LANGSING

Payudara Besar Cara Memperbesar Payudara

PERBESAR

Payudara Kencang Mengencangkan Payudara

KENCANG

Mengatasi Frigiditas dan Kesulitan Orgasme

FRIGIDITAS

Cara Mengobati Ejakulasi Dini dengan Hipnoterapi

EJAKULASI

Mengobati Impotensi Tanpa Obat Kuat

IMPOTENSI

CARA MENGHIPNOTIS CEWEK

 



A FEW GOOD MEN 

Nama saya Sari,  tahun  ini berusia  27  tahun, saya tergolong kurus dengan tinggi badan  168  dan berat  badan kurang 5 kilo dari idealnya. Rambut saya  pendek  seleher (tidak  lagi di highlite biru), dan saya masih berkaca mata minus.  Oh ya, April lalu saya sudah menikah, jadi saya sudah menghentikan  semua petualangan  gila  saya. 

 Kota S, beberapa tahun yang lalu.       Aku  sedang  duduk  di  lobi sebuah  hotel  berbintang  yang  terletak berdampingan  dengan sebuah mall besar. Tidak seperti biasanya,  siang itu  aku  sendirian  saja, tidak ditemani  beberapa  asisten.  Maklum, kadang-kadang untuk negosiasi yang bernilai agak tinggi, aku cenderung bekerja  sendirian.  Bukannya  tidak ingin berbagi  ilmu  dengan  para staffku,  aku hanya sering terganggu oleh ulah mereka yang  seringkali mengacaukan  keseluruhan  negosiasi. Lagipula, waktu  itu  aku  sedang ingin  menguji ketajaman negosiasiku. Masa sih Si  Pemburu  dikalahkan orang-orang supplier? Hihihi, nyombong boleh dong!      Cukup  lama  juga aku menunggu, dan rasa bosan sudah  mulai  merambati kepala. Iseng-iseng aku berjalan-jalan di lobi yang luas itu, melihat- lihat  papan iklan kecil tentang Nite Club hotel itu,  membaca  jadwal ruang meeting, dan apa saja yang bisa kulakukan untuk membunuh  waktu. Beberapa kali sudah aku mengirimkan SMS ke kantor agar  mengkonfirmasi pihak yang akan bernego denganku, dan beberapa kali juga  sekretarisku meng-SMS-kan bahwa mereka sudah berangkat. Hm, aku benci jam karet. 

Di  balkon atas tampak sejumlah pria muda berdasi rapih,  para  broker dari  sebuah  perusahaan  valas di lantai  dua.  Kupandangi  satu  per satu...hmmm, tidak ada yang menarik, wajah-wajah mereka tampak  kurang cerdas  atau  masih hijau. Sejenak teringat pengalamanku  dengan  boss mereka,   Ebzan,   pria   yang  sempat   menarik   perhatianku,   lalu mengecewakanku karena pada dasarnya ia seorang anak manja yang  bahkan tak  tahu harus berbuat apa di ranjang. Aku tersenyum  geli  mengingat waktu  itu.  Akhirnya, sekelompok orang yang aku tunggu  datang  juga. Dengan  basa  basi  yang  sangat  basi  mereka  meminta  maaf   karena terlambat. Aku  tidak  terlalu  mendengarkan belasan alasan  mereka,  karena  toh keterlambatannya  sudah terjadi. Ingin juga rasanya mendamprat  mereka dengan kalimat-kalimat sangar, namun karena wajah-wajah mereka  benar- benar polos, aku jadi tidak tega.       

Negosiasi berjalan lebih cepat daripada  waktu  yang  kupakai untuk menunggu.  Usai  menanda  tangani beberapa helai kontrak, aku membiarkan mereka pergi dan mencorat-coret laporan di Palm-ku, dan meng-email-kannya lewat ponsel. Untung  kantorku  mau  membiayai abonemen dan  pulsa  ponselku,  kalau tidak,  mungkin  aku  harus  rela mondar  mandir  hanya  untuk  sebuah laporan.  Nah,  sekarang tugas dari kantor sudah  selesai,  dan  waktu sudah  menunjukkan  jam setengah empat sore, tidak cukup  waktu  untuk kembali ke kantor, dan orang-orang kantor pasti akan maklum kalau  aku tidak  kembali,  toh reportnya sudah aku kirim.  Lagipula,  aku  orang nomer  dua  di kantor waktu itu, dan atasanku  sedang  keluar  negeri. Boleh dong sekali-kali korupsi waktu? Kan tidak sampai sehari?  (Kids, don't do it at home!)   

Ketika masih asyik mengutak-utik PDA, seseorang menghampiri dan  duduk di sofa sebelahku di lobi itu. Orang yang tidak kukenal. Aku  menengok ke kiri kanan, memang semua kursi di lobi itu terisi, jadi sah saja ia duduk di situ. Aku cuek saja dan meneruskan laporanku hingga  semuanya terkirim  dengan lengkap. Diam-diam aku mengamati orang yang duduk  di dekatku  itu.  Seorang pria 30-an tahun, dengan  tubuh  tidak  terlalu atletis,  namun  juga tidak terlalu gemuk. Tingginya  mungkin  sepadan denganku, meski dia agak lebih pendek. Ia mengenakan kemeja biru  muda Van Heusen, dan celana hitam tidak bermerk. Sepatunya pun juga  buatan lokal,  meski  disemir mengkilat. Di dasi biru  tua  yang  dipakainya, tampak logo J&J kecil-kecil. "Bapak dari J&J?" Tanyaku membuka pembicaraan, sambil menyebutkan nama pabrik  produsen  bedak  bayi itu. Pria itu  menengok  ke  arahku  dan menebar senyum manis. "Iya,  kok Ibu tahu?" Tanyanya balik. *Cukup sopan juga  jika  seorang pria  memanggil  "Ibu" pada seorang wanita yang  baru  dikenal,  meski usianya sebaya.* "Dari dasinya." Jawabku. "Oh, ini." Pria itu memegang dasinya sendiri, "Iya nih, jatah kantor." 

Kami lalu tertawa kecil. "Berarti Bapak sudah lama dong kerja disitu?" Tanyaku lagi,  mengingat bahwa  perusahaan itu sudah hampir bangkrut, dan menutup pabriknya  di seluruh  Asia. (Produk J&J yang kita jumpai di pasaran hanya  produksi 3rd party yang diberi logo). "Yah,  lumayan, baru empat bulan." Jawabnya sambil  tersenyum.  *Hanya ada  dua alternatif, dia berbohong, atau dasi itu pemberian  atasannya yang lebih senior.*     Meski  aku  berbicara  sambil menganalisis dalam,  ternyata  pria  itu memang  enak  diajak ngobrol. Ia punya selera  tinggi,  dan  joke-joke intelek  yang  menyenangkan. Tidak sok berbahasa ilmiah  seperti  para fresh-graduate  yang ingin dianggap dewasa, juga tidak  sok  menggurui seperti umumnya pria. Intelektualitasnya enar-benar natural.    

Ia  cerita  bahwa ia hanya membunuh waktu  disitu,  karena  perjalanan pulangnya akan macet pada jam-jam rush-hours, maklum, rumahnya ada  di SDA, kota suburban untuk metropolitan Kota S ini. Kami berkenalan  dan saling  bertukar  kartu  nama. Handy, nama  pria  itu.  Seorang  post- graduate  dari  Amerika,  yang ingin  mencari  pengalaman  profesi  di perusahaan Amerika juga. "Sari mau pulang jam berapa?" Tanyanya setelah kami cukup akrab. "Yah, jam berapa aja nggak masalah. Aku tinggal sendiri kok."  Jawabku sekaligus memberi pancingan. "Mau  makan malam bareng?" Tanyanya frontal, khas anak lulusan  Amrik. (Lulusan Euro dan Oz biasanya lebih indirect). "Boleh aja." Jawabku singkat, "Mau makan dimana?" "Sari  sukanya makan apa?" Tanyanya lagi sambil  matanya  mencuri-curi pandang ke bawah rok span pendek yang kupakai. "Suka makan orang seperti kamu." Godaku sambil menatap matanya  dengan tajam, namun sekaligus tersenyum simpul. *Seperti biasa, tatapan  mata tajam  diiringi senyuman akan membuat lawan jenis grogi dan  mengikuti irama  permainan  kita.*  

Dengan  agak  kaget,  ia  tertawa  mengikuti senyumanku. Singkat cerita, akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di coffee shop hotel itu, daripada jauh-jauh. Makan malam  berlangsung manis. Kami mengobrol panjang tentang ekonomi korporat, ekonomi makro, sampai  ke hal-hal konyol. Bahkan kami juga  membicarakan  situs-situs dewasa di internet. "Kamu pernah masuk website ACEH?" Tanya Handy. "Yah, pernah juga." Jawabku, "Lumayan sering." "Wah, berarti kamu suka dong?" Tanyanya lagi. "Lumayan juga, abis lucu-lucu sih." Jawabku memancing reaksi, "Emangnya kamu juga sering baca?" "Iya. Ada satu dua cerita yang bagus sekali." Ujarnya lagi. "Oh gitu." Jawabku, "Berarti sudah banyak pengetahuan nih. Tentang hal-hal yang seru!" "Boleh diuji kalau tentang yang itu! Hahaha" Jawabnya dengan tertawa. "Hihihi, berani diuji itu karena sering praktek apa karena sering baca ceritaseru?"  Godaku lagi. Kami lalu tertawa-tawa. Tatapan mata  Handy mulai  agak nakal dan sering memandang wajahku lama-lama.  Pembicaraan terus  berlanjut  sampai pukul delapan malam. Kami  juga  sudah  cukup akrab, hingga di sela pembicaraan seringkali kami menyentuh satu  sama lain.  

Sempat aku meremas lengannya di sela pembicaraan, hmmm,  bisep- nya  lumayan  terlatih.  Namun tentu  saja  saya  tidak  membiarkannya menyentuh bagian tubuhku selain lengan atau bahu.       Usai  makan  malam,  setelah  agak  ribut  tentang  siapa  yang  harus membayar, kami lalu berjalan-jalan sebentar di plaza yang bersambungan dengan  hotel itu. Handy tampak berjalan dengan menegakkan  badan  dan membusungkan dada. Sepertinya ia ingin menunjukkan kalau yang berjalan bersamanya  ini adalah pacarnya, haha, lucu juga pria  ini.  Sementara aku   sendiri  juga  mengikuti  pola  permainannya,   seringkali   aku mengaitkan   lenganku  pada  lengannya  saat  berjalan   melihat-lihat etalase.        Kami  terus  berjalan  sambil ngobrol. Ia seorang  teman  bicara  yang sangat  'nyambung' denganku, terutama masalah buku-buku. Hampir  semua buku  yang  kubaca,  mulai  Cashflow  Quadrant,  7  Habits  of  Highly Effective People, sampai Crayon Sin-Chan, ia juga membaca dan memahami isinya.  

Aku suka teman seperti ini! Sampai suatu ketika kami  terdiam kehabisan obrolan dan bersandar di railing logam koridor plaza  lantai 7, sambil menatap ke arena ice-skating di lantai bawah. "Sari, apa sebenarnya kita benar-benar nggak pernah ketemu?" Tanyanya. "Nggak tau." Jawabku singkat, "Kenapa emangnya?" "Kamu  seperti mengingatkanku pada seseorang." Jawabnya  lagi,  sambil tetap menerawang ke lantai bawah. "Oh ya?" Tanyaku, "Siapa? Mantan pacar? Mantan istri? Apa malah nenekmu?" Godaku  terus. Kami  tertawa  sejenak. Lalu Handy terdiam sambil  mengerutkan  kening seperti berpikir. "Kenapa Han?" Tanyaku. "Ah, nggak apa-apa." Jawabnya, seolah menutupi sesuatu. "Well, udah malam." Kataku sambil melirik arloji, "Kita  pulang  aja yuk?" Handy setuju, lalu kami berjalan  kembali  ke arah  hotel,  karena mobil kami sama-sama  diparkirkan  petugas  valet hotel.  "Aku member di club hotel ini, lho." Ujarnya saat kami melewati  depan resepsionis menuju pintu keluar. "Lantas?" Tanyaku. "Yah, aku bisa bermalam disini kalau kemaleman untuk pulang." Jawabnya lagi, seolah mencari jalan. "Udah sering toh?" Tanyaku, "Kan jatahnya cuman semalam, kalau nggak salah?" "Belum pernah, makanya aku terpikir untuk memakai fasilitas itu  malam ini." Jawabnya dengan nada agak ragu. 

Aku tersenyum kecil dan  menarik lengannya sampai langkahnya terhenti. "Kamu  pengen  aku menemani kamu?" Tanyaku dengan wajah  begitu  dekat pada wajahnya. Sesaat pria itu tampak bingung, menengok ke kanan-kiri, seolah merasa bahwa semua orang di hotel sedang menatap kami. "Eh...aku...hmmm..." Ia kehabisan kata-kata. "Aku  mau  kok."  Jawabku singkat dan jelas,  sambil  menatap  matanya dalam-dalam. "OK,  ayo kita check in." lanjutku setengah memaksa. Lalu dengan  agak ragu, Handy berjalan ke arah resepsionis, menunjukkan member card, dan menandatangani  berkas-berkas  check in. Ia  tampak  ragu-ragu,  meski tidak berbuat banyak untuk menolak.     Suasana  kamarnya khas kamar ekonomi di hotel berbintang  lima.  Tidak terlalu  besar,  tidak juga kecil, dilengkapi  dengan  sebuah  ranjang Queen  size  di  tengah  ruangan,  di  hadapannya  ada  buffet  pendek menyangga sebuah televisi, di sampingnya ada meja rias dan cermin,  di samping  ranjang  ada meja kecil tempat menaruh telepon,  dan  sebelum masuk tadi, ada kamar mandi. Standar sekali untuk sebuah hotel.       

 Handy segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan,  sementara aku duduk di kursi di samping ranjang, sambil memindah-mindah  channel televisi.  Agak bingung juga aku menghadapi pria yang seperti ini.  Ia seorang  kawan yang baik, juga teman bicara yang  menyenangkan,  serta tidak  memiliki  tendensi  mengajak  wanita  untuk  langsung  naik  ke ranjang. Tadinya memang aku hanya sekedar ingin mencari teman ngobrol, dan  memang Handy orang yang menyenangkan untuk itu. Namun,  saat  aku ingin  mengubah  pola  pikirku  jadi  pola  berpikir  avonturir  (Pola berpikir yang kukembangkan jika aku sedang ingin menikmati  kehangatan pria  di  ranjang), kelambatan respons Handy membuatku  harus  bekerja keras  untuk membangun suasana yang tepat untuk melakukan  yang  lebih jauh,  karena  aku tidak ingin dipandang murah.  Repotnya,  ia  seolah begitu  menjaga  sopan santun. 

Sulit sekali membawa  suasana  ke  arah 'ranjang'.  "Nggak  mandi-mandi  dulu, Sari?" Ujar Handy  sekeluarnya  dari  kamar mandi. Ia tampak segar dengan rambut basah begitu. Konyolnya, ia masih mengenakan pakaian kerjanya tadi dengan sangat rapi. Benar-benar tidak ada  tanda bahwa ia mempersiapkan diri untuk sebuah 'petualangan'.  Di situasi seperti ini, aku harus lebih proaktif! Pikirku. "Males, Han." Jawabku sambil terus memindah-mindah channel televisi. "Mandi kok malas?" Tanyanya setengah bergurau. "Bosen  nunggu." Jawabku singkat, masih terus memindah-mindah  channel televisi. "Nunggu  apa?"  Tanyanya sambil menyisir rambut dengan jari  di  depan cermin, namun matanya melirik ke arahku. Aku tidak menjawab. Aku hanya berdiri dari kursi, menggeliat sedikit melepaskan penat, lalu  membuka blazer  Versace-ku  dengan  gaya  yang  dibuat-buat  untuk   memancing responnya.  Ia  agak terkejut saat melihat bahwa kemeja  kerja  Escada yang  kukenakan ternyata tanpa lengan, juga pendek  hingga  membiarkan pinggang  dan  perutku  sedikit  mengintip.  

Dari  sudut  mataku,  aku mendapati bahwa Handy terus mengamati aku lewat cermin di hadapannya. "Nunggu  adegan  seperti  di  ceritaseru."  Jawabku  lirih,   menjawab pertanyaannya  tadi. Aku berdiri tegak berkacak pinggang,  menatap  ke arahnya.  Kemeja  pendek ini begitu tipis, membiarkan  siluet  tubuhku terlihat  cukup  jelas, sementara kakiku agak melebar, agar  rok  span pendek  yang  kukenakan  jadi terlihat  mencetak  bentuk  dua  pahaku. Melihat semuanya, Handy tampak kebingungan.  "Kamu  serius?"  Tanya Handy sambil membalikkan  badan,  menghadap  ke arahku.  Aku  mengangguk  sambil  melangkah  mendekati  tubuhnya  yang berdiri memaku membelakangi meja rias. "Bilang  dong  dari tadi!" Jawabnya  singkat.  Mengakhiri  kalimatnya, wajah Handy jadi berubah. Sorot matanya yang tadinya hangat dan  sopan santun,  kini  jadi  tajam  dan  berkesan  'lapar'.  

Dengan  cepat  ia mempreteli sendiri kancing-kancing kemeja kerjanya, dan menyibakkannya ke  kiri kanan, menampakkan dada yang cukup lebar meski tidak  terlalu berotot.  "Kenapa nggak dari tadi bergaya seperti itu?" Tanyaku sambil tersenyum manis. "Karena aku masih ragu-ragu." Jawabnya singkat sambil menatap ke  arah leher dan dadaku. "Sekarang udah enggak?" Tanyaku lagi sambil perlahan-lahan  melepaskan kancing kemejaku. "Nggak,  sekarang aku bener-bener yakin sedang berada bersama  siapa." Jawabnya memberi isyarat tidak jelas.  Belum sempat aku menanyakan maksudnya, ia keburu mendekap tubuhku  dan menghujani leher ini dengan ciuman serta jilatan kasar. Hmm, ini  yang aku  inginkan,  aku  memeluknya dan menengadahkan  kepala  agar  mulut hangatnya lebih leluasa menikmati leherku yang panjang. Rasanya hangat dan  geli  merangsang,  memudahkanku  mengubah  mind-set  menjadi  "Si Pemburu".       

Ciuman dan jilatannya kasar, namun juga manis dan menggairahkan. Belum lagi  tangannya  meraba-raba pinggang dan punggungku  sambil  meremas- remas  kecil, hangaat sekali rasanya. Aku juga ikut  meraba-raba  otot tubuhnya, mengelus punggungnya, sambil mendongakkan kepala,  merasakan nikmatnya leherku mendapat perlakuan yang begitu istimewa. "Hh...Kamu  cantik sekali!" Bisiknya sambil melepaskan  mulutnya  dari leher dan rahangku. "Thanks," Jawabku sambil tersenyum menatapnya sayu. "Mata   kamu  bagus,"  Pujinya  lagi,  melambungkan  perasaanku.   Aku menggerakkan tangan untuk melepaskan kacamataku, namun ia mencegahnya. "Aku suka kamu pakai kacamata," Bisiknya lagi, "Cantik  dan  cerdas!" Menyenangkan sekali jika  seorang  pria  memuji wanita   tentang  kualitas  nonfisik,  perasaan  ini  menambah   bumbu percumbuan.     

Masih  aku  termangu kege-eran, ia menarik kemejaku  ke  bawah  dengan kasar,  berikut  bra sport yang kukenakan, sehingga ia  dapat  melihat jelas  pundak, payudaraku yang tidak besar namun padat,  juga  perutku yang datar. Aku menatap matanya dalam-dalam, menanti responnya tentang pemandangan yang sedang diamatinya sekarang. "A masterpiece!" Gumamnya sambil melepaskan pelukannya, lalu  berkacak pinggang mengamati badanku. "You  too!"  Jawabku  singkat. Dengan gerakan  cepat,  aku  melepaskan kemeja dan bra yang masih melilit perutku, dan menabrak tubuhnya  yang bertelanjang  dada.  Aku mendekap erat tubuhnya  sambil  meremas-remas otot-otot dada dan bahunya yang cukup liat itu. Hmm, tubuh yang  baik, cukup  terlatih,  namun tidak bertonjolan  otot  seperti  binaragawan, tidak juga kelewat membusung seperti pria sewaan. Sangat proporsional. Handy  membalas dengan memeluk pinggangku, lalu dengan  gerakan  kasar dan cepat, ia menarikku hingga aku kehilangan keseimbangan. 

Hampir aku terjatuh, namun kedua tanganku sempat menyangga meja  rias, hingga kini aku melihat diriku sendiri dalam cermin, berkacamata namun bertelanjang  dada.  Hmm, sempat aku melakukan ritual  mengagumi  diri sendiri,  tersenyum simpul sambil menatap lekat wajah sendiri,  dengan alis  yang tipis namun tegas, sinar mata yang tajam, hidung  dan  dagu yang  runcing dan tirus, juga bibir tipis yang basah. Leher  dan  bahu yang  proporsional membuatku begitu percaya diri bahwa tidak akan  ada satupun orang di dunia yang menganggapku buruk rupa.  "Mengagumi  kecantikanmu  sendiri, eh?" Tanya Handy  sambil  memelukku dari belakang. 

"Kok tahu?" Tanyaku singkat sambil tetap memandangi wajah sendiri. "Sudah kubilang kalau kamu benar-benar seperti orang yang aku  kenal!" Jawabnya.  Belum sempat aku bertanya lebih lanjut, dua telapak  tangan Handy  sudah hinggap di atas dua buah payudaraku ini, memberikan  rasa hangat  yang  menyenangkan. Aku menegakkan tubuh  dan  bersandar  pada dadanya. "Dada kamu ini...perfect!" Bisiknya di telinga kananku, "Aku  benci  dada yang besar dan terkesan tidak praktis."  

Sempat  aku ingin  tertawa  mendengar  komentarnya  tentang  payudara  yang  tidak praktis, namun ia keburu menjilati belakang telingaku hingga aku harus mengerenyit menahan rasa geli yang nikmat.      Jemarinya  mulai  meremas-remas dua payudara ini,  memberiku  perasaan rileks  yang nyaman. Tak lama kemudian ia menyusupkan kepalanya  lewat bawah  lengan  kananku hingga aku bisa memeluk lehernya,  lalu  dengan leluasa  mulut hangatnya melahap puting susuku yang kanan.  Uhh,  saat itu  juga  aku merasakan tulang-tulang di  badanku  melemas.  Kepalaku terkulai lemah ke belakang, mataku menyipit, dan kedua alis menyatu di keningku, aduhh...rasanya benar-benar geli dan nikmat yang luar biasa. Lidahnya  yang  basah  begitu terampil  mengait-ngait  puting  susuku, sementara    bibir-bibirnya   ikut   melumat-lumat   lembut,    hingga kenikmatannya  benar-benar  sulit ditahan.  

Gigiku  menggeretak  meski mulutku terbuka, apalagi ketika puting susuku yang kiri juga  mendapat pilinan jarinya, aduuh, semakin tak tertahankan. "Mau  pindah ke ranjang?" Bisiknya ketika melihat dua  kakiku  gemetar dan  tak  mampu berdiri tegak. Aku mengangguk pelan.  Aku  dibaringkan terlentang  di  ranjang. Kulitku yang berwarna  terang  tampak  senada dengan sprei yang putih. Aku diam saja di situ sambil mengatur  nafas, menatap  ke  langit-langit yang polos dihiasi ornamen garis  di  tepi- tepinya.  

Kudengar  Handy  membuka celananya  sendiri,  sementara  aku dibiarkannya  hanya bertelanjang dada, dengan rok span pendekku  tetap terpasang.  Ia juga tidak melepaskan kacamata Cartier minus  dua  yang kukenakan   ini.   Diam-diam  aku  merasa  kagum   pada   kemampuannya mengalunkan  kata-kata  indah yang membuatku  terhanyut.  Se-terhanyut ketika lidahnya memainkan puting susuku.        

Usai  menelanjangi  diri  sendiri, ia langsung  naik  ke  ranjang  dan merangkak  di  atas  tubuhku yang  terlentang.  Sesuai  harapanku,  ia melanjutkan  permainannya pada payudaraku. Kali ini,  permainan  mulut dan lidahnya terasa lebih terampil. Puting-puting susuku terasa  makin mengencang  dalam mulutnya, dan rasa geli yang  diberikannya,  aduuuh, begitu  luar  biasa. Puting susu ini terasa seperti  diusap-usap  oleh benda  lunak  dan hangat yang lembab. Tanpa henti.  

Sampai  aku  harus menggelinjang kegelian seperti cacing kepanasan. Tanganku mencengkeram kepalanya  agar  tidak lepas dari  puting-putingku,  sementara  mataku terpejam  menikmati rangsangan yang luar biasa ini. Nafasku  tersengal tiap  kali putingku tersentuh lidah hangatnya, tubuh ini terasa  makin lemah dan pasrah. "Ngg, udah donggg..." Aku mengerang memintanya berhenti karena  dadaku benar-benar  tak mampu lagi menahan kenikmatan ini. Handy menurut.  Ia melepaskan dadaku dan membiarkanku menarik nafas agak panjang. "Kamu  cantik sekali dalam kondisi seperti ini, Sari."  Pujinya  lagi. 

Aku  berusaha tersenyum meski dada ini terasa berat karena  membengkak oleh  permainannya. Pelan-pelan aku membuka mata dan menatap  wajahnya yang  tersenyum  manis.  Pelan-pelan aku  mengangakan  dua  tungkaiku, membiarkan  pria  itu melihat ke bawah sana,  dimana  segalanya  sudah basah  terbanjiri  lendir yang meleleh sejak dari  tadi.  Handy  hanya melirik singkat ke arah kewanitaanku, lalu kembali menatap wajahku. 

"Sorry,  aku  kurang suka menaruh mulutku di situ,  mulut  ini  banyak kuman, kasihan nanti mahkota kamu." Ia menjelaskan. Aku tersenyum agak kecewa karena mengharapkan lidahnya menari-nari di kewanitaanku. "Adil kan?" Ujarnya lagi, "Aku  tahu kalau kamu ngga suka blowjob!" Lanjutnya  sambil  mengambil posisi.  Belum  sempat  aku bertanya dia  tahu  dari  mana,  tiba-tiba tubuhku  disesaki oleh kejantanannya yang mendadak  diselipkan  masuk. Hkkh, aku agak tersentak oleh kenikmatan yang begitu tiba-tiba.  

Namun Handy  tidak terlalu memberi waktu, ia langsung bergerak dengan  cepat sambil  menatap wajahku. Disela gempuran-gempurannya yang  hebat,  aku berusaha menatap matanya, namun ia keburu memilin-milin puting susuku, hingga   aku  kembali  menyipit  menahan  geli  yang  menyatu   dengan kenikmatan pada kewanitaan dan sekujur tubuhku.         

Batang  kejantanannya  tidak  terlalu besar, namun  keras  dan  kokoh, hingga  tiap  gerakan  di dalam sini membuat  sekujur  tubuhku  terasa disiram-siram  oleh kenikmatan. Ia mendudukkanku di pangkuannya,  lalu menyetubuhi  sambil  mendekap. Ngg, aku tak tahu  kenapa  bisa  begitu pasrah  saja,  mungkin karena power dan  staminanya  yang  benar-benar prima  serta ke-galant-annya yang membuatku berserah diri.  Uhh,  enak sekali  rasanya  dua  payudaraku  menempel  pada  dadanya  yang  lebar dibasahi keringat, sementara kedua kelamin kami saling bergesekkan. 

Gerakan  naik  turun yang cepat tidak terlalu  terasa,  hanya  gesekan dalam kewanitaan ini yang terasa mendominasi. Aku mendekap badan Handy dan  mengerang-ngerang  menahan  kenikmatan.  Ahh,  pria  ini   begitu terampil mengantarkan wanita ke puncak, aduhhh...kejantanannya  benar- benar mengenai bagian yang tepat dalam liang  kewanitaanku...berulang- ulang,   berkali-kali...ahhh,  aku  merapatkan  tubuhku  dengan   mata terpejam,  ohh...hanya kenikmatan dan kegelapan yang  kini  kurasakan. Makin memuncak dan sulit ditahan...hhh...Nafasku makin berat,  tubuhku terasa  seperti  dialiri  listrik  kenikmatan  yang  begitu   dahsyat. 

Ahkkk...hingga akhirnya puncak itu tiba menjemputku.    Sempat  aku terlena kehilangan tiga perempat kesadaranku dan  terkulai lemah  dalam  pelukan Handy, namun mungkin pria  itu  tidak  menyadari bahwa   aku   telah   mencapai  puncak,  karena   aku   memang   tidak mengkomunikasikannya,  hingga ia terus saja dengan  kecepatan  konstan mengocok tubuh kami naik turun. Uhh, cairan dalam kewanitaanku meluap- luap  hingga berlelehan keluar dan gerakan Handy di dalam sana  terasa licin.  "Eh, kamu sudah?" Bisiknya seraya berhenti bergerak. 

Aku  diam sambil  tetap  terkulai dalam pelukannya,  mengumpulkan  energi  untuk menggerakkan mulut dan menjawab. "Udah..." Bisikku lirih, "Kalau  kamu masih belum, lanjutin aja." Baru saja kalimatku  selesai, Handy membaringkanku telentang, dan menyetubuhiku dengan gerakan  yang liar dan dahsyat. Benar-benar gerakan yang bertujuan mengantar dirinya sendiri ke puncak. Kewanitaanku yang becek dan licin serasa tak  mampu menjepit  kejantanannya  yang bergerak  keluar  masuk.  

Ohhh...tubuhku terguncang-guncang hebat, sementara aku masih terlarut dalam sisa-sisa kenikmatan  orgasme  yang tadi, kini rangsangan baru  mulai  mengaliri tubuhku.  Aku  tak ingat berapa lama ia menyiksaku  dengan  kenikmatan yang  tak kunjung berhenti. Untunglah akhirnya ia  mencapai  puncaknya dan   menumpahkan   isi  kejantanannya  dalam  karet   pengaman   yang dipakainya.  Jika ia masih kuat beberapa menit saja, tentu  aku  sudah jatuh  pingsan  dibuatnya.      Sesaat  kami  terbaring   telentang berdampingan.  

Sama-sama menatap langit-langit dengan mata sayu  dalam keheningan. Hanya terdengar sedikit hembusan angin dingin AC kamar dan helaan nafas-nafas panjang membuang letih. "Sari..." Ujarnya setelah hening cukup lama. "Kenapa, Han?" Tanyaku sambil setengah tertidur namun masih tersadar. "Apakah kamu...si..." Ia menghentikan kalimatnya dengan nada ragu. "Siapa?" Aku memotong kalimatnya. "Si Pemburu?" Tanyanya setelah berpikir sejenak. "Ya." Jawabku singkat, "Aku  Sari." (Aku menyebutkan "Sari" karena sejak awal  ia  mengenalku dengan nama asli). "Gila..." Ujarnya sambil menghela nafas. "Kenapa?" Tanyaku agak tersenyum. 

"Jauh  lebih indah dari yang tertulis di cerita-cerita ACEH."  Pujinya lagi.  Kami  tidak langsung tertidur malam itu, kami  ngobrol  panjang tentang  ceritaseru dan para crew-nya, sampai kami  benar-benar  lelah dan tertidur pulas.   "Ngantor jam berapa, Sari?" Tanya Handy sambil kembali duduk di  kursi coffee shop setelah mengambil semangkok bubur ayam dari meja buffet. "Jam  sembilan  aku sampai di kantor." Jawabku sambil  mengiris  Swiss Omelette, "Kalau kamu?" "Sama sih, cuman kantorku di kota P." Jawabnya, "Jadi mesti berangkat sebentar lagi." 

Kami menikmati makan pagi buffet di  coffee shop hotel itu. Tempatku mengenal Handy, yang malam itu  di tempat yang sama menambah daftar panjang pria-pria yang kujumpai dalam petualanganku.          Pria  yang  menarik.  Di balik perilakunya yang  santun,  cerdas,  dan begitu  menghormati wanita, ia juga piawai dalam bercinta. Rayuan  dan pujiannya  dikemas secara tulus dan tersamar dalam pembicaraan,  namun disampaikan secara vulgar dan menggoda di saat percintaan. 

Benar-benar dewasa dan jantan. Memang ia kurang memiliki rasa humor, namun  secara keseluruhan  aku memberinya respek yang cukup tinggi. Sebagai  seorang wanita  normal,  pria-pria seperti itu memang sulit  ditolak,  apalagi dibalut  dengan penampilan yang rapi dan menawan. Benar-benar  "A  Few Good  Men". Bagi para pria, mungkin saja ini dapat  dijadikan  contoh, bahwa  (kebanyakan)  wanita  cukup cerdas untuk  tidak  menyukai  pria dengan penampilan jorok, mulut kasar, dan obrolan bodoh.

ke awal

 

 DOWNLOAD E-BOOK GRATIS

Cerita Seks Khusus Dewasa - Cantik Seksi Indonesia - INDEX

1