|
DI TEPI SUNGAI ITU
Cerita ini terjadi kurang lebih
tiga tahun yang lalu. Saat itu kelompok kami (4 lelaki dan 2 perempuan)
melakukan pendakian gunung. Rencananya kami akan merayakan pergantian
tahun baru di sana. Sampai di tempat yang kami tuju hari telah sore, kami
segera mendirikan tenda di tempat yang strategis. Setelah semuanya
selesai, kami sepakat bahwa tiga orang lelaki harus mencari kayu bakar,
sisanya tetap tinggal di perkemahan. Saya, Robby, dan Doni memilih mencari
kayu bakar, sedangkan Fadli, Lia dan Wulan tetap tinggal di tenda. Baru
beberapa langkah kami beranjak pergi, tiba-tiba Wulan memanggil kami,
katanya dia ingin ikut kelompok kami saja (alasannya masuk akal: dia tidak
enak hati sebab Fadli adalah pacar Lia, dan Wulan tidak ingin kehadirannya
di tenda mengganggu acara mereka). Karena Fadli dan Lia tidak keberatan
ditinggal berdua, kami (Robby, Doni, Saya dan Wulan) segera melanjutkan
perjalanan. Ada beberapa hal yang perlu saya ceritakan kepada pembaca
tentang dua orang teman wanita kami. Lia sifatnya sangat lembut, dewasa,
pendiam dan keibuan. Sifat ini bertolak belakang dengan Wulan. Mungkin
karena dia anak bungsu dan ketiga kakaknya semua lelaki, jadi Wulan sangat
manja, tapi terkadang tomboy. Tapi di balik semua itu, kami semua mengakui
bahwa Wulan sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Lia. Tidak berapa
lama, sampailah kami pada tempat yang dituju, lalu kami mulai mengumpulkan
ranting-ranting kering.
Sambil mengumpulkan ranting, kami
membicarakan apa yang sedang dilakukan Fadli dan Lia di dalam tenda. Tentu
saja pembicaraan kami menjurus kepada hal-hal porno. Setelah cukup apa
yang kami cari, Robby mengusulkan singgah mandi dulu ke sungai yang tidak
berapa jauh dari tempat kami berada. Wulan boleh ikut, tapi harus menunggu
di atas tebing sungai sementara kami bertiga mandi. Wulan setuju saja.
Singkat kata, sampailah kami pada sungai yang dituju. Saya, Robby dan Doni
turun ke sungai, lalu mandi di situ. Wulan kami suruh duduk di atas tebing
dan jangan sekali-kali mengintip kami. Sedang asyik-asyiknya kami
berkubang di air, tiba-tiba kami mendengar Wulan menjerit karena terjatuh
dari atas tebing. Tubuhnya menggelinding sampai akhirnya ia tercebur ke
dalam air. Cepat-cepat kami berlari mencoba menyelamatkan Wulan (kami
mandi hanya menanggalkan baju dan celana panjang, sedangkan celana dalam
tetap kami pakai). Robby yang pandai berenang segera menjemput Wulan, lalu
menariknya dari air menuju tepi sungai. Saya dan Doni menunggu di atas.
Sampai di tepi sungai, tubuh Wulan basah kuyup. Sepintas saya lihat lengan
Robby menyentuh buah dada Wulan. Karena Wulan memakai T-Shirt basah, saya
dapat melihat dengan jelas lekuk-lekuk tubuh Wulan yang sangat
menggairahkan. Wulan merintih memegangi lutut kanannya. Saya dan Doni
terpaku tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tapi Robby yang pernah
ikut kegiatan penyelamatan dengan sigap membuka ikat pinggang Wulan lalu
mencopot celana jeans Wulan sampai lutut. Wulan berteriak sambil
mempertahankan celananya agar tidak melorot. Sungguh, saat itu saya tidak
tahu apa sebenarnya yang hendak Robby lakukan terhadap Wulan. Segalanya
berjalan begitu cepat dan saya tidak menyimpan tuduhan negatif terhadap
Robby. Saya hanya menduga, Robby hendak memeriksa luka Wulan. Tapi dengan
melorotnya jeans Wulan sampai ke lutut, kami dapat melihat dengan jelas
celana dalam wulan yang berwarna off-white (putih kecoklatan) dan berenda.
Kontan penisku bangun. Robby memerintahkan saya dan Doni memegangi kedua
tangan Wulan. Seperti dihipnotis, kami menurut saja. Wulan semakin meronta
sambil menghardik, "Rob, apa-apaan sih. Lepas, lepas! Atau gua teriak."
Doni secepat kilat membungkam mulut Wulan dengan kedua telapak tangannya.
Robby setelah berhasil mencopot celana jeans Wulan, sekarang mencoba
mencopot celana dalam Wulan. Sampai detik ini, akhirnya saya tahu apa
sebenarnya yang sedang terjadi. Saya tidak berani melarang Robby dan Doni,
karena selain saya sudah merasa terlibat, saya juga sangat terangsang saat
itu melihat kemaluan Wulan yang lebat ditumbuhi rambut-rambut hitam
keriting. Wulan semakin meronta dan mencoba berteriak, tapi cengkeraman
tanganku dan bungkaman Doni membuat usahanya sia-sia belaka. Robby segera
berlutut di antara kedua belah paha Wulan. Tangan kirinya menekan perut
Wulan, tangan kanannya membimbing penisnya menuju kemaluan Wulan. Wulan
semakin meronta, membuat Robby kesulitan memasukkan penisnya ke dalam
lubang vagina. Doni mengambil inisiatif. Dia lalu duduk mengangkangi tepat
di atas dada
Wulan sambil tangannya terus
membungkam mulut Wulan. Tiba-tiba Wulan berteriak keras sekali. Rupanya
Robby berhasil merobek selaput dara Wulan dengan penisnya. Secara cepat
Robby menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur. Untuk beberapa menit
lamanya Wulan meronta, sampai akhirnya dia diam pasrah. Yang dia lakukan
hanya menangis terisak-isak. Doni melepaskan telapak tangannya dari mulut
Wulan karena dia merasa Wulan tidak akan berteriak lagi. Lalu dia mencoba
menarik T-Shirt Wulan ke atas. Di luar dugaan, Wulan kali ini tidak
mengadakan perlawanan, hingga Doni dan Saya dapat melepaskan T-Shirt dan
BH-nya. Luar biasa, tubuh Wulan dalam keadaan telanjang bulat sangat
membangkitkan birahi. Tubuhnya mulus, dan buah dadanya sangat montok.
Mungkin ukurannya 36B.
Doni segera menjilati puting susu Wulan, sementara
saya lihat Robby semakin kesetanan mengoyak-oyak vagina Wulan yang
beberapa saat yang lalu masih perawan. Saya sangat terangsang, lalu saya
mulai memaksa mencium bibir Wulan. Ugh, nikmat sekali bibirnya yang dingin
dan lembut itu. Saya melumat bibirnya dengan sangat bernafsu. Saya tidak
tahu apa yang sedang Wulan rasakan. Saya hanya melihat, matanya polos
menerawang jauh langit di atas sana yang menguning pertanda malam akan
segera tiba. Tangisnya sudah agak mereda, tapi saya masih dapat mendengar
isak tangisnya yang tidak sekeras tadi. Mungkin dia sudah sangat putus
asa, shock, atau mungkin juga menikmati perlakuan kasar kami. Tiba-tiba
saya mendengar Robby menjerit tertahan. Tubuhnya mengejang. Dia
menyemprotkan sperma banyak sekali ke dalam vagina Wulan. Setengah menit
kemudian Robby beranjak pergi dari tubuh Wulan lalu tergeletak kelelahan
di samping kami. Doni menyuruh saya mengambil giliran kedua. Saya bangkit
menuju Vagina Wulan.
Sepintas saya melihat sperma
Robby mengalir ke luar dari mulut vagina Wulan. Warnanya putih kemerahan.
Rupanya bercak-bercak merah itu berasal dari darah selaput dara (hymen)
Wulan yang robek. Tanpa kesulitan saya berhasil memasukkan penis ke dalam
vagina. Rasanya nikmat sekali. Licin dan hangat bercampur menjadi satu.
Dengan cepat saya mengocok-ngocok penisku maju mundur. Saya mendekap tubuh
Wulan. Payudaranya beradu dengan dadaku. Dengan ganas saya melumat bibir
Wulan. Doni dan Robby menyaksikan atraksi saya dari jarak dua meter.
Beberapa menit kemudian saya merasakan penis saya sangat tegang dan
berdenyut-denyut. Saya sudah mencoba menahan agar ejakulasi dapat
diperlama, tapi sia-sia. Spermaku muncrat banyak sekali di dalam vagina
Wulan. Saya peluk erat Tubuh Wulan sampai dia tidak dapat bernafas.
Setelah puas, saya berikan giliran berikutnya kepada Doni. Saya lalu duduk
di samping Robby memandangi Doni yang dengan sangat bernafsu menikmati
tubuh Wulan. Karena lelah, saya rebahkan tubuhku terlentang sambil
memandangi langit yang semakin menggelap. Beberapa menit kemudian Doni
ejakulasi di dalam vagina. Setelah Doni puas, ternyata Robby bangkit
kembali nafsunya. Dia menghampiri Wulan. Tapi kali ini dia malah
membalikkan tubuh Wulan hingga tengkurap.
Saya tidak tahu apa yang akan
diperbuatnya. Ternyata Robby hendak melakukan anal seks. Wulan menjerit
saat anusnya ditembus penis Robby. mendengar itu Robby malah semakin
kesetanan. Dia menjambak rambut Wulan ke belakang hingga muka Wulan
menengadah ke atas. Dengan sigap Doni menghampiri tubuh Wulan. Saya
melihat Doni dengan sangat kasar meremas-remas buah dada Wulan. Wulan
mengiba, "Aduhhh ... sudah dong Rob ... ampun ... sakit Rob .." Tapi Robby
dan Doni tidak menghiraukannya. "Oh, sempit sekali," teriak Robby
mengomentari lubang dubur Wulan yang lebih sempit dari vaginanya. Setiap
Robby menarik penisnya saya lihat dubur Wulan monyong. Sebaliknya saat
Robby menusukkan penisnya, dubur Wulan menjadi kempot. Tidak lama, Robby
mengalami ejakulasi yang kedua kalinya. Setelah puas, sekarang giliran
Doni menyodomi Wulan. Melihat itu saya jadi kasihan juga terhadap Wulan.
Di matanya saya melihat beban
penderitaan yang amat berat, tapi sekaligus saya juga melihat sisa-sisa
ketegarannya menghadapi perlakuan ini. Setelah Doni puas, Robby dan Doni
menyuruh saya menikmati tubuh Wulan. Tapi tiba-tiba timbul rasa kasihan
dalam hatiku. Saya katakan bahwa saya sudah sangat lelah dan hari sudah
menjelang gelap. Kami sepakat kembali ke perkemahan. Robby dan Doni segera
berpakaian lalu beranjak meninggalkan kami sambil menenteng kayu bakar.
Wulan dengan tertatih-tatih mengambil celana dalam, jeans, lalu
mengenakannya. Saya tanyakan apakah Wulan mau mandi dulu, dan dia hanya
menggeleng. Dalam keremangan senja saya masih dapat melihat matanya yang
indah berkaca-kaca. Saya ambil T-Shirt nya. Karena basah, saya
mengepak-ngepakkan agar lebih kering, lalu saya berikan T-Shirt itu
bersama-sama dengan BH-nya. Robby dan Doni menunggu kami di atas tebing
sungai. Setelah Wulan dan saya lengkap berpakaian, kami beranjak pergi
meninggalkan tempat itu. Robby dan Doni berjalan tujuh meter di depan saya
dan Wulan. Di perkemahan, Fadli dan Lia menunggu kami dengan cemas. Lalu
kami mengarang cerita agar peristiwa itu tidak menyebar. Untunglah Fadli
dan Lia percaya, dan Wulan hanya diam saja.
Tepat tengah malam di saat orang lain merayakan
pergantian tahun baru, kami melewatinya dengan hambar. Tidak banyak
keceriaan kala itu. Kami lebih banyak diam, walau Fadli berusaha
mencairkan keheningan malam dengan gitarnya. Esoknya, pagi-pagi sekali
Wulan minta segera pulang. Kami maklum lalu segera membongkar tenda.
Untunglah sesampainya di kota kami, Wulan merahasiakan peristiwa ini. Tapi
tiga bulan berikutnya Wulan menghubungi saya dan dia dengan memohon
meminta saya bertanggung jawab atas kehamilannya. Saya sempat kaget karena
belum tentu anak yang dikandungnya itu adalah anak saya. Tapi raut
wajahnya yang sangat mengiba, membuat saya kasihan lalu menyanggupi
menikahinya. Satu bulan berikutnya kami resmi menikah. Wulan minta agar
saya memboyongnya meninggalkan kota ini dan mencari pekerjaan di kota
lain. Sekarang "anak kami" sudah dapat berjalan. Lucu sekali. Matanya
indah seperti mata ibunya. Kadang terpikir untuk mengetahui anak siapa
sebenarnya "anak kami" ini. Tapi kemudian saya menguburnya dalam-dalam.
Saya khawatir kebahagiaan rumah tangga kami akan hancur bila ternyata
kenyataan pahitlah yang kami dapati.
Akhir Desember 1997 kami
menikmati pergantian tahun baru di rumah saja. Peristiwa ini kembali
menguak kenangan buruknya. Matanya berkaca-kaca. Saya memeluk dan membelai
rambutnya. Beberapa menit kemudian, dalam dekapanku dia mengaku bahwa
sebelum peristiwa itu terjadi sebenarnya dia sudah jatuh cinta padaku. Dia
ikut mencari kayu bakar karena dia ingin bisa dekat denganku. Ya Tuhan,
saya benar-benar menyesal. Pengakuannya ini membuat hatiku pedih tak
terkira.
|
|