Detik-detik
perselingkuhan
Aku
adalah anak pertama dari lima bersaudara. Pendidikanku sarjana
ekonomi dari sebuah universitas negeri di Bandung. Aku menikah saat
usiaku masih 18 tahun, ketika aku masih duduk di semester 3. Suamiku
adalah dosenku sendiri, yang ketika itu terpaut 12 tahun dengan aku.
Badannya kekar dan tingginya sekitar 178 cm. Dia sangat cakep
menurut versiku, sedangkan aku bertinggi badan 165 cm dengan berat
53 kg. Aku tergolong cewek yang cukuplah. Aku nggak ngerti, kenapa dulu
buru-buru menikah dengan Mas Roni, suamiku kini. Yang jelas masa
pacaranku cuma setahun itupun pacaran yang bener-bener pacaran,
artinya nggak pernah sama sekali melakukan hal-hal yang dianggap
tabu. Kali aja waktu itu, Mas Roni takut dibilang punya skandal
dengan mahasiswinya, makanya segera melamar aku. Kini aku dikaruniai
2 orang anak, masing-masing berumur 10 tahun dan 6 tahun. Aku
tinggal di Bandung di Jalan P. sudah hampir 11 tahun. Usiaku kini30 tahun
dan namaku Triecia.
Sebenarnya kalo bicara kebahagiaan, aku tidak
akan mungkir. Dalam hal materi aku sudah cukup. Tapi ada satu hal
yang hilang dalam dalam kehidupanku, yaitu kebahagiaan di ranjang,
sama sekali belom pernah kurasakan selama aku menikah. Entah kenapa,
aku punya kelainan untuk mencapai orgasme. Padahal suamiku termasuk
type cowok yang bener-bener macco. Dia sanggup diranjang sampai 2
jam dalam kondisi "ON". Aku biasa melakukan pemanasan sampai satu
jam, tapi tetap juga enggak mampu mencapai apa yang dimaksud. Aku
sering menangis, terkadang marah sama anak-anak atau hal-hal yang
sulit dinalar. Kuakui akupun sering nonton VCD porno sendirian di
kamar. Pernah suatu hari pas suamiku pergi sama anak-anak, aku
nonton VCD porno. Aku membayangkan apa yang kutonton adalah diriku
yang sedang bercumbu. Saat adegan berciuman
basah, seluruh bulu
kudukku berdiri, jantungku berdegup agak keras.
Tanpa kusadari tangan kananku sudah menyusup
disela-sela baju tidurku.
Kuremas-remas payudaraku dengan lembut
seirama dengan permainan yang
ada di VCD tersebut. Semakin lama adegan
di VCD itu semakin menjadi,
aku jadi semakin nggak karuan. Pandangan
mataku sudah nggak lagi memperhatikan kiri kanan. Aku menggigil menahan
birahi yang tak terbendung. Akhirnya pakaian tidurku kulepas,
tinggal Bra dan celana dalamku yang masih melekat. Dengan sedikit
merebah, bersandar pada tempat tidurku, aku kembali meremas dan
memilin-milin payudaraku hingga memerah. Dengan suaraku yang nyaris
mendesah, aku bergulung-gulung sendirian di kamar. Aku bener-bener
sudah BT (Birahi Tinggi). Kumasukkan jari-jariku ke celana dalamku
dan kuusap
rambut-rambut yang tumbuh diselangkanganku dengan gemasnya.
Kulihat
sesaat putingku sudah menonjol sebesar biji jambu air. Saat
itu yang kupikirkan hanyalah agar suami cepet pulang, sehingga bisa
menuntaskan birahiku yang sudah diubun-ubun. Oh, God, betapa
nikmatnya, batinku. Terdengar pekikan kecil di TV yang kutonton,
saat penis seorang bule menghunjam vagina seorang bintang Hongkong.
Air liurku sudah beberapa kali kutelan,
menandakan aku sudah diawang-awang. Jemariku kini sudah kumasukkan
kedalam lubang senggamaku dengan perlahan-lahan, kadang kutarik ulur
dengan agak menekan dinding disekitar clitorisku. Nafasku semakin
memburu, aku sudah tidak tahan, hingga akhirnya kuambil botol
handbody Marina yang ada didekatku. Kumasukkan ujung botol itu
perlahan-lahan di vaginaku, hingga tinggal seperempatnya. Kutarik ulur
botol itu, sampai 30 menitanlah kira-kira. Aku kian mengerang, Kakiku
sengaja menekan tombol volume VCD yang ada disisi kakiku agar
suaranya semakin kencang. Seirama dengan desahan suara yang ada di VCD
itu, aku memekik keras menyebut nama suamiku berulang-ulang, Roni....
Roni.. ohhhh ... Roni.!!! Aku terkulai dengan lemas di sisi tempat
tidurku. Aku orgasme dengan botol hand body, bukan dengan penis
suamiku.... Dengan pengalamanku itu, aku jadi ketagihan melakukan
itu terus. Entah kenapa suamiku nggak bisa memberiku
kepuasan. Padahal
diapun cukup, bahkan sangat hot diranjang. Aku hanya
bisa diam
terkadang menghela nafas bila memikirkan itu.
Sampai suatu saat, aku kenalan sama
seorang cewek, Hesti, namanya. Aku kenalan lewat suatu situs mailing
list egroups. Akhirnya aku chating sama dia, ngomong kesana-kemari,
sampai juntrungnya aku dikenalin sama seorang teman chatingnya yang
katanya suka ngegombal, Yoyok, namanya. Seperti apa yang bisa anda
tebak, aku kenalan sama Yoyok lewat chating yang disediain salah satu web
gratisan. Hampir saben aku masuk kantor, aku tidak lupa selalu kasih
salam sama Yoyok. Aku tidak mengira kalo Yoyok ternyata tinggalnya
di Solo. Tempat yang begitu jauh dari aku yang ada di Bandung. Wah
Putro Solo nich, pikirku. Kurang lebih 3 bulan aku selalu bertegur sapa
sama Yoyok, hingga pada suatu waktu dia pamit akan ke Singapore, untuk
keperluan pekerjaannya di suatu instansi BUMN
di Solo. Katanya dia
akan berangkat dari Jakarta, karena harus ke kantor pusat dahulu. Waktu
itu aku masih ingat, tanggalnya 17 April 2000, kalo enggak salah hari
Senin. Saking nekadnya pengin ketemu dia, aku nekad berada di Bandara
Soekarno-Hatta mulai semenjak pagi. Aku bilang sama suamiku kalo aku mau
ke Jakarta karena suatu urusan penting.
Aku nginep ditempat teman kuliahku dulu.
Mungkin para pembaca bertanya, bagaimana aku bisa mengenali Yoyok, ketemu
aja belom. Aku juga semula berpikir begitu, tapi kalo pembaca
memperhatikan, ada satu BUMN yang para karyawannya sering memakai atribut
khas BUMN itu, kemana mereka pergi. Nah dari pikiran inilah aku nekad ke
Bandara. Nggak sampai 2 jam aku menunggu, akhirnya aku temukan rombongan
yang memakai ciri-ciri yang aku maksud. AKu bingung yang mana Yoyok, ya?
Hingga akhirnya kubaca di topi yang mereka kenakan dengan tulisan YOYOK
Legalah hati ini.
Dengan tanpa malu-malu kusapa dia....Aku tahu
saat kenalan itu, dia agak kaget atas kenekatanku, tapi no matter, dia
bisa menutupi kekagetannya itu dengan menyapa sangat akrap. Dalam hati aku
proud atas insting kewanitaanku, ternyata sosok Yoyok adalah sosok yang
handsome, badannya tegap, dengan dadanya yang menonjol bidang, badannya
tampak sempurna dibalut dengan t-shirt putih yang ketat, tangannya sedikit
kekar dan cengkeraman tangannya kenceng banget saat
menjabat tanganku.
Aku sejenak dibuat terpana, hingga sound nyaring di
bandara SS
membuyarkan keterpanaanku. Yoyok berlalu menuju arah
pemeriksaan dan
berjanji akan bertemu lagi denganku sepulang dari
Singapore. Aku
tersenyum manis melambaikan tanganku sambil mengenggam
kartu nama dia.
Bye..honey...be carefulllll...!!!