Elang

[ 2 ]

Pukul sebelas siang aku dan Venus sedang di Gani Arta, sebuah pabrik yang banyak menjual bahan brokat untuk kebaya. Untuk pakaian seragam sanak famili di pernikahan kami nanti. Sedang asyik-asyiknya Venus memilih bahan, HP-ku yang dititipkan kepadanya berbunyi. Dia mengangkatnya. "Hallo…. Elang?….. Sebentar ya…. Maaf, dari siapa ini?…. Srida?…. Sebentar." Venus memberikan telepon kepadaku. Dengan segera aku meraihnya, dan berbicara kepada Srida. "Hi. How are you?" "Baik. Tadi itu Venus ya?" Srida bertanya, agak kaku. "Bukan." Berbohong, "Dimana kamu?" "Sedang menuju ke Jakarta, numpang sama Mas Bambang." "Oh. " "Kamu dimana?" "Di Ujung Berung." "Ngapain?" "Jalan-jalan aja." Bohong lagi. "Gila. Masa aku sudah kangen sama kamu." "Sama." "Ntar ketemu ya di Jakarta." "He eh." Telepon pun ditutup.

Aku baru sadar sorot mata curiga dari Venus. "Siapa?" "Temen. Yang kemarin ketemu waktu reuni." "Namanya?" "Tadi bilangnya siapa?" "Sri apa gitu." "Srida." Aku tidak dapat berbohong lagi. "Perasaan tidak ada anak jurusan kita dulu yang bernama Srida." "Anak Inggris. Temennya Ilen." Kataku. Venus kenal Ilen dan pernah kuajak ke rumahnya. "Oh…" Venus tampaknya ingat sesuatu, "Bukannya dia cewek yang dulu kamu taksir?" "Iya." "Ngapain dia telepon kamu?" Curiga hadir lagi di tatapan Venus. "Iseng aja. Dia ternyata kerja di Jakarta juga. Kemarin kebetulan ketemu. Emh, jangan curiga gitu dong." Kurengkuh Venus dalam pelukan. "Siapa yang curiga? Tapi awas aja ya macem-macem." "Ngancem nih?" Ledekku. "Iya." "Don’t worry, she got a boyfriend." Lalu sambil mengecup pipinya aku berbisik, "Aku cuma cinta kamu, Venus-ku." Venus pun ‘normal’ lagi. Sorenya setelah mengantar Venus ke stasiun KA -dia mesti kerja besok, di sebuah hotel yang sangat terkenal di Jakarta. Sedang aku masih dinas di Bandung. Saat itu khan sedang Piala Dunia. TV-ku khan mengadakan siaran langsung, café to café di hotel Horison-, aku berencana ke rumah Ilen.

Dengan Nokia 6110, kuhubungi dia. "Hai. Aku ke sana, ya." "Abang? Kirain sudah gak mau ke sini. Mentang-mentang." "Apaan? Aku ke sana ya." "Gimana Srida?" "Cuma temen kok." "Venus?" "Barusan aku nganterin dia pulang. Aku belum, masih ada acara di sini. Piala dunia di Horison." "Boleh dong ikutan. Nginep di sana?" "Iya." Sesampai di rumah Ilen, cewek mungil tapi berdada cukup besar itu langsung memelukku erat dan menarikku ke sudut ruang tamunya. "Hai. Tadi aku ditelepon Srida. Gila, sekarang dia jatuh cinta sama kamu, bro." "Cerita apa dia?" "Nggak. Dia cuma tanya-tanya soal kamu." "Kamu cerita apa aja?" "Aku bilang kamu sudah tunangan November kemarin." "APAAAA?" Nyaris tersedak aku. "Looo? Ada yang salah?" "Ileeeeen. Ember kamu ya?" "Gimana sih? Abang khan bener sudah tunangan dengan Venus. Ditanya tadi katanya cuma temen. Si Srida pun demikian. Katanya temen." "Lalu. Ah! Kamu gak tahu masalahnya." "Apaan sih? Bingung aku." Ilen terdiam sejenak, "Oooooh. Abang, abang. Jangan main api." "Lalu, apa kata Srida. Waktu kamu bilang aku sudah tunangan?" "Gak ada. Tapi aku bilang sama dia kamu mau ke sini.

Dia bilang entar aja dia telpon lagi." "Mati aku." "Emangnya ada apa sih?" Maka aku pun bercerita pada Ilen. Kejadian yang terjadi sejak pulang dari rumahnya kemarin. Memang, aku terbiasa berterus terang pada Ilen. Sejak kuliah dulu kami sering berbagi kisah dan isi hati. Ilen memandangku tidak percaya. Terkadang dia tertawa, terkadang tersenyum. Terkadang dia mencubitku, terkadang cekikikan. Terkadang pun menelan ludahnya. "Gila kamu, Bang!" komentarnya setelah ceritaku selesai. "Yah, mau dibilang apa?" "Jadi benar? Dia sampai orgasme dua kali?" "Katanya sih." "Gila. Gila. Gila." Ilen menggeleng kepalanya, kembali menelan ludah. Kusadari suaranya berubah agak serak. "Kamu terpengaruh, Len?" Aku tersenyum mesum, "mau nyobain?" Dan cubitannya yang menyakitkan pun hinggap di lenganku. Telepon dari ruang keluarganya berbunyi. Ilen segera ke sana, karena tidak ada orang di rumahnya. Tak lama kemudian dia sudah ada di sampingku, sambil tersenyum-senyum. "Srida?" Tebakku. "He eh." "Apa katanya?" "Waktu aku bilang kamu ada di sini. Dia cuma bilang katakan kepada Elang, jangan macem-macem sama aku. Dia marah Bang. Dan, kedengaran suaranya serak. Mungkin dia menangis." "Wah gawat, Len." "Iya. Dia bilang juga kalau kamu jangan lagi menghubungi dia." "Kenapa tadi tidak kau panggil aku?" "Srida melarangku."

Aku segera menghubungi nomor teleponnya lewat handphone. Terdengar tanda telepon telah tersambung, namun segera saja busy tone. Tampaknya Srida melihat dari CLI kalau aku yang menelpon, dia tidak mau menyambutnya. Ilen memandangku dengan pandangan menyesal. "Sudahlah. Nanti saja aku telepon lagi." Teleponku berbunyi. Aku mengharapkan itu Srida. Tapi bukan, dari Didot, sobatku yang jaga di Horison. Dia memintaku untuk segera kembali ke hotel. Ada yang harus dicek ulang untuk acara live Piala Dunia itu. "Len. Aku harus ke Horison. Jadi mau ikut?" "Boleh. Tapi rumah nggak ada orang nih?" Pas saat itu, bel pintu berbunyi. Ilen membukakan pintu. Ternyata kakak dan iparnya yang datang. Maka Ilen pun bisa pergi denganku. Karena aku lumayan akrab dengan keluarga Ilen, Ilen diijinkan untuk menginap di Horison. Tahu sendiri, piala dunia khan siarannya malem. Dengan segera Ilen mempersiapkan dirinya. Saat hendak mandi, kularang dia. Nanti saja di hotel. Dalam perjalanan dengan taksi ke hotel Ilen dan aku banyak diam. Sesekali dia tampak tersenyum, kalau kutanya dia hanya bilang ingat soal aku dan Srida di dalam taksi. Beberapa kali juga kucoba hubungi Srida di telepon. Kali ini teleponnya dimatikan. Hanya ada voice mail saja. Aku ogah kalau harus ngomong dengan mesin.

Di hotel, aku kenalkan Didot dengan Ilen. Kusarankan Didot untuk pindah ke kamarku, sedang Ilen menggunakan kamarnya. Didot protes, dengan berbisik dia bilang dia ada kenal cewek LPK Ariyanti –lumayan terkenal dengan perki-nya. Ya udah, aku akhirnya mengajak Ilen untuk memesan kamar lagi. Tapi Ilen bilang tidak perlu, dia biar sekamar denganku. Aku memandangnya sejenak, meyakinkannya. Dia cuma mengangguk, dan bilang, aku percaya kamu, Lang. Didot mengedipkan matanya kepadaku. Dasar otak ngeres. Dia emang gila sih, pacarnya bejibun, padahal anaknya sudah SMA. Bahkan ada pacarnya yang lebih muda dari anaknya di Jakarta sana. Itulah gawatnya kalau suami istri pisah kota. Istri kang Didot ini kerja di Telkom Bandung. Ngelantur ya? Aku lanjutkan. Sore sampai malam, kami hanya duduk-duduk berempat. Gaetan Didot sudah ada di situ. Lumayan cakep dan sexy . Namanya Sarita.

Rupanya si Didot mengiming-imingi gadis ini dengan janji akan mengenalkannya pada Raam Punjabi. Aku hanya tertawa dalam hati. Lagu lama karyawan stasiun TV, ya itu. Boro-boro kenalin dengan bos Multivion itu, akhir-akhirnya di’jual’ ke seorang manajer di kantorku yang botak dan bejat (halo ED! Masih belagak sex maniac?). Malam setelah acara live selesai dan beres mengemaskan barang-barang yang mesti dibawa pulang ke Jakarta, kami kembali ke kamar masing-masing. Si Didot menawarkan viagra kepadaku. (Waktu itu belum banyak yang jual di Indonesia. Dia dapat dari seorang boss besar suatu perusahaan terkenal di Indonesia yang orangnya suka nyanyi. Didot is –kalau malem- one of his bodyguard). Aku cuma bilang, sinting. Ilen ini adikku. Si Didot cuma nyengir-nyengir aja sambil pesan kalau terdengar erangan dan teriakan dari sebelah kamarku, mohon dimaklumi saja. Dan bener. Tidak sampai sepuluh menit di dalam kamar, Ilen dan aku sudah mendengar gedubrak-gedubruk dari kamar sebelah. Dinding kamarnya tipis amat hotel ini. Ilen hanya memandangku, membelalakan matanya, dan tersenyum kepadaku. "Hush! Anak kecil." Aku mendelik.

Seperti sudah kuceritakan tentang Ilen ini, anaknya emang mungil. Tingginya paling-paling 155 cm, kulitnya kuning langsat khas Sunda. Wajahnya manis. Enno Lerian kalau gede mirip dia deh. Tidak ada yang istimewa, kecuali dadanya yang ‘ruar biasa’! "Enak aja anak kecil." "Emang udah gede?" "Udah dong! Nggak lihat nih?" Dia menunjuk tubuhnya yang bersalut kaos Esprit hitam, tepat arah dadanya. "Lihat, lihat. Tapi khan itu bisa dibuat-buat. Jangan-jangan spons kamu sumpalin di situ." "Kurang asem." Sementara itu dari kamar sebelah terdengar gerungnya Didot dan erangan Sarita. Gila!!! "Tambah seru tuh, Bang." Cekikikan Ilen terdengar. "Udah jangan didengerin. Entar…." "Apa? Kepengin?" "Ileeeen. Bocor ya?!! Sana mandi. Cuci kepalamu biar dingin." "Iya deh. Aku mandi dulu." Emang kemeriahan di pertandingan tadi bikin keringat lengket ke badan. Ilen ke kamar mandi.

Sementara aku menghempaskan tubuh ke spring bed. Ada dua tempat tidur di situ. Aku mengambil yang kanan. Lalu kuraih HP-ku. Mencoba menghubungi Srida. Kali ini ada jawaban. "Hallo." "Heeh." Jawaban dari sana ogah-ogahan. Suaranya serak. Mungkin sisa tangis. "Srida. Kenapa teleponnya tidak aktif terus?" "Aku tidur." "Emh. Kamu marah ya?" "Tidak. Apa hakku buat marah?" "Aku mau jujur deh. Tapi tidak bisa ditelpon. Bagaimana kalau Selasa sore kamu jemput aku di Gambir?" "Nggak deh. Aku gak mau ketemu kamu." Telepon pun ditutupnya. Aku mangkel, marah. Kucoba telepon lagi, tapi setiap masuk terdengar busy tone. Srida benar-benar tak ingin dihubungi. Mangkelku menjadi-jadi. Di ruang sebelah masih terdengar lenguhan dan jeritan, juga bunyi ranjang yang memukul-mukul dinding. Didot memang gelo’. Tapi aku gak tertarik untuk menikmati suara-suara aneh di sebelah. Biarin aja dia bertempur. Perlahan-lahan mataku terpejam. Sesaat kemudian aku merasa telah tertidur. Entah karena capek fisik atau lelah pikiran.

Sebuah sentuhan ringan membangunkan lelapku. "Bang. Bang. Kok malah tidur? Nggak mandi dulu?" Ilen membangunkanku. Tubuhnya terbalut bathrobe yang kegedean. Seger banget kelihatannya. "Eh. Aku ketiduran." Melirik jamku, sudah tiga puluh menit berlalu. "Mandi sana. Kok wajahmu suntuk gitu?" "Nggak. Cuma tadi aku telpon Srida, dia benar-benar memutuskan hubungan kami." "Udah. Sekarang gantian, mandi! Guyur kepala dengan air dingin. Hilangkan cerita Srida dari otakmu." Ilen melemparkan handuknya kepadaku. Lalu gadis itu menuju meja rias. Duduk di kursi kecil di depannya. Menatap kaca. Ada sesuatu yang lain yang kutangkap di wajah yang terpantul di sana. Ilen menyilangkan kakinya, selintas terlihat pahanya yang putih mulus. Otakku menjadi tegang. Selirikan aku tahu dia sempat menangkap pandanganku. Tapi dia tidak bereaksi. Aku segera berdiri dari tempat tidur. Menyilangkan handuk ke pinggangku, sambil melepaskan 501 yang kupakai. Setelah itu kubuka kemeja dengan lambang stasiun TV-ku. Terpampang jelaslah dadaku yang bidang dengan bulu-bulu di sana, dan pahaku yang kekar dan penuh bulu pula. Bulu-bulu hitam itu tambah kontras dengan kulitku yang bisa dikatakan putih kecoklatan.

Saat melangkah ke kamar mandi, kusadari tatapan mata Ilen. Menelan ludah. "Kagum Len?" Godaku. Dia hanya memonyongkan bibirnya. Matanya menyipit. Dengan gerak seperti kilat kusambar bibirnya dengan bibirku. "Gotcha!" Teriakku setelah menarik kepalaku. Doi menyumpah-nyumpah. "Sinting!!!" Aku berlari ke kamar mandi. Saat aku gosok gigi ada bau samar di sekitar wastafel. Bau yang khas. Apa ya? Tapi aku tak ambil pusing. Langsung aku menuju ke bath tub, tapi tidak mengisi airnya. Aku mau shower-an aja. Sedang asyik-asyiknya aku ber- shower ria. Terdengar ketukan di pintu kamar mandi yang terkunci. "Bang. Sorry. Kebelet pipis nih." Terdengar suara Ilen. "Benter." Aku mengecilkan shower. "Gak kuat nih." "Tapi aku bugil, Len. Gila kamu?" "Gini deh, Abang buka pintu, lalu masuk kembali ke dalam bath tub. Tutup tirainya. Aku sebentar aja. Bener nih. Nggak kuat lagi." Ilen berteriak-teriak, "Aduuh…!" "Oke, oke. Benter." Meloncat aku dari dalam bath tub, membuka kunci, lalu kembali ke sana. Kali ini kututup rapat-rapat tirai plastik yang berwarna putih. Agak terbayang sih, tapi gak kelihatan banget dari luar.

Ilen masuk, kuperhatikan masih memakai bathrobe -nya. Dia duduk di toilet. Langsung terdengar suara seperti gorengan dimasukkan ke dalam minyak panas. Dia tidak mengada-ada. Bener-bener pengen pis! Kuusir lagi pikiran anehku. Lalu menghidupkan lagi pancurannya. Membilas sisa-sisa busa sabun cair. Air hangat yang mengucur, menghantam lembut kepala, tubuh dan kakiku. Enak banget. Terutama di sela-sela selangkanganku. Ugh! Sensasi itu terus terasa. Air yang mengalir itu membuat kejantananku tiba-tiba terbangun. Tanpa sadar tanganku menyentuh si buyung. Ugh! Tiba-tiba aku tersadar. Bau tadi! Bau yang tercium samar di dekat wastafel tadi. Itu bau harum kewanitaan. Hah! Ilen? Dia tadi masturbasi? Mungkin. Mungkin dia tidak tahan mendengar suara dari kamar sebelah. Bad girl! Nakal ya, Ilen sekarang. Pasti dia duduk di toilet, memain-mainkan kelembutannya dengan tangan. Mengerang dan mengejang sendirian. Bad girl! Membayangkan itu, adikku tambah mengeras. Ugh! Sekonyong-konyong tirai disibakkan. Aku melompat, kaget. Tanganku kulepaskan sambil membalik badan. Di hadapanku berdiri Ilen. Polos. Bathrobe -nya diletakkan di wastafel.

Mata gadis itu menatap kejantananku. Reflek aku menutupinya. Tapi kepalanya yang indah itu masih muncul dari sela-sela jemariku. Ilen mengerakkan wajahnya, menyusuri tubuhku. Ke atas, ke perut, dada, dan wajahku. Tersenyum memandangku. Sebuah senyum yang tak biasa kuterima darinya. "Bang." Suaranya memanggilku serak. Kakinya melangkah menuju bath tub. Masuk ke dalamnya. Mendekatiku. Sinar lampu kamar mandi menimpa tubuhnya yang polos. Memantulkan pesona kemungilannya. Aku tak mampu berkata-kata. Hanya dapat memandanginya. Wajahnya, rambutnya yang sebahu, hidungnya yang bangir, matanya yang kelam. Lalu ke lehernya. Terus ke dadanya yang penuh, aku tidak tahu ukuran pastinya, sebesar bola baseball kukira (ukuran berapa, tuh?).

Putingnya berwarna merah muda, menyembul keluar seperti karet penghapus. Perutnya rata, tidak ada lemak di situ. Ke bawah pusarnya terdapat sekumpulan anak-anak rambut, membentuk segitiga kecil yang gelap. Kakinya yang langsing, betisnya. Wangi tubuhnya mengambang di udara. Kejantananku tambah mengeras. Ugh! Kakinya melangkah ke arahku perlahan. Tiba di hadapanku, dia meraih wajahku. Mengelus pipi, turun ke leherku. Aku mengerang dibuai jemari lentiknya. Ugh! Tangannya pindah ke dadaku, meraba dan menyentuhnya, bermain-main di bulu dadaku. Memainkan puting susuku. Aku menghela nafas. Ugh! Perlahan bibirnya tiba di pentil susuku, mengecupnya. Lalu lidahnya menjilati, menghisap, menggigit pelan. Aku melenguh. Ugh! Wajahnya yang hanya sampai di dadaku, bermain-main di sana selama beberapa saat. Tanganku yang tadi menutupi kelelakianku, sekarang perlahan meninggalkannya. Yang kiri meraih belakang lehernya, sedang yang kanan membelai punggung dan bokongnya naik turun. Lalu keduanya meraih pantatnya. Meremasnya. Mencubiti perlahan. Mengusapnya memutar. Pantatnya sungguh ranum. Terdengar rintihan kecil, keluar dari bibirnya yang mungil. "Uuh, Elang." "Teruskan, Len. Mengeranglah." Ilen mengerang lembut, nafasnya berpacu. Aku pun demikian. Setelah beberapa lama, lidah Ilen menyusuri dadaku, menuju ke bawah. Lidah yang dingin dan lembut itu memutari pusarku. Menggelitik-gelitiknya.

Tak sadar aku menjambak rambutnya, tak tahan dengan sensasi yang diberikannya. She’s really like a pro! Tangannya yang masih di dadaku, melakukan gerakan menyentuh, mencubit, meremas, setiap lekuk tubuhku. Jemarinya yang mungil meremas kedua belah pantatku, kemudian meraih kejantananku. Aku mengerang, berteriak tertahan. Ugh!!! She’s unbelievable. Jemarinya yang lembut memegang kejantananku dengan hati-hati. Meraba setiap lekuknya. Ilen menggunakan kedua tangannya untuk mengenali sudut demi sudut, memegangnya dengan penuh perasaan. Matanya terpejam. Walaupun dipegang dengan kedua tangannya, ujung kelelakianku masih keluar. Dengan ibu jari kanannya, dia melakukan gerakan memutar di situ. Jiwaku terbang. Ugh!!! Lalu wajahnya semakin turun. Dengan mata terpejam, Ilen menjilati kepala adikku. Perlahan, dia memasukkan ke mulutnya. Terasa hangaaaat sekali. Aku merasakan keringatku keluar, disapu air hangat dari pancuran. Ugh! Dengan ahlinya Ilen memaju mundurkan kepalanya, memutar lidah di dalamnya, menggelitik kelelakianku. Setengah saja yang dapat masuk ke mulutnya. Kejantananku dikeluarkannya, lalu di kecupnya perlahan-lahan.

Aku merintih. Ini sensasi yang luar biasa. Sesaat kemudian aku rasakan dorongan dari daerah pangkal kelelakianku. Aku lalu berjongkok, menatapnya. Ilen tersenyum. Matanya redup. Lalu kucium bibirnya. Kuhirup nafasnya. Lidahku bermain di rongga mulutnya. Ilen membalas. Damn, she’s a great kisser too. Lidah kami saling pilin di dalam mulutnya, lalu di mulutku, mencari setiap kenikmatan yang dihantarkan indera pengecap itu. Tanganku pun bermain ke payudaranya. Meremasnya, memilin putingnya, satu persatu. Tubuh Ilen meregang. Dia mendesis. Kami berdua berdiri tanganku kelingkarkan ke pinggangnya. Merengkuhnya, membelit tubuh mungilnya. Ku angkat tubuhnya. Kakinya menapak di pinggir bath tub . Kepalaku langsung berhadapan dengan buah dadanya. Kuciumi dengan lembut, kujilati belahan dadanya. Lalu hidungku kutekankan di situ. Kuhisap uap tubuhnya. Sementara tanganku meremas-remas bukit pantatnya. Air pancuran masih menderu. Kucucup puting susunya, yang mengeras, berdiri tegak mengacung. Dengan lidahku kusentil-sentil benda elastis itu. Ilen makin meronta. Ekstase tampak pada wajahnya. Matanya telah kehilangan bintik hitamnya, kuku tangannya mencakar punggungku. Tangan kiriku beralih dari pantatnya, menuju kerimbunan rambut di pangkal kedua kakinya. Ilen menggelinjang, ketika jari-jariku yang kasar menyentuh sebentuk daging kecil di situ.

Daerah kewanitaannya telah basah. Terus kugosok-gosok clitorisnya, terkadang memilinnya dengan telunjuk dan ibu jariku. Sementara payudara kanannya kugigit. Ilen menjerit penuh nafsu. "Ah… Elang. Abang. Nikmatnya…. Augh." Tangannya menggapai-gapai. Yang kiri memegang palang besi tirai penutup, sedangkan yang kanan meraih kejantananku. Mengusapnya, mengocoknya. Aku pun merasakan kenikmatan yang luar biasa. Jari tengahku yang berada di daerah rahasianya mulai merasuk, menuju ke dalam lobang kenikmatannya. Ilen menjerit, lalu di tahannya dengan menggigit bahuku. Jariku maju mundur di situ. Lobang sempit itu bertambah basah. Jari tengahku berputar-putar di dalamnya. Ilen menegang. Badannya mengejang. Kurasa dia telah orgasme. "Elang. Aku tak tahan lagi." "Shhh, tenang Ilen. Nikmatilah. Bukannya ini yang kau inginkan." "Iya, iya.. Elang. Cumbui aku." Kuremas pantatnya, dan Ilen pun terkulai lemas. "Masukkan punyamu, Elang." Bisiknya meminta. "Kamu yakin?" Anggukannya menjadi jawaban. Aku pun memegang kejantananku, mengarahkannya ke selangkangannya. Ilen menjerit kembali, saat kepala senjata andalanku itu menyentuh vaginanya. Kugosok-gosokkan sesaat di dinding luar kewanitaan gadis itu. Dia meronta. "Masukkan Elang. Masukkan." Teriaknya serak.

Kedua tangannya memegang palang besi di atas kepalanya. Aku meraih pinggangnya. Lalu dengan perlahan, kuturunkan tubuhnya. Kejantananku merasakan kehangatan kewanitaannya untuk pertama kali. Ilen mendesah, lantas kemudian melenguh ketika badannya yang ringan itu kugerakkan naik turun. Kakinya yang tadi terkangkang lebar, saat ini telah melingkar, mencengkeram pinggangku. Terus kumainkan kelelakianku di dalam vaginanya yang sempit dan halus. Lalu mulai ada rasa memijat yang dirasakan oleh batangku. "Oooh.. Oah, kamu luar biasa Ilen. Ooooh. Ugh!" Ilen pun mengeracau, menikmati kekekaran yang menerobos lobang kenikmatannya. Sampai akhirnya kurasakan tekanan kakinya menjadi lebih bertenaga. Membuat aku tak dapat lagi menaik turunkan tubuhnya. Dia telah mencapai langit kenikmatan, pikirku. Kubiarkan tubuhnya terkulai. Kugendong dia. Air pancuran yang mengalirkan air panas kumatikan. Tinggal air dingin yang menyirami kami berdua. Kutarik keluar kejantananku, selintas membersihkannya dengan air pancuran. Ilen menatapku tersenyum. "Kamu memang hebat, Dayak!" Aku cuma tersenyum. "Mari. Puaskan dirimu. Perkosa aku." Katanya. "Kamu belum lelah?" Dia hanya menggeleng dan tersenyum.

Kusodorkan lagi kelelakianku di dalam relung kenikmatannya. Masih sempit seperti yang tadi. Kuhunjamkan senjata lelakiku itu. Perlahan-lahan, kemudian semakin cepat, semakin cepat. Ilen telah mematikan pancuran. Dingin, katanya. Saat baru kudengar bunyi yang khas dari suatu persetubuhan. Bunyi berkecipak kejantanan dikulum kewanitaan. Ah, kunikmati alunan itu. Kuhayati setiap tusukan dan tarikan, kuhayati erangannya, kuhayati denyut demi denyut yang datang silih berganti, kuhayati pijatan dari dinding kewanitaannya meremas-remas kejantananku. Ugh! Sekian menit berlalu, Ilen telah menjerit dan mencakarku lagi. Tanda dia mencapai orgasme yang kesekian. Ia menjerit-jerit, memanggil namaku. "Elang. Terus Elang. Terus. Tikam aku, robek aku. Perkosa aku!" Ceracaunya. Aku semakin terangsang dengan pekikannya. Layaknya pekikan perang pemberi semangat kepada para ksatria. Tusukanku pun semakin kencang. Aaaagh! Tiba-tiba kurasakan desakan yang sangat hebat dari arah kantung kelaminku. Aku tahu ini saatnya. Kutarik kejantananku. Ilen sepertinya mengerti aku akan sampai dalam pendakian ini. Dia mengarahkan senjataku ke wajahnya (aku sampai curiga dia kebanyakan nonton VCD porno), menunggu semburan dari kepala kejantananku. Dan, seumpama tendangan David Beckham, sumber kehidupan itu pun kulepaskan.

Tepat di bawah matanya. Beberapa kali terlontar, mengotori wajah Ilen. Dengan lagak seorang profesional, Ilen menjilatinya. "Jangan." Cegahku. "Biarin. Aku suka. Mmmmh. Luar biasa Elang." "Kamu juga." Ilen menjilati sisa-sisa cairan putih kental yang menetes dari kepala kemaluanku yang sekarang tidak terlalu tegang. Kulihat urat-urat di sekitarnya mulai kembali berukuran biasa, tidak sebiru tadi. "Kamu memang hebat. Pantes. Pantes Srida tergila-gila. Pantas dia sampai dua kali orgasme." Mendengar nama Srida disebutkan, hatiku berdebar lagi. Sudah gila apa aku, ya? Kemarin Srida. Sekarang lebih parah lagi, dengan Ilen. Kemarin tidak sampai sejauh ini. Kemarin karena cinta, sekarang? Biarkanlah! Ini semua gara-gara Srida! (I think I have to blame it on someone ) Elang! Dasar kamu. Aku memaki diriku. Teringat Venus yang dalam hitungan hari lagi akan menjadi istriku. Dengan Venus saja kau belum sejauh ini. Sekarang? Dengan orang yang telah kau anggap sebagai adik sendiri. Dasar! Laki-laki tengil, badung! Kau memang petualang! "Ilen. Kamu nggak menyesal?" "Kenapa. Toh aku bukan perawan." "Tapi khan…" "Jangan takut. Aku tak menuntut apa pun dari kamu, Bang. Aku senang. Dan jujur, sekian lama kunantikan saat seperti ini. Apalagi mendengar ceritamu dengan Srida. Aku boleh iri, khan. Jujur. Waktu sore, mandi pertama aku sudah masturbasi membayangkan kamu." "Aku tahu." "Lho?" "Bau yang khas itu tercium di kamar mandi, sayang." Aku mencium pipinya. Sedikit tenang mendengar komitmennya. "Juga tadi. Saat di sebelah ada ribut-ribut. Aku iri lagi. Enak banget kang Didot dan Sarita." "Jadi aku ketempuhan nih?" "Tapi senang khan?" "Iya." Ilen mendekatkan mulutnya ke telingaku, berbisik.

Dia ingin menghabiskan sisa malam ini dalam rengkuhanku. Aku hanya tersenyum jahil dan menjitak kepalanya. "Adikku ini." Kami berdua pun ketawa. Kami lalu keluar dari kamar mandi. Dan make love lagi. Dan sekali lagi. Subuh, setelah bangun tidur, kami mengulang kembali. Sedang seru-serunya tempat tidur kami goyang. 6110-ku di meja telepon berdering. "Mmf. Biarin saja, Lang!" Tapi itu nada khas yang kusetel untuk dua orang saja. Venus dan ….., Srida. Kuraih teleponku. Srida! Kuletakkan jari manisku (yang bau ‘itu’nya Ilen) ke depan bibir. Meminta Ilen diam. Ilen mengerti. Kepalanya menuju pahaku. Lalu mulutnya mengulum kejantananku. Tak puas-puas kiranya dia. "Ya, Srida." "Aku jemput Selasa nanti."

Dan telepon pun dimatikan. Aku hanya sempat bengong, geleng-geleng kepala. Ilen mengalihkan perhatiannya. "Srida?" Aku hanya mengangguk. Menariknya dalam pelukan. "Sampai dimana kita tadi?" Kami pun kembali mendaki, menuju puncak kenikmatan.

 

 

ke awal

1