|
BIMBINGAN
BELAJAR
Terlebih dulu saya nyatakan cerita ini
100% asli pengalaman sendiri, nggak ada bokongnya.. eh, boongnya. Cerita
ini bersifat ringan, lebih mentingin unsur cerita daripada sekadar ahh...
uh... eh... aja. So, harap sabaran dikit ya? Ceritanya asli, tapi nama -
namanya terpaksa saya samarin supaya gak ada yang tersinggung. Harapa
maklum. Kalo mau tahu lebih jauh, harap E-mail saya saja. Singkatnya saya
100% laki - laki lengkap dengan to'olnya, jadi maklum saja ya?
Cerita ini mulai ketika aku baru lulus
SMA. Waktu itu aku baru sibuk - sibuknya nyari universitas. Maklum kota
pelajar, semua orang sibuk kesana kemari cari sekolahan. Enggak laki
enggak perempuan semuanya sibuk ngurus legalisir, ijazah, formulir
pendaftaran dan lain sebagainya. Begitu juga dengan diriku. Aku sudah
berkeputusan untuk kuliah di universitas negeri yang paling terkenal di
kota ini bagaimanapun caranya. Untuk itu aku harus kerja keras supaya
lulus UMPETAN, ujian masuk perguruan tinggi negeri. Salah satu
perjuanganku adalah belajar sambil cari pembimbing yang tahu tentang soal
- soal UMPETAN(UMPTN red.).
Sore itu sewaktu aku bengong di teras
rumah nglepasin rasa penat setelah belajar seharian, Anto datang dengan
motor barunya yang bermerek 'ngacir'. "heh,... masuk - masuk!" kataku
mempersilahkan dia masuk ke dalam rumahku. "He...he..., nggak usah,... aku
keburu - buru" jawabnya sambil meringis kayak kuda. "Apaan sih, koq kesusu
gitu? Baru dateng udah mau ngacir lagi !, duduk dulu!" kataku kesel.
"Kesusu kan enak?", katanya mesum, "Kamu udah mandi belon?". "Enak aja, ya
belum no! kayak nggak tau aja kamu!", timpalku. "Udah, cepetan, nggak usah
mandi. Ganti baju sana, trus pake sepatu, kamu ikut aku". "Eh, ada apa
ini? Saya tidak bersalah pak! Bukan saya yang mencuri ayamnya, he.. he..
ngapain to?" tanyaku. "Aaah, nggak usah banyak tanya, cepetan!!!", katanya
sewot. "Iya, iya,... santae aja", jawabku.
Singkat cerita aku dan antok pergi
bareng pake motor ngacirnya. Di tengah perjalanan aku mulai nggak sabaran.
Kutanya si Antok yang sedang konsentrasi mengendarai motorn. "Eh, mau
kemana sih? Kayak cerita detektif aja pake rahasia - rahasiaan segala!",
"Tenang aja, katanya kita mau lulus UMPTN, naah, kamu aku ajak ke tempat
kenalanku. Dia tentor bimbingan belajar 'Pri------'. Sekarang dia lagi
nggak ada jatah ngajar. So,.. kita bisa belajar sama dia to?", jawabnya.
"Huuuu... aku pikir kemana... kalo tau gitu, tadi aku gak mau ikut....
Baru capek nih otakku, seharian cuma mikir yang namanya sinus sama cosinus
itu", kataku ketus. "Santae aja, ntar disana pasti kamu seger lagi,
dijamin deh!", jawabnya. Ya udah, pikirku. Lagian mau gimana lagi, udah
jauh dari rumah juga.
Sepuluh menit kemudian kami sampai di
daerah utara kota pelajar tercinta ini. Daerah ini terkenal sejuk dan
tenang, sehingga banyak orang datang ke sini untuk refreshing dan tentunya
pacaran. Akupun dulu sering kesini sama temen cewekku yang rada sableng
itu. Dulu kami sengaja pacaran disini malem - malem, soalnya sepi dan
tentunya bisa sedikit senggol sana senggol sini. Ada seninya sendiri
dating sambil duduk di atas motor. Saking seringnya, kami sampai punya
tempat favorit, tempat yang strategis dimana enggak ada orang yang bisa
ngelihat kami berduaan. Tapi sebaliknya, dari tempat itu kami bisa leluasa
ngawasin semua tingkah laku orang yang datang dan pacaran. Sering kami
saling muasin satu sama lain sambil lihat 'live show'. Aku sering mainin
clitorisnya dan dia juga menggosok lembut si otongku sambil kami berdua
ngitip orang gituan dari jarak yang lumayan dekat. Kami berdua tentunya
masih berpakaian lengkap karena takut kalo tiba - tiba ada orang yang
mergokin. Supaya pakaian kami nggak kotor, aku sering minta dia ngisep si
otong sampai klimaks di dalam mulutnya. Mulanya dia nggak suka, tapi
setelah dia coba ngrasain rasa spermaku, dia ketagihan. Cewek sih enak,
kalo klimaks nggak ngeluarin cairan sebanyak cowok sehingga nggak perlu
repot - repot mbersihinnya. Cara dating kayak gini ini yang membuat kami
berdua puas sepuas - puasnya. Saking puasnya, satu kali jam terbang aku
bisa klimaks empat sampai lima kali sedangkan dia bisa sampai belasan
bahkan puluhan kali, gila nggak?
Memori ku buyar karena tiba - tiba Anto
membelokkan motornya ke arah sebuah rumah yang lumayan besar. Tidak
terlalu mewah, bertingkat dua, dan terawat rapi. Aku nggak sadar kalo kami
berdua udah sampai di dalam halaman rumah. "Sebentar ya?", kata Antok.
Setelah kami turun dari motor Antok masuk ke dalam rumah itu sementara aku
ditinggal sendirian di halaman depan kayak orang blo'on.
Bagus juga pemandangannya. Waktu itu
kira - kira sudah pukul setengah enam sore, matahari yang sedang terbenam
kelihatan jelas dan bagus sekali. Rumah yang enak, pikirku. Tenang, sejuk,
jauh dari keramaian, kanan kirinya cuma sawah. Tetangga kiri kanan
jaraknya jauh - jauh. "Hey, ngelamun!! Ntar kemasukan setan baru tahu rasa
kamu!!", gertak si Antok yang rupanya sudah muncul lagi. "Heh? Udah? Enak
ya ninggalin orang!", jawabku. "Gitu aja marah!! Ayo masuk, aku kenalin
sama mbak Lina", katanya sambil meringis mamerin giginya. "Mbak Lina?
Tentornya cewek to? Aku kirain cowok !!", jawabku. "Hey.. ayo masuk....
Kok masih di luar sih??? Masuk... masuk !" rupanya mbak Lina, kenalan
Antok sudah membukakan pintu kamar tamunya. Manis juga, pikirku. Kulitnya
putih langsat, tinggi, lebih tinggi sedikit dari si Antok. Kira - kira
sekitar 163 cm. Wajahnya oval dengan hidung yang mancung. Yang paling
menggairahkan adalah bibirnya. Kecil merah merekah. Rambutnya hitam
sebatas bahu. Badannya lumayan bagus, agak kurus tapi montok, terutama
bagian pantat dan dadanya. Ia mengenakan rok putih pendek dan baju yang
longgar. Kakinya putih mulus. Dari bajunya yang semi transparan itu bisa
terlihat Bhnya yang ketat. BH yang dipakainya adalah model BH yang tanpa
gantungan lengan, jadi hanya dilingkarkan ke belakang. Aku nggak tahu
model apa namanya tapi yang jelas sexy sekali. Kata si Antok mbak Lina ini
baru brumur 24 tahun. Masih muda juga, pikirku.
Tanpa disuruh dua kali kami pun bergegas
masuk. "Kenalin Di, ini mbak Lina, kenalanku... dia jago lho", katanya
sambil tersenyum aneh. "Andi", kataku memperkenalkan diri sambil berusaha
memberikan senyum seramah mungkin. "Lina", sahutnya. Tangan mbak Lina
bener - bener halus. Pikiranku mulai ngeres mbayangin gimana kalau tangan
sehalus itu membelai si Otong. "Temen SMAnya Antok ya?", tanyanya
membuyarkan pikiranku."Eh, enggak kok mbak, kami ketemu waktu dia jadi
kuli angkut di pasar.", kataku sambil berusaha bergurau. Pok! Tangan si
Antok mendarat di kepalaku "Enak aja! Yang kuli itu kamu!", katanya
sewot."He..he.....", aku cengengesan. "Udah, udah... ayo duduk dulu", kata
mbak Lina sambil tertawa. Kamipun duduk di kursi kamar tamunya yang mewah.
"rumah sendiri mbak?", tanyaku berbasa basi. "Oh, enggak... kontrakan.
Sewa rumah bareng sama temen - temen. Lebih nyaman kalo ngontrak rumah",
katanya. "Koq sepi mbak?",tanyaku lagi. "Iya, pada ngajar di 'pri------.
Ya ginilah keadaannya, pada gantian jaga rumah. Paling - paling mereka
pulang jam sembilan nanti, Eh, Sebentar ya, mbak buatin minum dulu.".
Sekejab kemudian mbak Lina masuk ke dalam.
"Eh,... Di, aku pergi rokok sebentar ya?
Kamu di sini dulu, paling cuma lima belas menit aku perginya", kata Antok
tiba - tiba. "Tadi enggak sekalian beli di jalan?!", kataku. "Lupa !,
sebentar ya?", katanya ngeloyor pergi. Sebentar katanya,... aku tau kalo
perginya bakalan lama, soalnya si Antok itu perokok yang fanatik sama
merek Marlboro. Kalo enggak merek itu dia nggak mau. Dan merek itu
biasanya cuma dijual di toko - toko besar kayak supermarket. Lagipula
selama perjalanan kesini nggak kulihat supermarket, so pasti perginya lama
sekali. Sayup - sayup kudengar motor Antok pergi meninggalkan aku
sendirian. Ah, persetan,.... Pergi aja yang lama, biar aku bebas omong -
omong ama mbak Lina, pikirku.
"Lho, mana Antok?", tanya mbak Lina yang
tiba - tiba muncul sambil membawa dua gelas Ice tea alias es teh. "Pergi
mbak, pergi rokok", jawabku singkat. "Ya udah,.... Ayo diminum dulu..",
jawab mbak Lina "Adanya cuma itu, nggak papa kan?". "Ma kasih mbak.....
benernya pengen susu sih, tapi.... Nggak papa deh..", jawabku setengah
bercanda setengah mesum. "Dasar..", sahut mbak Lina sambil tersenyum
manis. Mbak Lina duduk berseberangan denganku. Waktu dia duduk kaget juga
aku karena dia ternyata nggak pake cd. Ini bisa kulihat karena mbak Lina
duduknya nggak rapi. Kakinya yang mulus itu agak membuka. Dari tempat aku
duduk memang enggak begitu jelas tapi aku yakin kalo dia nggak pake cd
karena di dalam rok itu jelas nggak kulihat sepotong kainpun. Sambil minum
aku terus mandangin bagian bawah mbak Lina. Sepertinya mbak Lina enggak
menyadari hal ini karena pandangan mataku agak ketutup gelas yang aku
pegang. Tau kalo ada barang bagus si otong mulai bertingkah. Si otong
mulai bangun, ini membuat aku salah tingkah berusaha nyembunyikan sikap si
otong. "Kamu enggak ngerokok, Di?", tanya mbak Lina mengagetkanku."Eng...
Enggak mbak..",jawabku terbata - bata."Mbak Lina enggak ngerokok?",
tanyaku balik. "Eh,... enggak, mbak lebih suka nyedot cerutu", jawabnya
agak nakal. Celaka, kali ini si otong bener - bener nggak bisa diajak
tenang lagi, si otong spontan nyembul di balik celanaku. Sundulannya di
balik celanaku membuatku kaget. "Eh,... mbak... bisa pinjem kamar
mandinya", tanyaku agak panik. Kelihatannya mbak Lina sempat lihat
nyembulnya si otong ini. Kelihatannya ia agak kaget juga. "Bisa,... masuk
aja.... Sepi koq, nggak ada siapa - siapa. Kamu jalan terus aja, ntar
kamar mandinya di sebelah kiri." Jawab mbak Lina. Sambil berusaha menutupi
si Otong demi menjaga sopan santun, aku bergegas menuju kamar mandi guna
mengatur letak si otong. Kamar mandinya luas juga. Lengkap dan mewah
perbotannya. Di pojok kanan ada bathtub ukuran sedang, di sebelahnya ada
shower, dan laen sebagainya yang semuanya serba putih bersih. Segera
kututup pintu kamar mandinya. Bergegas aku membuka kancing celanaku dan
meraih si otong. Si otong kali ini memang bener - bener bandel. Si panjang
gemuk itu sudah keras sekali rasanya, udah minta dikocok kayaknya. Belum
sempat aku mbenerin si otong tiba - tiba pintu kamar mandi dibuka. Celaka,
aku rupanya lupa mengunci pintunya. Rasa panikku hilang berganti rasa deg
- degan waktu orang yang nongol dari balik pintu itu adalah mbak Lina. Si
otong langsung berdenyut - denyut melihat situasi yang terjadi, ia tahu
peristiwa apa yang akan terjadi selanjutnya. Kini sengaja tidak kututup
celanaku sehingga mbak Lina bisa melihat dengan jelas si otong.
"Eh,.. sorry, mbak cuma mau nganterin
sabun....", kata - kata mbak Lina terhenti. Mulutnya ternganga dan matanya
melotot melihat si otong. Agak lama juga kami berdua terpaku. Lalu
perlahan - lahan tanganku mulai mengocok si Otong dengan pelan. Mbak Lina
tetap diam sambil merhatiin apa yang aku lakuin. "Tolong dong sekalian
sabunin si otong, mbak.....", ajak ku berharap. Mbak Lina kelihatan ragu.
Kuhampirinya dengan pelan. Kutarik tangannya dan kutuntun ke otongku.
Dipegangnya si otong dengan ragu ragu. Kemudian dengan lembut ia mulai
mengocok si otong turun naik. Kesampaian juga fantasiku untuk dikocok
tangan halus itu. "Enak Di?", tanyanya lirih penuh nafsu. "Ahh..." enak
sekali mbak....uh...". tanpa disuruh tanganku mulai merengkuh payudaranya
yang sintal. "Ssshh.., ahh...jangan... " mbak Lina merintih keenakan. Tak
kuhiraukan omongannya, tanganku mulai merogoh payudaranya. Mbak Lina mulai
terangsang tangannya mulai mempercepat ritme gosokannya. Segera tanganku
mencopoti kancing baju dan BH nya. Segera setelah baju dan BH nya jatuh ke
lantai, payudara mbak Lina dapat terlihat dengan jelas. Padat sekali dan
berwarna putih mulus dengan puting susu yang berwarna pink. Putting susu
itu membusung kedepan memperlihatkan lancipnya payudara mbak Lina.
Langsung kuremas payudara kirinya sementara tangan kananku memilin - milin
dan menarik putting susu kanannya. "Ah......" mbak Lina semakin merintih
keenakan. Kudekatkan kepalaku ke dadanya, ku hisap - hisap puting
kanannya. Mbak Lina semakin menggelinjang. Tangan kananku mulai bergerak
turun, mengelus - elus perutnya yang padat. Mbak Lina semakin terangsang
dengan cepat ia melorotkan celana jeans dan cd ku. Si Otong langsung
menyembul keluar memperlihatkan seluruh bentuknya. Mata mbak Lina tak
lepas - lepasnya dari si Otong. Tangannya mulai membelai buah pelirku
dengan ganas semantara tangannya yang lain semakin keras mengocok si
otong.
Nikmat sekali rasanya gesekan tangannya
dengan si otong. Rasa enaknya sampai ke seluruh urat sarafku sehingga
tanpa kusadari badanku mulai bergetar keenakan. Kedua tanganku segera
bergerak menjelajah ke bagian memek mbak Lina. Dengan satu tangan ku
angkat roknya sedangkan tanganku yang lain mulai menelusur lebih dalam
lagi. Ternyata memang betul mbak Lina tidak memakai cd, dengan mudahnya
dapat kutemukan clitoris di belahan memeknya. Mbak Lina rupanya telah
mencukur habis jembutnya karena tanganku tidak menemukan sepotong
rambutpun di sana dan aku merasa memeknya licin dan bersih. Memek model
begini yang membuat aku terangsang hebat. Kubuka belahan memeknya.
"Ah......enaaak... " mbak Lina mengejang keenakan begitu ku gosok dengan
lembut clitorisnya. Kuputar - putar clitorisnya dengan ibujariku sementara
jari tengahku mulai masuk ke liang senggamanya yang sudah basah kuyup.
Tiba -tiba mbak Lina menarikku tanganku, tanpa sempat aku berkata apa -
apa ia membungkuk dan dengan ganas otongku dimasukkan ke dalam mulutnya.
Sedotannya terasa enak sekali. Lidah mbak Lina yang bermain - main di
bagian sensitifku sementara mulutnya yang menghisap maju mundur membuatku
kesetanan. Tanganku meremas - remas payudara dan pantatnya dengan kuat,
lebih kuat dari sedotannya. "mmmmmmm.....", mbak Lina mengeluh keenakan.
Beberapa detik kemudian rasa enak itu tak dapat kutahan lagi. "Ahhh...
mbak, aku mau klimaks nih....uh.....". Mbak Lina tak menyahut, hanya
mempercepat gerakan mulut dan lidahnya. Tak dapat kutahan lagi, spermaku
keluar dengan derasnya. Begitu banyaknya yang keluar sampai - sampai
spermaku menetes keluar dari mulutnya. Setelah 6 sampai 7 kali semprotan,
aku pun lemas keenakan. Mbak Lina tau kalau aku sudah puas, ia mulai
mengendorkan sedotannya, lalu kemudian melepaskan si otong dari mulutnya.
Mbak Lina tersenyum nakal, rupanya ia telah menelan semua spermaku,
sedangkan tetesan sperma yang sempat lolos dari mulutnya menetes ke
payudaranya.
Walaupun telah mencapai klimaks, si
otong tetap nggak mau kendur juga. Tau keadaan si Otong yang seakan
menantang, Mbak Lina yang belum terpuaskan segera kembali beraksi.
Dibelakanginya aku. Ia membungkuk, di lorotkannya rok putih itu sambil
memamerkan memeknya dari belakang. Gila, bagus bener bentuknya, pikirku.
Memek yang bersih licin itu berwarna merah jambu. Karena tak ada sehelai
rambutpun yang menutupinya, dengan jelas dapat kulihat setiap lekuk
memeknya. Memek yang basah kuyup dengan bibir yang merekah itu
menantangku. Tak boleh kulewatkan kesempatan untuk ngerasain memek cewek
ini. Kuremas memeknya dari belakang, kugesek clitorisnya dengan semua jari
- jariku. Kugosok - gosok clitorisnya dengan cepat. "sssss... cepetan
Di,... cepet masukin kontolmu... aku udah gak tahan..... ssss", mbak Lina
memohon. Lalu dengan jari telunjuk dan jari tengah kubuka bibir memeknya.
Si otong tanpa basa basi langsung kuhujamkan keliang vaginanya yang sudah
terbuka. "Ahhh...", mbak Lina merintih keenakan karena si otong bener -
bener menuh - menuhin memeknya dari dalam. Dengan beberapa kali desakan,
si otong kudorong mentok ke liang rahimnya. Memek mbak Lina bener - bener
seret rasanya. Enak sekali ngerasain memek yang seret anget basah itu.
Kali ini kugerakkan pinggangku maju mundur secara kuat, mbak Lina
tampaknya menyukainya. "terusss... ahh.... Lebih cepat... lebih cepat....
Ahhh...." Tangan kiri mbak Lina mulai menggesek - gesek clitorisnya
sendiri menggantikan tanganku. Kupercepat gerakan ku sampai sampai
terdengar bunyi gesekan si otong dengan memek mbak Lina. Kupegang pinggang
mbak Lina dengan kedua tanganku untuk membantu si Otong keluar masuk. Mbak
Lina juga tak mau tinggal diam, ia memutar - mutar pinggulnya dengan
kencang. Tak lama kemudian mbak Lina mulai menggelinjang, menggelepar -
gelepar sambil merintih keenakan. Tak sampai lima detik kemudian tubuhnya
menegang. Sambil berteriak keenakan mbak Lina mencapai klimaks. Kurasakan
denyutan memeknya memijat - mijat si otong dengan kerasnya. Keadaan ini
membuat si otong muntah untuk kedua kalinya. Kami berdua merintih
keenakan. ...
Sedetik kemudian kami colapse di lantai
porselen putih kamar mandi itu. Kami berdua terengah - engah, mengatur
nafas yang mungkin terlupakan sewaktu kami berdua asik tadi. Kupeluk mbak
Lina dari belakang. Kudekatkan bibirku ketelinganya. "Makasih ya mbak",
bisikku dengan agak parau. "Ah, mbak yang terima kasih",jawabnya sambil
tersenyum manis sekali. Kuciumi tengkuknya dengan lembut, lalu perlahan -
lahan kujilati kupingnya sambil merintih untuk memancing mbak Lina
kembali. Si Otong masih tetap ngaceng, mau minta lagi. Ku tempelkan si
otong ke pantatnya, perlahan kugesek - gesekkan. Tanganku mulai beraksi
lagi. Kujelajahi memeknya yang kian basah. Spermaku meleleh keluar dari
memeknya dan membasahi pahanya. Kumainkan cairan putih itu. Clitorisnya
yang mulai lemas kembali menegang. Tanganku mulai naik ke atas, meremas -
remas payudaranya yang padat. Mula - mula lembut kemudian mengeras dan
mengeras. Mbak Lina merintih keenakan. Pantatnya yang sintal mulai digosok
- gosokkan ke belakang sehingga menyentuh si otong. Tak tahan lagi
kumasukkan si otong ke memeknya dari belakang. Kutindih tubuh mbak Lina.
Mbak lina yang dalam posisi telungkup dan berada di bawah tak bisa berbuat
banyak. Di rentangkannya kakinya yang mulus dan jenjang itu untuk
mempermudah si otong masuk. Dengan tangan yang terus meremas - remas dan
memilin - milin payudara serta putingnya itu aku memompa mbak Lina dengan
sangat bernafsu. "Oh... enak sekali Di, mbak seneng sama posisi
ini....",katanya tersengal - sengal. Kuciumi tengkuknya dengan ganas. Mbak
Lina hanya bisa menggelepar keenakan. Tak lama kemudian mbak Lina klimaks
untuk kedua kalinya. Tanpa memperdulikan mbak Lina yang terus mengejang
kupercepat ayunan si otong. Bunyi yang dihasilkan dari kecepatan dan
basahnya memek mbak Lina membuatku makin bernafsu. Lama sekali mbak Lina
mengejang keenakan sampai akhirnya aku keluar juga. Kali iniku semprotkan
spermaku ke pantatnya. Karena udah tiga kali aku klimaks, air maniku tak
sebanyak semprotan yang pertama dan kedua, tapi cukuplah untuk membasahi
pantat mbak lina yang merangsang itu. Akhirnya aku colapse lagi di atas
mbak Lina.
"Gila, mbak sampai lima kali berturut -
turut lho Di...", kata mbak Lina manja. "Hah...? Lima kali berturut -
turut ? Gila.... Pasti enak bener rasanya...", sahutku dengan iri. Mbak
Lina cuma tertawa manja. "Makasih ya Di..... udah bikin mbak keenakan....
Sampai enam kali lho.....",kata mbak Lina sambil membalikkan tubuhnya. Aku
pun bangun dan hanya tersenyum saja. He... he.... Ini belum seberapa, aku
bisa buat mbak berpuluh - puluh kali klimaks, batinku.
Singkatnya setelah beres - beres
sebentar kami menuju ke ruang tamu, ngobrol sebentar sambil nungguin Antok
datang. Lima menit kemudian Antok datang sambil cenngar - cengir, "Gimana?
Mbak Lina jagoan kan?", tanyanya menyindir. "Rupanya kamu tau juga ya?",
tanyaku memancing.
Kami bertiga tertawa penuh arti malam
itu...... |
|