena kularang tadi. Kami berbicara banyak hal. Dan anehnya, akhir-akhirnya pembicaraan kami membuat kami semakin menyadari kalau aku dan dia masih saling mencintai. Bahkan di diriku, rasa sayang itu bertambah besar. "Lang, pindahlah ke sampingku. Agar bicaranya lebih enak." Dia duduk dari tidurnya. Aku pun menurut. Yakin akan janjiku, aku pun berbaring di sebelahnya. Dia merebahkan kepalanya di bahuku, memelukku dengan lengannya. Aku baru sadar kalau dia tidak memakai bra, kebiasaan semua gadis dan wanita kalau hendak tidur. Tapi sungguh, itu tak membangkitkan gairahku. "Bicaralah, Lang. Apa saja." Kami pun kembali bercakap-cakap, sampai suatu ketika, Srida mencium pipiku, bibirku.

Aku menatapnya. Dia tak berkata-kata. "Hei." Aku memperingatkannya. Dia tertawa. Gemas aku melihatnya. Lantas kurengkuh tubuhnya, kupeluk erat. Dia menatapku, matanya meredup. Kucium bibirnya. Dia tidak mengadakan perlawanan, malah bibirnya membalas dengan penuh perasaan. Kami terhanyut. Tanganku bergerak aktif. Pikiran dan akal sehatku telah dibalut nafsu hewani. Kusentuh dadanya. Memegang dan meremasnya perlahan. Nafas Srida tak beraturan. Kuciumi pipinya, lalu lidahku telah bermain-main di telinganya. Srida memelukku erat. Satu tanganku menangkap bongkah pantatnya, mengusapnya. Lantas ke selangkangannya. Srida mengerang. Baju piyamanya kubuka. Kini tampaklah tubuh bagian atasnya yang polos. Putih kemilau, berpendar oleh cahaya lampu kamar. Aku mencium payudaranya, mulutku menggapai-gapai, bagai bayi mencari-cari puting susu ibu. Tangan Srida mencengkeram rambutku yang sedikit gondrong itu. Menekan kepalaku ke dadanya. Kuhisap payudaranya yang putih dan harum itu. Srida mengerang. "Elang…" Tanganku yang di pantatnya telah merayap, masuk melalui celah celana pendeknya. Merasakan sisi panty yang dipakainya.

Aku bermain-main dengan pantatnya yang besar dan padat tersebut. Aku tak tahan. Ingin segera menghangatkan tubuhnya dan tubuhku. Aku duduk, membuka bajuku, dan mulai membuka kancing 501-ku. Saat itulah Srida menutup kembali piyamanya, mendorong tubuhku. Lalu membalikkan badan membelakangiku. "Srida…" "Kau ingkar janji, Elang." Katanya. Yang membuatku kaget, ada isak tangis di situ. "Tapi… tapi… kau yang memulainya." "Aku hanya mengujimu." "Mengapa kau menanggapi perlakuanku, Srida?" Dia tidak menjawab, malah menutup wajahnya dengan bantal. Ku salah tingkah. Apalagi melihat badannya terguncang-guncang oleh tangis. Ooooh, apa yang terjadi. Beberapa saat yang lalu segalanya begitu manis. Shit! I was so stupid! Aku berusaha menenangkannya dengan kata-kata. Tapi tak ada reaksi darinya. Aku semakin kebingungan. Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke tempat tidurku. Sesaat lama aku hanya dapat menonton tv tanpa memperhatikan acaranya. Channel demi channel kuganti. Bingung! Akhirnya kuambil rokoknya. Aku merokok. Bayangkan, aku yang sekian lama memusuhi asap rokok kali ini merokok gara-gara perempuan bernama Srida ini. Gila! Aku masih mencoba menenangkannya, membujuknya. Tapi Srida tetap tak berkata-kata. Akhirnya aku menyerah, kupadamkan lampu tidurku, memejamkan mata.

Cukup lama sebelum aku jatuh tidur. Tak ada reaksi dari ranjang di seberangku. Brengseknya, aku tak dapat menonton partai Belanda malam itu. Huhh! Tapi ketika sekitar pukul empat aku terbangun, kurasakan kehangatan tubuh seseorang memelukku. Aku kaget juga, masih antara sadar dan tidak. Dimana aku? Lalu aku sadari itu Srida. Dia masih tidur, memelukku dengan penuh damai. Aneh, kapan dia pindah. Aku sungguh tak sadar. Aku tak berani bergerak. Takut membangunkannya. Hanya kukecup keningnya. Dia tidak bergerak sampai pukul setengah lima lewat. Senyumnya terbit seiring fajar. "Maafkan aku, Lang." Dia berbisik ke telingaku. Aku hanya mengangguk. Dia mengecup pipiku. Kali ini aku tak membalasnya, takut. Ragu. Kami setelah itu bercakap-cakap kembali. Mentertawakan kejadian semalam. Lalu kami mandi, dan sarapan di restoran. Bercakap-cakap kembali. Selepas itu, kami kembali ke kamar, bersiap-siap untuk ke kantor. Di kamar aku menyalakan televisi, di MTV Shania Twain sedang menyanyikan You Still The One. Srida duduk di tepi tempat tidurku, menyisir rambutnya yang ikal.

Sinar matahari dari jendela memantul di sekujur tubuhnya. Sementara aku bersandar di dinding. Aku menatapnya, mengagumi keindahan yang ada di atas bed cover kuning gading itu. Sesaat lamanya aku tertegun. Ini adalah kali terakhir aku akan bertemu dirinya. "Elang." Suaranya membuyarkan lamunanku, "Cium aku untuk terakhir kali." Aku mendekati, membungkuk, dan mencium bibir Srida. Kupegang wajah Srida dengan kedua tangan, seperti mengagumi objet d’art –karya seni-. Srida memejamkan mata dan membuka mulutnya, mengecap lidahku. Oh, pikirku, aku tak ingin saat-saat ini berlalu. Srida meletak tangannya di punggungku, bertumpu di bahuku, kemudian turun ke bagian bawah punggung. Ia menyelipkan jemarinya ke bawah sabukku dan meletakkannya di sana, menikmati kehangatan dan kelembutan bokongku. Lidahku perlahan bergerak memasuki mulutnya, menjelajahi bagian dalam mulut Srida, dan memegang wajahnya lebih erat. "Srida," erangku. Aku menikmati saat ini, kataku dalam hati, sangat menikmati. Aku merasakan pikiranku akhirnya mulai menjauh dari rasa kesal dan ketidakpastian. Kepalaku terasa ringan. Tanganku perlahan mengelus lehernya, bahunya, kemudian memegang payudaranya dari samping, lembut. Srida mengerang, tampaknya merasakan kehangatan menyelimutinya, merasa terangsang. Sulit dipercaya kalau ini benar-benar terjadi, pikirku. Sulit dipercaya.

Aku membuka kancing atas blus, membelai kulitnya dengan hangat, kemudian menciumi payudaranya. "Mmmmph," erang Srida. Srida menyelinapkan jemarinya ke balik underwear-ku, merasakan kerasnya bokongku namun berkulit bagaikan beledu. Pada saat yang sama aku meraih ke belakang punggungnya untuk membuka kancing blus Srida yang lain, kemudian melepaskan branya, dan Srida terbuai. Aku menanggalkan roknya dan membiarkannya jatuh ke lantai. Pelan-pelan, sangat lambat, kepalaku bergerak turun sambil terus menciumi perut Srida dengan panas, terus hingga ke bawah pusar sambil melepaskan panty berwarna ungu Srida, dan… "Elang," kata Srida, usaha sia-sia untuk mengontrol diri. Kepalaku bergerak maju mundur, kemudian naik turun. Srida menggerakkan pinggulnya, sementara titik-titik kenikmatan yang menggodanya semakin memuncak, menjadi gelombang tajam yang semakin lama semakin kuat dan besar. Tangan kiriku menyibak bulu-bulu halus di sekitar vaginanya, sementara yang kanan meremas-remas payudaranya yang lembut tapi telah mengeras itu. Putingnya kupermainkan dengan ibu jari dan telunjukku. "Mmmmmph." Srida mengerang lembut. Menendang lepas sepasang sepatunya. Lidahku menjilati sebentuk daging berwarna merah muda yang mencuat dari balik lapisan vaginanya. Aroma lendir yang khas bermain-main di hidungku. Lendir itu telah bercampur dengan air ludahku. Srida mengejang, pahanya dibuka lebar, mempermudah akses bagi lidahku untuk keluar masuk di pintu lobang kenikmatannya. "Mmmmph," erangnya lagi, "teruskan Lang, teruskan." Tangannya menggapai rambutku, meremasnya dengan penuh nafsu.

Lidahku mulai memasuki celah vaginanya yang sangat sempit, kedua tanganku membuka tirai vaginanya, lalu kusodorkan lidahku, menjulur, berputar-putar di situ. Kurasakan cengkeraman tangan Srida di rambutku bertambah kencang. "Uuugh, uuugh, Elang, enak Elang, uuuugh, terus Elang, terus!" dia telah tak sadar, meracau, berteriak-teriak penuh syahwat. Kejantananku terasa sesak dalam jeans yang kukenakan. Lidahku mengecap, suatu rasa yang tak dapat diungkapkan keunikannya. Rasa wanita dewasa, rasa segala kenikmatan dunia. Lidahku terus bergelung di situ, mundur maju membakar gairah wanita ini, merasakan tekstur yang sungguh sensasional. Dia menjerit, meraung. Pinggulnya berputar, terkadang mendesak kepalaku. Seakan meminta lidahku menggapai lebih dalam lagi. Tangannya tak lagi mencengkeram rambutku, tapi telah mencakar seprai tempat tidur. Dengan mataku kulirik, mulutnya menggigit ujung bantal, menahan jeritnya agar tak lagi keluar. Lalu tubuhnya mengejang, sesaat kurasakan pinggulnya terlempar, menghantam wajahku dengan kelembutan bukit kemaluannya. Dia sudah sampai di ujung keindahan seksual manusia. Bau kewanitaannya semakin marak. Mengetahui dia sudah menikmati permainanku, kutarik keluar lidahku, menjauhkan kepalaku dari kewanitaan, sambil tetap memandangi bentuknya yang sempurna. Kukeluarkan sapu tangan dari saku celana, membersihkan lendir yang ada pada bibir dan hidungku. Srida menatapku sendu. "Elang…." Aku tersenyum, dia membalasnya lemah. Aku tak berhenti sampai di situ, kuciumi rambut kemaluannya, menciumi pahanya, lutut, bagian dalam betisnya, lalu kembali naik ke atas.

Bermain-main dengan lidahku di perutnya yang lembut seperti sutra, lalu ke dadanya yang ranum merah muda, yang sekarang terdapat titik-titik merah darah di sekitarnya. Tanda orgasme, begitu orang bilang. Aku menciumi lehernya, kemudian dagunya. Sampai akhirnya ke bibirnya. Srida membalas, perlahan-lahan. Lidahku kumasukkan ke mulutnya yang hangat. Pertama ada penolakan darinya –mungkin sedikit jijik dengan sisa lendir tubuhnya sendiri-, namun akhirnya pasrah. Lidah kami saling pilin, simpul menyimpul. Kuhisap nafasnya. Kugigit pinggir bibir bawahnya, dia mengerang. Nafsunya tumbuh kembali. Lidahnya dengan agresif melesak ke dalam mulutku, bergulat di situ. Ciuman kami pun menjadi panas, keringat telah mengucur di seluruh tubuhku. Baju kotak-kotak biru kecil yang kukenakan, terasa melekat di bagian punggung. Tangan Srida bergerak teratur, menuju bagian bawah tubuhku. Meraba-raba bagian depan celanaku. Mengusap-usap kejantananku yang meradang di dalamnya. Aku mengerang dan melenguh. Mulutku disumpalnya dengan bibirnya yang manis. Lipstik yang dipakainya telah belepotan di sekitar bibirku. Tangannya terus mengusap-usap benda kebanggaanku itu. Semakin panas kurasakan daerah perutku. Sesuatu seperti menggelepar di lambungku, dan hentaman godam menyambar kepalaku. Apalagi ketika jemarinya masuk, di sela-sela button fly celana Levi’s-ku. Aku sudah tak tahan. Ini harus kutuntaskan. Aku berdiri, Srida pun duduk kembali.

Aku membuka sabukku dan membiarkan 501 kremku melorot, kakiku kutarik keluar dari sepatu model Harley Davidson-ku. Srida menatapku, bisa melihat tonjolan di balik underwear-ku. Dan perlahan dia menurunkannya. Aku membuka kancing-kancing kemeja, lalu melemparkannya serampangan. Kelelakianku pun terlontar keluar. Srida menatapku, pandangannya meredup. Lalu dengan kedua tangannya, digenggamnya kejantananku. Dibelai, diusapnya. Kehangatan mengalir deras dalam perutku. Kejantananku telah tegak bagai mercu suar di pinggir tebing, mengacung. Srida mencium ujungnya. Aku hanya dapat mengerang. Dicucupnya pinggir-pinggir azimatku itu, diciuminya dengan penuh perasaan. Lututku serasa bergetar, menahan sensasi yang telah tak terperi. Lidahnya menjilat-jilat, sementara tangannya mengurut lembut. Ke atas dan ke bawah. Ereksiku tambah sempurna. "Uuuuugh…." Aku hanya dapat mengejan. Sebelah tangannya mengepit lembut kepala kejantananku, sementara lidahnya terjulur, berselasap, menembus lubang seniku dengan ujung lidahnya. Pastilah dapat dirasakanya lendir permulaan spermaku. "Eeeegh…" Tangan Srida yang kiri telah berada di pantatku, meremasnya dengan penuh gairah. Sementara yang sebelah lagi kembali mengurut-urut batang kehidupanku. Lalu perlahan dan meyakinkan mulutnya terbuka, menelan kepala kelelakianku, menghisapnya. Lidahnya membelit, membelai. Aku tahu sulit baginya untuk menggerakkan lidah dengan kegempalan urat yang ada di dalam mulutnya. Tapi dia berhasil melakukannya, dan dia melakukan dengan fantastis.

Kepala Srida maju mundur, lututku pun seperti bergoyang. Bunyi yang ditimbulkan gerakan pinggulku terdengar samar, ditimpali bunyi kejantanan ku keluar masuk di mulut Srida, kantung sperma yang menghamtam dagunya, dan lenguhan yang tidak beraturan. Demikian pula nafasku. "Aaaah…Aaaah…Aghh." Nafsuku memuncak tinggi. Kuremas dan kujambak rambutnya. Aku tersadar, kalau aku ingin memperpanjang permainan ini, aku harus menahan ejakulasiku yang kuyakin telah bertengger di ujung kelelakianku. "Sssssh… time out dulu, sayang." Ku rebahkan dia di atas tempat tidur, kuciumi bibirnya. Kutelusuri tubuhnya kembali. Kami berguling, dia berada di atasku sekarang. Kuciumi pipinya, lalu ke telinganya yang kanan, kumainkan lidahku ke tempat yang sensitif tersebut. Srida mengerang. Kuremas-remas bukit kembarnya. Kupermainkan kedua putingnya. Srida melenguh. Kemudian kuangkat pinggangnya ke atas. Srida lalu berjongkok di mukaku. Sambil memeluk pinggangnya, lidahku kembali menggeluti clitorisnya. Tangan Srida menopang tubuhnya, mengcengkeramnya. Seprai telah kusut masai tak karuan. Jari tengahku menyelisip, mencoba menguak lobang kenikmatannya. Srida jadi semakin bernafsu. Teriakannya diredam sambil menggigit bibir bawahnya. Jariku sesaat merasakan sesuatu. Astaga….., Srida masih PERAWAN?!!!! Kutarik jariku yang nakal itu. Srida menatapku. "Teruskanlah, Elang. Kenapa berhenti?" "Kamu, kamu….. Is it your first time ?" Aku bertanya tak percaya.

Dia menatapku dengan mata sayu, "Lakukanlah. Aku ingin menyerahkannya padamu." Aku terkesima. "Are you sure?" Tak ada jawaban, hanya tubuhnya menggelosor ke bawah. Kejantananku bersentuhan dengan keperempuanannya. Kini tiap jengkal bagian muka tubuh kami telah bertemu dengan pasangannya. "Lakukanlah, Elang." Dia berbisik di telingaku, "Lakukanlah demi cinta kita." Peperangan terjadi dalam bathinku. Sesuatu mendorongku untuk tidak melaksanakan keinginan Srida. Tubuhnya perlahan kutolak. Tapi dengan tangannya, Srida telah memasukkan kepala kejantananku ke mulut rahimnya. Aku hanya terpana. Sesaat kurasakan sensasi terindah dalam tubuhku. Menggeleparkan setiap syarafku, membakar setiap sel dalam ragaku. "Srida…." "Do it Elang. Terimalah aku." Aku pun tak dapat berbuat apa-apa, selain membiarkan insting hewaniku bekerja. Kugulingkan badan kami berdua, kini aku berada di atasnya. Dengan perlahan, kutekan pinggangku, mencoba untuk tidak menyakiti Srida. Terlontar jeritan kecil, ketika ujung kelelakianku melesak, merobek dinding tipis keperawanannya. Terasa hangat darah kegadisan Srida, mengalir di urat kelaminku. "Aaaaah." Srida mengerang. Pantatku memompa pelan. Pelan sekali.

Dan lenguhan Srida mengiringi setiap gerakanku. Kucium bibirnya, kutekan. Lalu kemudian beralih ke telinganya. "Nikmatilah, Srida, sayang." "Ya… Elang, ya, kunikmati kehangatanmu dalam diriku." Jawabnya serak. Setelah beberapa belas tekanan keluar masuk, lobang kenikmatan Srida semakin lancar. Walaupun bibir vaginanya tetap tertarik saat kejantananku ke arah luar. Aku merubah posisi kami. Kubopong dia ke ujung ranjang. Lalu dengan posisi aku berjongkok, kutikam lagi kemaluannya. Sekarang senjataku dapat bertambah aktif mencecarnya. Lenguhan Srida semakin ganas, seiring dengan bunyi nafasku yang berat. Terus kupompa tubuhnya. Srida kini semakin ahli, dia mulai menggerakkan pinggulnya memutar, mencari sensasi yang dapat dirasakan kami berdua. "Uuuuugh. Kamu memang memabukkan Srida." Pujiku dengan suara geram. Sebagai jawabannya kuku-kuku tajam Srida menancap di daging punggungku. Bunyi berkecipak yang kami buat semakin cepat iramanya. Aku menghatur nafas sekian detik. Kucabut kelelakianku dari sarangnya yang lembut dan hangat itu. Srida mendelik. "Sssshhh….., sebentar sayang, kau tak ingin ini segera berakhir bukan?" Dia mengangguk. "Berbaliklah, cintaku." Dia mengikuti perintahku. Kutarik pinggangnya, membuat dia berada dalam posisi merangkak. Lalu kusibakkan belahan pantatnya. Mendaratkan kepala kelelakianku pada lobang vaginanya kembali. Ku setubuhi dia kembali. Tanganku meraih payudaranya. Pinggulku menghantam pantatnya. Kami terus berpacu. Keringat makin membanjiri tubuh kami berdua. Seprai telah basah. Srida terus menjerit.

Orgasmenya terjadi entah berapa kali. Enaknya wanita begitu, dapat merasakan kenikmatan yang menerpa berulang-ulang. Sedang lelaki jarang ada yang dapat mencapai orgasme berulang kali kecuali dia telah dapat mengamalkan petunjuk di buku Pria Multi Orgasme yang terkenal itu. Dan aku mengakui, aku hanya seorang yang bisa orgasme apabila telah ejakulasi. Aku tak sesuper pria-pria tersebut. Aku harus beristirahat sejenak, sebelum dapat mendaki kembali. Kuberikan tanganku kepadanya, dia mengulum satu persatu jemariku. Sekian menit kami terus bersenggama dengan posisi ini. Kemudian kami berguling berdua. Kucium bibirnya. "Istirahat sebentar, sayang." Bisikku. Tapi dia tak ambil peduli, langsung saja hendak melahap lagi kemaluanku dengan vaginanya. Terpaksa kuatur strategi untuk tidak mengecewakannya. "Bersihkan punyaku, sayang." Kusodorkan seprei tempat tidur untuknya. "E..engh." Srida menggeleng. Dikulumnya kemaluanku. Sementara itu belahan kewanitaannya diajukannya ke mukaku. Kulihat sisa darah bercampur dengan lendir mengalir di pahanya. Kubersihkan dengan sapu tanganku. Kujilati vaginanya. Sementara itu Srida telah melaksanakan tugasnya. Lidahnya kini melakukan gerakan memutar di antara kantong kemaluan dan anusku. Sesekali dikulumnya kantong spermaku yang cukup besar itu. Syarafku bergetar, bulu kudukku meremang. Kutepuk pantatnya. Dia mengerti, lalu membalikkan tubuhnya. Dengan perlahan dia duduk tepat di atas kejantananku yang mengacung, keras dan semakin membesar.

Sempitnya kemaluan Srida kembali kurasakan, menimbulkan sensasi pijatan-pijatan halus yang mengakibatkan tubuhku bergetar. Srida melonjak-lonjak di atas tubuhku, seperti seorang koboi di atas pelana kuda jantan liar dalam permainan rodeo. Teriakannya berpadu dengan nafasku yang memburu. Sesekali pinggangnya diputar. Kugenggam kedua belah pantatnya. Oooh, aku tak ingin ini berakhir. Aku merubah posisiku, menjadi duduk berhadap-hadapan dengannya. Dia masih tetap bergerak liar, matanya mendelik ke atas. Suatu pemandangan yang luar biasa, wajah seorang perempuan matang menggapai kesempurnaan permainan cinta. Intercourse kami terus berlanjut belasan menit dengan gaya itu. Tubuhnya kupeluk, kurengkuh dengan kasar, saat kenikmatan dan kerinduan tertumpahkan di tubuh hangatnya. Oooh, sungguh kurindukan tubuh wanitanya. Sebentar kemudian Srida telah sangat kelelahan. Aku lalu membaringkannya. Kucabut kejantananku. Membersihkan lendirnya dari kemaluanku. Kuambil kedua kakinya, kubuat berselonjor di tepi ranjang. Lantas dengan aku berada di bawah, dengan lutut menjadi tumpuanku, kutanamkan kelelakianku kembali. Ku gerakkan pinggulku maju mundur. Kebasahan kelaminnya membuat bunyi kecipak yang sangat keras. Aku terus saja menghantamkan tubuhku ke arahnya. Srida meringis, agak kesakitan dengan kekasaran yang kuperbuat. Aku terus mempercepat gerakanku, kantung spermaku memukul-mukul sela-sela pantatnya.

Aku makin mempercepat hantaman di vaginanya. Srida menjerit…. "Aku…aku…akan sampai sayang. Egh, ergh…" Lenguhku. "Letupkanlah, tanamkan di rahimku….Ah…ah…Elang…ah." sahutnya dalam erangan. Aku pun menekan pinggulku ke depan. Melesak di dalam kewanitaannya. Lalu lahar kehidupan itu terpancarkan. Hangat, membara, mengisi ruang-ruang kosong dalam rahimnya. Srida mengerang, aku melenguh di tiap semprotan spermaku. Aaaaahg…. Lalu tubuhku menggelosor, menimpa tubuhnya yang berkilauan oleh sinar matahari yang dipantulkan butir-butir keringatnya yang harum. Kucium bibirnya, pipinya, keningnya. "Terima kasih, sayang." Ujarku, "Aku cinta padamu." Dia tersenyum manis. Senyum terindah yang pernah diberikannya kepadaku. "Aku pun cinta kamu, Elang. Sayang, cuma ada satu Elang. Itu pun telah menjadi milik orang lain." Suaranya lirih terdengar. Lima menitan kami berbaring berpelukan. Kubelai tubuhnya, payudaranya. Menatap langit-langit kamar yang kosong. "Indahnya dirimu, sayang." Kataku. Dia mengecup bibirku, lalu berdiri. Mengumpulkan pakaiannya yang tergeletak dimana-mana. Mengedipkan matanya kepadaku, sambil tersenyum. "Kamu memang buas Elang. Kamu nakal." Aku hanya tersenyum tengil mengomentarinya. "Ini kejantanan Dayak, sayang." "Aku terpaksa mandi lagi karena kelakuanmu." Srida berlalu ke kamar mandi. Aku menyusulnya setelah melihat di jam yang menempel di meja hias menunjukkan pukul setengah delapan pagi.

Kami mandi berdua, berpelukan dan berciuman. Sudah tak ada lagi waktu untuk bercinta. Kami berdua harus bekerja. Seprei putih yang terkena tetesan darah kegadisannya kupotong 30 kali 30 centimeter, lalu kuberikan kepada Srida. Dia mengambilnya, tersenyum penuh pengertian. Lalu dia membantuku menyembunyikan lobang yang ada di bawah bed cover. [Untuk hotel Acacia, sorry!]. Sisa kenangan yang sangat berarti buat kami. Aku mengantar ke kantornya memakai taksi. Setelah itu minta diantar ke stasiun Gambir. Kenapa? Karena aku mengaku pada supir taksi itu aku dan Srida adalah suami istri yang berpisah tempat kerja, aku di Bandung, dan dia di sini. Karena aku hendak tugas di Kalimantan, aku akan naik Damri dari Gambir. Dari Gambir aku naik taksi lain menuju kantorku.

Tiba di kantor, aku telah terlambat. Saat itu baru terasa tulang-tulangku terlolosi, kehabisan tenaga. Di meja kerjaku, Margie rekan kerjaku sedang makan indomie yang dipesan dari Tono, office boy divisiku. Aku menjadi lapar. Kupesan juga indomie. "Tumben terlambat, Lang? Bagaimana kabar Bandung? Gila? Kamu langsung nih?" "Iya. Kereta pertama tadi pagi." Bohongku. "Aduh." Margie menjerit, ternyata matanya terciprat kuah pedas indomie, "tissue, tissue, tolong tissuenya Lang." Aku tak melihat ada tissue di mejaku –karena aku tak pernah punya-. Reflek kutarik sapu tangan dari saku belakangku. Kuberikan kepadanya. Dia segera menghapus noda di wajahnya. Aku tersadar, sapu tangan itu….. Tapi telah terlambat! "Sapu tangan ini kok baunya aneh? Kayak….." Margie mentatapku takjub, kemudian tawanya berderai-derai. "Elaaaaang!…..Gila kamu ya!" Sebelum dia berteriak, kubekap mulutnya. Dia meronta. "Ingat Marg, kita punya rahasia masing-masing." Kataku dengan nada mengancam. Dia berhenti meronta, lalu menatapku. Sebelum mengembalikan sapu tanganku dia membolak-baliknya. "Edan, ada darahnya. Virgin, Lang?" "Hush. Entar aku cerita. Kembalikan." Dia menyerahkan slayer itu. Lalu tersadar, lantas menyumpah-nyumpah dengan bergidik kegelian. "Iiiih. Huek, aku mengelap mukaku dengan sisa… Huek..huek." Dia melompat berlari meninggalkanku. Aku tahu dia menuju toilet.

Aku tertawa melihat gadis itu menghilang di kamar kecil. Kumasukkan kembali slayerku ke kantong, lalu berpikir untuk menyimpannya di tas Levi’s kuningku saja, bersama pakaian kotorku. Agar tak ada korban sapu tangan itu lagi. Tentu saja tak akan pernah kucuci, ini sisa-sisa kenangan yang luar bisa. Walaupun ada bau kuah indomie, tak mengapa. Malah membuat kenangannya tambah nyata. Sesaat kemudian Margie telah keluar dari kamar kecil. Matanya melotot memandangku. "Sorry, Marg. Sorry." "Sialan lu. Tapi harum juga. Good f**king p***y." Lalu kami tertawa bersama. Kupeluk tubuhnya penuh persahabatan.

 

 

ke awal

1